Matahari telah berada di ujung ufuk barat yang akan bersiap memudarkan sinarnya dan akan digantikan cahaya sang rembulan. Ya, sekarang waktu telah menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit, dimana hal ini membuat Renata segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak ke kamar mandi. Kebiasaan yang tidak baik memang mandi di jam-jam seperti ini, tapi menurut Renata justru sangat menyenangkan karena bisa melawan dinginnya air kran disaat menjelang malam seperti ini. Selesai mandi tidak lama kemudian akhirnya terdengar suara adzan magrib dan akhirnya Renata bergegas mengambil mukena untuk digunakan sholat.
Seusai sholat Renata makan malam kemudian lanjut nonton TV. Beberapa menit setelah Renata menyalakan TV, kemudian hp yang ia letakkan di atas nakas berbunyi menandakan sebuah pesan. Terdapat nama Billy yang tertera di layar notif HP miliknya.
Billy
Malam Renata, sedang apa sekarang? Sudah makan apa belum Ren?
Renata
Iya malam juga, lagi nonton TV nih sekarang. Ada apa mas Billy?
Sontak Billy mengepalkan kedua tangannya sambil dinaik turunkan layaknya dirinya dinobatkan pemenang lomba lari maraton 5 km.
Billy
Tidak apa-apa Ren hanya ingin ngobrol saja supaya kita bisa mengenal lebih dekat lagi
Kemudian Billy segera mengirim pesan itu kepada Renata dan hatinya yang selalu dag dig dug menunggu balasan dari Renata.
Renata hanya membaca pesan dari Billy tanpa menggubris karena larut dengan acara TV-nya. Karena tidak kunjung dibalas Billy sedari tadi sudah mondar-mandir dengan rasa yang campur aduk tidak karuan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengirim sebuah pesan lagi kepada Renata.
Billy
Hai Ren sibuk banget ya kok tidak menjawab pesanku? Memangnya kamu sedang nonton acara apaan sih Ren?
"Aduh ini orang mengganggu saja deh, sok kepo. Pak de Doni ko ya bisa punya teman yang sekepo ini sih?" gerutu Renata.
Dengan rasa agak malas Renata membalas pesan Billy.
Renata
Eh iya maaf lagi asyik nonton ustad fotocopy nih di SCTV.
Kemudian menekan tombol kirim.
Billy
Kamu pecinta sinetron juga ya ternyata? Itu kalau tidak salah yang jadi lagu soudntrack (OST) sinetron ini punya wali berjudul cari berkah 'kan?
"Ya ampun orang ini mengikuti ini sinetron juga, baru kali ini punya teman cowok yang suka acara sinetron. Mimpi apa bisa bertemu dengan orang seperti ini ya Tuhan?" batin Renata.
Renata
Eh iya suka aja sama beberapa lagunya Wali, makanya nonton sinetron ini mas Billy.
Renata beralasan asal dan terpaksa dia harus memanggil sebutan mas kepada Billy karena menurut Renata sepertinya usia Billy lebih tua darinya.
Billy yang sedari tadi senyum-senyum saja dibalik layar HP karena sebutan yang dikasih Renata membuatnya melambung, dan justru Billy ingin sebutan yang lebih dari itu, karena memang sejak dia ketemu Renata sudah jatuh hati dengannya. Tiba-tiba dia muncul ide di benaknya untuk mengetik sebuah lirik lagu punya wali untuk dikirimkan kepada Renata. Lagu dengan judul ‘sayang lahir batin’ sudah terketik rapi dan siap dia kirimkan pada Renata. Dengan perasaan sedikit gugup Billy menekan tombol kirim.
Renata tiba-tiba mengernyitkan dahinya. “Nggak jelas ini orang.” batin Renata seusai membaca pesan dari Billy barusan.
Dan selang beberapa saat kemudian Billy menelepon Renata.
"Assalaamu'alaikum Ren."
" Wa'alaikum salam Mas Billy, ada apa ya kok telepon malam-malam begini?"
"Eh Ren bagaimana tanggapan kamu tentang lirik lagu yang aku tulis barusan?"
"Bagus kok lirik lagunya, memang lagu punya Wali hampir semua bagus dan menyentuh hati." ungkap Renata.
"Itu ungkapan hatiku sebenarnya Renata kamu kok tidak peka sama sekali sih?" batin Billy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ren aku mau ngomong."
"Iya Mas Billy mau ngomong apa?"
"Ren sebenarnya a--a--a--a--a, sebenarnya," ucap Billy gugup.
"Sebenarnya apa? Kok dari tadi cuma ngomong a--a--a--a--a terus, kenapa sih kaya lihat hantu gentayangan saja." celetuk Renata asal-asalan sambil cekikikan.
"Aaaaarrgh! Susah sekali ini mulut mau ngomong, tapi aku harus berani keburu dipatuk orang ini anak nantinya." batin Billy.
"Renata aku cinta sama kamu, dari awal ketemu kamu aku langsung jatuh hati padamu, itu kenapa aku mengorek info tentangmu kepada Pak de Doni. Kamu mau tidak Ren jadi pacar aku? Aku tahu Ren ini begitu cepat dan mendadak untuk kamu, tapi aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan rasa ini padamu." cerosos Billy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Renata mengernyitkan dahinya sambil mikir tanpa menghiraukan celotehan Billy dari seberang.
"Hai Ren kamu dengar yang aku bilang, ‘kan?"
"Mmmmm ... eh ... mmmm, iya dengar kok Mas Billy." jawab Renata sedikit kikuk.
"Terus Ren kenapa kamu diam saja, jawab dong Ren kamu mau tidak jadi pacar aku?" gemuruh di d**a Billy menunggu jawaban Renata yang belum tahu ujungnya.
"Kasih aku waktu untuk menjawabnya ya Mas Billy karena aku belum bisa jawab sekarang." pinta Renata.
"Baiklah Ren kamu nggak harus jawab sekarang kok, aku akan selalu menunggumu Renata Olivia, hatiku akan selalu terbuka untukmu. Sekarang kamu tidak usah mikir apa-apa dulu, kamu istirahat dulu saja ya, 'kan besok kamu juga harus bekerja, jadi jangan sampai kamu kurang tidur." Billy menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.
"Kalau gitu aku tidur dulu ya Mas Billy, aku ngantuk banget sekarang. Assalamu'alaikum." Renata bergegas mematikan sambungan teleponnya.
Sambungan telepon terputus begitu saja, membuat Billy sedikit menekuk mukanya lantaran sebenarnya belum puas berbicara dengan gadis pujaannya.
"Belum juga balas salam main dimatiin saja, sabar Billy sabar, perjuangan belum usai."Billy membatin dan mencoba menenangkan dirinya sambil sedikit menggerutu.
***
Billy senyum-senyum sendiri di balkon rumahnya sambil membayangkan wajah menawan Renata Olivia. Betapa bahagianya dia jika Renata nantinya menerima cintanya. Entah kenapa dari pertemuan pertamanya dengan Renata Billy sangat ingin nantinya Renata menjadi ibu dari anak-anaknya, sejak itu pula Billy sudah menaruh harapan kepada Renata.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan akhirnya Billy beranjak dari balkon untuk menuju kamarnya karena mengingat besok harus bekerja, sehingga dia harus tidur agar besok pagi tidak bangun kesiangan. Billy berharap Renata bisa jadi bunga tidurnya yang indah malam ini, mengarungi indahnya hidup, bercanda gurau di tengah semerbak harumnya bunga-bunga yang bermekaran di taman.