[Lari Ke Pelaminan]

1082 Words
Vanya tidak bisa dibuat berhenti merotasikan mata melihat keantusiasan Zara dalam menceritakan montir tertampan yang ia temui, terlebih ketika Zara mulai merangkai cerita masa depannya dengan si montir. Andai saja Zara tahu siapa montir itu di hidup Vanya, sepertinya itu akan menjadi plot twist bagi Zara. Pria yang ia sukai rupanya mantan Vanya dan sumber dari kehancuran hidupnya. "Pindah kerja aja, deh, gue ke bengkel sana. Bisa semangat terus tiap hari. Mata pun jadi seger." Senyum kelewat lebar Zara di sepanjang jalan buat Vanya pegal sendiri melihatnya. Tepikan mobil di depan rumah Vanya. Buru-buru Vanya melepas seatbelt selama Zara utarakan hayalannya dengan menggebu-gebu, terlihat binar bahagia di matanya, yang hanya Vanya tanggapi dengan sebuah fakta. "Udahan halunya. Gue udah sampe. Fokus nyetir aja lu." Vanya lekas menutup pintu mobil tanpa pedulikan riak tidak suka Zara. Sempatkan lirik rumah di sampingnya, di sana lah terdapat sosok yang telah menghadirkan trauma. Dan Vanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Bahkan rahasianya tidak akan tercium. Terlebih pria itu. *** Mentari belum muncul duduki singgasananya. Namun, seorang pria lajang dengan tubuh telah dibalut rapi pakaian olahraga telah siap jalani rutinitasnya di pagi hari sebelum bertempur dengan pekerjaannya. Bibirnya lukiskan senyum begitu rumah samping menyambut pemandangannya; ingatkan ia pada suatu hal tepat ketika ia tiba di rumah barunya. "Taro di belakang aja, Mas. Nanti juga ada orang buat rapiin." Memberi instruksi pada orang yang berjasa dalam membawakan peralatannya untuk dipindahkan di kediaman baru, Erza sempatkan matanya melirik sekitar. Kerut di kening tercipta, tak jauh dari rumahnya keluar seorang wanita baya yang masih sangat ia ingat. "Kayak Mamanya Vanya," gumamnya. "Tapi mana mungkin." Erza masih ingat betul kalau Vanya tidak tinggal di sekitar Jakarta Selatan, dia tinggal di Bekasi, sangat mustahil apabila penglihatannya benar. "Jangan dimasukin, Bang. Taro aja semuanya di situ." Kembali ia fokus memberi instruksi, sesekali juga dia membantu mengangkat barang. "Permisi." Tubuh Erza berbalik ke belakang. Nyaris matanya terlepas begitu seorang yang sangat ia kenali dan sangat ingin ia jumpai tengah berdiri di hadapannya. "Eh. Kayak kenal, deh, saya." Erza garuk tengkuk kala wajah mamanya Vanya kini jelas ia lihat. "Ini Erza, Tan. Tante masih inget?" Mata Aghni melebar dengan senyum terpatri di wajahnya. "Iya bener ini Erza. Aduh, ini kayaknya gara-gara Tante udah tua, jadi gak inget kamu." "Tante gimana kabarnya?" Erza salimi tangan wanita yang dulu sangat dekat dengannya. "Baik. Kamu sendiri gimana? Kok bisa pindah?" Obrolan mereka terus berlanjut sampai sebuah kabar buruk keluar dari mulut Aghni. "Vanya bentar lagi nikah, loh. Kamu dateng, ya." Tatap mata Aghni seakan mengejek Erza yang masih mengharapkan putrinya. Namun, setelah Erza melihat sendiri gerangan yang menjadi tunangan Vanya, ia yakin pernikahan yang Aghni banggakan itu akan hancur. "Vanya." Sebutkan nama perempuan yang masih menjadi tahta tertinggi di hatinya. "Lo milik gue. Mau sama siapapun lo saat ini, lo tetap bakal balik sama gue." *** Sering Vanya heran terhadap orang-orang yang tidak memanfaatkan hari liburnya dengan baik: lebih banyak tidur dan rebahan di kasur daripada bangun lalu menjalani hari produktif agar tidak menyesal di masa mendatang nanti. Contohnya si Vani. Di jam tujuh ini dia masih bergelung dengan selimut, tidak seperti dirinya yang sudah melaksanakan lari tiga putaran. "Ternyata kita punya hobi yang sama, ya? Curiga kalo ternyata kita jodoh." Terkejut Vanya mendapati suara menyebalkan itu dari sampingnya. "Udah dapet berapa putaran?" Tidak ingin terlibat percakapan dengan pria yang sudah menaruh trauma padanya selama bertahun-tahun ini, Vanya percepat langkahnya. Mendadak d4danya bergemuruh disertai takut melanda. Vanya benar-benar ingin menghilang dari hadapan pria ini. "Langkahnya yang konsisten, bisa capek duluan nantinya." Sayangnya Erza tidak membiarkannya lepas begitu saja. "Keringet lo udah banjir, tuh. Istirahat dulu." Ucapan Erza selayaknya angin bagi Vanya, malah jauh lebih baik angin yang masih dapat Vanya dengar embusannya. Biarin aja, Vanya. Jangan dengerin dia. Vanya percepat langkah guna cepat sampai ke rumah. "Yuk istirahat dulu." Tanpa mau dengar persetujuan Vanya atau bahkan menunggu Vanya berhenti, Erza tarik tangan Vanya ke tepi. "Apaan, sih! Sok kenal banget lo jadi orang." Menyentakkan tangannya berikut seruan kesal ia keluarkan. "Sama mantan, masa gue gak kenal?" Dengkusan dari Vanya, Erza dengar. Terlalu terang-terangan Vanya perlihatkan kebenciannya. "Cielah sok-sokan benci, padahal gamon parah sama gue." Memilih tidak menanggapi, Vanya seret kakinya menjauh dari Erza. "Istirahat dulu. Seenggaknya minum, ke. Lo mau pingsan? Terus gue gendong?" Melihat wajah Vanya telah pucat, Erza yakin Vanya belum sarapan, tapi sudah berlari dalam beberapa putaran. "Kalo gue, sih, gak masalah." Tubuh kecil Vanya didorong perlahan menuju kursi kayu di area sana. Untung saja Vanya tidak protes dan mengikuti perintahnya saja meski di awal telah mengibarkan genderang perang. "Duduk di sini. Jangan kabur. Berani kabur, gua kawinin lo di sini sekarang juga." Ancaman Erza selayaknya ancaman untuk anak kecil. Pun akhirnya pria itu berlalu dan pergi menuju gerobak tukang bubur. Belum lama Erza pergi, Vanya rasakan getaran di perut yang berasal dari ponselnya. Pun tangannya meraih benda pipih tersebut sebelum nama Lindu tertangkap kornea matanya. Tidak ada yang Vanya lakukan selain menatap id caller tersebut. Niat untuk mengangkat teleponnya pun tidak ada. Otaknya mendadak kosong karena kehadiran telepon dari tunangannya itu. "Nah gini. Jangan kabur. Kan kalo kabur repot nyarinya." Erza datang, tidak ada mangkuk bubur di tangannya, hanya ada keripik kentang dan air mineral di tangannya. Tanpa sadar Vanya tolak panggilan Lindu sebelum menaruh kembali ponselnya secara terburu-buru. "Makan ini dulu, sama minumnya, nih. Buburnya bentar lagi jadi." Terima air mineral dari tangan Erza. Vanya tidak ingin menuruti ego yang ingin menjauhi Erza di saat ia membutuhkan Erza. "Orang aneh banget, ya?" Bibir tidak nisa diam Erza kembali keluarkan suara. "Capek-capek lari, malah nambah kalori." "Eh, tapi bubur kalorinya berapa, sih? Lo tau?" Menjawab dengan gelengan saja, enggan sekali Vanya keluarkan suaranya. "Tapi kalo kadar kekangenan lo sama gue. Lo tau, dong?" Sontak mata Vanya langsung menusuk netra Erza, tertaut di wajahnya kekesalan yang jelas. "Mimpi," sahutnya singkat sebelum menerima bubur yang dibawakan penjualnya. "Kenyataan begini, dibilang mimpi. Kan guenya gak lagi tidur." Palingkan wajah, perlahan Vanya tiup bubur yang masih sangat panas itu ke mulutnya sebelum mengaduh. Di sampingnya Erza bergerak cepat dalam mengambil mangkuk Vanya. Refleks mulutnya tiupkan angin sejuk pada bibir Vanya tanpa mengucapkan apapun akibat panik mendengar Vanya kesakitan. Vanya terdiam. Di saat tangan Erza raih secara lembut dagunya dan tiup bibirnya yang kepanasan, wajah dan sekitarnya juga merasakan hawa panas disertai degup jantung jauh lebih cepat dari sebelumnya. "Woy! M3sum jangan di tempat umum, dong!" Seruan dari orang asing sentakan Vanya dan Erza yang sama-sama melamun saling tatap setelah menyadari jarak antara mereka yang nyaris tidak ada jaraknya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD