4

1200 Words
Acara yang begitu membosankan bagi Hendrik saat ini, raganya di sana tapi hati dan pikirannya tidak lepas dari Ana. Pikiran negatif selalu mengejarnya tentang apa yang di lakukan Ana saat ini bersama Gio. Masih satu jam lagi acara ini akan selesai, Alya tidak bersamanya. Calon istri Hendrik itu sibuk mempersiapkan pengganti modelnya yang tiba tiba membatalkan kontrak. Di sandarkan tubuh itu dengan lemas pada sandaran kursi. Alya datang menghampiri " maaf kak Hen, Al yang ajak tapi kak Hen Alya cuekin." Alya merasa bersalah, Hendrik hanya berdehem saja untuk membalasnya. Mata Hendrik memanas, tubuhnya kembali di tegapkan di atas kursi. Alangkah kagetnya ia melihat siapa yang menjadi model pengganti calon istrinya itu. Atas permintaan siapa adiknya yang pemalu itu berani menunjukkan dirinya di atas karpet merah yang di selenggarakan oleh Alya serta rekan bisnisnya. Gadis cantik berkulit sawo matang dan bertumbuh mungil itu berjalan begitu anggunnya memakai gaun malam berwarna merah maroon dengan belahan paha terlalu lebar dan bagian punggung yang terekspos tanpa penutup. Sekali lagi matanya memanas, cahaya kilatan mengambil gambar Ana dengan pakaian seperti itu. Tidak, tidak boleh ada yang melihat Ana berpakaian seperti itu. Gila, ini gila ini ide siapa. Matanya menatap ke arah jam 3 ada Gio disana yang sedang tersenyum mengamggumi penampilan Ana saat ini. " beraninya mereka menggunakan Ana sebagai bahan tontonan umum seperti ini." " Bagaimana kak, Ana cantik kan." tanya Alya dengan bangga, bukan dari kecantikan Ana tapi melainkan Ana yang memakai desain darinya. " Siapa yang meminta Ana melakukan ini." bisiknya pelan penuh dengan penekanan. Alya tidak sadar saat ini Hendrik dalam mode marah ia malah menjawab jujur adanya bahwa dialah yang meminta. Beberapa waktu lalu, saat Ana dan Gio akan ke pantai menyusul Hardin tiba tiba ponsel Gio berdering, ada nama Alya disana. Gio menyipitkan sebelah alisnya, tumben kakak tirinya itu menelpon ada apa, tidak biasanya kalau tidak ada kepentingan. Benar dugaan Gio, Alya menelpon bahwa ia minta tolong pada Gio untuk mencarikan mode pengganti untuknya, karena Alya tau banyak sekali wanita cantik teman Gio yang ingin sekali menjadi model Alya beberapa bulan yang lalu dengan honor yang murah asalkan bisa buat jajan dan mencari ketenaran. Bukan hanya ketenaran melainkan mencari sugar Daddy di saat waktu tidak punya uang jajan. Satu jam Gio mencari tidak ada satu pun yang bisa, akhirnya Alya minta bantu Ana saat itu. Awalnya menolak karena malu itu lah sebenarnya Ana, tapi karena begitu memohonnya akhirnya Ana tidak tega selain itu bagi Ana Alya bukanlah orang lain tapi calon kakak iparnya. Baiklah Ana lakukan tanpa berfikir apa akibatnya nanti. " Hentikan atau aku akan menyeret Ana turun, itu akan lebih membuatmu malu." Ancam Hendrik. Alya bingung, tapi tidak ingin ada masalah akhirnya ia memberi kode pada pemandu acara itu untuk menghentikan sesi bagian Ana. Ana pun menghilang di balik tirai belakang podium. Di apartemen Hendrik kini mereka berada, bukan Alya yang di bawa pulang tapi Ana. Sepanjang perjalanan hanya hening tidak ada satu pun yang membuka suara. Sekali tapi ana bertanya malah Hendrik terbakar emosi mengemudi dengan kecepatan yang tidak lazim. Jarak kota yang di tempuh satu setengah jam hanya di lalui Hendrik 40 menit saja. Ana merasa takut, memejamkan mata selama perjalanan. Di banting dengan kasar tubuh Ana di atas sofa, " dimana urat malu Ana hah..." bentak Hendrik penuh emosi. " Ana hanya ingin membantu kak Alya kak." jelas Ana. Jas di lepas dengan kasar dan di banting di sebelah Ana, ia memejamkan matanya takut. Kemeja berwarna navi ia lepas dengan kasar di depan Ana. Ana yang merasa takut masih memejamkan matanya, tanpa sadar di atas pangkuannya sudah ada tubuh Hendrik yang mengangakang di antara kedua pahanya dengan telanjang d**a. Deg, kaget dengan apa yang di lakukan kakaknya Ana ingin berteriak tapi bibir sexy miliknya sudah di bungkam oleh bibir gairah Hendrik. Ini ciuman pertama gadis berusia 18 tahun itu, bukan ciuman lembut pada umumnya yang di rasakan para gadis remaja tapi ciuman kasar yang penuh gairah oleh kakaknya sendiri. Terasa sakit karena Hendrik dengan kasar mencercap bibir atas dan bawah itu secara bergantian. Sekuatnya Ana memberontak tetap saja tidak ada setengah dari tenaga Hendrik saat ini. Di tarik kedua tangan Ana di kunci di atas kepalanya, entah kapan posisi tubuhnya berpindah, Ana sudah tidak menyadari akan hal itu. Hendrik terus mencium kasar bibir Ana dan mengungkung tubuh Ana di bawah tubuhnya. Tangis dalam diam, tiba tiba saja air mata itu lolos dari pelupuk matanya. Disitu Hendrik baru sadar apa yang sedang ia perbuat saat terbakar emosi rasa cemburu. Ia bangun dari atas tubuh adiknya, duduk di sebelah dengan menarik rambutnya kasar merasa bersalah dan lagi lagi membuat Ana takut. Ana masih mematung dalam posisinya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hendrik kakaknya, apa yang di lakukan kakaknya baru saja.Dua kancing kemeja Ana terbuka, terlihat jelas dua gundukan itu menaikan kembali hasrat kejantanan Hendrik. Tapi tidak kali ini jangan dulu, semua ada waktunya, semua bisa di bicarakan dalam keadaan baik baik saja tanpa rasa emosi atau cemburu seperti ini. " Maafkan kakak An." ucapnya lirih penuh dengan penyesalan. Di tarik tubuh Ana dalam pelukannya,  " shittt. " sesuatu lebih bangun lagi di bawah sana saat d**a itu menempel lekat. Tangis dalam diam kini menjadi isakan yang tersengguk, semakin kuat Hendrik memeluk Ana. Pemilik mata hitam pekat bulat itu masih tidak berani menatap mata coklat giok milik sang kakak. Hendrik menarik dagu Ana, meminta Ana menatapnya dalam gerakan. Hanya seperdetik saja, Ana kembali menunduk tidak mampu menatap lagi. " apa yang kakak lakukan." tanyanya masih dalam tangisan Hendrik kembali menarik dagu itu agar pandangan mereka kembali bertemu. " kakak menyukaimu An." Bagai petir di siang bolong menyambar hati Ana, bagaimana bisa seorang kakak menyukai adiknya sendiri lebih dari rasa suka sebagai saudara. Ana menggeleng tidak mengerti. " ada hal yang membuat kakak menyukai mu dan kakak tidak rela dan tidak akan pernah rela kamu di milik i orang lain." Ana kembali menggeleng " tidak kak, kakak salah. Kak Hen kakak Ana, Kak Din juga kakak Ana. Tidak ada yang lebih dari rasa sayang dan cinta sebagai saudara. Kakak sangat sangat salah. dan Ana sudah mencintai kak Gio." tegas Ana memberanikan diri Brak, Héndrik memukul meja di depannya, " tidak, tidak akan kakak biarkan kamu di miliki orang lain selain kakak, dan jangan pernah menyebutkan perasaanmu pada pria lain di depan kakak." bentak Hendrik " kakak gila,." Ana beranjak dari sofa ingin meninggalkan Hendrik yang semakin tidak jelas dan semakin ngelantur saja jika di ladeni. Hendrik hanya santai melihat Ana setengah berlari darinya menuju pintu karena semua sudah ia rencanakan sebelumnya. Ana membalikkan badannya menatap kecewa pada kakaknya, " Ana mau pulang kak, tolong bukakan." " tidur sini saja, nanti kakak yang bilang sama mamah dan papah." pinta Hendrik yang masih di sofa dengan sebatang rokok yang baru di nyalakan. " tidak." Ana membentak, mendengar itu telinga Hendrik panas. Tubuhnya beranjak menghampiri Ana yang berdiri di sana. " Masuk." bentak Hendrik balik, " tidak." Tidak ingin berdebat, Hendrik langsung menggendong Ana di bahunya seperti sedang memanggul beras saja. Ana meronta minta di turunkan tapi tidak di indahkan oleh Hendrik. Pikiran Ana sudah melangkah ke arah negatif saat tau itu adalah ruangan kamar, kamar siapa lagi kalau bukan kamar kakaknya sedangkan Hendrik hanya tinggal sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD