WAKTU YANG TEPAT

1744 Words
Meisin melihat sekeliling, namun arwah perempuan itu hilang entah kemana. Meisin berjalan mendekati pintu namun dia urungkan sebab dia melihat Melda datang dari pintu utama. Meisin melihat di belakang Melda hantu perempuan itu mengikutinya. Dia menatap Melda penuh dendam. Jack yang mengetahui kedatangan Melda segera menghampirinya, “Kenapa kembali?” tanya Jack. “Dompetku ketinggalan,” sahutnya berjalan ke kamar yang tadi menjadi tempat dirinya berbincang dengan Jack dan kedua temannya. Tak berapa lama, Melda keluar kembali dengan dompet merah maroon di tangannya. Dia melenggang keluar tanpa menoleh ke belakang yang disana hantu perempuan itu masih mengikutinya hingga ke pintu. Hantu perempuan itu berbalik begitu Melda melewati pintu utama. Dia berjalan ke arah Meisin dengan jalan terseok, sementara tangannya merobek perutnya sendiri lalu mengeluarkan segumpal daging yang merah penuh darah dari dalam perutnya. Meisin berteriak yang seketika dihampiri oleh Jack. “Ada apa, Mei?” tanyanya setibanya di pintu kamar yang menjadi tempat Meisin disekap. Meisin tak menjawab, dia masih memejamkan matanya sebab takut dan rasa ingin muntah melihat penampakan mengerikan di depannya. “Apa kamu benar-benar melihatnya?” tanya Jack kemudian saat melihat tingkah Meisin. Meisin mengangguk dengan melangkah mundur perlahan. Hantu perempuan itu sudah lenyap dari tempatnya. Jack mengikut masuk. Dia duduk di sisi tempat tidur di dekat Meisin. “Aku menyesal datang terlambat menyelamatkan Mela, dia sepupu yang sudah aku cintai sejak lama. Tapi ...,” dia tidak meneruskan kalimatnya. Meisin melihat bahwa penyesalan itu benar-benar ada pada sorot mata lelaki itu. “Tapi apa?” Meisin bertanya, dia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang sudah mendarah daging dalam dirinya. “Aku dan Mela saling mencintai, tapi Melda membunuhnya,” ungkapnya. “Kalo cinta, ngapa elu khianati dia, t***l?” umpat Meisin dalam hatinya. Dia tak bisa mengucapkannya terang-terangan sebab dia masih belum yakin untuk memperlihatkan bahwa dia benar-benar memiliki kemampuan melihat masa lalu pada Jack. “Sebab itulah aku ingin menolongmu, aku nggak mau terlambat bertindak seperti yang sudah menimpa Mela,” ucapnya kemudian. Meisin menimbang ucapan Jack. Tak ada kebohongan dari matanya, sebab dia melihat sendiri Jack menangis meratapi kematian Mela dalam pelukannya. “Baiklah, aku akan terima bantuan mu,” ucap Meisin setelah menemukan beberapa alasan untuk memilih percaya pada Jack dan menerima bantuannya. Mungkin Jack memang kejam sudah berprilaku kasar saat melakukan hubungan seksual di lantai atas bangunan tua milik Melda. Mungkin saja Meisin salah sudah menganggap Jack sama seperti Melda, buktinya dia memiliki hati nurani untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yang membuatnya kehilangan Mela, cinta sejatinya. Meisin pun mengikuti langkah Jack yang diam-diam menyeringai. Dibalik topengnya dia masih mengenakan topeng lagi yang sulit diketahui aslinya. Setelah berjalan cukup jauh, Jack berhenti. “Apa kamu capek?” tanyanya menoleh pada Meisin yang berdiri di belakangnya. “Tidak, ayo kita jalan lagi. Agar tidak ketahuan Melda,” ajak Meisin. Brak ... sebuah papan kayu mendarat di kepala Jack yang seketika membuat lelaki itu jatuh tak berdaya. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Jack, Owen muncul dengan wajah pucatnya. Meisin membelalakkan matanya tak percaya. “Kenapa kamu melukai dia?” tanya Meisin penuh amarah. “Dia sudah menolongku,” seru Meisin lagi sembari mendekati tubuh Jack yang sudah terkapar di tanah. Owen menarik tangan Meisin lalu membawanya melesat bersembunyi diantara rerimbunan pohon yang tak jauh dari tempat Jack terkapar. “Gila kamu, dia bisa mati di sana,” ucap Meisin sewot namun segera ditutup mulutnya oleh Owen dengan tangannya. Dingin saat tangan itu menyentuh bibirnya. “Lihat! Apa kamu masih menyangka bahwa laki-laki itu baik?” ucap Owen menghadapkan wajah Meisin ke tempat terakhir dia bersama Jack. Di sana, dia melihat dua lelaki dengan penutup wajah sedang berjalan ke arah Jack yang terkapar. Melihat Jack terkapar di tanah dengan darah yang mengucur di kepala lelaki itu, keduanya dengan cepat membuka penutup wajah mereka. “Bos, bangun, Bos. Dimana perempuan yang katanya mau bos jadikan pengganti Mela,” tanya lelaki yang lebih pendek mengguncang tubuh Jack. Namun lelaki itu tak bereaksi. Meisin mengamati dengan seksama dan menajamkan pendengarannya. Lelaki yang satunya menyentuhkan jarinya ke hidung Jack. “Dia udah mati, Bro,” serunya. Meisin terkejut sekaligus marah pada lelaki yang saat ini ikut bersembunyi di sampingnya sebab karenanya Jack meninggal sekarang. Ya, meskipun seharusnya Meisin berterima kasih karena dia selamat dari jebakan Jack yang berniat menukar jiwanya dengan jiwa Mela. “Sorry, kayaknya aku kekencengan mukul dia,” ucap Owen enteng dengan senyum yang terlihat manis walau bibirnya putih pucat. Meisin diam dan hanya memandang Owen yang tampak berbeda. Dia ingin bertanya tentang pernikahan yang sudah dia dan dirinya lakukan tapi berujung keanehan yang terjadi padanya. Tapi hal itu ia urungkan, karena menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Meisin sekali lagi melihat ke arah jasad Jack yang terkapar di sana, dua orang lelaki yang merupakan teman sekaligus bawahannya itu berlari meninggalkan jasad Jack. Meisin hanya menggelengkan kepala melihat semua itu. “Mereka harusnya mengangkat jasad Jack bukan malah meninggalkannya begitu saja,” ucap Meisin menoleh ke samping ke arah Owen. Tapi lelaki itu sudah hilang dari tempatnya. “Kemana lagi sih, tu cowok? Dasar aneh! Kemaren ngajak nikah, giliran udah nikah main pergi dan datang sesukanya.” Meisin mengumpat seorang diri sampai kemudian tubuhnya terasa ditembus oleh sosok tak kasat mata yang seketika membuat dirinya tiba-tiba duduk diantara obrolan bapak dan anak sepuluh tahun yang persis dalam foto. “Ingat, Jack. Ibumu sudah mengkhianati kita, dia pergi dengan lelaki dari kampung sebelah dan menikah dengan dia. Kamu harus memberikan laki-laki itu pelajaran, bahkan satu kampung harus menanggung akibatnya,” ucap lelaki berkumis dengan perutnya yang buncit. Jack yang masih berumur sepuluh tahun itu menundukkan kepala tak menjawab, sedang lelaki berkumis itu melangkah keluar. Meisin berjalan mengikutinya tanpa diketahui. Lelaki itu masuk ke kamar miliknya. Terbukti dari banyaknya lemari dengan aneka berkas berjajar di sana. Dia meraih sebuah map biru yang terletak di ujung. “Coba kamu mau menjual tanah kamu, tak akan pernah ada rencana besar ini yang akan menghanguskan dirimu dan keluargamu,” ucapnya dengan memandangi sebuah surat kesepakatan penjualan tanah yang tak ada bubuhan tanda tangan di sebuah nama bertuliskan, Ronny Adiyaksa. Kemudian, dia mengambil sebuah foto yang dia simpan dalam buku tebal di laci meja kerjanya. “Maafkan aku harus menyembunyikan nama kamu dari Jack. Ini semua aku lakukan agar semua dendam dan keinginanku tercapai. Beruntung sekali aku masih berhasil menyelamatkan Jack saat kamu akan membawanya melompat dari balkon rumah ini, jadi semua rencanaku bisa dijalankan mulus oleh-nya,” dia tertawa dengan suara yang memekakkan telinga. Kemudian dia meraih foto yang terpajang di mejanya. “Maya Maya, coba kamu dulu menerima aku dan tidak menikah dengan sahabatku. Aku nggak mungkin punya dendam untuk membantai habis keluargamu. Aku benci sama Ronny, suamimu. Dia itu sombong, aku mau beli tanahnya sepetak doang nggak dikasih, padahal tanahnya hampir seluruh isi kampung itu. Baji*ngan memang suamimu itu,” umpatnya mengatai orang yang namanya ada dalam berkas yang tadi dipegangnya. Meisin kembali ke kamar Jack, dia hendak memberitahukan kebenaran yang ditutupi bapaknya. Namun apalah dayanya, dia tak ubahnya bayangan yang bahkan suaranya saja tak bisa didengar oleh Jack. Meisin mencoba menggerakkan tangannya di depan muka Jack, namun lelaki itu malah asyik memandangi foto Maya yang dia kira ibunya. Bahkan tubuh Meisin ditembus oleh Jack saat dia bangkit dan keluar dari kamarnya. Sungguh lelaki tak punya perasaan bapak Jack itu. Dia membunuh istrinya sendiri lalu memberitahukan kebohongan pada Anaknya mengenai ibu kandungnya hanya karena dendam kesumatnya. Tapi mungkin, Jack sudah mengetahuinya sekarang. Dan pasti dia sudah bertemu ibu kandungnya di alam yang seharusnya menjadi tempat mereka. Meisin melangkah mendekati kasur yang tadi ibu Jack meletakkan sepucuk surat di sana. Dia meraih kertas itu, dan anehnya kali ini dia bisa menyentuh benda itu. ~Untuk Jack anakku Saat kamu baca ini, mungkin ibu sudah tidak ada. Ada satu rahasia besar yang harus kamu tahu, kamu tidak boleh menuruti semua perintah bapakmu. Kamu bukan bagian dari sekte yang dianutnya. Ibu ga ikhlas kalau kamu mengikuti jejak bapakmu. Jack, temukan sebuah kotak tua di gudang yang disembunyikan bapakmu. Benda terkutuk itulah penyebab semua kekacauan ini. Ibu sayang kamu, Jack. Pesan seorang ibu untuk anaknya. Tapi sungguh disayangkan, anaknya sudah tiada. Dan menyesalnya, anaknya pun sudah terlanjur mengikuti semua jejak bapaknya. Kini, hanya Meisin-lah satu-satunya orang yang membaca surat ini dan harus membantu menyelesaikan semuanya. Hanya saja saat Meisin melipat kembali kertas itu, tubuhnya kembali seperti ditarik ke belakang. Saat itulah, dia sadar bahwa yang dia alami hanyalah kilas masa lalu yang diperlihatkan oleh makhluk yang tak dia ketahui bentuknya. Meisin mengatur nafasnya, mencoba menenangkan pikirannya dan memikirkan langkah selanjutnya yang akan diambilnya. Yang membuat Meisin tak habis pikir adalah Owen, lelaki itu tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Padahal dia belum menanyakan tentang pernikahan itu. “Mungkin aku harus memusnahkan benda yang dimaksud Ibu Jack untuk bisa keluar dari tempat ini.” Meisin berucap sendirian. Tangannya mengepal dengan menarik nafas panjang, dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk membantu menyelesaikan semua yang sudah dilihatnya. Dan tepat saat tangannya mengepal, ada sesuatu yang dia genggam tanpa disadarinya, kertas putih yang sudah terlipat itu benar-benar ada di tangannya sekarang. Meisin tak percaya bahwa yang dia alami adalah realita yang barusaja Meisin datangi. Lantas, kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu? Bagaimana dia bisa datang ke masa lalu? Lalu kembali lagi ke masa sekarang. Seumur hidup, dia hanya melihat itu di sinetron dan membacanya di novel. Tapi sekarang, dia sendiri mengalaminya. Kemana laki-laki yang belakangan selalu muncul dan hilang itu? Meisin ingin bertanya penyebab dia bisa terjebak diantara orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya itu? Dia seperti ini dan sampai di tempat ini sejak keningnya dicium dan dia memejamkan matanya tepat setelah ikrar janji itu diucapkan di hadapan pendeta. Dan saat dia membuka mata, semuanya tiba-tiba berubah. Dan inilah yang sekarang ada di depannya. Sebuah konflik rumit yang bahkan dirinya tak kenal mereka itu siapa. Kresek-kresek .... Ssh-sshh .... suara-suara aneh itu kembali terdengar. Persis seperti saat Meisin baru membuka mata selepas dicium oleh Owen. Dia menoleh ke kiri ke kanan. Tak ada siapapun di sana. Hanya angin kencang yang menerpa dedaunan tapi cukup membuat bulu kuduk meremang kala itu. Meisin berjalan tergesa-gesa ke depan. Dia tak ingin mengalami hal yang lebih buruk lagi. Shhtt .... bayangan putih melintas cepat tepat di sampingnya. Meisin tak peduli. Sudah cukup dia berurusan dengan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya. Tapi kemudian kakinya tak bisa ia gerakkan. Padahal Meisin sudah menggunakan tenaganya sekuat yang dia bisa untuk mengangkat kakinya dan melangkah darisana, tapi tetap. Kakinya terasa berat. Meisin menundukkan kepalanya dengan rasa takut yang mulai datang seolah mencekiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD