HANTU BARU

1332 Words
Meisin menundukkan kepalanya dengan rasa takut yang mulai datang seolah mencekiknya. Tampaklah sesosok wanita dengan rambut gimbal menjuntai menyeringai di bawah sana. Meisin berteriak dan memejamkan mata. “Gudangnya ada di arah jam sembilan. Cepat musnahkan benda itu.” Sebuah bisikan terdengar di telinganya. Dan saat dia membuka mata, wanita yang tadi memegangi kakinya telah sirna. Hatinya tergerak begitu saja menuju tempat yang ditunjuk oleh suara-suara tanpa rupa itu. Dia melangkah ke sebuah gubuk tua yang berdiri angkuh di tengah sepetak tanah tanpa tuan di depannya. Meisin melangkah dengan memerhatikan setiap kiri kanan jalan. Dia khawatir bukan hanya dirinya yang saat ini ada di tempat itu. **** Melly berlari tanpa peduli pada napasnya yang sudah tak menentu. Yang dia pikirkan hanyalah harus berlari sampai jauh agar tak tertangkap oleh kakaknya yang jahat itu. Dia berlari di sepanjang jalan yang tak ada rintangan apapun di sana. Aspal yang tak ada lubang sama sekali, juga jalanan yang hanya lurus tak berbelok. Bahkan jika di lihat ke depan seolah semakin mengecil dan gelap. Meisin tak peduli, selama dia bisa bebas dari kakaknya, dia akan terus berlari. Sementara hati kecilnya sebenarnya tertinggal pada diri Meisin yang sudah menyelamatkannya. Gadis itu pasti sudah tertangkap oleh Melda, kakaknya. Ah, dia tak ingin pengorbanan Meisin sia-sia, sebab itulah dia terus berlari meski sejatinya dia ingin kembali dan mengajak Meisin pergi bersamanya. Dia tak mungkin kembali, sebab jika itu dia lakukan. Dia pasti akan kehilangan nyawanya. Melly terus berlari sampai akhirnya tak jauh di depan sana dia melihat seorang wanita duduk bersandar pada batang pohon besar yang rindang. Postur tubuh yang sedang memiringkan kepalanya itu seperti tak asing bagi Melly. Kaos ketat dengan lengan pendek dan celana jeans yang dikenakannya juga tampak tak asing. Pun rambut panjangnya yang dikuncir kuda. Semua itu benar-benar tak asing bagi Melly. Diapun melangkah dengan matanya tak teralih sedetikpun dari wanita yang sedang seperti tidur itu. Kepalanya miring namun tampak tak asing dilihat dari samping. Setibanya di dekat wanita yang ternyata terpejam itu, Melly menutup mulutnya sendiri. Dia menggoyangkan tubuh yang sudah tak bergerak itu dengan sebelah tangannya. Bahkan karena saking kerasnya dia mengguncang tubuh itu, wanita yang sebenarnya adalah jasad Melly sendiri terguling jatuh dari sandaran pohon itu. “B_bagaimana bisa? K_kenapa aku bisa mati kayak gini?” Melly bangkit dengan mundur beberapa langkah, menjauh dari jasadnya yang sudah kaku. “Kenapa aku nggak ingat apa-apa?” Melly yang sekarang hanyalah seorang arwah penasaran itu memukul kepalanya sendiri. Berharap dia ingat bagaimana dia mati dan bersandar di sana. Setelah cukup lama menangis meratapi Kematiannya sendiri, Melly bangkit. Dia teringat pada sahabatnya, Meisin. Perempuan yang sudah mengorbankan dirinya demi menolongnya. Diapun bangkit. Dia akan menolong Meisin dan kembali ke tempat terkutuk itu. Jika kemaren dia lari karena takut nyawanya terancam. Sekarang dia tak punya alasan untuk tidak menolong Meisin. Saat dia akan kembali, tiba-tiba seorang lelaki berwajah pucat tapi masih terlihat tampan berdiri di belakangnya. Melly kaget dan sempat takut, tapi untuk apa? Toh dia sudah bukan lagi manusia, pikirnya. “Di sana.” Lelaki itu menunjuk ke sebuah jalan setapak yang baru Melly lihat saat itu. Ya, sejak tadi jalan setapak itu tak ada. Bahkan seingatnya, di sekeliling jalan yang dilaluinya hanya ada tumbuhan pohon Pinus yang berdiri angkuh di setiap sisi kiri kanan jalan. Tapi sekarang, jalan itu benar-benar ada masuk ke dalam hutan. Melly tak langsung masuk, dia masih memandangi laki-laki tampan yang tampak tak punya darah itu dengan seksama. Dia seperti pernah melihat laki-laki ini, pikirnya. “Ikuti aku.” Lelaki yang tak lain adalah Owen itu berjalan mendahului Melly. Sedangkan Melly ingat, bahwa punggung bidang itulah yang kemaren menahan mobil ghaib milik kakaknya, Micko yang mengejar dirinya dan Meisin. Ya, tadinya Melly tak mau gampang percaya pada orang asing di tempat seperti ini. Tapi setelah mengingat itu, Melly berpikir bahwa lelaki di depannya itu tak ada niat jahat padanya. Sebab itulah, dia pun mengikutinya. Mereka berjalan beriringan dengan Melly berada di belakangnya. Jejeran pohon Pinus mulai hilang, kini yang ada di depan mereka adalah hamparan rumput hijau yang membentang sejauh pandangan mata. Melly memandang takjub, sebab dia merasa sudah sangat lama melihat hamparan menghijau seperti ini. Kapan lagi dia bisa menikmatinya? Dia berlarian dengan matanya dia pejamkan untuk merasakan sentuhan angin pada wajahnya. Tapi kemudian, langit berubah gelap. Mendung memenuhi hamparan langit di atasnya. Dan rumput hijau yang menghampar di tempat itu pun berganti jajaran pohon tinggi dan semak belukar. Melly melihat sekelilingnya, dan agak jauh di depannya, dia melihat Meisin berjalan mendekati sebuah gubuk tua di tengah hutan itu. “Mei! Meisin!” Melly berteriak memanggil temannya yang tampak berjalan seorang diri. Meisin menoleh dan mendapati Melly berdiri jauh di belakangnya. “Melly!” Meisin turut berteriak dan melambaikan tangannya. Melly berjalan melewati semak belukar yang melintang di sepanjang jalan. Dengan penuh perjuangan, sampailah dia di sisi Meisin. “Kamu ngapain balik lagi ke sini?” Meisin bertanya setibanya Melly di sampingnya. Melly tersenyum tapi tak bisa di tutupi, ada kesedihan mendalam karena dia yang teringat akan jasadnya sendiri di bawah pohon besar itu. “Loh, kamu kenapa?” Meisin menyentuh pundak Melly sebab dilihatnya Melly mengucurkan air mata. Melly menggeleng. “Ayo aku bantu kamu nemuin benda yang kamu cari,” ucapnya setelah menarik nafas dan menghapus air mata di pipinya. “Tunggu! Kamu tahu darimana aku sedang nyari sesuatu?” Meisin menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Melly. Sebab dia takut Melly yang dia lihat sekarang, bukanlah Melly yang dulu ingin keluar dari Padang Ilalang itu. “Aku denger dari ....” Melly mengedarkan pandangan, mencari laki-laki yang tadi menunjukkan jalan ini padanya. “Akutuh tadi dianterin sama cowok ganteng ke sini. Tapi kok dia udah nggak ada?” Melly tak habis pikir pada dirinya sendiri. Sudah jadi hantu, tapi masih terkena tipu. “Eh tunggu! Aku kan hantu. Tapi dia bisa liat aku, berarti ....” Melly bergumam sendiri. “Apa, Mel?” Meisin mendengar sedikit gumaman Melly, tapi tidak terlalu jelas. Sebab itulah dia bertanya. “Kalo aku cerita, kamu jangan takut, ya.” Melly akhirnya menceritakan tentang jasadnya yang dia temukan sendiri di bawah pohon. Dia menangis sesenggukan dengan kepalanya yang menunduk. Meisin yang mendengar itu merasa iba, disentuhnya pundak Melly lembut. “Kamu yang sabar, ya. Ini sudah takdir,” ucapnya lembut. Melly mengangkat wajahnya dan saat itu wajahnya berubah, kulitnya pucat dengan bola mata yang putih tak ada lingkaran hitam di tengahnya. Dan dari bibirnya, terdapat cairan merah kehitaman yang mengucur di sana. Meisin bergerak mundur dengan menutup mulutnya sendiri. “Jangan takut, Mei. Aku tetep Melly yang dulu, kok. Aku nggak akan jahat sama kamu. Tapi mungkin kematianku yang gak wajar membuat aku tertahan di sini.” Melly berucap sedih. “Mukaku serem, ya?” pertanyaan Melly yang seketika membuat Meisin menggeleng cepat. Ya, meski kenyataannya wajah Melly sudah seperti bukan Melly. Tapi demi menjaga perasaannya, Meisin berbohong. “Laki-laki itu bilang kamu harus menemukan benda terkutuk milik bapaknya Jack.” Melly berkata dengan jalannya yang mulai terseok. Apa semua hantu memang begitu? Meisin sejujurnya ngeri berjalan beriringan dengan sosok yang sudah bukan manusia. Tapi apa boleh buat? Dia akan membantunya. Lalu laki-laki siapa yang dimaksud Melly? Meisin menghentikan langkahnya yang diikuti Melly. Kepalanya berputar dengan tubuhnya yang masih menghadap ke depan. “Mel, aku bisa minta tolong gak? Kamu tuh jangan gerak seenaknya. Aku takut.” Meisin pada akhirnya berkata jujur. Melly menundukkan kepalanya ke bawah, hampir saja kepala yang menghadap terbalik itu jatuh menggelinding. Beruntung tangannya sigap menangkapnya dan meletakkannya lagi ke tempat semula. Meisin memejamkan mata dengan wajahnya yang meringis sebab sempat melihat kepala Melly yang nyaris menggelinding. “Udah kok, Mei.” Melly tersenyum dengan tubuh dan kepala yang sekarang sudah sama-sama menghadap ke arah Meisin. “Jangan gitu lagi, ya.” Meisin membuka sedikit sebelah matanya. “Hehe maklum, Mei. Hantu baru belum pandai gerakin badan.” Melly tertawa. “Aku tunggu kamu cerita soal cowok itu,” ucapnya lagi saat mereka berjalan kembali ke arah gubuk. Ah, ya ... cowok itu. Meisin jadi lupa menanyakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD