bagian 2 (pertemuan Kayla dengan Firaun)

1080 Words
Melamun, dan berhayal adalah salah satu kegabutan yang menyenangkan, itu menurut Satria, pemuda tampan berusia 20 tahun. Seperti dimabuk asmara, senyum-senyum sendiri, salah tingkah sendiri. Sampai Oji, teman Satriapun terheran-heran. “Oy! Kesambet apaan lu?” tanya Oji. “Kesambet cintanya Mbak cantik,” jawab Satria sambil nyengir. Oji begidik ngeri, seperti inikah penampakan orang yang sedang dimabuk cinta. “Wong gemblung, ngeri aku deloke,” ujar Oji khas dengan logat Jawanya “Hehe, menurutmu pie? Gue cocok gak sama dia?” tanya Satri. “Dih … ya kagak tau lah gue. Pernah liat orangnya aja enggak,” jawab Oji. Satria menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sambil nyengir kuda. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk memperlihatkan foto Kayla ke Oji. “Nih … cantik, kan?” tanya Satria sambil menyodorkan gawainya ke Oji. Oji meneguk ludahnya, tak percaya jika selera Satria boleh juga. “Widih … Cantik, bening, bodynya uwow. Kalau kata orang Jawa mah IKI SING JENENGE TELO PULEN,” ujar Oji. Satria tertawa mendengar jawaban rekan kerjanya itu. “Tapi, lu tau gak? Dia sama gue tuaan dia. Tapi gue gak peduli, sih. Intinya gue naksir sama Mbak-mbak di butik itu. Dia udah berhasil ngerampok hati gue,” kata Satria. “Tapi wajah dia masih babi pace loh,” ujar Oji, Satria mengreyit apa itu babi pace? “Apaan babi pace?” tanya Satria tak mengerti, Oji memutarkan bola matanya. “Itu, loh. Yang wajahnya masih polos, kaya bayi.” “Ya ampun. Babby face oneng!” ujar Satria sambil tertawa ngakak, begitu juga dengan Oji. ‘Ah … nanti malam gue coba ajak ketemu, deh,’ batin Satria sambil senyum-senyum sendiri. ***** “Kay, plis. Kali ini lu harus nurut. Yang satu ini gak bakal mengecewakan gue jamin,” kata Hana. “Udah, deh. Gue capek, Han. Nanti juga kalau jodoh gue bakal datang sendiri, tanpa gue cari,” jawab Kayla. Hana cemberut karena permintaanya tak dituruti. Entah mungki karena efek hamil juga, perasaanya mudah sensitive. Kayla yang melihat Hana cemberut hanya bisa menghela napas. Yang artinya dia harus mengalah lagi, jika tidak … maka Alvin akan bertindak, dan pasti bilang,”kenapa sih? Gak nurutin aja keinginan Hana. Lu gak kasian apa? Nanti kalau anak gue ngiler gimana?” Dan itu adalah pernyataan yang paling menyebalkan yang selalu diucapkan ketika Hana ngambek. “Ya udah! Tapi jangan paksa gue, kalau gue gak cocok sama itu cowok, gue bakal tolak!” kata Kayla, Hana mulai tersenyum kembali. “Ya udah, lu siap-siap, karena nanti jam delapan dia bakal datang, dan ngajak lu keluar.” Terpaksa Kayla menuruti keinginan Hana. Semenjak Hana hamil, titahnya tak bisa dibantah, dan cukup membuat Kayla kesal, namun hanya bisa dipendam. Ketika dirinya sendang bersiap-siap, tiba-tiba gawainya berbunyi. Kayla melihat ada notif w******p masuk, dan itu dari Satria. Yang isinya adalah …. =>Mbak, aku ganggu gak? Kalau ada waktu senggang aku pengen ngobrol-ngobrol. Gabut, nih. Kayla membalas. =>Duh … maaf, gak bisa. Aku ada perlu di luar. Satria membalas. =>Di mana? Kayla membalas. =>Cafe Titik Terang. Satria membalas. =>Oke. Kayla tersenyum heran, meskipun baru beberapa hari kenal dengan Satria, namun rasanya sudah mengenal lama. ***** Satu jam kemudian, di Café. Kayla melirik ke sana ke mari. Mencari laki-laki berjaz hitam. “Mana sih tuh orang?” kata Kayla. “Nah, itu dia,” katanya ketika menemukan sosok itu. Tanpa berpikir panjang, Kayla langsung menghampiri laki-laki itu. “Hay … Firaun ya?” sapa Kayla, dan laki-laki bernama Firaun itu tersenyum, dan menyuruh Kayla duduk. “Em … mau pesan apa?” tanya Firaun. “Sama-in aja,” jawab Kayla. Beberapa menit kemudian. Makanan telah sampai, akhirnya Kayla, dan Firaun memilih untuk menikmati makanan mereka terlebih dulu, sebelum melanjutkan pembicaraan mereka. Kayla mengamati Firaun, dari atas sampai ke bawah. Ia tak menemukan tanda-tanda keburikan pada diri Firaun. Tampan, fashionable. Firaun juga terlihat sopan, tidak seperti Gino, si manusia m***m. Beberapa menit kemudian, makanan mereka telah habis. Keduanya masih canggung. “Kamu tahu sayembara ini dari Hana ya pasti?” tanya Kayla memecahkan keheningan. “Iya. Aku aja heran loh. Bisa-bisanya cewek secantik, dan setajir kamu belum punya pasangan,” ujar Firaun. “Sebenernya sih ada banyak yang deketin aku, tapi aku lagi malas aja. Pacaran buang-buang waktu, dan nikah cepet-cepet juga banyak resikonya, perceraian dini misalnya,” jawab Kayla. Firaun merasa terskak. “Oh gitu, ya. Terus kenapa mau ketemu sama aku? Apa karena kamu lihat foto profil aku yang cakep? Tapi aslinya juga goodlooking kan, aku?” ujar Firaun percaya diri, dan cukup membuat rasa ilfil Kayla muncul. “Haha, enggak lah. Itu semua karena paksaan sahabat gue, jadi terpaksa gue nurutin dia, kalau nggak nanti bayinya ileran,” jawab Kayla jujur, sedikit agak sengak karena mulai kesal dengan laki-laki di depannya ini. “Ngomong-ngomong, tipe pasangan kamu seperti apa?” tanya Firaun. “Baik, pengertian, sopan, gak posesif, gak usah ganteng-ganteng deh yang penting mah setia, dan yang satu lagi GAK NARSIS,” jawab Kayla dengan penuh penekanan sampai-sampai membuat Firaun terkejut. Namun, laki-laki itu biasa saja,, padahal Kayla masih menyindirnya. “Oh …. Gitu. Kalau tipe aku sih, kaya kamu. Cantik, tajir, pokoknya kamu paket lengkap deh.” Kayla hanya nyengir mendengar perkataan Firaun. “Kerjaan kamu apa?” tanya Kayla. “Aku punya usaha sablon kaos, cukup ramai, sih. Nanti, kalau missal kita jadi nikah, kita bisa gabungin bisnis kita. Double fashion,” ujar Firaun. Kayla memijit pelipisnya, siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki tengil seperti Firaun ini. “Wait? Siapa yang nikah? Me, and you? Rasanya gak mungkin, deh. Kita aja baru kenal,” jawab Kayla. “Haha, santai aja. Siapa tahu jodoh.” Setelah beberapa menit berbincang-bincang, akhirnya Kayla memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini. Selain risih, ia juga sudah mengantuk. “Ya udah aku pulang dulu, ya? Mungkin next time kita lanjut lagi, kalau aku gak sibuk,” ujar Kayla kemudian berdiri. Namun, tangannya dicekal oleh Firaun. “Eh … tunggu! Terus ini makanan yang bayar siapa?” tanyanya. Kayla melongo, seketika ngantuknya hilang. “Kamu, lah,” jawab Kayla dengan nada tak percaya. “Ya enggak, dong. Kamu bayar sendiri aku bayar sendiri,” jawab Firaun. Rasa ilfil bertambah Sembilan puluh derajat, ada ya laki-laki model Firaun seperti ini. Medit, pelit, bin kikir. “Ya udah. Biar gue aja yang bayar! Makasih loh ya, gue ke kasir dulu.” Kayla mulai menunjukkan sifat aslinya, dan langsung enyah dari hadapan Firaun yang kikir. “Jijik banget, ganteng doang modal kaga. Ogah gue ketemu dia lagi. hueekk,” gerutunya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD