Malam itu Renata sedang asik menonton acara TV kesukaannya, Islam KTP yang diperankan oleh Reza Aditya dan tayang pukul tujuh malam. Ketika sedang asyik-asyiknya nonton tiba-tiba handphone Renata berbunyi menandakan ada pesan masuk. Dengan sedikit malas Renata menyambar ponselnya yang tergeletak di nakas.
Nomor tak dikenal
Hi selamat malam, sedang apa sekarang?
Renata
Iya malam dengan siapa ya ini?
Renata begitu lihai mengetik balasan pesan di keypad hp qwerty bermerk LG GW 300 miliknya sambil mengernyitkan dahinya.
Nomor tak dikenal
Kenalin aku Billy, aku tahu kamu kerja di apotek Fatma Farma, 'kan?
Billy menuliskan sebuah pesan dengan dikasih emoticon termanisnya di bagian akhir pesan.
Renata membelalakkan matanya yang membuat kedua bola matanya menyembul hampir keluar.
Renata
Hah! kamu tau dari mana dan kamu juga dapat nomor handphone aku darimana? Aku tidak kenal kamu Billy.
Betapa bahagianya Billy yang melihat handphone miliknya bunyi terlihat notificationnya merupakan pesan dari Renata. Kemudian dia buru-buru menyambar pesan itu untuk dibaca dan dibalasnya pesan itu dengan perasaan gugup.
Nomor tak dikenal
Mmm ... itu aku sudah beberapa kali ketemu kamu, dan aku bisa dapat nomor kamu dari pak de Doni. Ren aku boleh kenalan lebih dekat denganmu tidak? Aku ingin jadi temenmu Ren.
Kemudian Billy dengan sigapnya mengirim pesan itu kepada Renata.
Sebuah suara nyaring berbunyi, menandakan ada pesan masuk pada handphone Renata, kemudian segera Renata membaca pesan itu dan betapa terkejutnya dengan isi pesan itu.
"Sial pak de Doni main kasih nomor handphone orang sembarangan saja tidak minta izin dahulu." gerutu Renata.
Renata tidak menghiraukan pesan dari Billy, lantas dia langsung mengirim pesan kepada pak de Doni. Pak de Doni adalah seorang karyawan di apotek Meza Farma dimana tempat praktek kerja lapangan waktu Renata sekolah dulu. Beliau adalah orang paling tua dari jajaran karyawan yang lain, sehingga dikasih sebutan nama pak de sama anak-anak. Dan memang sejak dulu semua karyawan dan anak-anak PKL sudah akrab jadi tidak ada rasa canggung lagi.
Eits tahu 'kan kalian apa itu PKL? PKL adalah kepanjangan dari Praktek Kerja Lapangan. Biasanya PKL ini dijalankan oleh siswa semester akhir untuk terjun langsung di dunia kerja yang nyata.
Renata segera mencari kontak pak de Doni di daftar kontaknya dan segera mengiriminya sebuah pesan.
Renata
Pak de apa-apan sih main kasih nomor aku ke sembarang orang, itu siapa Billy tiba-tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan ngasih pesan seperti itu ke aku?
Pak de Doni yang kebetulan memang sedang pegang handphone langsung membalas pesan dari Renata.
Pak de Doni
Aduh--aduh--aduh ada yang sedang dikejar-kejar sama si aa Billy nih ceritanya.
Dengan dibubuhi emot ejekan.
Renata
Pak de apaan sih? Sebenarnya siapa Billy pak de?
Kemudian pak de Doni telepon Renata berusaha menjelaskan kejadian yang sebenernya.
"Billy itu adalah orang yang mengagumimu Ren, jadi, dia itu sekantor denganku. Waktu ketemu aku beberapa hari yang lalu dia cerita ke aku kalau dia suka sama salah satu karyawan di apotek Fatma Farma, dan aku ingat kalau kamu ‘kan kerja disitu Ren makanya aku telisik siapa orang yang Billy suka, dan setelah Billy menceritakan ciri-ciri orang tersebut, dimana orang tersebut badannya kecil, mungil, berhidung mancung, manis dan berbadan tinggi. Sehingga bisa aku simpulkan orang itu adalah kamu Ren, karena 'kan semua karyawan disitu rata-rata badannya agak gemuk dan yang hidungnya mancung cuma kamu Ren. Dan setelah aku kasih foto kita waktu perpisahan saat PKL kemarin, si Billy membenarkan orang yang dia maksud adalah kamu Renata." ungkap pak de Doni.
"Kenapa pak de tidak bilang dulu kalau mau kasih nomor aku ke orang lain sih?" Renata menutup sambungan teleponenya sambil mengacak rambutnya frustasi.
***
Keesokan harinya Renata melakukan aktivitas rutin sebelum berangkat kerja selalu membereskan rumah terlebih dahulu. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, kemudian Renata bergegas mandi dan segera mempersiapkan diri untuk bekerja karena pukul tujuh pagi harus sampai di apotek Fatma Farma. Tidak lupa sebelum berangkat bekerja selalu menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu.
Sesampainya di apotek Fatma Farma, orang pertama yang dia temui adalah Bibi Leha. Renata harus menunggu Elisa dahulu untuk bisa membuka pintu apotek karena Renata tergolong karyawan baru, jadi masih belum dipercayai untuk buka apotek sebelum ada temannya. Bi Leha adalah orang yang tugasnya menyiapkan makanan untuk pemilik apotek dan anak-anak. Pemilik apotek tinggalnya juga masih satu kawasan dengan apotek tersebut. Jadi bangunan depan digunakan untuk apoteknya sedangkan bangunan belakang digunakan untuk tempat tinggal.
"Pagi Bi Leha, mau aku bantuin petik sayur bi sambil nunggu mbak Elisa datang?" celetuk Renata.
"Pagi juga mbak Renata, tidak usah, mbak Renata duduk saja di kursi sambil nungguin mbak Elisa datang." titah Bi Leha.
Selang sepuluh menit kemudian Elisa datang.
"Hai Renata, hai Bi Leha apa kabar?"
"Hai mbak Elisa," timpal Bi Leha dan Renata hampir bebarengan.
"Mbak El kunci apotek ditaruh meja tamu sama ibuk."
"Ok bi makasih ya."
Kemudian Elisa dan Renata bergegas untuk membuka pintu apotek. Dan seperti biasa ketika baru buka selalu disibukkan dengan banyaknya pasien yang datang ke apotek. Waktu berjalan begitu cepat, kini telah menunjukkan pukul sembilan pagi dimana Bu Dini pemilik apotek juga akan turun tangan untuk melayani pasien dan kebetulan ada jadwal kunjungan sales popok Rocxy.
"Pagi Bu Dini mau cek orderan." sapa seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan.
"Eh! Mas Billy, pagi mas, kebetulan stok popok ukuran S sedang kosong rencana mau order ukuran S dan M." dengan gaya centilnya Bu Dini menanggapi kedatangan Billy.
Bu Dini memang usianya bisa dibilang tidak muda lagi karena sudah memasuki kepala empat dengan dua orang anak yang telah menghiasi rumah tangganya. Tapi gayanya masih seperti anak muda yang terkadang tampil necis dengan celana jeans ketat yang melekat pada dirinya dan selalu centil bicara dengan siapapun. Saking centilnya terkadang juga sering menceritakan aktivitas malamnya dengan suaminya di ranjang kepada karyawannya untuk mengiming-imingi anak buahnya, karena memang keempat anak buahnya belum ada yang berumah tangga.
"Ok bu noted." jawab Billy dengan sedikit gugup karena melihat sosok Renata di dalam apotek.
Beberapa saat suasana hening, Renata yang sedari tadi memperhatikan orang tersebut kemudian membelalakan matanya setelah mengetahui namanya adalah Billy.
"Jadi kamu yang namanya Billy?"
"Iya Ren aku Billy temannya pak de Doni, maaf ya Ren aku minta nomor handphone kamu ke pak de Doni tidak minta ijin dahulu."
"Ok, tapi lain kali kamu harus minta ijin dahulu ke orangnya, jangan mengendap-ngendap seperti itu ya."
"Iya Ren," dengan gugup Billy merespon tanggapan Renata.
Gimana tidak ngendap-ngendap Ren? aku bingung gimana mau bilang ke kamu, karena sebenarnya aku ada rasa sama kamu Ren." batin Billy dalam hati.
Bu Dini yang memperhatikan Renata dan Billy yang sedang mengobrol akhirnya ikut nimbrung.
