Ada denganku? Kenapa aku ketakutan seperti seorang pencuri yang kedapatan sedang kepergok?
Bukan salahku berada di posisi ini. Bahkan alasan kenapa mereka memilihku untuk memerankan tokoh ini juga aku tak tau. Lalu, kenapa aku merasa begitu tertekan?
“Aku ke belakang saja ya, Mas? Maksudku, perginya lewat pintu belakang saja. Nanti tolong bilang sama Oma kalau aku sudah mulai masuk kursusnya.”
Dewi berbalik. Cepat kuraih tangannya dan tanpa sengaja telapak tangan kami saling tertaut, kami tampak benar-benar sedang bergandengan tangan.
“Romantis sekali kalian ....” Oma menggoda yang langsung merangkul Dewi. Inilah satu-satunya wanita yang sangat perduli dengan Dewi.
“Oma.” Dewi terlihat gugup. Ia menarik tangannya tetapi tidak kulepaskan. Setidaknya, aku dan dia butuh berakting.
“Selamat datang di kediaman kami, Pak Ramdan dan Pak Wira. Mari masuk.”
Aku menyalami mereka satu persatu tanpa melepas kaitan tangan, termasuk juga pada Chandra. Sialan bawahan satu ini. Kenapa datang tidak mengabari lebih dulu? Awas, akan kubuat perhitungan begitu kami bertemu di kantor nanti.
Tangan kiriku tetap menggenggam erat tangan Dewi. Wanita ini terlihat masih kaku sekali, seperti takut berhadapan dengan orang-orang baru. Terasa dari telapak tangannya yang dingin dan berkeringat.
Kami masuk ke ruang tamu. Semuanya mengambil posisi masing-masing. Aku sendiri duduk berdampingan dengan Dewi. Tangannya aku lepas.
“Dewi mau ke mana sudah rapi sekali?” tanya Oma. Entah kenapa wajah Oma terlihat bersahabat kali ini. Biasanya, Oma datang dengan wajah yang kusut, seakan-akan bisa ditekuk.
“Mau kursus, Oma.” Dewi menjawabnya.
“Kursus?” Kali ini, Pak Ramdan mulai melibatkan diri.
Dewi yang baru pertama kali bertemu dengan Pak Ramdan, terlihat sungkan. Ia tidak segera menjawab. Akupun tidak menengahi mereka karena bingung memperkenalkan mereka sebagai apa.
“Em iya, saya Ramdan, Mbak Dewi. Mungkin kamu belum kenal saya. Tapi saya sangat mengenali kamu.” Pak Ramdan mulai menjelaskan siapa dirinya.
Mendengarnya, tiba-tiba aku gelisah sekali. Gerah, seperti duduk di atas pemanggangan.
“Saya Dewi, Anda siapa?” Dewi mencoba berinteraksi dengan memperkenalkan dirinya lebih dulu.
“Saya Ramdan Gunawan, Mbak Dewi, temannya kakek Suwito. Teman lama. Maaf, saat beliau meninggal, saya tidak bisa datang melayat.”
“Oh, temannya kakek.”
“Betul. Kita memang belum pernah bertemu.”
“Iya. Kakek nggak suka memperkenalkan teman-temannya padaku. Jadinya, aku nggak banyak kenal.”
Dewi begitu lancar mengatakan alasannya, dan di balik jawabannya itu tersimpan sebuah rahasia. Aku jadi makin penasaran, siapa sebenarnya diri istriku ini?
“Kenapa kakek melakukan itu padamu?” tanya Pak Ramdan penasaran. Akupun begitu. Tapi aku hanya menjadi pendengar.
“Nggak tau.”
“Dari mana Mbak Dewi tau kalau kakek Suwito nggak suka memperkenalkan teman-temannya? Apa beliau bilang begitu?”
“Kakek selalu marah-marah setiap ada orang kota yang datang mencarinya. Aku disuruh bersembunyi. Dari situ kan bisa dilihat kalau kakek nggak mau aku kenal sama teman-temannya.”
“Ya, kakek memang sangat perhatian. Oh iya, Mbak Dewi tadi bilang kalau mau kursus. Kenapa tidak meneruskan kuliah saja?”
Perasaanku mulai tak enak Pak Ramdan bertanya begitu. Mudah-mudahan Dewi bisa memberikan jawaban yang tidak memojokkan aku.
“Aku suka memasak,” jawab Dewi sama seperti pembicaraan kami kemarin.
“Oh, iya. Memang kita mesti menjalankan apa yang kita sukai. Mbak Dewi kalau ada masalah bisa bercerita pada saya.”
“Maaf, Pak, aku nggak bisa cerita ke sembarangan orang.”
“Saya kan temannya kakek Suwito.”
“Kakek yang bilang begitu, aku nggak boleh sembarangan percaya sama orang. Hanya nama-nama yang pernah disebutkan kakek yang harus aku percayai.”
“Oh, ya? Siapa-siapa mereka yang pernah disebut kakek Suwito?”
“Maaf, Pak, aku nggak bisa bilang.”
Kami semua yang hadir hanya berperan sebagai pendengar. Karena kehadiran Pak Ramdan memang punya tujuan memastikan keberadaan Dewi.
Aku saja tidak berani ikut menimpali, takut dianggap lancang oleh Pak Ramdan. Nampaknya, orang ini salah satu orang kepercayaan kakeknya Dewi.
“Ya sudah, nggak apa-apa kalau nggak mau ngomong. Saya senang Mbak Dewi cukup tegas. Saya harap, di tempat kursus nanti Mbak Dewi nggak sembarangan mencari teman.”
Dewi hanya mengangguk. Setelah itu, tidak ada percakapan lagi antara Dewi dengan pak Ramdan. Kami berbincang masalah keseharian sambil menikmati hidangan yang disuguhkan Imas.
Kami saling melempar tanya jawab, kecuali Dewi yang memang masih terlihat kaku.
Mengingat Dewi akan pergi, mereka pun segera berpamitan. Aku dan Pak Ramdan berjalan beriringan. Kuantar dia sampai ke mobilnya.
“Terima kasih atas kunjungannya, Pak,” ucapku.
“Sama-sama. Maaf, saya datangnya mendadak. Tadi kami ke kantor untuk memintamu menjadi penengah pertemuan pertama saya dengan Dewi, tapi kamu sudah pulang. Makanya kami langsung datang ke rumah.”
“Iya, saya paham. Chandra tadi juga cerita.”
“Iya benar. Pak Chandra tadi yang malah direpotkan mengantar kami kesini. Oh, iya, Nak Arjun. Terima kasih sudah menjaga Dewi dengan baik.”
“Iya, Pak, sama-sama.”
“Dewi benar-benar sudah banyak sekali perubahannya. Datang dari kampung dengan penampilan yang kampungan sekali, sampai berubah sedemikian baiknya, saya pribadi sangat mengagumi kamu, Nak. Kamu pasti bekerja sangat keras sekali untuk mengubahnya. Dia juga terlihat sangat bahagia, kamu pasti memperlakukannya dengan sangat baik.”
Duh, aku sanjung. Tapi terasa seperti dibasuh kotoran sendiri. Bagaimana tidak, kebaikan yang disebutkan Pak Ramdan tidak satupun yang benar-benar kulakukan.
Aku hanya menjawab dengan senyuman.
“Saya pamit dulu, Nak Arjun. Kamu pasti juga mau mengantar Dewi ke tempat kursusnya kan?”
“Iya, Pak, benar sekali.”
“Jangan lupa ingatkan Dewi untuk memilih teman dan jangan percaya pada orang asing.”
“Tentu saya akan memperingatkannya.”
“Dan satu lagi.” Pak Ramdan sepertinya memang pandai membuat orang penasaran.
“Ada apa, Pak?”
“Kamu mungkin menjadi salah satu orang yang dipercaya Dewi, juga orang yang disebutkan kakek Suwito.”
“Ah, mana mungkin? Saya tidak pernah mengenal kakek Suwito. Bertemu dengan beliau saja tidak pernah.”
“Coba kamu tanyakan pada Dewi. Mana tau padamu dia mau mengatakannya.”
Setelah mengatakan itu, Pak Ramdan menepuk bahuku, lalu masuk ke dalam mobil.
Dalam hitungan detik, mobil-mobil para tamuku beriringan meninggalkan halaman rumah.
Sepi setelah itu. Hanya tersisa Dewi yang tampak berjalan ke arah mobil yang akan dikemudikan Jono.
“Tunggu di situ!” teriakku. Dewi jadi batal membuka pintu.
“Kenapa, Mas?” tanyanya. Aku mendekati mereka.
“Aku sendiri yang akan mengantarmu ke tempat kursus.”
Mendengar ucapanku, Jono pun bergegas turun. Berganti diriku yang kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi.
“Cepetan masuk, Wi,” perintahku. Dewi masuk, duduk di sampingku.
Tempat kursus yang kami datangi tidak begitu jauh. Aku bisa sedikit santai mengantarkan Dewi. Keadaan di jalan juga cukup rapat oleh kendaraan, sehingga butuh kesabaran untuk melaluinya.
Aku dan Dewi tak saling bicara. Asik dengan pikiran masing-masing. Untung ada musik yang sebelumnya kuputar. Aku jadinya malah fokus ke sana, pada suara musik lagu pop slow kekinian.
“Sudah sampai, Mas? Di sini tempatnya?” tanya Dewi begitu mobil kuberhentikan.
“Ya.”
Aku memposisikan mobil ke tempat yang benar di area parkir sebuah galeri mewah seorang chef ternama. Aku sengaja memilihkan tempat kursus dengan guru terbaik di negara ini. Itu sepadan dengan predikat Dewi yang seorang pemilik perusahaan, walaupun Dewi dan orang-orang di sini tidak ada yang mengetahuinya.
Mungkin dia akan menghadapi banyak kesulitan di sini. Setidaknya, proses belajar dia mengenali masing-masing personal yang bermacam-macam karakter, akan dimulai dari tempat ini.
Hari pertama masuk sekaligus keluar dari rumah, aku harus memastikan Dewi tidak salah alamat. Maka, aku mengantarkannya sampai ke depan pintu kelas.
“Ini kelasmu. Baru akan dibuka kalau gurumu masuk. Jadi, kamu ingat-ingat jalan masuk dari parkiran tadi sampai ke kelas ini. Jangan sampai besok ketika nggak kuantar, kamu jadi kesasar karena lupa jalan.” Aku memperingatkannya.
Dewi mengamati keadaan sekitar, mengamati pula tulisan yang ada di atas pintu yang bertuliskan, ' Kelas Pemula'.
“Kamu paham?”
Dewi menoleh. Mata kami pun bertemu.
“Paham, Mas.”
Dia mengalihkan pandangan. Aku menarik tangannya, menjauh dari depan pintu kelasnya yang masih tertutup rapat. Meskipun terkejut tangannya kugandeng, Dewi hanya menurut saja ketika kuajak duduk bangku tunggu.
“Kita duduk di sini dulu.”
“Mas Arjun menungguku?”
“Nggak. Aku pulang sebentar lagi. Nanti Jono yang akan menjemputmu.”
“Ya, Mas.”
Kami duduk bersisian, memandang orang-orang yang berlalu-lalang. Sudah ada beberapa orang yang menunggu, mungkin mereka sama seperti Dewi, peserta kursus di sini.
“Wi,” panggiku lirih. Suasana cukup ramai, beruntung aku mengajaknya duduk di bangku paling ujung sehingga cukup sepi.
Dewi menoleh padaku.
“Ya, kenapa, Mas?”
“Boleh tanya sesuatu?”
“Boleh. Tanya apa?”
“Percakapan dengan Pak Ramdan tadi di rumah.”
“Ya, tentang apa?"
“Tentang orang-orang yang kamu percayai.”
“Orang-orang yang dipercayai kakek juga, begitu?”
“Ya, kalau kamu nggak keberatan.”
“Nggak, kok.”
“Siapa? Em, maksudku, siapa-siapa orangnya?”
“Hanya dua orang saja. Nggak banyak.”
“Oya? Siapa dua orang itu?”
“Mas Arjun dan Oma.”
Tenggorokanku seperti tersekat sesuatu sehingga tidak mampu membalas ucapannya.
Seringan itu Dewi mengucapkannya. Apakah dia tidak sedang berbohong?
****