8

1140 Words
Ketiga gadis itu kini sedang mengerjakan hukuman dari sang dosen. Hukumannya pun tidak lah berat cuma untung bagi Aska bisa melihat Ana dari dekat dalam waktu cukup lama. Sampai jam 3 sore masih belum selesai, Hardin menggerutu sendiri depan ruangan dosen. " hukuman apa ini pak, yang benar saja sudah 5 jam belum juga selesai. yang masuk akal saja lah hukumannya." umpat Hardin kesal menunggu sang adik dan kekasihnya itu. " memang siapa kamu, ini memang pantas buat mahasiswi yang menyalahkan aturan di kampus ini. Membuka WiFi di kampus bukan untuk tugas malah untuk menonton video terlarang seperti itu." Hardin tersentak kaget dengan keterangan dari dosen di depannya. Bagaimana bisa 3 gadis itu bisa menonton video porno di kampus. Apa ada yang salah dengan adiknya atau kekasihnya yang ketagihan atas sepak terjalnya di atas ranjang, Hardin menggeleng tidak percaya. Ia merogoh kantongnya ada panggilan dari kakaknya di sana. " ya kak.." " aku masih nunggu Ana dan lainnya dapat hukuman." dua kalimat itu saja, kemudian ponsel kembali nmasuk dalam kantong. Mampus, kata yang tepat untuk saat ini. Mau bohong bagaimana pun Hendrik tidak akan begitu mudahnya percaya, meskipun percaya Hendrik akan tetap mengecek sendiri ke lokasi. Sedari tadi Hendrik menelpon Ana, ponsel dengan mode hening tidak akan pernah Ana ketahui apa lagi posisinya sekarang dia mendapatkan hukuman. " oh ya jelas saya protes pak, dia adik saya dan dia pacar saya." tunjuk Hardin bergantian pada Ana dan Elsa. " saya kira kemarin itu pacarnya, ternyata dia kakaknya." Aska membatin. " itu hukuman yang pantas untuk adik dan juga kekasihmu." ucap Aska kemudian. Tak lama Gio datang, menanyakan apa yang terjadi karena tadi ia pulang terlebih dahulu setelah mendapat telpon dari temannya. Hardin kembali mengulang kesalahan yang di perbuat ketiga sahabat itu, rasa tak percaya Ana seperti itu tapi boleh juga di coba batin Gio. Suara langkah sepatu bejalan mendekat dengan gagah dan maskulin. " mana Ana Din." tanya Hendrik dnegan tenangnya. Hardin hanya menunjukkan keberadaan Ana posisinya. " Siapa dosennya." Aska seperti mengenal suara itu, ia segera mendongakkan pandangannya lurus ke arah suara. Kedua pria itu saling beradu pandang. " Hendrik." seru Aska mengenal mantan sahabat dekatnya dulu. Hendrik hanya senyum kismark saja melihat siapa dosen yang berani menghukum princess hatinya. " sudah i hukuman mu pada mereka." pintanya tanpa merubah ekspresi wajah, Aska mengangkat sebelah alisnya. " ada hubungan apa antara kamu dan mereka bertiga." pertanyaan Aska seperti mengundang bara api yang telah padam. " dia adikku." tegasnya menunjuk ke arah Ana. Sedari tadi Ana memang mendengar perdebatan antara Hardin dan juga dosennya tapi tidak di sangka Hendrik juga datang di sana. Awan terasa gelap, d**a terasa sesk sekarang, bagaimana bisa kakak sulungnya datang di sana. Apa yang akan terjadi selanjutnya kalau dosennya itu menceritakan sebab dari hukuman itu. Wajah Ana pucat pasih tangannya yang memegang bulpoin kini gemetar. adik, Mariana adik Hendrik. Aska mencoba lagi mengingat kebenaran, walau bagaimanapun dia dan Hendrik dulu sahabat dekat sebelum terjadinya perang api karena perasaan hati. Di saat Aska masih mengingat ingat, Hendrik langsung menarik tangan adiknya untuk berdiri meninggalkan ruangan dosen. " Berhenti." Hendrik membalikkan tubuhnya begitu juga dengan Ana. " lain kali jaga adikmu baik baik, jangan lagi menonton video m***m di area kampus dan menggunakan WiFi kampus." Hendrik tidak percaya apa yang di katakan mantan sahabatnya itu, pandangan tajam ke arah Ana. Ana tau itu, sampai ia tak berani mengangkat kepalanya. " terima kasih atas peringatan mu pak dosen." suara bak bariton membuat bulu kudu Ana semakin naik, nyalinya semakin hilang dengan tangan yang masih di tarik Hendrik untuk mengikuti langkahnya. Hardin yang cemas dengan adiknya mengikuti sampai parkiran, bahkan dia lupa dia meninggalkan kekasihnya yang masih di ruangan dosen. " kak Hen mau bawa Ana kemana." Hendrik terus menyeret Ana sampai masuk mobil. " pulanglah dulu, nanti kakak antar Ana kerumah. Tenang kakak tidak akan membahayakan nyawa Ana." jawabnya lugas tapi sulit di mengerti dengan mimik wajahnya. Mau protes bagaimana lagi kalau sudah begitu, tapi Hardin tidak habis akal, di ikuti mobil kakaknya ke mana arah tujuannya. Dalam mobil tidak ada dari Ana maupun Hendrik yang membuka obrolan, Ana terlalu takut menatap Hendrik tapi Hendrik bingung harus bersikap bagaimana pada Ana saat ini. Ia tidak ingin berbuat kasar lagi karena itu malah akan membuat Ana semakin takut padanya dan menjauh. Satu tarikan nafas sebelum bicara " sayang kamu sudah makan apa belum." Ana menggeleng dan perutnya juga ikut menjawab. " mau makan apa kamu ?." Hendrik berusaha menekan emosinya, berusaha lebih lembut lagi pada Ana. " kak.." keluhnya. Hendrik hanya berhem saja. " kakak marah pada Ana ?." Ia bertanya dengan pandangan menunduk ke bawah jarinya tak henti meremas ujung sambungan dress yang ia kenakan. " memang kakak terlihat marah sekarang ?" Hendrik malah memutar balikkan pertanyaan. " sekarang lihat kakak." satu tangan Hendrik meraih dagu Ana. " kakak." entah dari mana Ana memberanikan diri memeluk kakaknya. " yaudah kalau Ana tidak ingin makan apa apa, kita apartemen kakak saja, nanti pesan di apartemen saja." Ana pun mengangguk dengan usulan Hendrik. Di lampu merah dekat apartemen Hendrik melihat mobil adiknya. Tapi ia santai tidak seperti kemarin langsung memutar balikkan mobilnya, biar Hardin tau sendiri kalau Ana dengan suka rela ikut dengannya ke apartemen. " lihatlah kakakmu itu, begitu khawatir denganmu sampai mengikuti kita." tunjuk Hendrik pada spion mobilnya di mana keberadaan mobil Hardin berada. " memang kenapa kak Din khawatir kak, kan Ana sama kak Hen." jawab Ana polos tidak mengerti pembicaraan mereka kemarin. Hendrik hanya mengangkat bahunya sok tidak tau apa apa. Sampai di parkiran mobil apartemen, sesuai dengan permintaan Ana, mereka berdua menunggu mobil Hardin menyusul masuk. Dengan polosnya Ana melambaikan tangan pada Hardin. " kak ayo makan bersama di apartemen kak Hen." dan langsung di iyakan oleh Hardin. Dengan lahapnya Ana memakan makan yang di pesan Hendrik tadi, makanan yang begitu lezat tidak menggugah selera untuk lidah Hardin sama sekali. Entah apa isi dalam otaknya. Ana yang baru sadar dengan pandangan kedua kakaknya langsung menghentikan aksi mengunyahnya. " apa ada yang aneh dengan Ana kak ?" Ana bergantian menatap kedua kakaknya. " tidak sayang." Hendrik mengusap lembut rambut Ana, Hardin merasa ngeri sendiri melihat perlakuan kakaknya pada adiknya sendiri, kenapa begitu intens seperti itu. Bahkan dalam otak mesumnya ia membayangkan apa yang akan di lakukan kakaknya itu pada adiknya sendiri, sungguh biadab bukan perlakuan tabu seperti itu. " Ana selesai makan ayo pulang ya. Kasihan mamah di rumah sendirian papahkan ke Jerman seminggu kedepan." ajak Hardin sebagai alasan. Ana tidak langsung menjawab tapi ia menatap Hendrik seakan minta persetujuan. Dalam mobil perjalan pulang tidak hentinya Hardin menanyakan apa yang di lakukan kakaknya tadi selama perjalanan ke apartemen, ia hanya memikirkan hal yang buruk saja saat itu. Ana berulang kali dengan jawaban yang sama bahwa perlakuan kakaknya saat ini benar benar lembut tidak kasar dan tidak cuek seperti beberapa tahun belakangan ini. Rasa lega untuk Hardin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD