"Ka-kau …."
Uli tersentak. Segera ia beringsut mundur. Ia tampak ketakutan melihat Varong yang sudah duduk di depannya.
Dan lagi, tidak tahu dimana kini keberadaannya membuat Uli semakin ketakutan saja.
"Uli, jangan takut." Varong berusaha untuk menenangkan Uli, agar tidak takut padanya.
"Di mana aku? Jangan dekat-dekat denganku! Kumohon …," pinta Uli memohon kepada Varong agar menjauh darinya.
Meski gadis itu mencintai Varong, tetap saja ia ketakutan saat mengetahui fakta yang sesungguhnya. Sosok siluman serigala pemakan manusia yang selama ini dibicarakan warga desa, adalah kekasihnya sendiri.
Sudah cukup sang ayah yang dianggap gila menjalin hubungan dengan makhluk halus. Uli tidak akan pernah sanggup mengalami hal yang sama jika menikah dengan Varong.
"Aku tahu kau takut padaku. Aku tahu kau tidak ingin lagi mengenalku setelah mengetahui siapa aku yang sesungguhnya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Uli. Kepergianku untuk mencari sebuah mutiara keabadian agar bisa menjadi sosok manusia yang utuh. Aku rela bertaruh nyawa agar bisa mempersuntingmu. Sehingga aku sangat berharap kau mau menerimaku ketika aku kembali nanti."
Uli menggeleng cepat. Wajahnya telah basah oleh air mata. "Tidak! Aku tidak ingin menikah denganmu, Varong. Aku tidak sudi memiliki suami siluman sepertimu!" sergahnya hingga memecah keheningan di tengah hutan larangan tersebut.
Uli juga beringsut turun dari dipan kayu dan berlari. Tidak tentu arah ia mencari jalan keluar sendirian. Menangis seraya berteriak ingin pergi dan pulang. Akan tetapi, semakin ia berlari, semakin jauh pula rasanya pintu keluar yang sudah tampak di depan mata.
"Dia tidak ingin menerimaku, Ayah. Apakah aku harus memaksa atau melepaskannya? Aku terluka dan patah hati saat ini," ucap Varong lirih seraya menatap Uli yang masih saja berlari jauh darinya.
"Jangan paksa dia. Bicarakan baik-baik dengannya. Kalau dia tetap menolak, kau pergilah! Masih biarkan dia berpikir terlebih dahulu apakah tetap bertahan atau tidak. Setelah kembali dengan mutiara keabadian, semua yang kau pinta akan menjadi kenyataan. Tapi, yang menjadi masalah saat ini kita tidak bisa menjaganya secara penuh. Mengingat rahasia tentangnya yang telah bocor kemana-mana, ada banyak siluman yang mengincar. Maka dari itu, sebelum kau kembali, usahakan dia telah menelan batu delima peninggalan ibumu."
Varong mengangguk. Meskipun tugas mencari mutiara keabadian sulit, lebih lebih sulit lagi menaklukan Uli yang telah mengetahui identitasnya.
"Varong, aku mohon. Keluarkan aku dari sini. Aku tahu disini ada pengaruh sihir kalian, makanya aku tidak bisa pergi dari sini, kan?" pinta Uli dengan bersimpuh di hadapan Varong. Ia memohon agar Varong berbaik hati melepasnya pergi dari sini.
Alih-alih melepaskan, Varong justru turun bersimpuh. Memeluk Uli dengan sangat erat dan menahannya agar tidak terlepas.
"Aku mohon padamu. Lepaskan aku. Aku ingin pulang. Menerima kenyataan bahwa aku anak seorang wanita dari dunia lain saja aku belum sanggup. Apalagi harus menerima kau yang sebangsa dengan ibuku," lirih Uli dengan suara yang yang begitu serak, nyaris tidak terdengar. Ia merasa ini begitu berat diterima dengan akal sehat, tapi malah ini pula yang terjadi dengannya.
