MEMBUKA MATA

1099 Words
Jedug jedug ... suara di luar membuat ketakutan menguasai Meisin. Tapi entah angin yang begitu kencang atau ada makhluk tak kasat mata yang membantunya, tiba-tiba lukisan yang terpajang di dinding tua itu jatuh terpental jauh hampir mengenai kakinya. Meisin kaget dan refleks berteriak. Belum selesai dengan rasa kaget karena jatuhnya lukisan itu. Meisin mendengar bisikan di telinganya. “MATI.” Meisin mengedarkan pandangan mencari sosok yang bersuara serak itu. Sampai kemudian, kepalanya menyentuh kotak kayu yang tersembunyi di balik lukisan yang sudah jatuh tadi. Meisin dengan sisa keberaniannya mencoba membuka kotak tua itu. Ada sebuah jimat bercahaya merah disana. Benda itu dibungkus kain putih yang Meisin ketahui itu adalah kain kafan pembungkus mayat. Meisin meraih benda itu dan seketika dia melihat dua orang yang salah satunya adalah bapak Jack sedang melakukan ritual di dalam gubuk itu. Rupanya benda itulah yang dimaksud oleh Ibu Jack sebagai sumber kekacauan itu. Meisin berinisiatif untuk membakarnya, tapi di tempat itu dia tak bisa mendapatkan korek atau benda sejenisnya yang bisa membakar benda itu. Meisin berlari keluar, Masuk ke kamar pertama tapi di sana, dia juga tidak menemukan apapun. Sementara Di pintu gubuk yang diganjal pintu dan kursi itu, Jack dan Mela sudah hampir bisa menerobosnya. Meisin menoleh ke pintu saat keluar dari pintu kamar pertama. Dia semakin takut sebab separuh badan Jack sudah berhasil masuk. Meisin berlari ke kamar ke tiga. Di sana dia mencari benda yang bisa digunakan untuk membakar jimat terkutuk itu. Disingkapnya sprei kasur yang masih terlihat layak pakai itu. Baju Melda yang berceceran di lantai pun tak luput dari tangannya. Sudah menyingkap semua benda di kasur dia berlari ke laci. Dia membukanya satu persatu. “Nyawa harus dibayar nyawa.” Jack dan Mela sudah berada di ruangan itu dengan pandangan marah. Meisin gemetar ketakutan, hingga benda yang dipegangnya jatuh entah kemana. Jack bergerak maju dengan tangannya yang menghitam hendak mencekik leher Meisin. Meisin tak menyerah, dia melempar semua benda yang tersentuh oleh tangannya. Dan hal itu membuat Jack semakin marah, dia membuat tubuh Meisin terbang bersamaan dengan benda-benda lain yang ada di ruangan itu. “Lepaskan aku, lepaskan aku.” Meisin meronta menggerak-gerakkan tangannya. Brak ... tubuhnya jatuh bersamaan dengan benda yang tadi terbang di sekitarnya. Tubuh Meisin terjatuh mencium lantai. Saat itulah, dia melihat jimat itu tepat di dekat kepalanya. Dan beruntungnya, di sana juga ada kotak korek kayu yang tergeletak tak jauh dari jimat itu. Dengan cepat dia mengambil benda itu. Lalu dengan sisa tenaganya Meisin bangkit. “Aku akan menghentikan kalian, seperti yang sudah dipesankan Mendiang ibumu, Jack.” Meisin mengangkat tinggi-tinggi benda itu di tangannya. Dia menggesekkan korek yang baru dia dapatkan. Klek-klek ... korek itu tak juga menyala. “Hahaha .... Tak ada yang bisa mengentikan aku.” Sosok hitam besar tiba-tiba berdiri di belakang Jack. Ketakutan Meisin kian bertambah. Tapi dia tak menyerah, digesek kan terus korek kayu itu olehnya. “Ah, sial! Ini tuh lembab. Plis plis plis ... Nyala nyala.” Meisin terus mengambil satu persatu biji korek kayu yang sudah tersisa dua batang itu. “Aku adalah ....” Belum sempat sosok itu menyelesaikan kalimatnya, korek terakhir yang Meisin pegang menyala. Dengan cepat, Meisin membakar benda yang terbungkus kain kafan putih itu. Dan bersamaan dengan itu, Jack, Mela dan juga sosok yang hitam besar di belakang mereka turut terbakar. Mereka meraung lalu menghilang, menyisakan kepulan asap yang kemudian juga sedikit demi sedikit semakin tipis lalu hilang juga. Dada Meisin berdegup kencang. Dia juga menitikkan air mata karena rasa syukur yang tiada terkira, sebab Tuhan masih melindungi-Nya. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding, mengatur nafasnya yang masih tak karuan karena sedikit saja dia telat bertindak, maka dia hanya akan tinggal nama. Deru nafasnya terdengar sebab sunyi yang seketika menyergap di tempat itu, hingga kemudian .... Aroma anyir darah yang semula biasa di penciumannya berganti aroma obat-obatan. Meisin perlahan membuka mata dan lagi, dia berada di tempat yang berbeda. Dia terlentang di sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang menyergap penciuman. Meski begitu, gemuruh di dadanya masih terasa. Ketakutan itu masih mengikutinya bahkan sampai dia berpindah lagi ke tempat yang tak asing baginya sekarang. Ya, seperti sudah bukan di hutan ataupun padang Ilalang. Meisin menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Dia tak ingin berhalusinasi yang tak masuk akal seperti yang sudah-sudah, sebab itulah dia mencubit pipinya sendiri. Dan .... “Auw ....” Dia mengaduh sakit. Artinya kali ini dia tidak sedang bermimpi. Dia benar-benar sedang di rumah sakit sekarang. Sepercik rasa bahagia mulai menyusup dalam hatinya hingga kemudian, suara-suara aneh itu terdengar lagi. Ssshhhh .... Dada Meisin kembali bergemuruh. Ketakutan kerap menguasai saat telinganya terasa sangat peka pada suara-suara tanpa rupa. Dilihatnya sekeliling, penerangan yang minim membuat Meisin tak bisa melihat dengan jelas isi ruangan itu. Dia pun mencoba untuk turun, tapi saat kakinya baru menginjak lantai, dia merasakan ada tangan berkuku yang menyentuhnya. Meisin mengumpulkan keberanian untuk melihat ke bawah, tapi tak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaanku aja. Dia mencoba tak peduli, dan melangkahkan kakinya untuk keluar. Tapi ... Sebuah tangan hitam kembali menyentuh pergelangan kakinya dan bahkan menariknya hingga Meisin terjatuh. Dan tepat ketika itu, Meisin melihat makhluk mengerikan sedang menatap di bawah kolong ranjang. Mulutnya menganga, memperlihatkan banyak belatung bergerak di dalamnya. Sedang dari kepala makhluk menyeramkan itu, mengucur darah segar bercampur nanah. Meisin berteriak dan menutup matanya. Dia ingin bangkit tapi tiba-tiba terasa lemas. Meisin pun duduk menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya. Suara cekikikan terdengar di telinganya. Meisin yang sedang ketakutan itu menutup telinganya rapat-rapat. Plak ... Pundaknya disentuh seseorang. “Akhirnya kamu sadar, Nak.” Suara Ibu Rena terdengar dan tepat ketika itu, suara-suara tanpa rupa itu tak lagi terdengar. Meisin membuka mata, dia mengangkat wajahnya dan mendapati ibu dan bapaknya di sana. “Ayo ibu bantu kamu berdiri. Kamu ngapain di situ? Kalo belum kuat bangun, diem aja di tempat tidur.” Bu Rena memapah anaknya yang sedang sangat ketakutan itu. “Ibu turut berduka ya atas kematian calon suami kamu.” Bu Rena menyingkap rambut anaknya. “C_calon suami?” Meisin tak mengerti maksud ucapan ibunya. Seingatnya dia tidak ada niatan ataupun keinginan untuk menikah selama ini. Bahkan jika boleh, dia ingin melunasi semua hutang piutang orang tuanya sebelum dia memutuskan menikah. “Iya, Owen. Jasadnya belum ketemu.” Bu Rena berderai saat mengatakannya. Entah karena dia benar-benar merasa kehilangan Owen, atau karena dia merasa sudah gagal untuk punya besan dan menantu kaya. “Reksa gimana, Bu?” Sekilas Meisin seperti melihat Reksa masuk ke mobil yang dia naiki. Tapi sosok yang di sampingnya seperti kabur, membuat Meisin tak bisa ingat mereka siapa. “Reksa juga ada di rumah sakit ini sekarang,” jawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD