“Aku takut mereka akan datang ke sini. “Mereka memang sudah datang. Beberapa sudah berhasil masuk ke perusahaan.” “Mas diam saja?” “Tergantung kamu, Wi. Karena perusahaan ini adalah milikmu, maka aku akan bergerak menurut perintahmu.” “Kok, begitu? Aku mana ngerti urusan di kantormu.” “Belajar.” “Nggak. Walaupun belajar dan akhirnya bisa, tapi nggak mungkin lebih mahir dari kamu, Mas. Sebaiknya, semua urusan itu Mas dan Oma yang mengurusnya. Aku ikut saja mana yang terbaik.” Arjun tak menanggapi. Kini ia malah lebih fokus membaca pesan di ponselnya yang baru masuk. “Mas, sibuk apa sih?” tegur Dewi. Barulah Arjun menatapnya. “Banyak pesan masuk. Sebentar, aku balas dulu.” Arjun mulai menggerakkan jemarinya pada layar benda pipih itu. “Dari siapa?” tanya Dewi penasaran. “Banyak.

