Alangkah kagetnya Ana saat keluar dari kamar mandi, di kiranya Hendrik sudah tidak lagi di pintu kamarnya. Ya sekarang Hendrik malah menikmati rebahan di atas kasurnya.
" Kak Hen, Ana kira kakak udah kembali ke kamar." Ana berusaha menutupi rasa kagetnya, bukan malah bangun dari atas ranjang Hendrik malah menatap intens sang adik dengan pandangan dapat orang lain artikan dengan pandangan m***m.
Jelas sekali tidak ada penutup lain di balik piyama Ana, 2 gundukan di biarkan menggantung di tempatnya. Hendrik masih tidak bergeming.
" Kak Hen, Ana mau tidur." ucapnya lagi, tidak ada pikiran lain di dalam otak Ana saat ini. Tapi lain halnya dengan Hendrik, ada sesuatu yang bangun di sana saat Ana membuka handuk penutup kepalanya.
Di urai rambut basahnya, di usap dengan handuk yang kering. Mata Hendrik masih menatap intens " shittt." umpatnya dalam hati. Aroma khas stroberi meruak di seluruh ruangan kamar Ana. Ia dengan berlahan bangun dari ranjang, melangkah mendekati adiknya.
Tanpa aba aba langsung di pelukan tubuh mungil setinggi bahunya itu, " happy birthday princess kakak." hanya kata itu yang mampu Hendrik ucapkan untuk menutupi tegangan di bawah sana.
Ana memang tidak sadar, bahwa pelukan itu mengundang gairah bagi kakaknya. Rambut setengah basah di hirup lekat lekat oleh Hendrik. Polos dalam hal seperti itu, Ana dengan senangnya membalas pelukan sang kakak. Tanpa ia sadari tangan nakal sang kakak mulai menjamah bagian belakang telinga Ana, dan tangan satunya meraba bagian punggung Ana penuh gairah.
Jujur saja Ana merasa ada yang aneh mengganjal di bagian bawah gundukannya, tapi pikirannya masih ke dalam hal positif, lain halnya dengan Hendrik yang mulai gairah saat tubuhnya menempel lekat dengan 2 gundukan itu. Kepala Hendrik mulai menunduk, mensejajarkan bibir di telinga Ana " kakak gak suka kamu pacaran, belum waktunya." suara itu begitu berat seperti desahan membuat Ana merasa geli, dengan reflek Ana melepaskan pelukan Hendrik.
" Maksud kakak... Ana sudah minta izin sama mamah dan papah, mereka bilang asal dalam batas kewajaran itu boleh boleh saja." tidak senang dengan jawaban Ana hawa panas dalam hati Hendrik mulai naik ke otaknya.
" kakak bilang gak boleh ya gak boleh." Ana kembali lagi kaget dengan suara kakak pertamanya yang keras dalam arti membentak.
" kakak..." suara Ana melemah, " apa alasan kakak tidak setuju." Ana memberanikan diri untuk bertanya padahal mimik wajah seperti itulah yang di takutkan Ana dari Hendrik.
" Dan selamanya kakak tidak akan setuju." bentaknya lagi. Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Ana langsung membanting tubuhnya di atas ranjang, di tutup oleh selimut sampai batas kepala.
Hendrik mendesah lemah, hal yang paling ia hindari adalah tidak lagi membentak Ana. 2 tahun sudah ia menunggu kesempatan bisa bicara berdua dengan Ana tentang isi hatinya tapi malam ini ia sia siakan lagi. Hasrat bercampur emosi menyelimutinya. Mungkin malam ini bukan waktu yang tepat lagi, ia bisa berusaha besok itu pikirnya.
Hendrik membuka selimut Ana, mencium rambut Ana yang khas buah stroberi. " Karena kakak sayang denganmu An." ucapnya lirih berjalan gontai keluar dari kamar Ana.
Dirasa pintu sudah terdengar tertutup, Ana membuka selimutnya. " Kak Hen, semakin lama semakin aneh saja." . Tak ingin banyak berfikir Ana kembali menutup matanya untuk tidur.
Namun lain halnya dengan pria dalam kamar sampingnya, ia mati matian menahan gairah beberapa detik yang lalu agar tidak bertindak gegabah, yang akan membuat ia semakin jauh dari Ana. Air dingin dalam bathtub tidak dapat mengurangi rasa gairah yang memuncak, dengan bantuan tangan dan sabun cair gambar si Tante cantik menawan dan mempesona belum lagi tubuhnya yang putih mulus melancarkan aksi Hendrik melepaskan hasratnya. " maafkan kakak Ana."
Hampir sebulan telah berlalu, Hendrik tidak lagi berkunjung kerumah orang tuanya. Tidak hanya sibuk ia juga malu dan bingung bagaimana nanti ia bersikap kalau bertemu dengan Ana. Rasa rindu tidak dapat di tahan, siang itu Hendrik yang tidak ada jadwal mau pun kerjaan di kantor ia memutuskan untuk melihat Ana di kampus barunya, bukan menemui tapi menguntit dari kejauhan. Konyol bukan pria dewasa seperti Hendrik harus kucing kucingan dengan seorang gadis apa lagi itu adiknya sendiri.
Baru saja ia turun dari lift, Alex sudah menghadangnya. " mau kemana kamu Hen."
" makan siang di luar kantor pah, bosan makan makanan di kantor." elaknya dalam alasan. Ia maju selangkah membelakangi papahnya, tapi dengan kuat Alex mencengkal lengannya.
" apa kamu lupa hari ini kamu masuk kantor tapi di bebaskan dari pekerjaan karena apa." tanya Alex sedikit menekan. Bukannya Hendrik lupa, tapi sengaja di lupakan karena malas bertemu dengan Alya. Ia sudah berusaha sebisa mungkin membuka hatinya untuk calon istrinya itu tapi lagi lagi ia tidak bisa menempatkan wanita lain selain Ana di hatinya.
" Tapi pah, Hen sudah ada janji dengan teman Hen makan siang." alasannya, tapi sayangnya alasan itu tidak bisa di terima dengan baik oleh Alex. Dengan ancaman potong gaji dan penurunan jabatan, akhirnya Hendrik mengikuti perintah Alex.
Sepanjang jalan menuju rumah Alya, Hendrik tidak ada berhentinya mengumpat kesal, seandainya setir itu bisa bicara di akan mengeluh kesakitan karena terus di pukul oleh pemiliknya. Hari ini adalah hari yang di janjikan Hendrik sendiri untuk menemani Alya menghadiri pertemuan perancangan busana se-Asia. Ya itulah pekerjaan Alya saat ini, menjadi perancang busana yang sukses di usia muda karena bantuan dari sang papah.
Setiba di rumah calon istrinya, Hendrik tidak menemukan Alya karena calon mertuanya bilang bahwa Alya sudah ke butiknya terlebih dahulu karena ada salah satu modelnya yang membatalkan kontrak kerja. Baru saja Hendrik ini masuk dalam mobil, ada Gio juga yang ingin masuk mobil. Tidak ingin di bilang tidak sopan pada kakak ipar Gio menyapa Hendrik.
" kak Hen." sapa Gio yang hanya di balas deheman oleh Hendrik
" kamu mau kemana Gio." melihat anaknya yang rapi, mamah Gio pun bertanya. Tidak ada yang tau perasaan siapa yang terbakar di sana saat Gio menjawab akan menjemput Ana sekalian makan siang. Sepanjang jalan menuju butik Alya, ia semakin uring uringan menahan hawa panas dalam dadanya. Hendrik tidak sepenuhnya menyalahkan papahnya karena dia sendiri yang menjanjikan pada Alya bahwa hari ini dia akan menemani Alya menghadiri acara sponsor rancangan desainer se-Asia di luar kota.
Mobil Gio terparkir apik di halaman kampus menunggu pujaan hatinya selesai mata kuliah. Mereka memang sekampus tapi hari ini dia dan Hardin tidak ada jadwal mata kuliah. Bosan juga di rumah ia menawarkan diri untuk menjemput Ana, sekalian nanti double date sama Hardin dan juga kekasihnya.
Sepuluh menit Gio menunggu, akhirnya keluar juga pujaan hati, mobil pun melesat meninggalkan area kampus. Sepanjang perjalan menuju taman pinggiran pantai, hanya mereka lalui saling mengobrol soal mata kuliah sesekali di sela oleh Gio dengan candaan. Mereka sudah remaja dan beranjak dewasa tapi Ana masih tau batas hubungan mereka terlebih lagi Gio tidak ingin menyakiti Ana. Setiap hari pun bukan Ana yang chatting tapi Hardin yang selalu memberikan kultum pagi sebelum bertemu dengan Ana. Setahun sudah mereka menjadi sepasang kekasih, mungkin orang tidak akan percaya kalau mereka itu pacaran karena rasa saling menghargai dan menghormati membuat mereka memberi batasan, tidak lebih dari pegangan tangan dan mencium kening Ana.