[The Real Jodoh Gak Kemana]

1122 Words
Hari sakral pun tiba, umumnya pengantin wanita akan gugup menantikan janji sakral sang pengantin pria dengan Tuhan. Namun, entah mengapa, Vanya tidak merasa kegugupan, memorinya memutar pada beberapa kebersamaannya dengan Lindu, yang mana Lindu selalu bersikap cuek padanya. Laki-laki itu terkesan mau tak mau menjalankan hubungan dengannya. Vanya tahu adanya hubungan mereka karena perjodohan. Dalam pemikiran Vanya, jika memang Lindu tidak menginginkannya, mengapa menerima perjodohan ini? Kalau ditanya pun Vanya akan menjawab ia terpaksa menerima perjodohan ini, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menolak keinginan mamanya. "Lo keliatan tenang banget." Rasya mengomentari gelagatnya. "Enggak gugup?" Wajah yang sudah diriasi makeup itu tidak menampilkan riak apapun. Sorot matanya kosong, tidak ada harapan maupun kebahagiaan di sana. "Semua cewek pasti tegang kalo mau nikah, begitu juga gue." Keberadaan penunjuk waktu pada pergelangan tangannya dilirik. "Udah jam delapan. Cowok lo belom dateng juga." Vanya juga sudah kesal menunggu pihak pria datang agar acara segera terlaksanakan. Namun, mereka tidak datang sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Harusnya pernikahan mereka terlaksanakan jam tujuh, makeup Vanya juga selesai tepat di jam setengah tujuh. Dan ini sudah satu jam mereka menunggu. "Lo udah telpon cowok lo?" Kebawelan sepupunya itu buat Vanya semakin pusing. "Udah gue chat, tapi centang satu." Kembali Vanya kirimi Lindu pesan. Dan hasilnya sama. Jika ia telepon pun hasilnya akan sama. "Telepon seluler aja coba. Siapa tau diangkat." "Bener juga." Karena pikirannya yang melalang buana Vanya tidak terpikirkan hal itu. Pun jemarinya lekas mencari nomor telepon Lindu sebelum menghubungkan telepon. "Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif." Satukan lidah pada dinding mulut, Vanya coba lagi hubungi Lindu. Namun, yang menjawab tetap bukan Lindu. "Enggak aktif?" Menggeleng lesu, Vanya tidak tahu mengapa pria itu jadi sulit dihubungi seperti ini. "Gue telepon sepupunya aja, deh. Siapa tau ada kabar dari mereka." Hati Rasya tergerak melihat wajah lesu sepupunya. Ia pun khawatir terjadi sesuatu tak mengenakkan pada Lindu dan keluarganya, belum lagi keresahan orang-orang di luar karena besan belum juga datang. "Gimana?" Vanya bertanya penuh harap. "Bentar." Memilih tidak menjawab apa yang ia dapat, Rasya tidak mau membuat suasana hati Vanya buruk di hari yang seharusnya bahagia ini. Gelisah. Vanya takut feeling-nya selama ini benar bahwa Lindu tidak menginginkannya. Bukan takut kehilangan Lindu, ia lebih takut rasa malu ditanggung keluarganya jika benar Lindu kabur. Harusnya dari awal nolak kalo emang gak mau sama aku. Kini Vanya tidak bisa lagi sembunyikan kekesalan dan kerisauan, belum lagi pertanyaan-pertanyaan dari luar kamarnya membuatnya semakin gerah. "Ini mana? Udah jam sepuluh kok besannya belom dateng juga?" "Macet kali." "Macet kok se lama ini? Udah tiga jam, loh, kita nunggu. Kasian pengantinnya." "Iya, ih. Lama banget. Harusnya udah selesai ini." Pembahasan mengenai lamanya besan bertandang sebagaimana kaset rusak di telinga Vanya. Kepalanya berputar buram kan penglihatan, Vanya ingin muntah karena tumpukan pikiran negatif dalam kepalanya. Hingga waktu tunjukkan angka sepuluh, harusnya Lindu telah hadir di acara pernikahan mereka. Namun, belum ada tanda kedatangan pria itu, semua orang dibuat resah dan bertanya-tanya atas ketiadaan pengantin pria. Vanya hanya bisa berdoa agar Lindu segara tiba dengan selamat. Di balik gaun pengantinnya, keringat telah basahi tubuh, antara gelisah dan gerah akan pertanyaan-pertanyaan orang sekitar. "Kak Vanya!" Teriakan sepupunya dengan nama Rachel datang tergesa ke kamarnya. "Lindu kabur." Bola mata Vanya melebar seketika, nyaris jantungnya keluar mendengar pernyataan sepupunya. "Bohong kamu," elaknya dengan napas tak lagi beraturan. Semula Vanya telah menduga hal ini akan terjadi. Namun, bukan berarti ia tidak memiliki harapan pria itu benar-benar datang. Rupanya apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Pria itu pergi, meninggalkan janji yang seharunya ia tepati. "Bener. Lindu kabur. Tadi gue denger Mama sama Papa lo bilang gitu di luar." Ucapan Rachel sangat meyakinkan. Sebenarnya Rachel tidak mau menyampaikan ini karena tidak tega meruntuhkan kebahagiaan yang semestinya terjadi hari ini. Namun, tantenya memberi perintah untuk ungkapkan ini. Tidak bisa Vanya tahan bobot tubuhnya. Ia ambruk seketika dengan pandangan gamang. "Gak mungkin." Belum lama Vanya terduduk sebab tak bisa menerima fakta ini, mama dan papanya masuk ke kamar. "Vanya. Erza yang akan menikahi kamu. Lindu ... dia kabur." "Erza?" Bahkan keterkejutan Vanya belum usai karena kabar kaburnya Lindu, dan sekarang pernyataan mamanya membuat Vanya nyaris kena serangan jantung. "Ma-Mama jangan bohong, Ma." Seorang Erza Bimantara, Vanya jelas akan menolak jika janji yang seharusnya Lindu ucapkan kepada Tuhan hari ini, Erza lah yang melakukannya. Mantan sekaligus tetangganya itu ... apa bisa Vanya kembali mengukir kisah dengan Erza lagi? Dan masuk dalam kubangan yang sama? Serta rasa sakit yang sama? Mengingat permasalahan mereka belum benar-benar usai kala itu. ** "Za! Weh, gue liat-liat makin hebat aja lo." Saka menjabat tangan Erza begitu Erza tiba di rumahnya. Bibir Erza membentuk senyum ramah. "Hebat apanya? Kan gue bukan Ultraman." Beri kelakar di saat hatinya tengah bersedih sebab ini merupakan hari pemilik hatinya menjalankan pernikahan dengan pria lain. "Usaha lo merajalela di Jakarta. Gue liat setiap tempat ada bengkel lo, buset si Erza, dompetnya setebel apa sekarang?" Pundaknya dirangkul akrab. "Rencananya, sih mau nguasain Indo." Usainya Erza udarakan tawa, sesekali matanya melirik sekitar; mencari sang dara yang sebentar lagi menjadi milik orang lain. Tuhan, tolong bikin Lindu gak bisa nikahin Vanya. Dari kemarin Erza tak henti panjatkan doa tersebut, dengan demikian ia bisa gantikan Lindu. "Anjir. Mau jadi sultan bengkel lo?" "Weh, iya, dong. Gue mau ngalahin Mark Zuckerberg soalnya." Sementara Saka bawa Erza ke dalam sebagai tamu istimewa baginya. Erza yang diperlakukan demikian merasa sudah biasa, mengingat selama ia berpacaran dengan Vanya, ia memang paling dekat dengan Saka. "Gue mau ngasih pertanyaan keramat, ah, ke lo." Tahu apa maksud pertanyaan keramat itu, Erza rautkan riak jengkel. "Sekarang gue nikah." Dia menjawab sebelum pertanyaan 'kapan nikah?' Saka ajukan. Saka dibuat tertawa sebelum menyajikan teh untuk Erza. "Masih jomblo juga lo?" Saka bertanya harap-harap cemas. Dia ingin egois. Karena sebetulnya Saka sangat ingin jika Erza dengan Vanya, bukan Lindu yang ia lihat terlalu cuek pada adiknya. Namun, karena ini keputusan adiknya, Saka tidak mau memaksakan. "Ya gitu, deh." "Kasian amat," ejek Saka sebelum delikan tajam Erza berikan. "Lo juga jomblo, gue tebak." Lalu tawa Saka menggelegar sebagai pembenaran. "Pacaran aja, yuk, kita." "Ih, najis, anjir." Bergidik ngeri sembari jauhi Erza. "Kalo frustrasi ngejomblo, larinya jangan ke gue, dong. Cewek gadungan 'kan banyak." "Kak Saka." Keduanya serentak melirik seorang yang baru datang dengan napas tak lagi beraturan. "Ken—" "Kak Lindu kabur, Kak. Dia gak mau nikahin Kak Vanya. Gimana ini, Kak?" Erza tatap Saka yang tidak menampilkan ekspresi apapun. "Za." Pria itu panggil dirinya yang terheran. Namun, juga bahagia akan kabar yang ia nantikan ini. "Lo mau masa jomblo lo berhenti, kan?" Alis Erza naik. Ia tidak mengerti akan pertanyaan Saka. "Nikahin adek gue sekarang juga." Telaga Saka memusat dengan keyakinan penuh pada Erza. "Gue tau lo masih ada perasaan ke adek gue."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD