Tiada henti Erza diberikan tatap tajam oleh Vanya hanya karena ia mengikuti langkah Vanya dari belakang. Sedangkan yang diberi tatap sinis nan tajam tunjukkan wajah songong, buat darah Vanya mendidih seketika.
"Bisa jangan ngikutin?" Menyentak akibat terlampau kesal, Vanya tidak mau nanti tetangganya beropini negatif sebab ia pulang dengan pria lain alih-alih tunangannya.
"Siapa yang ngikutin?" kilahnya, meski memang tujuan ia dan Vanya sama.
Memilih untuk tidak menjawab, Vanya biarkan saja Erza berjalan di belakangnya, hanya saja ia sengaja mempercepat langkah kakinya untuk menjauhi opini negatif orang.
"Perasaan kita gak lagi lomba lari." Sayangnya Erza tidak membiarkan Vanya jauh dari jangkauannya.
Beri jarak antara ia dan Erza, Vanya benar-benar tak nyaman berada di sekitar Erza, sayangnya pria ini tidak membiarkan ia menjauh barang sedikit pun.
"Dari tadi gue cium-cium bau gak enak. Jangan-jangan lo belom mandi, ya?" Tiba-tiba saja Erza berujar demikian. Agaknya Erza tidak bisa merapatkan bibir untuk menjaga suasana hati Vanya. Pun ia lekas menciumi dirinya; mencari bau tak sedap yang ia hidu. "Eh, gue yang bau ternyata. Lupa belom mandi." Cengiran tak berdosa pun terulas. "Pantes lo buru-buru banget. Mau ngehindar dari gue rupanya."
Riak judes di wajah Vanya tercetak jelas, harusnya Erza sadar betapa tidak nyamannya Vanya bersamanya. Namun, ia terus berceloteh tanpa mau peduli. "Sebau apa, sih gue? Apa lebih bau dari bangkai?"
"Perasaan gue udah pake parfum sebotol biar semriwing biar cewek-cewek terpikat. Ya ... walaupun cewek inceran gue belom mau sama gue." Mau secepat apapun Vanya berjalan, tidak membuat Erza kesulitan mengimbanginya. "Lo tau kenapa cewek inceran gue gak suka gue? Padahal gue ganteng 'kan, ya?" Kibaskan rambut selehernya, perlihatkan tato burung phoenix di lengan kanannya yang berbalut singlet ketat.
"Vanya?" Tetangganya menyapa disertai riak muka heran. Jelas, seorang perempuan yang dikenal telah memiliki tunangan berjalan bersama pria lain yang lebih tampan dan gagah dari tunangannya menjadi pertanyaan bagi mereka.
"Pagi, Bu." Balas sapaan tersebut dengan sopan, berusaha sembunyikan kekesalan pada pria di sampingnya.
"Halo, Bu. Saya penghuni baru di komplek ini. Ibu tinggal di rumah yang mana, nih?" Senyum ramah yang masih Vanya kenali dan sialnya senyuman favorit Vanya dulu itu terulas, perlihatkan lesung pipinya.
"Penghuni baru, ya? Aduh! Bisa-bisanya saya gak sadar ada penghuni baru seganteng ini. Tau gini udah nyapa jauh-jauh hari. Siapa tau aja gitu jadi menantu." Si ibu yang semula berikan tatap curiga berubah drastis, ia lebih terlihat ramah dan asyik kepada Erza.
Tawa kecil sebagai bentuk menghargai dari Erza menguar. "Coming soon, Bu, saya jadi menantu salah-satu tetangga." Mereka mulai bercanda ria sebagai perkenalan, sedangkan Vanya berlalu begitu saja, merasa perkenalan mereka bukanlah urusannya.
***
Tanggal merah bagi pekerja adalah hari kemerdekaan. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Erza yang telah menjadi atasan pada beberapa bengkel yang empat tahun telah ia jalani.
Di saat orang-orang bersiap akan pergi liburan, sedangkan ia siap-siap untuk pergi kerja.
Siul syahdu mengiringi kegiatannya sebelum siulannya terhenti kala netranya menangkap profil Vanya dan pria yang Vanya sendiri bilang tunangannya.
"Cowok kayak gitu dia jadiin pengganti gue?" Remehkan pria yang sedikit familier di ingatannya. "Coba aja Vanya tau dia lebih b3rengsek dari gue." Hentakan napas dari hidung, ingin sekali Erza sadarkan Vanya bahwa pria yang ia pilih sangat tidak cocok dengannya.
Dari penglihatannya, sepertinya Vanya hendak keluar bersama pria itu. Segera ia langkahkan kaki ke lantai bawah sebelum berlalu menuju bagasi untuk mengambil motor bututnya, pun ia bawa motornya ke depan rumah, tepat di depan mobil pria yang merupakan tunangan Vanya.
Brum! Brum! Brum! Tangannya memutar stang secara full; timbulkan suara sangat keras, mengganggu para tetangga yang seharusnya masih lelap di hari libur.
Brum! Brum! Brum! Kembali ia mengegas motor, tidak peduli akan mendapat teguran atau lebih parahnya diajak duel oleh tetangga yang tidak ia ketahui karakternya apa saja.
Brum! Brum! Brum! Selama tangannya memutar stang hingga menimbulkan suara keras, matanya memusat pada sejoli yang hendak memasuki mobil.
Brum! Brum! Brum! Brum! Kini lebih parah lagi motornya digas hingga asap menguar dari knalpot, arahnya tepat ke mobil tunangan Vanya.
"Woy! Gak punya telinga lo, ya!" Ketidakpedulian terpampang jelas di wajah Erza, tinggal menunggu bogeman tetangganya saja.
"Bocah gendeng! Pagi-pagi ganggu orang! Mau gue tinju lo, hah!" Sebelum si tetangga menghampiri, Erza buru-buru naik ke jok motor. Namun, sebelum itu ia kembali mengegas motornya, sulutkan emosi tetangganya.
"Bocah gila! Pengecut lo!" Merespons dengan jari tengah diangkat, Erza tidak peduli akan amarah tetangganya.
***
"Tadi Mama bilang apa aja ke kamu?" Raih lengan Lindu untuk digandeng. Jujur, pertanyaan Vanya hanyalah formalitas, karena nyatanya Lindu sangat enggan berdekatan dengan Vanya.
"Cuma bilang jagain kamu aja." Menjawab tanpa riak wajah apapun, sudah biasa Vanya diberi sifat dingin tunangannya.
"Ooh." Topik pembicaraan mereka sampai sana saja, sebelum asap motor serta suara motor mereka dapatkan.
Brum! Brum,! Brum! Jauhkan asap dari wajahnya, Vanya sangat ingin menegur tetangganya.
"Siapa, sih, itu orang?" Berlagak tak tahu. Vanya yakin itu kelakuan Erza. Entah s3tan apa pagi-pagi begini merasuki orang itu.
"Perasaan rumah sebelah kosong. Udah ada yang ngisi?" Respons pertanyaan Lindu dengan anggukan.
"Orang gila kayak gitu, tuh, harusnya langsung ditegur emang, Mbak. Ngeselin dia, tuh. Ganggu orang aja kerjaannya." Senyum tipis Vanya ulas begitu tetangga di seberang melewatinya setelah mengomeli Erza.
"Ayo." Lindu berujar, buyarkan lamunan Vanya.
"Vanya, hari ini aku ada kerjaan, jadi gak bisa lama-lama." Menoleh sebentar, Vanya sudah tahu Lindu akan mengatakan itu.
"Iya, gak pa-pa." Entah sampai kapan hubungan yang ibunya banggakan ini berakhir.
Vanya ingin sekali memutus hubungan ini. Selain merasa berdosa dan tak pantas, sikap Lindu pun menjadi penyebabnya.