Di Singapore
Siang itu Ana baru saja pulang dari kampus, ia duduk di sofa samping tempat tidurnya. Memandangi kalender di ponselnya, tidak terasa hampir 2 bulan ia di negara orang. Ia memilih tempat tinggal terpisah dari sang aunty, ia merasa risih dengan suami aunty Nia yang selalu menatapnya dengan pandangan lapar, seakan akan Ana itu santapan makanan yang lezat siap untuk di makan dengan nikmat. Hanya seminggu, Ana dengan sedikit menguras tabungan, mencari sewa apartemen yang murah murah dekat kampus.
Kepalanya terasa pusing, ingin tidur saja, malas melakukan pekerjaan ataupun ke kampus. Otaknya mulai mengerjakan pikiran yang menjanggal, " hampir 2 bulan aku tidak datang bulan, ini tidak mungkin. ah mungkin aku kelelahan saja jadi telat datang bulan." gumamnya sendiri.
Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sampai ketiduran tanpa mengganti pakaiannya. Entah sampai berapa jam ia tertidur tau tau ia bangun hari mulai gelap.
Perutnya terasa lapar tapi ia malas untuk masak atau hanya sekedar masak mie instan saja. Delivery, adalah keputusan terakhirnya.
Bel berbunyi, Ana yang lapar bergegas membuka pintu. Mata Ana terbelalak, bukan kurir makanan yang datang melainkan tamu tak di undang tanpa ia duga, " selamat malam baby." sapa Aska berdiri depan pintu
bagaimana ia tau tempat tinggal ku di sini. batin Ana.
" pak... pak Aska." jawabnya gugup.
" bagaimana bapak bisa tau..."
" tidak sopan sekali kamu ini ada tamu tidak kamu suruh masuk." sela Aska yang langsung masuk apartemen Ana
Aska duduk santai di sofa berbulu warna biru muda itu, menyilangkan kedua kakinya. Ana tidak percaya dosen mesumnya tau keberadaannya saat ini. Ini luar Negeri loh bukan luar kota, bagaimana bisa orang lain tau.
Tenggorokannya cekat hanya untuk mengeluarkan suara, otaknya berpikir takut hal hal seperti sebelumnya terjadi.
" hai baby berhentilah menatap ku seperti itu. Aku tau aku sangat tampan jika di bandingkan kakakmu." Sungguh terlalu percaya diri.
" bagaimana pak Aska bisa tau saya disini?."
" Apa yang tidak aku ketahui tentang mu baby."
" maaf pak saya tidak bisa terima tamu pria, mohon pak Aska keluar dari apartemen saya." usir Ana
Aska menggeleng sambil berdecak, " tega sekali kau ini Ana, belum juga aku kau tawarkan minum sudah kau usir saja."
Ana ingin menyeret pria di depannya itu, tapi kepalanya tiba tiba pusing dan berkunang kunang. Entah karena emosi atau memang kondisi fisiknya tidak baik baik saja. Ana tidak sadarkan diri di pangkuan Aska.
Aska mengira Ana sedang akting, tapi setelah ia menepuk pipi Ana berkali kali ternyata Ana benar benar pingsan. Aska mulai khawatir, memanggil layanan kesehatan di apartemen itu.
Aska membaringkan tubuh Ana dalam kamar, ia berusaha membangunkan Ana dengan minyak angin tapi belum juga sadar. Sampai bel berbunyi, Aska bergegas membukakan pintu.
Kedua pasang mata itu sama sama saling memandang karena mengenal, " Tante Shopia." . " Kamu Aska kan." ucap Aska dan shopia bersamaan.
" loh kamu kok bisa di apartemen anak saya, Ana mana ?." tanya Shopia mencari Ana
" Ana pingsan Tante di kamar, ceritanya panjang." sangat kentara kalau saat ini Aska sedang panik.
Shopia langsung melebarkan kakinya berjalan ke kamar. " sayang bangun nak, ini mamah." Shopia memegang tangan anaknya dengan cemas.
Aska masuk bersama seorang wanita yang sepertinya itu adalah dokter di apartemen itu. Dokter itu langsung memeriksa kondisi Ana saat ini depan Aska dan shopia.
Seusai memeriksa dokter itu menatap Aska dan Shopia bergantian kemudian tersenyum.
" Bagaimana keadaan anak saya dok." tanya Shopia tegang
Dokter itu tersenyum lagi, " ada baiknya, kalau nyonya bawa anak nyonya ke rumah sakit terdekat. Semoga pemeriksaan saya tidak salah."
Dokter itu menyuruh Ana ke rumah sakit tapi kenapa tersenyum, ada apa ini.
" maksudnya dok." tanya Shopia
" menurut pemeriksaan saya putri nyonya sedang hamil muda."
Deg...
Bagai petir di siang bolong menyambar hati Shopia, bagaimana bisa anak kesayangannya hamil muda sedangkan yang ia tahu anaknya itu gadis polos. Tidak pernah terlihat gandengan bersama pria kecuali Gio. apa ini perbuatan Gio, batinnya.
Bagaimana bisa dia hamil, sedangkan waktu itu aku belum sempat menanamkan benih ku dalam goanya. eh tunggu, aku ingat waktu itu banyak sekali bekas cupang di lehernya. Perbuatan siapa itu, sungguh tidak percaya gadis seperti Ana bisa seperti itu. batin Aska.
Kaki Shopia seakan tak mampu menopang tubuhnya, badannya lunglai di atas lantai. Pandangan matanya kosong, ini sebuah aib keluarga. Matanya menyalang menatap Aska.
" yakin Tante Aska tidak tau apa apa, sumpah baru kali ini Aska bertemu Ana hampir 2 bulan setelah Ana menghilang." Sebelum di tanya Aska terlebih dulu menjawab.
" Gio." Gumam Shopia pelan hampir tidak terdengar di telinga Aska.
Ana masih terasa pusing, matanya berat untuk di buka. Tapi sepintas ia ingat di apartemennya ada Aska, pandangannya masih kabur melihat ada mamahnya di sofa.
" mamah.." panggilnya Lirih. Shopia yang mendengar menghampiri Ana
" ya sayang, kamu sudah sadar." Shopia berusaha keras menahan segala pertanyaan pada Ana.
Ana mengangguk, " kapan mamah sampai." tanyanya lirih
" beberapa menit yang lalu sayang, kamu istirahat dulu biar mamah buatkan bubur dan sup jamur kesukaanmu." Shopia meninggalkan kamar Ana
Berganti Ask masuk, mata Ana kembali menyalang, Ana bangun dari tidurnya. " kenapa pak Aska masih di sini."
" memang kenapa, Tante Shopia memberi izin." jawabnya santai duduk di sebelah Ana, Ana segera bangun ingin menghindar tapi tangannya di cekal Aska.
" kamu ini terlihat polos di luar, tidak ku sangka kamu liar di luar sana ?." ucapnya berbisik di telinga Ana.
Bulu roma Ana berdiri, tapi tidak mengerti maksud Aska. " bolehkah aku menambahkan telinga atau hidung yang mancung, atau menambah ketampanan anakmu kelak."
Ana berdiri dan langsung menampar Aska dengan keras, " jaga mulutmu Pak Aska." bentak Ana keras.
Aska hanya tersenyum dan mengusap pipinya yang terasa panas, Shopia mendengar Ana berteriak ia segera mematikan kompornya dan ke kamar Ana. " ada apa sayang."
" Aska hanya bercanda Tante tapi Ana marah dan menampar Aska." adu Aska
Mata ada masih memandang marah, " dia kurang ajar mah... tolong usir dia mah.."
" Ada apa ini hah.." tanya Shopia tidak mengerti.
Mereka berdua diam, Shopia mengajak mereka ke ruang tamu. di dudukkan mereka bedua.
Shopia menggenggam tangan Ana, memberi ketenangan terlebih dulu. Setelah beberapa menit Shopia baru membuka suara " bisakah kamu ceritakan pada mamah yang sebenarnya terjadi sayang."
" maksudnya mamah." Ana memang benar benar tidak mengerti
" Sebelum papah mu tau dan murkah lebih baik kamu jujur sayang... siapa yang berbuat seperti itu padamu." Ana sedikit paham dengan pertanyaan mamahnya, tapi...
" sayang jawab jujur, siapa ayah dari bayi dalam perutmu itu. Mamah tau kamu tidak seperti gadis lainya di luaran sana, mamah percaya padamu."
Bak langit mau runtuh saat mamahnya bertanya seperti itu, bagaimana bisa mamahnya tau kalau ia sedang berbadan dua sedangkan ia sendiri tidak tau.
Hatinya sakit, matanya perih, air matanya pun menetes seketika. Ana duduk bersimpuh di kaki shopia. " maafkan Ana mah..."