5

1288 Words
Teriakan Ana menggema di ruang kamar Hendrik, sebisanya ia memberontak terlepas dari kungkungan kakaknya yang di kuasai nafsu birahi. Tubuhnya bagian atas Ana sudah benar benar polos, tidak ada perlakuan lembut sama sekali Hendrik saat ini. Pucuk gundukan kembar Ana serasa panas akibat ulah kakaknya yang menghisap dengan kasar. Terdapat banyak tanda merah stempel dari Hendrik disana. Tubuh Ana lemas seketika, antara merasa kenikmatan dan juga kekasaran saat ini. Baru kali ini Ana merasakan hal aneh, tubuhnya begitu panas merasa melayang di awan, desahan berulang ulang ia loloskan dari bibir sexy-nya. " Kak hentikan, Ana gak kuat." suaranya begitu paruh di dengar seperti sebuah alunan musik klasik yang semakin mengundang gairah bagi kakaknya. " Nikmati saja sayang, keluarkan jika ada yang ingin kamu keluarkan." Hendrik mulai memperlambat gerakan lidahnya di pucuk gundukan itu. Gerakan yang tadinya kasar kini menjadi lembut dan semakin lembut. Disini Ana mulai tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya yang menggilat, desahan pun lolos ada yang basah di bawah sana, sensasinya begitu nikmat tanpa bisa ia jelaskan dengan kata kata. " kakak, Ana seperti pipis di celana." suaranya begitu lemah. Hendrik bangga, entah apa yang sedang ia banggakan saat ini, bisa menguasai Ana atau sudah bisa memberikan kenikmatan untuk Ana yang belum pernah Ana dapatkan dari siapapun. Ujung bibirnya terangkat sempurna. Ana lemas di bawahnya. " itu bukan pipis sayang, itu namanya klimaks. Kamu merasa nikmat kan ?." ucapnya lirih membelai rambut Ana, menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik original orang Indonesia. Jari tangan satunya masih berkeliaran di atas perut Ana membuat ia kembali menggilat karena merasa geli. " udah kak hentikan, Ana gak kuat." elaknya yang padahal ingin minta lebih. Tangan Hendrik menuntun tangan Ana untuk memegang bagian tubuh yang sudah menegak sedari tadi. Benda apa ini, itu pikir Ana tangannya langsung di tarik. " Kenapa sayang." suara itu tepat di telinganya membuat ia merasa panas kembali. " apa yang kita lakukan ini salah kak,." Tatapan sendu itu membuat Hendrik ingin sekali jujur menceritakan siapa sebenarnya Ana itu tapi hatinya tak sanggup membuat Ana kecewa apalagi terluka. Bagai dilema bagi Hendrik saat ini. Pusaka yang tadinya berdiri tegak menjulang tinggi seperti menara Monas kini lemas sekita kembali tertidur. Suara bel pintu berbunyi, Hendrik masih egan melepaskan pelukannya pada gadis yang tertidur di bajunya sekarang. Tangannya meraih ponsel di atas nakas samping ranjang, sudah pukul sebelas malam, ia berpikir siapa yang bertamu selarut ini sedangkan di siang hari atau sore saja ia hampir tidak pernah memiliki tamu karena tidak ada yang tau kalau ia tinggal di apartemen itu, cukup keluarganya saja yang tau, bahkan Ana saja baru tau apartemennya pertama kali ini. Hendrik mencoba tidak menghiraukan suara bel itu, tapi semakin ia tidak peduli semakin cepat pula bel itu berbunyi. Bising itulah keluhannya. Dengan berlahan kepala Ana di letakkan di bantal, karena tidak ingin sampai Ana terganggu ataupun terbangun dari tidurnya. Di tarik selimut menutupi setengah dari tubuh Ana. Berusaha berjalan sepelan mungkin mengambil kaosnya dan keluar dari kamar. " Ana mana kak ?." tanya Hardin penuh khawatir langsung masuk apartemen setelah di bukakan pintu oleh Hendrik. " tidur " Hardin menyipitkan sebelah matanya. Tidur, kenapa Ana tidur disini dan tidak biasanya juga mereka dekat karena selama ini semua orang juga tau Ana hanya dekat dengan Hardin dan mamahnya aja. " kenapa kak Hen gak langsung antar pulang saja, mamah khawatir nyari Ana." ucap Hardin yang mencari kamar kakaknya lebih tepatnya mencari keberadaan adiknya yang katanya tidur. Pintu kamar di buka, ada perasaan lega dalam hati Hardin melihat sang adik terlihat tidur pulas, ponsel Hardin berdering ada mamah di layar. Di geser tombol warna hijau yang bergerak. Hendrik hanya santai di atas Sofanya melihat tingkah adiknya. Setelah melakukan panggilan video Dengan mamahnya, Hardin duduk bersisihan dengan Hendrik. Mamahnya lega kalau Ana sudah bersama kakak kakaknya jadi tidak perlu sekhawatir tadi karena Shopia tau betapa sayangnya kedua putranya itu pada sang adik, yang Shopia tau. Lain halnya dengan Hardin saat ini, pandangannya penuh menyelidik, Hendrik hanya santai. Dia tau apa yang akan di bicarakan atau yang di tanyakan adiknya setelah ini. Sebatang rokok di sela jarinya, kaki satu bertumpu kaki satunya. Keluh asap rokok mulai keluar dari bibir sensual milih Hendrik, mimiknya datar namun tatapannya penuh arti, santai dan releks itu lah Hendrik saat ini. Untuk mengurai rasa takut pada kakaknya Hardin mengambil sebatang rokok di atas meja, satu peltikan api sudah membakar batang rokok, asap pun mengisi udara dalam apartemen Hendrik. " bicaralah ini sudah larut malam " tanya Hendrik yang tau bahwa sekarang adiknya sudah bisa rileks. " bicaralah kak, apa yang sebenarnya terjadi. Sikap kakak berubah beberapa tahun belakangan ini." Hardin menarik nafasnya sebelum lanjut bicara. " aku tidak buta kak, hanya saja aku membisu selama ini." lanjutnya lagi. Hendrik tidak menjawab, ia berjalan ke arah pantry sebelah, di buka lemari pendingin dan mengambil dia gelas kristal cantiknya. Di buka tutup botol itu, di tuang cairan berwarna merah kecoklatan ke dalam gelas. " minumlah,." Hardin menggeleng. " kamu bisa minum bersama teman temanmu kenapa kamu tidak bisa minum dengan kakakmu sendiri." akhirnya dengan tarikan nafas Hardin menegak habis isi dalam gelas itu begitu juga dengan Hendrik. " memang apa yang kau tau ?" Hendrik mulai bermain kata di sini. " ini salah kak, Ana adik kita. Perasaan kakak salah pada Ana dan kakak jangan mengecewakan kak Alya, dia gadis baik baik dan mencintai kakak dengan tulus walau hanya perjodohan." Hendrik menggeleng, tubuhnya bersandar di sofa. " kamu tidak tau apa apa Din, biarkan semua begini dulu apa adanya, biar nanti mamah dan papah tau sendiri kebnaranya. Dan ingat satu hal, sampai kapan pun kakak tidak akan pernah melepaskan Ana. Perjodohan ini hanya kamuflase saja, kakak tidak pernah ada niatan untuk menikah dengan Alya sampai kapanpun. Jika gadis itu berharap lebih pada kakak, itu urusannya. Seharusnya dia sadar diri, dari awal kakak sudah mengundur waktu itu berarti kakak tidak ada niatan dengannya." jelas Hendrik sangat jelas. Hardin menggeleng kepala tidak percaya dengan perasaan kakaknya pada Ana. Tidak di tuangkan bahkan tidak di suruh minum lagi, Hardin minum seperti orang kehausan. Ini sungguh tidak wajar baginya yang tidak tau apa apa lebih tepatnya tidak ingat masa lalu saat ia masih kecil. Ada perasaan takut menyelimuti hatinya, ketakutan kalau sampai kakaknya bertindak kelewat batas pada Ana. " pulanglah sudah malam, biar Ana tidur sini besok kakak antar dia ke kampus." pinta Hendrik mengusir secara halus. " tolong jaga Ana kak, dia adik kita. Jangan sakiti perasaannya dengan perasaan abtrakmu itu." Hardin pun meninggalkan apartemen kakaknya dengan perasaan kacau, ada apa dengan keluarganya saat ini. Masuk akal kah seorang kakak memiliki perasaan pada adiknya sendiri, setelah mendengar sendiri penjelasan dari Hendrik, Hardin bersumpah akan mencari tau alasannya dan ia juga bersumpah akan menghapus perasaan kakaknya pada Ana bagaimana pun caranya. Pedal gas mobil ia tekan lebih dalam lagi membelah jalan kota yang lenggang karena waktu sudah larut malam, bukan jalan arah pulang tapi mobil ia kemudikan ke arah sebuah tempat hiburan malam dalam kota. pikirannya sedang kacau, mungkin dengan berkumpul bersama teman temannya ia merasa terhibur. Beberapa jam yang lalu, saat Hardin di pantai bersama Elsa kekasihnya menunggu datangnya Ana dan Gio yang tak kunjung tiba, terus mendapatkan kabar dari Gio bahwa dia dan adiknya tidak jadi menyusul karena Alya meminta Ana untuk menjadi salah satu model penggantinya yang tiba tiba saja membatalkan. Awalnya Hardin juga marah karena adiknya menjadi bahan model salah satu gaun rancangan Alya tapi setelah Ana memberikan pengertian akhirnya ia menyadari tapi bukan berarti mengizinkan dengan ikhlas. Beberapa saat kemudian ia malah mendapat telpon dari Alya dan Gio, mereka bilang bahwa Hendrik marah dan membawa Ana pulang. Sesampainya di rumah Hardin bertanya pada Shopia, ternyata Ana belum sampai rumah. Pikirannya kalut, dimana Ana saat itu. Dengan keyakinan yang kuat Hardin mendatangi apartemen Hendrik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD