2

1049 Words
Sepasang mata terus menatap sosok pria yang baru datang yang langsung memberi ucapan selamat pada pemilik acara. Matanya memanas kala bibir itu mengecup kening Ana. Gio Baskoro, tak lain adik tiri Alya Baskoro tunangan Hendrik adalah pacar dari Ana setahun ini. Bukan tanpa sengaja mereka bertemu dan menjadi sepasang kekasih saat itu. Mereka di pertemuan di bangku SMA tempat mereka mengejar ilmu, Gio adalah sahabat dekat dari Hardin, jatuh cinta pada pandangan pertama tak dapat di elakkan lagi saat MOS sekolah. Sebulan sudah Gio dim diam memperhatikan dari jauh, sampai akhirnya kepergok sahabat sendiri. " suka kamu sama siswi baru itu ?" tanya Hardin kala itu. Dengan yakin Gio mengangguk tanpa tau apa apa. Hardin berjalan mendekati kerumunan para siswi siswi baru di taman, ia langsung memeluk Ana tanpa basa basi, Ana pun membalas pelukan itu. Semua mata yang melihat hampir saja lepas dari tempatnya melihat pangeran SMA Darma Bakti memeluk siswi baru, seketika Gio lemas, ia berfikir kalah lagi dengan sahabatnya. Dengan bangganya Hardin mencium kening Ana, dan melambaikan tangan pada Gio. Tidak ingin terlihat sakit hati, Gio mendekat. " Ana.. hati hati kamu di kuntit sama pria ini." mata Gio semakin terbelalak. Ana tersipu malu, dari awal MOS memang Ana juga memperhatikan ketua OSIS satu itu. Akhirnya dengan gamblangnya Hardin mengatakan bahwa Mariana yang akrab di sapa Ana itu adiknya. Begitu senangnya hati Gio saat itu, lampu hijau terus menyalah tanda terjang Gio mendapatkan gadis pujaannya selama sebulan ini. Setelah kelulusan Gio harus kuliah di luar Negeri, tapi ia berjanji tahun depan ia akan usahakan merayu orang tuanya agar di pindahkan ke Indonesia lagi. Setahun mereka berpisah jarak, Gio akhirnya menepati janjinya, kini ia kuliah di tempat yang sama dengan Hardin. Akhirnya mereka semakin dekat dan menjalin hubungan itu pun di bawah pengawasan Hardin. Pesta ulang tahun Ana sudah selesai, semuanya sudah pulang termasuk Gio yang membawa serta kakaknya Alya karena dengan alasan Hendrik lelah ingin pulang ke rumah tidak ke apartemen, entah apa isi dalam rencananya. Jarang jarang ia pulang ke rumah. Hampir dua tahun ini ia membeli apartemen untuk ia tinggali sendiri, bukan tanpa alasan, Hendrik hanya ingin menghindari perasaan yang tak sewajarnya ia miliki. Bukannya hilang perasaan itu semakin kuat ia simpan. Bukan dia tidak terima takdir tapi ia masih ingat kejadian 18 tahun yang lalu saat di pagi hari, jadi itu hal yang wajar saja karena Ana bukan adik kandungnya. Hardin kecil jelas tidak ingat, tapi Hendrik masih dengan sangat ingat kejadian itu. Shopia dan Alex satu mobil di ikuti dari belakang mobil anaknya, Hendrik yang mengemudi di dampingi Hardin sedangkan Ana duduk di kursi penumpang dengan senyum yang merekah memandangi hadiah dari Gio di jari manisnya, Hendrik yang bisa membatin dalam konsentrasinya mengemudi sesekali melirik Ana lewat kaca " tidak Ana, kamu tidak boleh di miliki pria lain selain aku." " so sweet... adikku udah gede sekarang ya... " Goda Hardin melihat ekspresi Ana saat ini. Blus, pipi Ana memerah hanya mampu mengulum senyumnya. " kak din nanti sampai rumah, kakak ke kamar Ana ya, Ana mau curhat penting." Dengan mantap Hardin mengangguk. Selama ini Ana memang lebih dekat dengan Hardin dari pada Hendrik, entah mengapa sikap kakak pertamanya itu berubah beberapa tahun belakangan ini, Ana sebenarnya ingin bertanya tapi ia urungkan melihat tatapan tajam dari Hendrik saja ia sudah takut bagaimana mau bertanya. Mungkin juga karena faktor usia mereka yang terpaut jauh, jadi ia lebih nyaman bersama Hardin saat mengobrol karena usia mereka c*m beda 2 tahun. Mobil terparkir apik di halaman luas keluarga Mahameru. Shopia dan Alex yang lebih dulu sampai rumah sudah tidak terlalu lihat lagi mungkin sudah masuk kamar untuk beristirahat melihat waktu sudah hampir jam sebelas malam. Mereka bertiga menaiki tangga dengan urut. " cepat kalian istirahat ini sudah malam." pesan Hendrik yang akan masuk dalam kamarnya. Tidak ada jawaban Hardin yang merangkul pundak Ana masuk dalam kamar Ana. Jangankan pria lain melihat adiknya memeluk Ana saja hatinya sudah ingin berontak, dengan alasan sama mereka bukan saudara kandung, takutnya Hardin akan memiliki perasaan yang sama terhadap Ana. Belum sempat berganti pakaian Hardin membantu Ana untuk membuka kado yang lain. " mau cerita apa ?" tangan kakaknya satu ini tidak ada diamnya terus saja mencubit pipi cabi Ana, pemilik pipi terus saja mengeluh sakit. " yang pertama nih ya kak, aku senang banget kado dari kak Gio. dan yang kedua kenapa sih sikap kak Hen beberapa tahun belakangan ini berubah tidak seperti dulu lagi sama Ana." wajah yang tadinya berbinar kini berubah lesu mengingat kejadian saat ia di bentak Hendrik waktu itu. Waktu itu Ana di suruh mamahnya untuk membangunkan Hendrik yang kesiangan, dengan semangat Ana masuk dalam kamar yang masih gelap dengan tirai yang tertutup rapat meski cahaya mentari pagi sudah menerobos masuk dalam kamar, di buk tirai itu. Ana berjalan mendekat, menggoyang tubuh kakaknya yang telanjang d**a di balik selimut. Ana yang membangunkan Hendrik setengah berisik di telinganya, membuat Hendrik kaget langsung memeluk Ana dalam dekapannya. Ana yang polos memberontak ingin di lepaskan tanpa menaruh curiga apa apa. Hendrik yang baru sadar bahwa itu bukan mimpi langsung melepaskan pelukannya membuat Ana jatuh terpental lantai. Rasa sakit di bagian pantatnya tak dapat di elakkan lagi, bukannya menolong sang adik Hendrik malah membentak Ana saat itu. Ana yang kaget langsung lari keluar kamar, pasalnya baru pertama kali ini ia di bentak kakaknya yang selama ini terlihat lembut dengannya. Tanpa di duga, 3 hari setelah kejadian itu Hendrik malah membeli apartemen tidak ingin tinggal di rumah dengan alasan apartemen itu lebih dekat dengan kantor. Ana merasa bersalah. " mungkin efek hormon orang yang gak laku An... udah jangan di ambil hati." Hardin mencoba mengusir rasa bersalah Ana selama ini, bukannya ia hanya diam saja bahkan pertanyaan itu sudah berkali kali ia tanyakan pada sang kakak tapi kakaknya enggan untuk menjawab. Lama mengobrol dengan candaan, tidak terasa jam sudah pukul 1 malam. Pintu yang tidak terkunci mempermudah Hendrik masuk membuyarkan obrolan kedua adiknya itu, " apa kalian tidak tau ini sudah jam malam, Hardin kembali ke kamarmu." ucapnya tegas bahkan tanpa ekspresi, membuat kedua adiknya bingung mengartikan nada marah atau nada peringatan. Dengan langkah lesu, Hardin keluar dari kamar Ana. Sedangkan Hendrik masih berdiri di sandaran pintu dengan satu tangan masuk dalam kantong celananya. Ana tidak berani menatap kakaknya satu ini, ia mengambil piyama dalam lemari kemudian madik kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD