Mobil Hendrik membelah jalan dengan santai, irama musik romantis mengiringi perjalanan mereka pulang, tapi Ana merasa ini bukan jalan menuju rumah tapi ke apartemen kakaknya.
" kak apa kita tidak langsung pulang saja." Ana membuka suara yang dari tadi membisu
" kita makan dulu sayang, apa kamu tidak lapar ?." mendengar kakaknya memanggil sayang Ana merasa geli sendiri, ia pun menggeleng " tidak kak tadi di kampus Ana sudah makan bareng kak Din."
" baiklah kita langsung pulang saja." Hendrik langsung memutar balik kendaraannya.
Hardin dari kejauhan terus saja mengintai kedua saudaranya itu, ada perasaan lega saat mobil Hendrik putar balik menuju arah pulang. Hendrik bukanlah pria bodoh, seorang pembisnis akan tau dan waspada dengan keadaan kanan kirinya. Bukan untuk menuruti kata Ana, ia sengaja putar balik karena melihat mobil Hardin yang sedari tadi mengikutinya. Senyuman kismark melambung, tak sengaja Ana melirik jadi ngeri sendiri melihat kakaknya seperti itu.
Shopia menyambut Anak anaknya pulang, " tumben anak mamah satu ini jemput Ana." sindir Shopia pada Hendrik.
" Ya mah tadi rencananya ingin mengajak Ana makan di luar, tapi Ananya gak mau katanya udah makan di kampus sama Hardin." jawab Hendrik apa adanya. " oh ya mah Hendrik ke kamar dulu ya, kangen suasana kamar Hen." Ada senyum senang di bibir Shopia akhirnya putra sulungnya mau tinggal di rumah meskipun hanya semalam. Ana pun masuk kamar begitu juga dengan Hardin. Sedangkan Shopia begitu senangnya, melihat semua anggota keluarga berkumpul ingin memasak untuk makan malam dengan tangannya sendiri.
Di meja makan, begitu hening hanya dentingan sendok dan garpu di atas piring secara bersahutan. Alex membuka obrolan terlebih dulu, " Hen, apa kamu tidak ingin mempercepat pernikahanmu dengan Alya ?." Berharap mendapatkan jawaban yang baik namun malah membuat suasana hati Hendrik memburuk.
" itu sudah keputusan Hen pah, kalau Alya tidak mau menunggu ya sudah itu urusannya." Hendrik meminum air dalam gelasnya." Hen ke kamar dulu pah mah." pamit Hendrik meninggalkan meja makan. Hardin masih mengingat ucapan kakaknya kemarin tentang perjodohan dan juga tentang Ana.
" Din mau keluar mah pah." pamitnya
" kemana Din ?." tanya mamah
" jalan sama teman." Hardin pun meninggalkan rumah, Ana juga pamit ke kamar mau istirahat. Tinggal Alex dan Shopia di meja makan.
" Pah bisakah jangan bahas pernikahan Hendrik dulu, anak kita baru saja mau pulang pah." Shopia bersuara memprotes suaminya
" bukankah lebih cepat lebih baik mah,."
Dalam kamar Ana yang belum bisa tidur, melakukan video call dengan Gio. Hanya sebatas tanya sedang apa, kabar dan juga makan. Terasa membosankan juga buat Gio yang sudah mengenal dunia bebas di luar harus sabar mengahadapi Ana yang baru merasakan jatuh cinta. Tapi mau bagaimana lagi, Gio juga sudah terlanjur cinta dan sayang ke Ana. Hanya kata sabar saja sebagai landasan Gio setahun ini.
Pintu kamar di ketuk, Ana membuka pintu yang sudah ia kunci tadi. Sebelum buka pun Ana sudah tau siapa yang mengetuk pintunya.
" Belum tidur kamu ?." Hendrik langsung masuk tanpa di suruh. Ana hanya menggeleng tapi dalam mode was was. Mereka berjalan ke arah balkon kamar Ana.
" kakak boleh peluk Ana." Ana pun langsung mengangguk, tumben kakaknya satu ini seperti orang manja. Hening tanpa suara hanya angin yang bersuara, di bawah atap langsung menghadap arah langit yang bertaburan bintang dan rembulan yang bersinar temaram di atas sana, Hendrik masih nyaman berada di pelukan Ana. Lama tidak ada yang saling bicara, akhirnya Hendrik melepaskan pelukannya.
" tidurlah besok kuliah." pintanya menyelipkan anak rambut Ana yang terkena angin. Setelah tersenyum tubuhnya berjalan menjauhi Ana. Ada perasaan tidak ikhlas membiarkan Hendrik pergi, sikapnya kali ini yang selalu di rindukan Ana bertahun tahun.
" kakak." panggil Ana, Hendrik berhenti dan membalikkan badan tersenyum. Kaki Ana setengah berlari ke pintu kamarnya, tubuh mungil itu langsung memeluk kakaknya. " sebentar saja kak, Ana rindu sikap kakak yang seperti ini." jujurnya membenamkan wajah di d**a bidang Hendrik, di balas pelukan itu dengan hangat.
Meeting hari ini berjalan lancar, dua perusahan telah mencapai kesepakatan bersama. Terasa membosankan juga karena setiap harinya dia akan bertemu dengan Pak Suryo dari ayah Alya yang selalu mengaitkan masalah perusahaan dengan masalah pribadi tapi mau bagaimana lagi tanpa perusahaan Suryo semua tidak akan berjalan dengan lancar nantinya.
" nanti malam jadikan Hen, kamu sekeluarga berkunjung ke rumah." tanya pak Suryo penuh harap.
" tentu pak." Hendrik hanya tidak ingin mengecewakan orang tuanya saja. Sebenarnya ia malas sekali berkunjung kesana pasti yang di bahas hanya mempercepat pernikahannya dengan Alya.
" panggil papah saja Hen, ini sudah bukan jam kantor lagian sebentar lagi kamu kan menjadi menantu papah." Hendrik hanya tersenyum simpul.
Di kampus Ana sedang di perpustakaan bersama kedua sahabatnya, mereka memilih perpustakaan sebagai tempat paling aman untuk bicara pribadi dari pada di taman pasti banyak telinga yang mendengar. Dengan hebohnya tanpa rasa malu Elsa menceritakan kejadian semalam saat bersama Hardin. Ada Ana pun, Elsa tak peduli toh mereka sudah menjadi sahabat tempat becerita keluh kesah sedih dan bahagia lagian mereka sama sama perempuannya juga. Elsa menunjukkan beberapa tanda kepemilikannya yang di ciptakan dari Hardin semalam.
" ini sudah sekian kalinya tapi kenapa masih terasa nikmat ya..." Elsa masih terbayang banyak kejadian semalam di kamar hotel atas
" memang rasanya bagaimana Sa." tanya Diana penasaran
" melayang di udara, bertaburan bunga di sana." dengan bangganya Elsa bercerita. Ana yang diam menanggapi dengan senyuman, pikirannya pun melayang masih membayangkan keindahan yang di berikan kakaknya meskipun dengan cara kasar tempo hari. Ana juga merasakan kenikmatan itu, tidak di pungkiri setelah kejadian waktu itu, Ana membayangkan hal lebih yang akan di lakukan kakaknya suatu saat nanti. Ana segera menggeleng membuang jauh jauh pikiran nakalnya. Diana dan Elsa saling bertukar pandang, tidak mengerti dengan reaksi Ana saat ini.
" kamu kenapa An." tanya Diana
" tidak apa." tukas Ana tidak ingin banyak pertanyaan tapi salah Elsa malah memberikan banyak pertanyaan padanya tentang sejauh apa hubungannya dengan Gio. Mau jawab apa coba sedangkan dia dan Gio tidak pernah melakukan apa apa selain pegangan tangan paling hebat yang di lakukan Gio hanya mencium keningnya, masak iya dia cerita pada mereka siapa yang ada dalam pikirannya saat ini. Kan itu suatu hal yang tabu.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, sepasang mata dan telinga senantiasa mendengar apa yang mereka bicarakan. Meskipun Aska tidak mengajar di kelas mereka hari ini tapi setiap waktu istirahat ia tidak bisa lepas untuk menguntit kegiatan apa saja yang di lakukan Ana. Seketika matanya membulat, saat tau apa yang ketiga gadis itu lihat.
Saat panas panasnya tubuh ketiga gadis itu, langsung down seketika. " kalian ikut saya ke ruangan saya." suara itu membuat Elsa pemilik laptop langsung kalang kabut mematikan video panas yang sedang mereka tonton.
Sepanjang jalan menuju ruangan Aska tidak hentinya Elsa dan Diana menggerutu dirinya masing masih, sedangkan Ana hanya diam saja, kediamannya menutupi semua rasa takut yang di rasakan saat ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya, kalau sampai Hardin tau pasti di akan di marahi habis habisan, tapi mending kalau Hardin yang tau lah kalau yang tau mamah atau papahnya apalagi Hendrik pasti dia akan dapat hukuman bahkan orang tuanya akan marah besar. Dikira dia bukan gadis manis dan penurut seperti di rumah. Tubuhnya gemetar, jarinya tiada henti meremas ujung sambungan dress yang ia pakai. " mah pah, maafkan Ana ini bukan sepenuhnya salah Ana, Ana hanya ikut Elsa dan Diana saja." batinnya.