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
"Iya bu kami baru kenal, jadi ternyata mas Billy ini adalah temannya pak de Doni. Saya kenal pak de Doni itu karena dulu pernah PKL di apotek tempat pak de Doni bekerja." jelas Renata.
Billy yang tiba-tiba terlihat sedikit merona merah dipipinya jadi bahan bercandaan bu Dini.
"Mas Billy suka ya sama mbak Renata kok wajahnya merah padam dan kelihatan gugup gitu waktu bicara?"
"Bu Dini apaan sih, kok bilang seperti itu? Saya dan Renata cuma berteman kok bu." bela si Billy.
Billy yang postur tubuhnya tidak seberapa tinggi, sedikit gemuk, hidung yang tidak seberapa mancung, dan rambutnya yang dipotong cepak itu akhirnya izin pamit ke Bu Dini untuk kunjungan ke tempat lain karena kalau berlama-lama berada di apotek Fatma Farma bisa-bisa pingsan disini karena tidak tahan dengan rasa yang sedang ia rasakan saat ini.
***
Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang, itu artinya sudah saatnya jam makan siang.
"Mbak Elisa mbak Renata sekarang kalian makan dulu di belakang, biar apotek saya yang jaga dulu, setelah kalian selesai makan baru saya istirahat siang dan kembali kesini nanti sore. Tadi Bi Leha aku suruh buat sop ayam untuk menu kita siang ini." titah Bu Dini.
Asik makanan kesukaanku, makasih ya Bu Dini yang cantik." kata Elisa dengan gaya manjanya
"Yuk Ren kita ke dapur."
"Ok let's go! mbak El, cacing diperutku sudah pada demo nih." Akhirnya mereka berjalan menuju dapur bebarengan.
***
Setelah jam makan siang selesai Renata kembali bekerja, kemudian Elisa menunggu jam pulangnya. Tepat pukul satu siang Tania datang, setelah kedatangan Tania, Elisa berpamitan pulang untuk istirahat, karena nanti pukul lima sore sampai pukul sepuluh malam masih harus melanjutkan pekerjaan lagi di apotek Fatma Farma. Ya dari keempat karyawan di apotek Fatma Farma, tiga dari empatnya rumahnya memang berdekatan dengan apotek, hanya Renata saja yang rumahnya jauh dari apotek sehingga Renata hanya dimasukkan sift pagi saja. Sedangkan Elisa dan Tania mereka masuk pagi sore dimana untuk jam kerja pagi dimulai pukul tujuh pagi sampai pukul satu siang, sedangkan sorenya berlanjut dari pukul lima sampai pukul sepuluh malam. Satu lagi karyawan yang bernama Riska dia selalu masuk pukul dua siang sampai pukul sepuluh malam karena pagi dia kuliah mengambil jurusan Bahasa Inggris.
Miris memang dengan jadwal kerjanya, seperti kerja rodi bagaikan zaman penjajahan Hindia-Belanda, saat pembuatan jalan anyer sampai panarukan yang dipimpin oleh Herman Williem Daendels. Sudah gaji tak seberapa tapi jam kerja panjang. Tapi terpaksa Renata jalani karena ini adalah pengalaman kerja Renata yang pertama kalinya. Bagi Renata masih untung dapat gaji meskipun kecil daripada teman-teman seusianya yang masih susah cari pekerjaan.
Renata adalah seorang gadis dengan latar belakang lulusan kejuruan farmasi, dan kedua temannya yang bernama Elisa dan Tania itu lulusan SMA biasa. Hal ini sedikit membuat Renata kecewa, karena biaya sekolahnya yang mahal tidak sebanding dengan gajinya saat ini. Sebenarnya ingin sekali Renata pindah tempat kerja tapi masih nyambi cari-cari batu loncatan.
***
Waktu telah menunjukkan pukul empat sore dan jam kerja Renata telah selesai. Sebelum pulang, seperti biasa Renata harus merapikan kondisi apotek, membersihkan beberapa rak obat diatas etalase yang terkena debu sebab letak apotek ini memang di pinggir jalan raya, sehingga kemungkinan debu masuk ke dalam apotek juga tinggi. Dan tidak lupa juga Renata menyapu dan mengepel lantai apotek kemudian dia berpamitan untuk pulang seusai semua tugasnya selesai.
Lantas apa yang akan dilakukan Billy selanjutnya untuk mendapatkan cintanya Renata setelah bertemu langsung siang tadi?