Jantung Ana sudah tak beraturan lagi saat ini, bukan hanya Ana Hardin juga. Apa mamah sudah tau. Hendrik tidak bergeming sama sekali, meskipun ketahuan ia tetap akan mencintai Ana.
" apa kamu tau wanita yang di cintai kakakmu." Ana hanya menggeleng tenggorokannya tercekat walau hanya untuk menelan ludahnya sendiri
" Mamah ini aneh, itu pribadi kakak kenapa tanya Ana. mana Ana tau." jawab Hardin menarik lagi tangan adiknya menaiki tangga.
Tubuh Ana dan Hardin menghilang di balik anak tangga, sorot mata Shopia kembali lagi ke Hendrik.
" siapa wanita itu Hen, jangan buat malu keluargamu." Shopia seakan tau siapa yang di maksud Hendrik tadi.
Bugh...
Alex kembali memukul Hendrik, " kalau kalau kamu tidak mau menikah dengan Alya, jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu di rumah ini lagi, dan satu lagi kamu akan di coret dari daftar keluarga Mahameru." Ancam Alex
Shopia dan Alex meninggalkan Hendrik yang masih termenung di sofa. Hembusan nafas kasar, kepalanya terangkat keatas melihat langit langit rumahnya.
Dalam kamar Hardin masih diam, bingung harus mulai dari mana bicara pada Ana. Ia duduk mendekati adiknya yang sedang berbaring. " tolong An, jangan lagi kamu teruskan dengan kak Hen, lihatlah bagaimana marahnya papah tadi, atau kamu pindah kuliah ke luar negeri saja tinggal bersama aunty. "
Ana bangun dari rebahannya, " apa salah Ana kak, toh ini semua kak Hen yang mulai, siapa yang mau seperti Ana. Semua menyalahkan Ana, Elsa Diana kak Gio sekarang kakak." protes Ana tidak terima.
" bukan begitu sayang, siapa yang menyalakan Ana kakak hanya memberikan saran." Ana menutupi telinganya tidak mau lagi mendengar kata kata Hardin.
Seminggu telah berlalu, keadaan masih sama. Elsa dan Ana yang masih menghindari Ana. Sedangkan Ana semakin menjauhi Hendrik sekarang.
Pikiran Hendrik benar benar kalut saat ini, emosinya tak dapat di kontrol. Pekerjaan di selesaikan dengan marah dan marah, sekertaris yang selama ini setia dengannya pun di pecat secara tiba tiba. Kontaknya sudah di blokir Ana, sedangkan saat di rumah ia mencoba berbicara dengan Ana malah Ana terus menghindar. Bahkan Ana tidak segan segan melempar pandangan benci padanya.
Hari ini Ana mengurusi surat surat untuk keberangkatannya ke Singapore yang sengaja Shopia rahasiakan dari Hendrik.
" apa kamu menghindari ku baby, dengan pindah ke luar negeri." Ana kaget sampai menjatuhkan bukunya ke lantai, baru saja ia keluar dari toilet tapi Aska sudah menghadangnya di depan toilet.
" pak Aska ini sudah gila ya... ini toilet wanita kenapa bapak bisa masuk." bentak Ana penuh keberanian agar tidak di anggap lemah oleh Aska.
" toilet rusak baby, kamu yang salah masuk. Toilet ini dalam masa perbaikan." tangannya jahil membelai lembut rambut Ana, tapi malah membuat Ana ngeri sendiri.
" toilet yang rusak itu sebelah pak bukan yang ini." bantah Ana
" oh seperti itu ya.. Berarti ada tangan yang memindahkan papan tulisan dong." Aska mengangkat sebelah tangannya seakan memberi tau bahwa dia lah yang memindahkan tulisan itu.
" bagaimana cupangnya sudah hilang baby, aku masih ingin lanjut yang waktu itu. Tubuhmu masih terbayang bayang di sini." Aska menunjuk keningnya.
Aska semakin maju, Ana semakin mundur. Mundur dan mundur, tubuh Ana sudah di pojok dinding toilet. Kedua tangan Aska sebagai penopang tubuhnya di tembok. Wajah mereka hanya terkikis secenti saja. Ana memalingkan wajahnya ke samping, " kalau bapak kurang ajar di area kampus saya akan teriak." ancam Ana
" teriak saja baby kalau kamu tidak ingin membuat malu diri kamu sendiri." Entah keberanian dari mana Ana langsung menendang senjata pamungkas Aska dan bersiap lari saat Aska merintih kesakitan.
Akhirnya Ana selamat lagi dari dosen mesumnya, kini ia mengatur nafasnya yang terengah engah.
" sudah selesai An." tanya Hardin di belakang Ana
Ana pun kaget " sudah kak."
" kenapa kamu seperti di kejar setan di siang bolong." tanya Hardin
" lebih parah dari setan kak." Hardin mengangkat sebelah alisnya
" udah ayo, tanya terus kakak ini." Mereka berdua meninggalkan area kampus dan pulang.
Pukul 3 sore hanya Shopia dan Hardin saja yang mengantarkan Ana ke bandara. Sebenarnya Alex tadi ingin ikut mengantarkan juga tapi di cegah oleh Shopia, nanti Hendrik akan curiga saat Alex meninggalkan kantor di jam kerjanya.
" hati hati ya sayang... sampai rumah aunty kabari mamah." pesan Shopia
Mata Hardin berkaca kaca, seperti tidak mengiklankan keberangkatan Ana padahal ia sendiri yang memberikan usul itu pada mamah papahnya, sekarang sudah di jalankan malah ia yang tidak rela dan tidak tega.
" kakak pasti kangen sama kamu An, dari kecil kita tidak pernah berpisah sama sekali." Hardin memeluk adiknya dengan erat.
" 2 bulan lagi kan Ana pulang kak. Sabar kak, cup cup jangan menangis kakak." goda Ana agar tidak pada sedih padahal ia sendiri merasa sedih karena berpisah dari keluarganya.
" sudah sudah, itu lihat jamnya sudah mau take out sayang." Shopia menyudahi acara haru haruan kedua anaknya itu.
Ana menyeret kopernya berjalan menjauh dari mamah dan kakaknya. Melambaikan tangan dalam perpisahan, bulir air mata membasahi pipinya. Ini semua demi kebaikan keluarga kita kak Hen. Hanya Hendrik dalam otaknya saat ini entah kenapa ia merasa seperti tidak tega berpisah dari Hendrik dari pada dengan yang lainnya.
Tubuh Ana sudah menghilangkan di balik dinding kaca bandara. Barulah Shopia dan Hardin berjalan keluar bandara.
" apa kamu juga menyukai Ana sama seperti kakakmu Din." tanya Shopia menuju parkiran
Hardin berhenti, " Ya karena Ana adikku mah, otak Hardin masih waras. Seandainya ya juga itu normal Ana cantik baik pendiam, wanita idaman semua laki laki normal mah." goda Hardin pada Shopia
Shopia yang sepertinya ingin marah tapi tidak jadi, ia memukul lengan Hardin.
" pasti lah kan Ana anak mamah, dulu pas mamah masih mudah sama seperti Ana banyak yang godain dan ngejar ngejar mamah." Shopia tertawa dengan percaya dirinya ia membayangkan waktu masih mudah dulu. Hardin malah tertawa sampai perutnya sakit karena baru kali ini ia melihat mamah begitu percaya diri.
Hari telah berganti hari, waktu terus berputar. Hendrik sudah tidak tahan lagi menahan rindu pada adiknya. Sore ini ia memutuskan pulang ke rumah setelah pulang kantor.
Hendrik mencari Ana kesemua sudut rumah tapi tak menemukannya, " cari Ana kamu Hen ?." suara Shopia dari belakang Hendrik.
Hendrik tidak langsung menjawab, Shopia paham. " adikmu sudah pindah kuliah di luar Negeri dari 2 Minggu yang lalu." ucapnya lagi
Bagai kabar duka buat Hendrik saat ini, bagaimana dia bisa tidak tau kalau adik yang ia cintai telah pindah dari rumah. " kenapa Hen bisa gak tau mah."
" Ya karena ini permintaan Ana juga, jangan pikir mamah ini bodoh Hen. Mamah ini juga pernah mudah seperti kalian."
" maksud mamah." Hendrik berlagak polos seakan tidak tau apa salahnya.
" Jangan buat malu keluarga Hen, Ana itu adikmu. Sadar Hen hentikan perasaan pada Ana." ucap Shopia
" Ana bukan darah daging mamah dan papah, jadi tidak ada yang salah pada perasaan Hen mah." elak Hendrik benar adanya.
"Hendrik Mahameru..." suara Alex menggema di rumah.
Berjalan mendekat pada anak dan istrinya dan...
Plakkk....
Satu tamparan keras dari Alex pada putra sulungnya.
" Dimana otakmu hah... Ana itu adikmu. Siapa pun dia dari manapun asal usulnya ia tetap anak papah dan mamah kamu paham." ucap Alex dengan emosi
" mau tidak mau empat Minggu lagi kamu harus menikah dengan Alya. atau tidak kamu akan papah coret dari keluarga Mahameru." ancam Alex lagi.
" sekali tidak tetap tidak pah, Hendrik hanya mencintai Ana tidak ada wanita lain di hati dan pikiran Hendrik." Hendrik masih memegangi pipinya yang terasa panas dan berdengung di telinganya.
Tidak mau banyak bicara lagi Hendrik meninggalkan rumah, ingin menemui Ana tapi di mana keberadaannya. Siapa yang harus dia tanyakan untuk ingin tau keberadaan Ana, Hardin ya Hardin yang paling dekat dengan Ana. Tapi dimana anak itu jam sore tidak ada di rumah.
Hardin menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan rumah.