Reksa dan Meisin adalah sahabat dari kecil. Mereka sudah seperti kakak beradik yang selalu saling menjaga dan melindungi.
Pernikahan yang terjadi adalah nyata. Tapi tidak terjadi di alam manusia, melainkan terjadi di dunia yang tak bisa dilihat manusia. Orang biasa menyebutnya Alam ghaib. Tapi bagi Owen dan sebangsanya, itu adalah alam keabadian.
Owen mengikrarkan janji nikah di hadapan pendeta akan terus berada di samping Meisin dalam kondisi apapun tanpa ada batas waktu.
Di sinilah kisah itu akan dimulai. Sebuah hubungan yang sudah salah dari awal. Memaksakan kehendak dengan menghalalkan segala cara sama sekali tidak membawa keberuntungan apapun. Bahkan kini, Owen harus kehilangan nyawanya hanya demi membayar lunas sisa ritual yang belum sempurna dilakukannya.
Ah, sungguh disayangkan. Padahal, jika saja Owen mau berusaha lebih gigih, perlahan Meisin pasti akan luluh. Ibarat batu, jika terus ditetesi air, maka pada akhirnya akan berlubang juga.
Bukan hanya itu, karena pernikahan di alam itu, membuat mata batin Meisin terbuka. Dan tak hanya penglihatannya saja yang terbuka, pendengarannya pun menjadi sangat sensitif hingga radius berpuluh puluh meter.
Apa Meisin akan bisa tidur dengan kondisinya?
Pengalaman dengan Melda, Melly, Micko, Mela dan Jack yang dianggap mimpi oleh Meisin, rupanya adalah awal dari terbukanya semua hal yang berhubungan dengan makhluk ghaib.
Seperti hari ini, ketika badannya terasa ringan dan sudah membaik. Meisin berjalan-jalan keluar dari ruangan tempatnya dirawat. Dia juga ingin menemui sahabatnya, Reksa yang juga dirawat disini.
Baru selangkah kakinya berjalan di koridor rumah sakit telah berdiri sosok perempuan dengan darah mengalir segar dari sudut matanya, dan yang menarik perhatian Meisin, perempuan itu berdiri dengan menggendong bayi yang tak kalah seram di pangkuannya.
Wajah bayi itu hitam dengan mata menyala seperti api. Lidah bayi itu menjulur panjang menjilati darah bercampur nanah yang keluar dari mulut ibunya.
Akh .... Apa-apaan semua ini?
Kenapa aku bisa melihat pemandangan mengerikan seperti ini?
Tiba-tiba, seorang suster berjalan ke arahnya dari arah depan.
“Awas, Sus ....” Meisin dengan sigap menarik suster yang hampir saja menabrak perempuan yang saat itu diam berdiri dan terus menatapnya.
“Ada apa, Mbak?” Suster bertanya heran pada sikap Meisin.
Meisin yang menyadari bahwa hanya dirinya yang melihat perempuan itu pun menjawab gugup, “Ada serangga yang terbang di depanmu, Sus. Kalo nggak menghindar, mungkin suster kelilipan sekarang.”
Belum mendengar jawaban Suster itu, Meisin berkata lagi dengan bertanya ruangan Reksa untuk mengalihkan pembicaraan.
“Ruangan melati nomer lima, di sebelah mana ya, Sus?” tanya-nya menyebutkan nama dan nomer kamar Reksa. Dia sudah bertanya pada ibunya saat tadi berniat menemui sahabatnya.
“Di ujung koridor sana,” ucap suster itu dengan menunjuk koridor yang tampak tak berujung di lihat dari tempat Meisin berdiri sekarang.
“Terimakasih,” ucap Meisin sebelum berlalu meninggalkan suster yang diam menatap punggung Meisin dengan menyeringai.
Wajah ramah yang tadi tampak pun berubah menjadi datar. Suster itu memandang punggung Meisin seolah telah menemukan mangsa yang sudah di nantinya.
Meisin berjalan lurus mengikuti petunjuk suster tadi dengan tanpa curiga sedikitpun. Baginya bertemu Reksa adalah hal utama untuk sekarang, karena Meisin ingin memastikan cerita ibunya bahwa dia kecelakaan saat akan menikah.
Owen, Calon suami yang diceritakan ibunya. Bahkan Meisin ingat jelas bahwa dia baru bertemu laki-laki itu dua kali. Bagaimana dia akan menikah?
Bisa saja, yang diceritakan ibunya sama seperti kisahnya saat bertemu Melda, Melly, Jack dan juga Mella.
Ya, bisa jadi seperti itu. Hanya dalam mimpi.
Pengaruh jampi-jampi Owen telah hilang, seiring dengan terlepasnya jiwa si pembuat ritual dari raganya. Tapi jangan tenang dulu! Karena saat jiwa Owen mendatangi Meisin, perempuan itu akan merasa tenang dengannya.
Meisin terus menyusuri koridor yang semakin ditempuh, tempat itu semakin gelap dan lembab.
Dia telah hampir sampai di koridor ujung seperti yang ditunjukkan suster tadi, namun saat itu pula dia sadar bahwa lorong tempat dirinya berdiri sekarang adalah koridor dengan pintu kanan kiri yang tertutup rapat dan terlihat tak berpenghuni.
Kurangnya pencahayaan membuat Meisin merasa bahwa dia telah terlalu jauh berjalan dan sampai di koridor yang telah lama terbengkalai.
Oh sungguh, dia merasakan takut itu lagi. Langkahnya terhenti ketika pandangannya menangkap sebuah tangga tua terbuat dari kayu.
Meisin sudah akan berbalik dan menjauhi tempat itu. Sebab perasaannya tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang jahat di sana.
Terlebih, saat dilihatnya sosok perempuan menuruni tangga tidak dengan berjalan, pastilah dia bukan manusia. Walau temaram di tempat itu tidak membuat dirinya melihat dengan sempurna sosok itu tapi bisa dia pastikan bahwa dia bukan manusia. Tidak mungkin manusia menuruni tangga dengan cara seperti itu, pikirnya.
Meisin pun mengambil langkah seribu, berlari sekuat yang dia bisa menghindari makhluk dengan rambut terurai panjang yang terus turun dan mengejarnya. Dia melupakan niatnya bertemu Reksa, baginya sekarang adalah lolos dari kejaran makhluk menyeramkan itu.
Brak ..., dia menabrak seorang suster dengan keras hingga suster itu jatuh di depannya. Saat dilihatnya, suster itulah yang tadi menunjukkan arah pada Meisin.
Meisin membantu memungut barang-barang bawaan suster itu dengan kepalanya terus menerus dia tolehkan pada makhluk yang ternyata sudah tidak mengejarnya.
“Maaf, Sus. Aku nggak sengaja,” ucap Meisin dengan napas tersengal sembari menoleh sekali lagi memastikan bahwa makhluk yang tadi mengejarnya benar-benar sudah tidak ada.
Tidak ada!
Tapi betapa terkejutnya dia, saat dia melihat pada suster yang ditabraknya, wajah suster itu berubah menyeramkan. Mulutnya hitam dengan wajahnya terlihat sudah bukan lagi seperti manusia. Rambut yang tadi rapi dengan tudung kepala berwarna putih pun berganti rambut semrawut panjang terburai menyentuh lantai. Sungguh hal yang tak pernah dia bayangkan dalam hidupnya, diganggu makhluk tak kasat mata tapi jelas dia melihatnya dan saat ini sedang diganggu oleh mereka.
Meisin kembali berlari, sementara di belakang sana arwah suster itu mengesot mengejar Meisin dengan cekikikan menakutkan. Meisin yang berlari dengan selalu menoleh pada suster itu tidak menyadari bahwa didepannya terdapat balok kayu menghalangi jalannya. Alhasil, dia tersandung dan jatuh membentur lantai, dan naasnya dia tidak pingsan ataupun mati, hingga dia bisa melihat bahwa didepannya dengan cepat hantu suster itu memangkas jarak yang kian detik semakin dekat.
Meisin menutup mata, ketakutan yang teramat membuatnya tidak berani membuka matanya. Darah mengalir segar dari pelipisnya, namun hal itu tidak membuatnya merasakan sakit di area luka itu, ketakutan mendominasi hingga melupakan luka yang dialaminya.
Srak ... sebuah siluet menarik hantu suster yang telah sekian centi di depan Meisin hendak meraih wajah cantik yang sedang terpejam itu.