Varong menggeleng. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Meski kau terus saja meminta dan meronta. Aku tidak peduli, karena kau adalah hidupku. Demi bisa hidup bersamamu, aku rela pergi, Uli. Pergi agar bisa menemukan sebuah mutiara yang ada di dalam kawah gunung berapi sana. Semua aku lakukan agar aku bisa menjadi manusia secara utuh dan menikah denganmu. Aku mohon … beri aku waktu dan kesempatan."
Varong semakin mempererat pelukannya. "Aku mohon. Terima aku dengan segala keanehan yang kumiliki. Seperti aku yang juga menerima kau dengan segala kekuranganmu."
Uli tak merespon. Ia hanya menangis di dalam pelukan Varong. Meskipun akal sehatnya menolak, tapi hati dan cinta yang dimiliki Uli menerima. Menikmati kenyamanan yang selalu dirasakan setiap kali Varong memeluknya.
"Apakah benar kau akan menjadi manusia jika telah menemukan mutiara itu?" gumam Uli pelan. Mulai berdamai dengan kenyataan demi kenyataan yang ia ketahui. Memang berat, tapi sepertinya ini adalah takdir yang tak dapat ditolak. Adalah takdir yang harus dijalani hingga ia mati.
"Berapa lama kau akan pergi? Aku takut tidak bisa menunggu terlalu lama. Mengingat ayahku belum percaya sepenuhnya padamu."
Varong menggeleng. Melepaskan pelukannya dari Uli. "Aku tidak tahu sampai kapan akan pergi dan jauh darimu. Aku hanya bisa berjanji akan pulang dalam keadaan selamat. Itu saja."
Uli menoleh. "Hanya itu? Bahkan kau tidak bisa memastikan bisa pulang dalam keadaan selamat? Kau hanya bisa berhaji tanpa sanggup memberikan kepastian padaku?" protesnya.
"Aku melakukan itu bukannya tidak ingin memberikan kepastian. Hanya saja keadaan itu sendiri yang tidak memungkinkan."
"Maksudmu?"
"Banyak siluman yang mengincar batu mutiara tersebut. Karena memang dibutuhkan agar keturunan mereka selalu bisa mewarisi tampuk kekuasaan. Dan oleh karena itu, aku harus bersaing dengan semua untuk mengambil mutiara keabadian, yang hanya muncul seratus tahun sekali."
"Kalau begitu kau jangan pergi." Uli menggenggam tangan Varong. Sungguh gadis yang labil. Tadi begitu takut kepada Varong, kini malah menahannya agar tidak pergi.
"Jika aku tidak pergi, bagaimana caranya aku bisa menikah denganmu?"
"Bisa. Kau pasti bisa menikah denganku. Buktinya saja ayahku menikah dengan sosok hantu."
"Sosok hantu amat berbeda denganku, yang berasal dari bangsa siluman. Sosok hantu ketika memiliki keturunan, akan cenderung lebih ke manusia. Berbeda dengan siluman. Keturunannya akan cenderung ke bangsa siluman jika tanpa mutiara keabadian. Aku yakin kau tidak ingin memiliki anak yang terlahir seperti siluman serigala. Bahkan, tidak menutup kemungkinan keturunan kita tidak ada yang bisa berubah wujud menjadi manusia," terang Varong. Mengusap rambut panjang Uli untuk memberikan ketenangan kepada kekasihnya itu.
"Benarkah demikian?* gumam Uli, nyaris saja tidak terdengar oleh Varong.
"Ingin aku mengatakan tidak, tapi itu kenyataannya."
"Lalu bagaimana dengan ayahku? Bisa saja ketika kau pergi dia menerima pinangan orang lain. Kemarin saja …."
"Abidin? Aku tahu." Varong menarik kedua sudut bibirnya. "Abidin adalah putra ketiga dari siluman kera yang membutuhkan darah keperawananmu untuk mendapatkan ilmu yang sangat besar."
"A-apa? Siluman?"
Varong mengangguk. "Benar. Abidin juga sosok siluman. Tapi, kau tidak perlu khawatir ayahmu menerima lamaran pria yang aslinya adalah siluman. Karena ibumu telah melarang, bukan?"
Uli terdiam. Tidak menyangka Varong mengetahui semuanya. Padahal ia belum pernah sekalipun bercerita.
"Untuk pernikahan aku yakin ayahmu bisa menjadi pelindung. Pun dengan ayahku yang akan menjagamu dari kejauhan. Akan tetapi, kelicikan siluman untuk merenggut kesucianmu tidak bisa dijamin oleh ayah kita berdua."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Lari? Atau aku ikut saja denganmu. Lagipula kemampuanku melihat alam lain tiba-tiba saja ada. Sehingga aku tidak nyaman harus hidup dengan melihat hal yang ghaib itu."
"Aku tidak bisa membawamu pergi." Menjentik dahi Uli, untuk menutup kembali kemampuannya yang sempat dibuka Birawa.
"Aw."
"Itu bisa membuatmu mati konyol. Maka dari itu ayah memanggilku datang. Semata-mata untuk memintamu menelan batu ini." Menyerahkan batu delima hitam kepada Uli.
Seketika Uli menegang. Melihat batu delima yang berukuran kepalan seorang bayi. Jika ditelan, bisa jadi ia akan mati karena terdesak.
Uli pun menggeleng. "Daripada aku mati karena batu ini, lebih baik aku mati konyol karena ikut denganmu. Itu lebih romantis ketimbang mati bunuh diri," gerutunya dengan bibir yang mengerucut.
Tingkah Uli yang tampak seperti orang ketakutan itu, sungguh membuat Varong merasa geli. Ia tidak habis pikir Uli bisa membayangkan bahwa menelan batu delima hitam seperti menelan batu yang berasal dari sungai.
Kalau batu yang itu tentu saja Uli akan tewas seketika.
"Bukan. Bukan begitu caranya untuk menelan batu ini agar bisa berfungsi dengan baik. Di mana fungsinya untuk melindungimu dari siluman lapar ataupun yang mengincar kegadisanmu."
"Lalu, bagaimana caranya menelan ini tanpa menghilangkan nyawaku?" Menyentuh batu delima yang ada di tangan Varong. Uli tampak kagum melihat batu delima yang tiba-tiba saja bersinar di tangannya.
Tidak seperti semalam. Batu tersebut tampak seperti batu biasa. Tidak ada yang istimewa sama sekali.
"Begini."
Varong segera mengapit batu tersebut dengan kedua belah bibirnya. Setelah itu, ia mendekatkan pada bibir Uli yang sedikit terbuka.
Tidak tahu apa yang terjadi dengan batu tersebut, tiba-tiba saja sudah hilang dari bibir Varong. Detik berikutnya Uli merasakan rasa hangat yang menjalar hingga tenggorokan dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dan seketika kedua mata Uli terpejam saat lidah Varong yang hangat dan basah melesak masuk. Memanfaatkan ketertegunan Uli dalam merasakan hangatnya dari efek samping batu delima yang masuk ke dalam tubuhnya.
Uli menahan nafas. Menikmati sesapan dan manisnya Varong yang menari lincah di dalam rongga mulutnya saat ini. Sesekali ia menarik nafas disela pagutan bibir mereka berdua.
Dan tanpa bisa dikendalikan. Varong telah menarik lepas kain yang membalut tubuh ramping Uli, yang kini pasrah akan sentuhan yang dilakukannya.
Semakin lama. Semakin hanyut pula mereka karena lecutan aneh yang menguasai. Membuat Uli semakin kehilangan akal sehat dan malah semakin menarik Varong agar semakin mendekat.
Gadis itu mendamba. Menekan kepala Varong agar melepaskan bibirnya dan turun ke bawah. Naluri Uli menuntunnya agar meminta Varong agar menyapa salah satu gundukan kenyal yang telah lepas dari kain yang melilit.
Uli mengigit bibir bawahnya. Ini terlalu menyakitkan ketika taring Varong tidak sengaja mengenainya. Tapi langsung tertutup dengan rasa nikmat yang menjalar di setiap aliran darah Uli.
"Varong …," pekik Uli tertahan. Saat Varong menyesap dengan tenaga yang ia miliki. Sungguh ini sangat menyakitkan bagi Uli. Rasanya ujung yang ada di dalam mulut Varong, terlepas. Pun dengan pundaknya yang ditekan Varong. Rasanya tulang pundaknya akan patah karena cengkraman kuat Varong di sana.
"I-ini sakit …," lirih Uli, saat Varong mulai mengambil posisi tepat di kedua pahanya. Ia merasa tubuhnya ditindih beban ratusan kilogram dalam waktu yang bersamaan. Dengan Varong yang seakan mencabik tubuhnya saat ini juga.
"Tolong hentikan. Ku mohon …."
Mendengar? Tidak. Naluri Varong telah menguasainya. Ia buta dan lupa siapa gadis yang ada di bawah kuasanya. Dan sayangnya, rasa cinta yang dimiliki Uli untuk Varong membuat batu delima tak menganggap rintihan dan jeritannya sebagai sinyal bahaya.
"Varong …!" pekik Uli saat Varong siap masuk yang akan melenyapkannya dari muka bumi.
"Hentikan!!"
"Ayah?" Varong tersadar. Suara teriakan sang ayah yang setara dengan suara petir itu, menggelegar. Melenyapkan naluri siluman serigala Varong yang sedang menguasainya. Hingga ia batal memporak-porandakan Uli. Jika tidak, begitu selesai dengan hasratnya Varong akan mencabik dan memakan tubuh Uli hingga habis tak bersisa. Inilah yang ditakutkan Lisni dan Birawa, jika Uli melakukan hubungan suami istri dengan sosok siluman.
"Sudah Ayah katakan kau bisa membunuh kekasihmu sendiri jika kau tidak menggunakan mutiara keabadian," tegur Birawa yang datang dengan sehelai selendang. Menutupi tubuh Uli polos yang kini tak sadarkan diri.
Sekilas sebelum menutupi tadi, Birawa melihat pundak Uli yang membiru. Begitupula dengan bagian tubuh lainnya yang sempat di sentuh Varong.
"Maafkan aku, Ayah," ucap Varong. Dengan wajah yang tertunduk.
"Jangan minta maaf padaku. Hubungan ini kalian berdua yang menjalani. Bukan Ayah. Hanya saja kau bisa membunuhnya jika diteruskan."
"Aku paham, Ayah. Terlalu larut dalam keadaan aku lupa jika Uli tetaplah sosok manusia yang sangat lemah.. Tapi, ada satu hal yang tidak aku paham." Varong menoleh ke arah Uli yang masih tak sadarkan diri. "Kenapa batu delima itu tidak melindunginya. Apakah itu rusak?"
"Birawa menggeleng. "Itu karena dia mencintaimu dan menerima yang kau lakukan. Hanya saja fisiknya yang seratus persen manusia tidak sanggup menerimamu. Maka dari itu, meskipun dia berteriak meminta tolong, tetap saja mutiara itu tidak akan melakukan apa-apa. Karena dia tahu Uli menangis bukan karena menolakmu, tapi tak sanggup menahanmu."
"Jadi seperti itu," gumam Varong meraih kain Uli yang teronggok di atas lantai. Menutupi tubuhnya dan menanti Uli sadar, tanpa melepaskan pandangannya dari gadis yang dicintainya itu.
"Sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi serigala dewasa. Ayah harap dengan itu kau bisa semangat dan bisa cepat pulang agar kalian bisa menikah. Bisa menghadirkan cucu untuk Ayah tanpa menyakitinya," tutur Birawa sebelum meninggalkan Varong dan Uli. Ia tidak ingin berlama-lama melihat Uli yang ditutupi seadanya itu.
Varong mengangguk cepat. Berjanji dengan dirinya sendiri agar cepat dan pulang dengan keberhasilan tentunya. Agar ia dan Uli bisa menikah dalam waktu dekat. Jangan lagi dibahas tentang yang tadi. Varong mengakui apa yang terjadi tadi memang sangat memabukkan.