[Lelah]

1227 Words
"Dah sampe. Sekarang mana ongkosnya." Sembari cemberut Vanya buka helmnya. Ingin sekali ia jitak pria perhitungan ini, sayangnya Erza mengenakan helm, yang ada tangannya sakit, bukan kepala Erza. "Perhitungan lo," ucapnya. "Dari Tebet ke sini doang elah. Gak usah dibayar kali." "Bensin, Njir! Lo pikir gue pake daun bayar bensin." Ambil dompet dalam tas. Di sana hanya ada cash sebesar dua ribu bekasnya membeli siomay di jalan tadi. "Cuma ada segini nih." Erza ambil saja meski uang dua ribu tidak cukup membeli bensin. "Bentar. Ini kembalinya." Selama pria itu mengambil uangnya, kening Vanya mengernyit bingung. Dua ribu ada kembalinya? "Nih. Buat beli siomay." Satu lembar uang berwarna merah tak sungkan Vanya terima. Wajah cemberutnya berubah ceria melihat nilai uang tersebut. "Nyengir lu." Pria itu pun lekas berlalu sebelum Vanya ucapkan terima kasih. "Sering-sering ojekin gue!" teriak Vanya kala Erza mulai menjauh dan mengarah ke rumahnya. "Jadi gue yang untung." Selembar uang tersebut Vanya hirup dalam-dalam. "Lumayan buat beli facial wash baru." Tidak bisa sembunyikan bahagia meski itu hanya uang seratus ribu, karena dengan uang tersebut ada beberapa hal yang bisa Vanya dapatkan. "Kenapa enggak pulang sama Lindu?" Kaki Vanya berhenti melangkah. Suara ibunya terdengar mengintimidasi. Pelan kepala Vanya menghadap pada beliau. "Tadi Lindu bilang ada kerjaan urgent. Terus di jalan gak sengaja ketemu Erza, sekalian, deh, aku pulang sama Erza." Beberkan setengah dari faktanya. Vanya tidak mau ibunya beranggapan ia menjelek-jelekkan Lindu meski kenyataan Vanya beberkan. "Mama bilang jangan sering-sering sama Erza." Peringatan ibunya, Vanya respons seadanya saja. "Erza itu kan mantan kamu, ada beberapa tetangga yang tau kalian mantanan, bisa jadi fitnah kalo kamu sering sama dia." "Iya, Ma." Tundukan kepala, Vanya sudah biasa ditekan seperti ini. Walaupun usianya sudah menginjaki masa dewasa, tidak membuat ia bisa menentukan pilihannya sendiri. "Usahain tolak tawarin dia. Apapun itu." Lipat tangan di d**a, mata Aghni menelisik tajam pada putrinya. "Apa tadi? Segala bilang sering-sering ojekin kamu. Kalo ada yang denger gimana? Mau kamu dianggap cewek mur4han?" Tempatkan lidah di langit-langit mulut guna kecewa dan sakit di benak menyurut, Vanya tidak bisa membantah ucapan sang ibu walaupun terdapat kata yang tidak semestinya ia dapat. "Vanya ngerti, Ma. Enggak lagi Vanya kayak gitu." Vanya merasa lemah. Semakin tidak bisa ia melawan, maka ibunya akan semakin berh4srat dalam menekannya. *** Sesampainya di kamar, Vanya taruh tasnya begitu saja. Tubuh ia tubrukan pada kasur. Tekanan ibunya benar-benar mengikis batinnya yang ingin hidup tenang. Namun, terasa sulit sekali ia gapai. "Capek." Akhirnya kata itu keluar. "Mau sampe kapan kayak gini terus?" Lirihkan pertanyaan yang selalu ia ajukan. Hanya satu yang Vanya inginkan, dihargai. Setiap keinginan yang ia utarakan pada sang ibu, maka ibunya akan langsung menolak. Pun ketika Vanya berhasil meraih keberhasilan, ibunya akan menyepelekan dan membandingkannya dengan masa lalu ibunya. Di sini hanya Vanya yang penurut, adik dan kakaknya sama-sama pemberontak yang selalu membantah saran orang tuanya, jadilah Aghni hanya memiliki Vanya yang bisa ia kendalikan. "Gue pikir dengan nurut sama Mama semuanya bakalan oke. Tapi ternyata enggak." Tutupi mata dengan lengan, embusan napas lelah pun menguar. "Mas Lindu gak berubah. Bisa enggak, ya, gue bertahan kalo Mas Lindunya aja begitu terus." "Curiga kalo apa yang dia bilang kerjaan itu bukan. Siapa tau aja 'kan dia punya simpenan." Biasanya Vanya akan berusaha menepis pikiran tersebut, tapi karena seringnya Lindu abaikan ia, keraguan muncul geregoti kepercayaan yang semula ia tanamkan. "Apa aku batalin aja pernikahannya?" Kalimat itu terlontar begitu saja. "Tapi sayang. Udah keluar uang banyak." Panjangnya embusan napas yang keluar dari mulutnya buktikan betapa kelahnya ia. Ting. Bunyi notifikasi buyarkan renungan Vanya. Benda pipih tersebut Vanya lihat. Terdapat nomor asing masuk yang buatnya penasaran karena jarang ada nomor asing mengirimnya pesan. +62 1234-5678-910 Tetanggaaaa Nasi gue abis, gue minta nasi donggg Laper banget anjir Anak-anak gue udah pada rewel Alis Vanya menyatu melihat pesan sok akrab dari nomor tak dikenal tersebut. "Tetangga?" Refleks kepalanya menoleh pada jendela kamar, di mana keberadaan rumah yang berada tepat di samping kamarnya. "Si Erza?" Kembali ia baca secara teliti deretan pesan tersebut, lalu tangannya menari di atas layar ponsel. You Erza lo ya? +62 1234-5678-910 Iyeee Tetangga lo paling ganteng seantero komplek Minta nasi anjir Gak kasian sama tetangga??? (Picture) Bibir Vanya bentuk cibiran begitu matanya dirusak oleh foto menggelikan Erza. "Orang gila." Namun, ia tidak menghentikan kegiatannya membalas kegilaan Erza. You Gembel lo Sok ganteng Ewww +62 1234-5678-910 Lah, sama Pak RT juga gantengan gue Mata lo udah pindah sih ke kaki Jadi mata kaki Awogawog "Receh banget ni orang." Tak ayal tawa Vanya keluar hanya karena pesan tak bermutu mantan sekaligus tetangganya. Pun kembali jemarinya mengetikan kalimat untuk membalas pesan tak berfaedah Erza. You Mata kaki kagak bisa liat begoooooo +62 1234-5678-910 Gak nyantuy banget begonya Vanya mengabaikannya, pesan dari sang ibu untuk menjauhi Erza. Sejenak, Vanya biarkan diri hiburan dari Erza dan lupakan tekad yang ingin menjauhi Erza. Tanpa sadar bahwa dirinya masih menginginkan pria itu, bahkan nyaman yang ia rasakan saat bersama Erza pun masih ada. Erza telah menghanyutkan masygul yang mengendap lama dalam dirinya. Mana bisa Vanya menjauhkan apa yang membuatnya bahagia sebab itupun ia lakukan tanpa mengingat wejangan sang ibu. Ia merasa terhibur, maka ia lanjutkan. Tidak ada Lindu yang harus ia jaga perasaannya, tidak ada wejangan sang ibu, tidak ada penilaian orang lain apabila ia asyik bersama pria lain. *** "Mama pusing banget sama kamu, Erza. Saking pusingnya dunia kerasa berputar-putar setiap detiknya." Selama ibunya mengoceh, Erza diam saja seraya merakit robotnya. "Temen-temen kamu semuanya udah pada nikah. Ada yang udah punya anak, anaknya udah SD, bahkan ada yang udah cerai. Lah, kamu? Setiap hari bongkar-pasang kendaraan. Bukannya nikah, duitnya malah dipake buka cabang bengkel. Gereget Mama sama kamu." "Mama tanya lagi. Kapan kamu mau nikah?" Taruh obeng di samping ponsel yang menampik wajah marah sang ibu, beberapa sekon Erza tidak menjawab pertanyaan sang ibu hingga Tina ajukan tanya kembali, "Kapan Erza? Malah diem kamu." "Minggu ini juga, Ma." Dia menjawab asal. Fokusnya bukan pada mamanya, melainkan alat-alat yang ia perlukan untuk menciptakan robotnya. "Ngayal kamu!" "Katanya tadi kapan nikah. Udah dijawab malah dikatain ngayal. Gimana, sih, Mama." Tina mendengkus keras, jelas jawaban putranya sangat tidak masuk akal disaat ia sendiri belum ada pasangannya. "Mau nikah sama siapa coba? Sama kambing? Mama sih gak mau punya menantu kambing." Merasa terhibur akan ucapan sang ibu, Erza tertawa sebentar. "Sama tetangga, Ma. Doain aja udah, jangan banyak ngoceh." "Tuh, kan. Mana ad—" Dengan seenaknya Erza matikan sambungan telepon mereka. Untungnya diomeli sang ibu melalui telepon adalah mematikan sambungan teleponnya. Apabila ibunya mengomel saat ia ada di rumah, Erza tidak memiliki cara untuk menghindarinya. Mau tak mau ia dengar ocehan sang ibu sampai kakinya kesemutan atau bahkan gendang telinganya hendak pecah. "Dibilang Minggu depan sama tetangga. Gak percayaan banget jadi nyokap," gerutunya,.kembali fokus pada kegiatannya. "Kalo itu jadi kenyataan, berani ngasih apa emang dia? Tiket honeymoon ke tujuh negara?" Teringat tetangganya yang belum juga hengkang dari hatinya meski kabar pernikahan Vanya dan Lindu sudah jelas, Erza lirik rumah di sampingnya. "Namanya jodoh meskipun udah mau nikah, siapa tau nikahnya sama gue, bukan sama tunangannya." "Atau enggak mereka cerai, Vanya nikah lagi sama gue." Dia berucap secara sadar disertai kepercayaan diri setinggi angkasa. "Tapi semoga aja di hari H nanti Lindu gak dateng. Atau kabur gitu kayak di film-film. Soalnya dia gak cocok banget sama Vanya, dia cocoknya sama gue." Mulutnya tidak henti berceloteh dengan bayangan indahnya pernikahan ia dengan Vanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD