12

1245 Words
Selama perjalanan tidak ada satu katapun terucap baik dari Hardin maupun Ana. Ana merasa takut dan malu saat ini. Sampai mobil terparkir apik di halaman rumah Mahameru. Ana segera turun, dengan langkah yang tertatih, Hardin hanya melihat dan mengikuti dari belakang. " naiklah ke punggung kakak, apa kamu mau buat mamah dan papah banyak tanya karena cara berjalanmu seperti itu." Benar yang di katakan Hardin Ana pun langsung naik ke punggung Hardin. Rumah sudah sepi dan banyak lampu yang di matikan pertanda bahwa kedua orang tuanya sudah istirahat semuanya. " Mamah papah sudah tidur kak, Ana bisa berjalan sendiri." Antara yakin dan tidak untuk menurunkan adiknya, Hardin masih diam. Tiba tiba lampu tangga menyala, Shopia berjalan dengan pakaian tidurnya. " Kamu kenapa sayang." tanya Shopia panik. Hardin merasa lega karena tidak jadi menurunkan adiknya. " tadi ehm..." " Ana tadi terkilir kakinya mah saat turun dari apartemen kakak." Sahut Hardin langsung agar Shopia tidak curiga karena Ana gelapan saat menjawab. " Antar adikmu ke kamar Din... biar mamah urut kakinya." pinta Shopia. Sampai di kamar Ana langsung berbaring tanpa bergerak, Shopia mencoba melihat kaki putrinya yang sudah di tutup selimut. " gak apa mah, sudah baikkan kok tadi kak Din sudah urut waktu di mobil." tolak Ana agar tidak curiga mamahnya. " benar sayang." Ana pun mengangguk. Satu mata kuliah sudah selesai, Ana dan kedua sahabatnya duduk santai di taman sambil makan cilok dan es dari kantin tadi. Di balik kaca ruang dosen, mata Aska tidak ada berpalingnya dari Ana. " apa ini sebuah jawaban dari permintaan mu Nandira." Ana yang gerah mencoba mengepang rambutnya dengan tangan dan tangan satunya mengipas pada bagian lehernya. Mata Elsa tersorot pada bekas warna merah ke unguan di belakang telinga Ana. " Ini apa An." Tanya Elsa spontan, Ana langsung menurunkan rambutnya kembali dan menutupi bagian telinganya. " apa sih Sa..." Ana bingung harus menjawab apa. " kamu gak habis aneh aneh sama Gio kan An." pertanyaan Elsa bagai ditektif saat ini. " apaan sih, pertanyaanmu aneh deh Sa.." " hai Ana, aku ini tidak bodoh ya... itu bekas cupang kan. Kamu habis apa aja sama Gio semalam hah. Parah kamu An kalau sampai Hardin tau mati sudah Gio." oceh Elsa yang tak tau apa. " bagaimana bisa ada cupang di balik telinga Ana, apa Ana selingkuh di belakang Gio, sedangkan Gio semalam sama aku sampai pulang pagi." batin salah satu sahabat Ana. " bukan ya ini bekas gigitan nyamuk Sa." elak Ana " itu mulut nyamuk segede mulut kak Hen apa ? kenapa bekas nyamuk selebar itu. pleace An... gak usah pakek bohong sama aku." Mendengar Elsa menyebutkan nama Hendrik bulu kudu Ana langsung berdiri bagaimana bisa tau itu ulah kakaknya. Tidak tidak itu hanya filosofi Elsa saja, Ana yakin Elsa tidak akan tau dan Hardin tidak akan mungkin cerita pada Elsa kerena itu juga aib keluarga. " Nih ya An aku kasih tau, kakakmu itu sering kali bertanda kepemilikannya di sana saat kita bercinta." tanpa tau malu lagi Elsa malah cerita hal seperti itu pada adik kekasihnya. " udah udah gak penting juga kan Sa ini di bahas." Ana mencoba mengalihkan pembicaraan Elsa yang semakin membuatnya tidak bisa menjawab. " Eh Diana, kenapa kamu diam saja hah.. kesambet ya..." goda Elsa, sedari tadi hanya Diana saja yang diam. Bukan karena apa dia juga sedang melirik tanda kepemilikannya di bagian atas gundukan yang tertutup bra dan juga bajunya. Tanda kepemilikan yang di ciptakan semalam juga. Saat mereka akan kembali ke kelas, Aska memberhentikan Ana. " bisa kalian tinggalkan saya dan Ana untuk bicara empat mata." Antara iya dan rasa ingin tahu, akhirnya Elsa dan Diana meninggalkan Ana dengan sang dosen. " ya pak." " boleh saya tau hal pribadi tentang mu." pinta Aska to the poin pada intinya. " maksudnya." Ana tidak mengerti " apa benar kamu adik kandung Hendik." " pertanyaan macam apa ini, kenapa semuanya membahas tentang Kak Hen." " kenapa ya pak ? memang apa hubungannya pak Aska dengan kakak saya." " kan saya kemarin sudah cerita kalau kakak kamu itu adalah teman saya waktu kuliah dulu, kami berpisah setelah saya menikah." jelas Aska " Jadi bapak sudah menikah ?." Aska mengangguk kemudian membuang nafasnya dengan kasar " tapi istri saya sudah meninggal setahun yang lalu." sorot mata Aska pun berubah menjadi sendu. " Maaf pak." " terus hubungannya dengan saya dan kak Hen apa ya pak.?" tanya Ana membuat Aska bingung harus menjawab apa. Apa mungkin dia akan bercerita bahwa dulu kakaknya menyukai istrinya dan istrinya berwajah sama dengannya. Mungkin sekarang belum waktunya, suatu saat nanti di waktu yang tepat pasti akan Aska cerita. " oh ya kenapa w******p saya srmalam tidak kamu jawab." Aska mengalihkan pembicaraan agar Ana tidak banyak bertanya dan curiga " oh maaf pak, saya ketiduran mungkin." Ya memang ketiduran, ketiduran di pelukan kakaknya seusai berhubungan laknat semalam. " nanti saya w******p lagi balas ya." Dengan percaya dirinya Aska berharap Ana mau balas pesan darinya. " ya pak kalau sempat. permisi pak saya mau ada kelas lagi." Ana menghindari Aska dengan cara halus agar sang dosen tidak berprasangka buruk. Setiba di kelas Elsa dan Diana menyambut Ana dengan berbagai pertanyaan padahal sudah ada dosen dalam kelasnya yang sedang menjelaskan beberapa materi seminggu kedepan. " kepo kalian ini, pak Aska cuma tanya tentang kak Hen karena mereka teman kuliah dulu." jelas Ana tidak panjang lebar. Kedua temannya hanya ber-O ria. Di sebuah cafe tidak jauh dari perusahaan Mahameru, duduk berhadapan dua pria satu darah itu. Mata Hardin masih mengandung emosi tapi ia masih bisa tahan karena lawannya adalah kakaknya sendiri. Begitu juga dengan Hendrik dia berusaha santai saja sambil menikmati kopi dan isapan rokok. " ada yang ingin kamu ketahui Din." Hendrik langsung bertanya tentang apa yang dia lihat bagaimana rasa ingin tahunya Hardin tentang kata bukan semalam. " apa arti kata bukan maksud kak semalam." " kamu boleh bertanya pada mamah dan papah tentang siapa Ana, waktu itu kamu masih kecil dan mungkin kamu tidak mengingat apa apa." Hardin tidak mengerti dengan perkataan kakaknya yang terlalu berteka teki itu, membuat kepala Hardin pusing saja. " jawab saja pertanyaan yang aku tanyakan kak, tidak perlu bertele tele." Hardin mulai tidak sabar dengan kakaknya yang terlalu pandai bermain kata kata itu. " aku hanya tidak ingin melihat Ana bersedih, dan aku tidak ingin membuatnya terluka kamu paham. Bertanyalah pada mamah dan papah di rumah." Hendrik meninggalkan adiknya dengan sejuta pertanyaan di otak. Hendrik kembali ke kantor tidak menjemput Ana nanti karena dia sudah mengirimkan pesan pada Ana kalau nanti sore dia akan pulang kerumah, Lain dengan Hardin ia lebih memilih pulang dari pada menjemput Elsa yang dari tadi sudah mengirimkan pesan berkali kali agar tidak lupa menjemputnya. Tidak biasanya Elsa seperti itu. " Bi, mamah di ataskan." tanya Hardin yang sudah sampai rumah tapi tidak menemukan mamahnya di lantai bawah. " sepertinya den, soalnya dari tadi pagi nyonya tidak terlihat di bawah." Perkataan salah satu pelayannya tidak lagi di hiraukan Hardin, ia setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar mamahnya. Pintu yang tidak tertutup rapat membuat Hardin bisa mendengarkan apa yang di bicarakan mamahnya dengan seseorang tapi Hardin tidak tau siapa yang di ajak bicara, samar samar Hardin mengenal suara lawan bicara sang mamah. Hardin semakin mendekatkan telinganya ke daun pintu, ternyata lawan bicara sang mamah adalah bi Yati, pelayanan paling lama di keluarganya. Ingin ia membuka pintu itu tapi tertahan saat Shopia menyebut nama Ana di sana. " apa hubungannya Ana dan bi Yati." batin Hardin masih tertahan di depan pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD