[Marah]

1066 Words
Prang! Semua mata mengarah pada objek yang menjadi sumber suara. Tanda tanya tercetak di wajah mereka. Tidak ada satu pun yang berani mengajaknya berbicara atau bahkan bertanya, sudah sangat hafal karakter atasan mereka yang selalu melampiaskan emosi pada alat-alat bengkel. "Jabrik! Kasih gue kunci sepuluh." Tangannya keluar dari bawah mobil meminta benda yang ia inginkan. Yang diminta tolong bergerak cepat; tidak mau membuat bosnya semakin marah karena kelambatannya. "Kunci pas! Bukan kunci Y!" Kedipkan mata terkejut, pria dengan rambut keriting itu kembali ke tempat penyimpanan perkuncian dan mengambil benda yang bosnya mau. "Ambilin gue platina," ucap Erza, sosoknya sibuk mengotak-atik mesin, tidak peduli pakaiannya akan kembali kotor. Jabrik kembali bergerak cepat, pun ia lekas memberikan platina. "Minta oli sintetis SAE 5W-30." Selama Erza tangani mobil, ada Jabrik yang sibuk bolak-balik mencari barang yang ia minta. Hingga beberapa menit setelahnya Erza keluar dari kolong mobil sebelum hidupkan mesin mobil. Keberadaan ponsel tak jauh darinya berdiri Erza ambil sebelum mendial nomor bawahannya. "Mobil Bang Shah urus. Udah gue selesain." "Siap, Pak." "Ada berapa mobil lagi yang belom diurus?" "Ada enam mobil lagi, Bos." "Usahain hari ini kelar semua. Jangan sampe ada yang protes lagi!" Percakapan mereka hanya sampai sana saja sebelum Erza berlalu ke ruangannya. "Bos lo ngapa, dah? Perasaan kemaren dia bahagia banget." Mulailah perbincangan para montir di sana usai sosok Erza tidak tertangkap netra. *** Terik dari matahari siksa para penghuni tanah kota. Belum lagi oksigen penuh debu akibat polusi buat tak nyaman indera penciuman. Namun, Erza telah terbiasa akan hal itu. Mata dengan iris coklat gelapnya melirik tajam pada objek yang sangat ia kenali di tepi jalan; tengah berjalan santai dengan tsa menyampir di bahu. "Kayak Vanya." Dia bergumam, pun mesin motor ia hidupkan guna mengejar perempuan yang sangat ia kenali postur tubuhnya. "Pulang sendirian lo? Gak dijemput tunangan?" Jalankan motornya menggunakan kaki, sengaja Erza lakukan disertai penakan di akhir kalimat. "Gak takut diculik om-om idung belang, lo?" Kakinya tidak dihentikan, bahkan untuk menghargai pun tidak Vanya lakukan. Baginya keberadaan Erza tak lebih dari alunan angin lalu, tidak Vanya gubris kehadiran serta celotehannya. "Balik sama gue aja." Ingin Erza hentikan motornya dan mencegah Vanya untuk terus berjalan, khawatir Vanya akan pegal-pegal begitu tiba di rumah nanti. "Dari sini ke rumah lo jauh banget. Bisa gempor lo ntar." Vanya tetap pada keputusannya; jalan kaki sampai hatinya tenang. Terus ikuti langkah Vanya biarpun Vanya tidak menggubris, lalu mata Erza mengarah ke bawah kaki Vanya. Mengintip di sana merah-merah yang Erza yakini berasal dari heels. Pun tanpa harus berpikir lagi Erza hentikan motornya dan segera jongkok guna lihat lecet di tumit kaki Vanya. "Ih, apaan, sih!" Terjenggit kaget begitu Erza lihat lecet di kakinya. "Buka heels-nya." Belum sempat Vanya protes atau bahkan tahan kakinya agar tidak Erza lepaskan heels-nya, Erza lebih dulu membuang heels-nya begitu saja. Terperangah heels-nya dibuang pada tempat sampah yang tepat berada di samping Erza, sedangkan tanduk Vanya telah mencuat; buktikan amarahnya yang telah membumbung tinggi. "Biar apa, sih? Sopan banget lo begitu?" Bergerak hendak mengambil heels pemberian Lindu sebab Lindu sangat menyukai perempuan yang sering menggunakan heels meski Vanya tersiksa. "Buang aja." Hentikan Vanya yang ingin mengambil high heels-nya dengan tangan melingkar di perut Vanya yang segera Vanya jauhkan. "Sekali aja enggak ganggu gue. Gak bisa?" Mata Vanya telah layangkan sorot penuh amarah. "Mending pergi aja lo sana. Kita gak ada urusan." "Kaki lo lecet. Sini gue obatin." Jauhkan kakinya yang hendak Erza obati. Tidak suka Vanya bersentuhan dengan Erza. "Jangan sok pahlawan, deh, lo." Erza tetap santai meski ucapan Vanya sangat buruk. "Obatin dulu kakinya. Bisa infeksi nanti." Hampir Vanya jatuh saat Erza meraih kakinya dan ia refleks hendak menjauh. "Lepasin. Gue gak butuh bantuan lo." Ingin sekali Vanya pukuli wajah pria ini dengan tasnya agar emosi yang membeludak menghilang seketika. "Jangan sentuh gue." Erza tetap telaten obati kaki Vanya meski si pemilik kaki terus berusaha lepas darinya. Memilih tidak mendengar, Erza terlihat sangat fokus meneteskan obat merah di lecetnya dengan bibir keluarkan angin sejuk. "Lepasin." Vanya tarik kakinya, sayangnya Erza tidak membiarkan ia terlepas sebelum menutupi luka lecet di kaki Vanya. "Udah." Senyum puas dari Erza terlukis melihat lecet yang Vanya derita telah ia atasi. Pantang bagi Vanya terjebak bersama mantan yang senantiasa mengekorinya itulah mengapa ia langsung berdiri dan hendak mengambil langkah untuk kabur. "Emang sanggup pulang gak pake apa-apa kakinya? Apalagi kaki lo lagi lecet." Tangan Erza tahan Vanya. Ingin hempaskan tangan Erza agar terlepas. Namun, bukan tangannya terlepas dan ia bisa pergi, Erza lebih dulu menariknya. "Kali ini aja gue mohon sama lo turunin ego lo. Kaki lo bisa makin sakit kalo dipaksa jalan, apalagi kalo maksain pake sendal begituan." Erza lekas mendudukan Vanya di jok motornya. "Gue bisa beli sen—" "Diem. Jangan ngomong." Tidak Erza lepaskan genggaman tangan mereka satu detik pun, khawatir Vanya akan kabur. "Siapa lo ngatur-ngatur gue?" Menyentak Erza yang baginya telah keterlaluan. Vanya hendak turun dari motor yang tidak Erza biarkan, makanya Erza segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. "Erza!!! G1la lo! Turunin gue!" Berteriak di samping telinga Erza yang Erza respons dengan tawa puas. "Lo kalo m4ti jangan ngajak-ngajak!!! Gue gak mau m4ti sekarang! Gue belom nikah!!" Adrenalin Erza meningkat kala angin menampar wajahnya serta teriakan ketakutan Vanya ia dengar, saking takutnya Vanya tidak sadar tangannya telah melingkar erat di perutnya. "Kita romantis banget, ya?" Berteriak di saat angin endapkan suara mereka. "Mata lo romantis!! Turunin gue! Gue takut mati!" Pejamkan mata seeratnya, degup di d4da berpacu lebuh cepat dua kali lipat. Bayangan buruk di kepala menghampiri, menambah ketakukan jiwanya. "Erza jangan ngebut, gue takut." Perlahan Erza longgarkan genggamannya pada stang motor. Kehangatan mengalir dari nadinya hanya karena intonasi suara Vanya yang lebih lembut dari sebelumnya, bahkan rungunya sendiri mendengar jelas namanya disebut. "Enggak ngebut lagi, kok." Dia menjawab tak kalah lembut, tidak bisa sembunyikan betapa bahagianya ia bisa menikmati waktu bersama orang terkasih. Perlahan Vanya buka kelopak matanya; sesuaikan kornea mata dengan cahaya di sekitar. Tepat detik itu juga degupan kencang di d4da telah musnah. Sebelum layangkan protes, Vanya terdiam sebentar kemudian surai Erza diraih dan dicengkeram dari belakang. "B4jingan lo!! Mau bikin gue m4ti sebelum gue nikah, hah?! Kalo kau m4ti sendiri aja sana! Jangan ngajak gue!" "Aw! Aw! Aw! Ampun, ampun." Terpaksa Erza tepikan motor di samping jalan. "Lagian kenapa, sih emang kalo kita m4ti bareng? Kita 'kan jodoh." Kalimat Erza undang amarah Vanya. "Mata lo jodoh!" Sentak Vanya tepat di wajah Erza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD