"Udah. Sekarang lo boleh turun." Dalam keadaan manyun Vanya turun dari motor butut Erza. Helm yang lindungi kepalanya ia buka, tapi sayang sulit sekali ia lakukan.
"Ngomong kalo minta bantuan." Erza berujar sebelum bantu Vanya lepaskan helmnya. "Itu bibir sengaja dimanyunin biar gue cium?"
"N4jis." Berdesis pelan dengan tekanan akibat kesal.
"Loh? Kalian pulang bareng?" Sosok Aghni keluar dari area rumahnya, riak terkejut yang jatuhnya mencurigai hubungan mereka pun terpampang.
"Eh, sore, Tante." Erza lebih dulu bersuara. "Iya, tadi Erza gak sengaja liat Vanya jalan sendirian. Ya udah Erza ajak aja daripada nanti kenapa-kenapa."
Tekuk pada alis terlihat di kening Aghni. "Gak sama Lindu?"
Gelengkan kepala, malas sebenarnya Vanya jelaskan mengenai alasan Lindu pergi. "Ada meeting."
"Ooh. Omong-omong, makasih ya Nak Erza. Untung loh ada kamu." Lain kali pecat Lindu-Lindu itu jadi calon menantu Tante. Rekrut saya aja, Tante. Sementara hati mengucapkan demikian, bibir lukiskan senyuman.
"Sama-sama, Tante," ucapnya. "Kalo gitu Erza pulang dulu, ya?"
Kepergian Erza ciptakan hening antara Vanya dan Aghni. Vanya telah menyiapkan diri kalau nanti Aghni memarahinya yang pulang bersama Erza yang Aghni sendiri telah mengetahuinya siapa Erza bagi Vanya. Dan jika Lindu mengetahui hal ini, besar kemungkinan Lindu akan menaruh curiga atau bahkan langsung menuduhnya yang tidak-tidak.
"Oh, iya." Mamanya tiba-tiba berujar saat ia hendak masuk ke rumah. "Kamu jangan terlalu deket sama Erza. Mama gak mau ada fitnah antara kamu dan Erza. Apalagi sebentar lagi kamu sama Lindu mau nikah."
"Inget Vanya. Kamu dan Erza itu udah gak ada hubungan apapun lagi. Jaga batasan kalian." Dinginnya Aghni dalam berucap runtuhkan suasana hati Vanya.
"Iya, Ma." Ia menjawab lesu. Terkadang Vanya ingin ungkapkan betapa cueknya Lindu padanya kepada sang ibu. Namun, melihat ambisi sang ibu dalam menjodohkannya dengan Lindu, Vanya urung.
***
Surai panjangnya disatukan dalam ikatan kemudian ia hempaskan, betapa mempesonanya sosok yang berdiri di depan cermin dengan balutan pakaian olahraga sebelum memulai rutinitas paginya.
Percaya diri merupakan kunci hidup tenang bagi Vanya Maurelle sekalipun wajah tengah diserang jerawat.
"Anak Mama ini. Satunya paling rajin, satunya paling pemalas." Kalimat sambutan dari mamanya masuk ke rungu Vanya.
"Nanti pulang sekalian beliin Mama bubur, ya?" Angguk samar Vanya berikan sebagai respons. Dia sibuk melakukan pemanasan di teras rumah, sementara sang ibu tengah memanaskan mobilnya.
"Vanya pergi." Biarpun dia hanya lari di sekitar komplek, harus bagi Vanya meminta izin kepada mamanya.
"Pagi tetangga." Cengiran menyebalkan Erza sudah cukup buat paginya buruk.
"Biasa berapa putaran, nih?" Paling menyebalkannya lagi Erza menyetarakan langkahnya. "Sebagai tetangga, kenalin gue area sini, dong. Minimal makanan khasnya apaan. Atau kegiatan-kegiatan di sini tu apa aja."
Biarkan Erza berceloteh di sepanjang jalan, enggan sekali Vanya menanggapi satu kata pun. Telah tertanam di otaknya kebencian yang perlahan menjadi ketidakpedulian seiring berjalannya waktu.
Kini Vanya sadar, semakin ia takut akan eksistensi Erza, maka pria itu akan mencurigai ketakutannya berujung mencari tahu sendiri penyebab dari ketakutannya. Biarlah ketakutannya tertanam, toh perlahan juga akan pudar jika ia menguatkan diri.
"Orang yang diem mulu itu katanya belom sikat gigi dan jigongnya tuh udah numpuk." Untuk yang ini baru Vanya lirik manuaia dengan nama Erza Bimantara ini.
"Gak jelas," ucapnya ketus sebelum percepat larinya.
"Kalo gitu jelasin. Atau mau gue yang jelasin?" Ingin sekali Vanya berputar arah dan pulang, sudahi larinya sebab Erza tida henti mengganggu.
"Lo tau angkringan rekomended gak di sini?" Pertanyaan random yang kembali tidak mendapat jawaban dari Vanya. Namun, bukan berarti Erza berhenti berbicara. "Kapan-kapan kita nongkrong, yuk. Udah lama kita gak nongkrong." Kalimat berkesan sok akrab itu buat Vanya risi.
"Lo gak kangen gitu sama gue?" Gigi Vanya gemelatukkan sebagai pelampiasan kekesalannya. "Padahal gue orangnya ngangenin." Sisir rambutnya; tebarkan pesona kepada sang mantan.
Langkah Vanya melangkah pelan sebelum berhenti dan langsung menancapkan tatap kesal kepada Erza. "Bisa berhenti ngomong? Gue risi."
"Hah? Gue ganteng?" Sedangkan Erza tampangkan muka d"ngu sebelum tertawa tak jelas. "Aduh ... aduh gue jadi baper. Tanggung jawab lo, ah. Nikahin gue sekarang."
Vanya menghindar kala Erza memukul-mukul centil tangannya. "Stress," ucapnya sebelum berlalu.
"I love you too. Ayo ke KUA sekarang." Kejar Vanya yang sudah memutar arah; ke arah jalan pulang, tidak ingin Vanya terjebak lama dengan mantannya.
"Gila." Lagi Vanya mengatai Erza.
"Iya, Vanya. Gue tau lo gamon, makanya lo mau ajak gue nikah. Gue sih ayo-ayo aja." Berjalan berdampingan nyaris menempel yang segera Vanya jauhi.
"Jangan deket-deket. Gue gak mau ketularan stress."
"Gak mau kepikiran kali. Badan gue 'kan baunya candu." Cium aroma badannya sebelum mend3sah; menikmati bau keringat di badannya.
"Yakin gak mau cium?" Alis tebalnya bergerak naik dan turun; menggoda Vanya yang sialnya selalu dibuat tertarik oleh fisiknya yang menawan, belum lagi postur tubuh yang menjadi idaman semua wanita.
Tatap sedatar mungkin pria menyebalkan di hadapannya, pun Vanya berujar, "Ini lo yang gamon sama gue. Bukan gue. Begitu, kan?"
"Iya. Gue gamon dari lo." Tak disangkanya Erza akan mengutarakan kejujuran, padahal Vanya telah mengira Erza akan berkilah.
"Sayang." Panggilan dari suara yang sangat Vanya kenali timbul dari belakang badannya. "Baru aku mau jemput kamu." Lindu menghampiri dengan pakaian sangat rapi. "Baru abis lari?"
Paksakan kedua sudut bibir ciptakan senyuman, tidak munafik kepalanya tiba-tiba berisik hanya karena ungkapan Erza.
"Iya."
Eksistensi Erza pun tertangkap oleh netra Lindu. "Ini Mas-mas montir yang nolongin saya 'kan, ya?" Sebagai formalitas Erza lukiskan senyum.
"Ketemu lagi kita." Tawa kecil pun menguar. "Udah rapi begini gue tebak pasti mau nge-date." Lindu meresponsnya dengan tawa sebelum membenarkan.
"Liat, noh, Nya. Cowok lo udah rapi, lah lu iler aja belom dibersihin." Refleks Vanya sentuh pipinya sebelum tatap sinis mantan super menyebalkannya ini.
"Btw, kok bisa deket?"
"Gue tetangganya. Tetangga baru, sih, sebenernya. Kebetulan juga tadi ketemu di jalan." Biarpun Erza masih memiliki perasaan pada Vanya dan sangat mengharapkan hubungan mereka segera berakhir, Erza tetap menjaga perasaan Lindu.
"Cabut, ayo." Berlalu lebih dulu, entah mengapa Vanya merasa hatinya seperti campur aduk melihat interaksi Erza dan Lindu.
"Ya udah, Mas. Kita balik dulu. Buru-buru juga. Soalnya kita mau fitting baju."
"Widih. Bau-baunya mau married, nih," tebak Erza, sembunyikan rasa tak nyaman di benaknya.
"Doain aja, Mas. Semoga lancar."
"Pasti itu mah." Semoga gak lancar. Semoga ada badai, angin p****g beliung di hari H-nya. Tolong maklumi Erza, karena mau bagaimana pun Erza adalah manusia pada umumnya yang sering mengatakan dua hal berbeda.
***