" apa pun yang terjadi Ana tetap anakku bi, tidak ada yang bisa merubah itu. Ia tumbuh besar dari asi ku. Dan tangan ini, yang merawatnya. Dia anakku bi." ucap Shopia terisak tangis.
" saya mengerti nyonya bahwa anda ini yang membesarkannya merawatnya dari bayi. Tapi bagaimana pun non Ana tidak ada hubungan darah dengan den Hendrik." Hardin masih setia menguping dengan sejuta pertanyaan di otaknya, apa maksud semua ini.
" Dan saya yakin non Ana akan lebih nurut sama Nyonya dari pada sama den Hen. Ada baiknya pernikahan den Hen segera di lakukan Nyonya karena walau bagaimanapun den Hen da Non Ana saudara satu susuhan." Lanjut bi Yati lagi.
" saya sudah berunding dengan Alex semalam bi, tapi apa Hen mau sedang bibi tau sendiri bagaimana watak Hen."
" Beribu cara pasti nyonya bisa, karena nyonya orang tuanya." bi Yati seakan memberi semangat buat Shopia, apa yang sebenarnya terjadi yang tidak Din ketahui.
" apa maksudnya mah..." tanya Din langsung yang semakin bingung dengan keadaan ini. Shopia langsung kaget, tidak kalah kagetnya bi Yati melihat ke datangan Hardin secara tiba tiba.
Shopia mengusap sisa sisa air mata di pipinya yang masih basah, " siapa Ana sebenarnya mah ?." tanyanya lagi.
Bi Yati tidak berani mengangkat kepalanya, Shopia bingung harus menjelaskan seperti apa pada putra keduanya. Kejadian 18 tahun yang lalu sudah jelas di mata Hardin sebenarnya tapi saat itu Hardin masih kecil dan tidak mungkin ia bisa mengingat kejadian pagi hari itu.
Shopia masih terdiam dalam kebingungannya, " jawab Mah..." Hardin mulai membentak dan memukul pintu kamar mamahnya.
" Ana bukan adik kandung kamu Din." Shopia yang kaget dengan spontan langsung bicara apa adanya.
Hardin yang tidak mengerti pun bingung, menggeleng antara tidak percaya dan ingin marah karena berfikir mamahnya sedang bercanda di waktu yang serius seperti ini. " maksud mamah." tanyanya ulang
" Ya Ana bukan adik kandungmu, dan bukan darah daging mamah dan papah Din." Shopia menjelaskan lagi dengan menundukkan kepalanya berharap tidak melihat rasa kecewa di wajah anaknya.
Hardin tertawa sumbang, seperti mendengar orang yang lupa ingatan di depan matanya " astaga mamah, mamah sendang memerankan drama apa sekarang. Mamah Din ini tanya serius loh mamah malah ajak Din bercanda."
" waktu itu kamu sendiri melihatnya Din, malah kamu senang sekali karena mendapat adik perempuan tapi saat itu kamu masih 2 tahun, kamu masih sangat kecil untuk mengingat Nak " Bibir Shopia seakan keluh berkata seperti itu.
Hardin mendekat, duduk di depan lutut mamahnya yang sedang duduk di atas sofa dalam kamar. " Ana tetap adik Din mah, sampai kapanpun itu. Dan Din harap mamah jangan pernah memberitahu Ana ya mah." harap dan pinta Hardin.
Shopia mengangguk " Ana memang anak mama Din dan sampai kapanpun Ana adalah anak mamah, dari kejadian pagi itu mamah sendirilah yang menyusui Ana dan tangan inilah mamah merawat Ana sampai tumbuh gadis cantik seperti sekarang Din." Shopia menggenggam kedua tangannya sendiri.
" Apa mamah sudah mengetahui semuanya ?" Hardin tiba tiba mengingat hubungan adik dan kakaknya.
" Mamah selama ini tau Din, tapi mamah diam mamah pikir itu hanya firasat mamah saja. Tapi semakin hari firasat mamah itu seperti menjelma menjadi nyata sayang." Hardin bingung apa dia harus bercerita pada mamahnya dengan apa yang dilakukan mereka berdua semalam, tapi Hardin takut mamahnya kecewa dan banyak berfikir. Untuk sementara ini ia memilih diam, tapi kalau sampai terjadi apa apa dengan Ana di kemudian hari Hardin tidak akan tinggal diam meski Hendrik adalah kakaknya sendiri.
" Din janji akan menjaga Ana mah, sekarang mamah jangan terlalu banyak berfikir. Din mau jemput Ana mah, setengah jam lagi Ana akan pulang." pamit Hardin meninggalkan rumah ke arah kampus
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Hardin tidak ada berhentinya memikirkan kenyataan hidup yang baru tadi ia ketahui. Bagaimana jika nanti adiknya itu tau kebenarannya, pasti dia akan lebih kecewa dan sedih. " Ana itu adikku dan sampai kapanpun dia tetap adikku. Tidak ada yang bisa merubahnya."
Sampai di kampus, Hardin melihat bahwa kelas Ana sudah bubar dari 10 yang lalu. Lalu di mana mereka bertiga kenapa pas di lorong tidak bertemu dengan ketiga gadis yang selalu bersama sama itu. Hardin menelpon Ana berkali kali, tapi tidak di angkat. Ia akhirnya menelpon Elsa di panggilan ketiga baru di angkat. Setelah mendapat di mana keberadaannya, Hardin langsung ke sana.
Dari arah 100 meter Elsa melambaikan tangannya pada Hardin, tapi hanya hanya berdua Elsa dan Diana dimana adiknya, apa sudah di jemput kakaknya.
" Sayang dimana Ana ?." tanya Hardin tanpa menyapa Elsa terlebih dahulu, itulah yang membuat Elsa selalu cemburu pada Ana karena Hardin lebih mementingkan dan mengutamakan Ana dari pada dirinya, tapi ia sadar karena kekasihnya itu sangat menyayangi sang adik.
" tadi di panggil pak dosen tampan di ruangannya." Elsa sengaja memberikan sebutan tampan dari pada namanya karena ia ingin melihat ekspresi Hardin bagaimana kalau dia memuji pria lain di depannya.
" pak Aska teman kak Hen itu." Elsa mengangguk, tanpa Elsa duga Hardin dengan rasa cemasnya berlari ke arah ruangan dosen.
" ya ya ya di cuekin lagi gara gara lebih penting adiknya." suara Diana seperti kompor di telinga Elsa. Entah kenapa belakangan ini Diana sering memberikan omongan pedas pada Ana, dan sering memberikan kompor di telinga Diana. Apa masalahnya coba tiba tiba Diana berubah seperti itu, tapi Elsa tau siapa Ana dan betapa sayangnya Hardin pada Ana karena mereka kakak beradik jadi pantas saja lah gadis cantik seperti Ana dan banyak fans di jaga oleh sang kakak dari pada terkena godaan buaya bermulut manis di luar sana.
" Berisik ya kamu sekarang Diana ." Elsa langsung lari mengejar Hardin yang mencari Ana.
" Dasar kalian tidak tau saja seperti apa Ana yang kalian bangga banggakan selama ini." gumam Diana kesal.
Diana lebih memilih menunggu jemputan spesial dari pada harus ikut ikutan mencari sahabatnya itu. Entahlah hanya Diana sendiri yang tau akan perubahan sikapnya pada Ana.
Pintu ruangan dosen terkunci, setahu Elsa ruangan pak Aska di sini bersama staf dosen yang lain, dan pak Aska tidak memiliki ruangan dosen yang khusus. " kamu yakin sayang."
" ya sayang, karena setahu ku pak Aska tidak punya ruang khusus kan dia cuma dosen pengganti." jelas Elsa
Hardin Kemabli menelpon nomor Ana tapi sekarang malah tidak aktif. Ia dan Elsa berpencar mencari Ana di sudut kampus. Hardin cemas tidak biasanya Ana mematikan ponselnya kalau tidak lowbet ponselnya. Setengah jam sudah tapi tidak juga menemukan Ana. Rasa cemas bercampur emosi Hardin malah membentak Elsa saat Elsa menyarankan untuk meminta bantuan Hendrik kan Pak Aska teman lamanya Hendrik mungkin ada urusan itu, tidak ada salahnya juga usul Elsa tapi Hardin malah salah paham.
Elsa yang merasa lelah ikut keliling kampus mencari Ana dan mulut sampai kram tanya kesana kemari sambil menunjukkan foto Ana, bukannya di hargai malah di bentak seperti itu.
" kamu cari saja sendiri, aku hanya mengusulkan malah kamu bentak seperti ini. Tidak sekali ini kamu bersikap kasar denganku gara gara Ana kak Din, tapi sudah berkali bahkan kamu rela menurunkan aku di tengah jalan karena mencari Ana. Aku juga punya rasa cemburu meskipun aku tau Ana adik kesayangan kamu." ungkap isi hati Elsa yang sudah ia tahan selama ini, karena selain dia sangat mencintai Hardin dia juga sahabat dari Ana.
" kalau kamu tidak mau bantu pulang sana, biar aku cari Ana sendiri jangan banyak bicara, aku tidak suka." kata aku tidak suka begitu Hardin tekan. Elsa merasa tidak di anggap dengan rasa penuh kecewa ia berlari dengan menangis meninggalkan Hardin sendiri.
Hardin mengusap rambutnya dengan kasar kebelakang, ia menyesal telah berucap seperti tadi pada Elsa tapi dia sendiri lebih bingung mencari adiknya yang belum ketemu.