18

1148 Words
Ana tidur tengkurap di kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan, matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis. Beberapa jam yang lalu ia baru saja sampai di Indonesia, bersama mamahnya. Nanti malam akan ada acara dadakan yang akan di lakukan keluarga Mahameru dan keluarga Admajda. Ini sungguh tidak masuk akal dan tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa dia akan di jodohkan dengan orang yang tidak ia cintai karena kesalahannya bersama sang kakak. Bagaimana nanti kalau Hendrik sampai tau kalau Ana mengandung anaknya, dan orang tuanya malah akan menikahkan dia dengan pria lain yang berniat buruk pada Ana. " Cepat mandi sayang sebentar lagi keluarga Aska akan datang." perintah Shopia pada anaknya. Kemarin, waktu masih di Singapore. " maafkan Ana mah..." pinta Ana duduk bersimpuh di lutut Shopia. " siapa pria itu Ana..." Shopia sudah di bakar rasa marah dan emosi. " Ana tidak tau mah... Ana tidak mengenali pria itu." Isak tangis Ana menutupi siapa ayah dari anaknya. " apa kamu di perkosa sayang..." tanya talak Shopia, Ana mengangguk sedangkan Aska hanya sebagai penonton sebelum memberikan solusi. Shopia memeluk anaknya, kedua wanita itu sama sama menangis. " Tante, Ana... bolehkah saya menutupi aib ini." tawar Aska terlihat tulus namun penuh arti. Ana dan Shopia saling menatap, Ana menggeleng. " apa kamu serius Ka..." tanya Shopia serius penuh harap " Saya serius Tante, saya sudah lama menyukai Ana sejak saya pertama kali melihatnya di kampus dan kebetulan juga saya sebagai dosen pengganti di sana. Tanpa saya tau kalau Ana ternyata adik Hendrik, suatu kebetulan sekali." jelas Aska " apa kamu benar benar mau menerima bayi dalam perut Ana, Ka..." tanya Shopia lagi. " Sangat yakin Tante karena Aska benar benar menyukai Ana." Aska kembali menyakinkan. " tapi mah..." Ana ingin protes tapi di sela sang mah " ini aib keluarga An... terima saja atau kamu mau buat malu keluarga mu." bentak Shopia Ana hanya dia menangis dan menunduk. " kemasi pakaian mu ayo pulang." pinta Ana " baiklah Tante besok, Aska akan kerumah tante bersama Ayah." Sampai di Indonesia, Shopia langsung memberikan kabar aib itu kepada sang suami tanpa memberi tau kedua putranya. Alex sempat kaget tapi ia menurut saja dengan ide istrinya. " Mah... apa benar Ana ikut mamah pulang ?" tanya Hardin yang baru sampai. Saat masuk gerbang tadi, ia di beri tau oleh satpam kalau Ana sudah pulang tadi pagi. " di kamar,." jawabnya Shopia cuek sedang mempersiapkan menu jamuan untuk sebentar lagi. " Ana..." teriak Hardin membuka kamar adiknya dengan riang. Namun seketika keceriaannya hilang melihat kondisi Ana saat ini, tergeletak di atas lantai. Hardin menghampiri adiknya dan menggendong ke atas ranjang. Hardin berteriak memanggil mamahnya. " ada apa Din." tanya Shopia " Ana kenapa Din..." " gak tau mah... tiba tiba Din masuk Ana sudah pingsan." jelas Hardin Shopia ragu antara memanggil dokter atau membiarkan Ana sampai sadar. " Mah... kenapa diam saja. panggil dokter mah..." " beri minyak angin saja Din." Hardin sempat heran, tidak biasanya mamahnya bersikap santai saat melihat Ana pingsan seperti itu. Sekian menit kemudian Ana tersadar, " An jawab kakak jujur ya.." Ana memeluk kakaknya " apa benar bayi itu bayi kak Hen." Tanya Hardin. Ana tak mampu menjawab ia hanya menangis dalam pelukan Hardin. Hardin langsung emosi berdiri akan mencari keberadaan Hendrik tapi di cegah Ana. " jangan kak... Ana mohon. Mamah dan papah juga tidak tau kalau ini bayi kak Hen. Ana mohon kak..." Kelemahan Hardin ya seperti ini. Hardin kembali duduk samping adiknya. " bagaimana bisa pak Aska mau tanggung jawab." " Ana tidak mau menikah dengan Pak Aska kak." " tapi An... bayimu butuh seorang ayah." " tapi kak.. pak Aska tidak tulus menolong Ana." " Yang penting anak kamu ada sosok ayah, setelah bayi itu lahir kamu bisa tinggalkan kak Aska." ide Hardin. Malam pun telah tiba, setelah makan malam kedua keluarga itu mengobrol santai mencari hari baik untuk pernikahan Ana dan Aska dengan tanggal yang di percepat. Sementara itu di lain tempat Hendrik sedang asyik b******u dengan dua wanita sekaligus di apartemennya. Desahan 3 anak manusia tidak punya akhlak itu saling bersautan. Sudah hampir 2 jam pertarungan 3 manusia laknat itu tidak kunjung mencapai klimaks Hendrik, sedangkan kedua wanita sewaan Hendrik sudah mulai kelelahan akibat kekuatan Hendrik yang begitu dahsyat bagi mereka. Bukan kekuatan Hendrik sebenarnya, itu semua karena Hendrik yang tidak begitu nafsu pada mereka berdua. " Berhenti." titah Hendrik. Ia berdiri mengambil beberapa lembar uang rupiah pada kedua wanita itu lalu menyuruhnya keluar dari apartemen. Setelah kepergian Kedua wanita itu Hendrik kembali meneguk minuman di meja ruang tamunya. Pandangan matanya kosong, di ujung matanya terlihat ada genangan air mata yang segera jatuh kakak rindu, sangat sangat rindu padamu An, batinnya. 2 bulan ini hidup Hendrik penuh frustasi, ia tidak menemukan kabar Ana sama sekali. Kedua orang tuanya juga menutupi keberadaan adik yang ia cintai itu. Bahkan ia sempat baku hantam dengan Hardin karena adiknya juga menutupi keberadaan Ana. Alya juga memutuskan hubungan dengannya, Alya juga menyerahkan mengejarnya, sekarang Alya kembali ke Kanada merintis karirnya di sana. Hubungan kedua keluarga itu juga terputus. Baru dua tegukan langsung terkapar karena terlalu banyak minum seharian ini. Entah ada apa papahnya menyuruh ia off kerja hari ini. Ia juga tidak banyak tanya. Semenjak 2 bulan yang lalu hubungannya dengan kedua orang tuanya tidak baik, bahkan ia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah utama. Ana mondar mandir di dalam kamar, Hardin sampai di buat pusing olehnya. Ponsel masih di tangan, antara ya dan tidak untuk menghubungi Hendrik. " lebih baik tidak usah An... nanti malah panjang ceritanya." " tapi kak..." " sini ponselmu." Ana pun menurut. 2 Minggu kedepan Ana off kuliah terlebih dulu, ia mempersiapkan pernikahannya dengan Aska. Waktu 2 Minggu bagi Ana sangat sangat singkat. Ingin sekali ia kabur malam ini juga, menghampiri Hendrik memberitahunya bahwa ia sendang mengandung anaknya. Tapi bagaimana nanti kedua orang tuanya. Seminggu telah berlalu, kurang seminggu lagi pernikahannya akan segera di langsungkan. Siang ini ia dan Aska faithing baju. Aska tampak semangat sedangkan Ana tidak ada sama sekali kebahagiaan di wajahnya. Sementara itu Hardin duduk santai di rumah bersama sang mamah, " mah... apa mamah tidak kasihan melihat Ana dengan pernikahan ini." " mau bagaimana lagi Din, daripada membuat malu keluarga. Apa kamu kira mamah tidak tau apa apa, mamah tau bayi siapa yang di kandung adikmu itu." ucap Shopia santai sambil membaca majalah. " berarti mamah tau semuanya ?." tanya Hardin tidak percaya. " mamah masih merahasiakan ini dari papahmu. Mamah tidak mau kalau semua ulah kedua saudaramu itu mengganggu kesehatan papahmu." tutur Shopia. Sementara itu di kantor Hendrik sedang mencumbu sekertaris barunya yang baru bekerja 2 hari ini. Entah kemana Hendrik berubah menjadi liar saat ini, kejantanannya sering keluar masuk dan gonta ganti goa sekarang. Tidak hanya itu, setiap hari otaknya juga di penuhi alkohol, tiada hari tanpa minum. Untuk apa ia seperti itu, hanya untuk menghilangkan bayangan Ana. Padahal setelah ia sadar ia pun kembali mengingat adiknya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD