Uli tergugu. Terduduk lemas di samping dinding penghubung antara kamarnya dengan sang ayah. Di sana, sangat jelas ia mendengar sang ayah menyebut sosok tersebut adalah istrinya. Dan ia adalah anak mereka.
Ada apa sebenarnya? Siapakah dirinya yang sesungguhnya. Sampai sang ayah bisa memiliki anak dari sosok makhluk halus seperti itu.
"Kamu yakin pemuda itu terbaik untuk Uli? Pemuda itu tulus menyayangi Uli? Aku khawatir pemuda itu tidak berasal dari bangsa manusia, melainkan bangsa siluman yang hanya mengincar darah perawan putri kita agar bisa mengambil aura setann putih di tubuhnya. Seperti yang kau ketahui, Uli bukanlah sosok manusia secara utuh. Dia adalah gabungan antara dua alam karena kita melawan kodrat masing-masing, hingga kau dianggap gila oleh keluargamu karena ingin menikah denganku."
Wanita yang kerap disapa Lisni tersebut mengingatkan kembali siapa Uli yang sesungguhnya. Apa yang ada pada diri Uli, yang bisa dimanfaatkan untuk niat buruk dari bangsa siluman. Lisni tidak ingin putri satu-satunya menjadi korban kebringasan para siluman.
Apalagi jika mereka sudah menikah. Lisni takut Uli akan kehilangan nyawanya saat melakukan malam pertama. Karena naluri dari sosok siluman tentu saja membunuh dan menelan habis mangsanya. Terlebih lagi Uli nyaris utuh sebagai manusia. Ia hanya mewarisi aura Lisni saja, yang kini menjadi incaran para siluman. Dan karena naluri siluman itu pula yang membawa Varong pergi mencari mutiara keabadian. Agar ia bisa menjadi sosok manusia secara utuh ketika bersama Uli nantinya.
"Kau bebas," gumam Sadikin. Sadar bahwasanya Uli menjadi sasaran banyak siluman saat ini.
"Begini saja." Lisni mengalungkan tangannya di leher Sadikin. "Setiap pemuda yang ingin melamar Uli, mintalah dia datang di malam hari. Agar aku bisa memastikan bahwa dia manusia atau bukan. Kalau manusia, silahkan saja. Kalau bukan jangan coba-coba menerima."
"Baiklah, kalau memang itu yang kau inginkan." Sadikin menarik kedua sudut bibirnya. "Jadi bagaimana dengan mutiara keabadian itu? Apakah kau sudah menemukannya? Aku sudah tak sanggup jika terus menerus seperti ini. Dianggap gila karena mencintaimu."
Lisni mengangguk. "Aku sudah mengetahui di mana mutiara itu berada. Meskipun aku belum pernah kesana. Tapi setidaknya aku tahu kemana harus datang menjemput. Oleh karena itu aku ingin memberitahumu. Mungkin untuk beberapa waktu kedepan aku tidak bisa datang berkunjung. Karena harus menjemput mutiara keabadian tersebut. Aku juga memintamu untuk selalu berdoa agar aku selamat. Karena banyak siluman yang ingin mendapatkan mutiara itu. Dan untuk Uli, jangan coba-coba menerima lamaran pemuda mana pun sampai aku kembali."
Sadikin mengangguk paham. Meski berat melepaskan kepergian Lisni, ia berusaha untuk rela. Demi bisa bersatu dengan wanita yang dicintainya itu. Agar tak lagi dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Mencintai dan berhubungan suami istri dengan sosok tak kasat mata.
Namun, itu bagi manusia biasa. Bagi Sadikin Lisnie tetap sama seperti manusia lainnya. Bisa ia sentuh dan rasakan setiap sentuhannya. Bahkan, hubungannya dengan Kiani telah menghasilkan seorang putri yang sangat cantik, Uli.
"Kau selalu pintar melambungkan aku," desah Sadikin panjang. Saat Lisnie telah duduk di hadapannya. Menyapa Sadikin yang telah tegak sempurna dengan mulutnya yang basah. Memainkan Sadikin di dalam sana sebelum menerima permainan inti dengan sang suami.
Sadikin mengerang. Menikmati dengan tubuh yang bergetar ketika lisni menyapa dan memanjakannya. Hingga ia yang sanggup dan mendorong Lisni hingga terbaring di lantai.
Sama dengan pasangan manusia lainnya. Sadikin bisa merasakan kekenyalan gundukan gunung Kismis di dalam mulutnya. Ia juga merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika mereka berdua menyatu di bawah sana. Ia bisa merasakan Lisni menjepitnya di bawah sana. Memijat dan bahkan merasa ada cairan bening nan licin membasahinya di sana.
Kenikmatan yang Sadikin dapatkan, memuatnya tidak sadar Ulie melihat apa yang ia lakukan dengan sosok wanita cantik dari alam lain tersebut. Ia tidak tahu Uli menangis dalam diam hingga tak sadarkan diri saat tahu ia bukanlah anak dari manusia yang utuh. Sehingga ia merasa tak pantas hidup apalagi bersanding dengan Varong, yang ia tahu adalah sesosok manusia.
***
"Aku tidak bisa."
Uli menyerahkan kembali batu delima hitam ke tangan Birawa. Setelah itu, ia beranjak pergi begitu saja, tanpa ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya.
"Setelah melihat siapa ibumu, dan apa yang dibicarakannya dengan ayahmu, saya pikir kau akan menggunakan batu delima ini. Tapi nyatanya, tidak. Ada apa?"
Langkah Uli terhenti. Ia menolehkan kepalanya pada Birawa. "Darimana kau mengetahui semalam ibuku datang berkunjung?" Kedua matanya menyipit. Mempertanyakan dari mana Birawa mengetahui itu semua. Padahal dirinya sendiri masih tak sanggup menerima kalau dirinya adalah bukan sepenuhnya manusia.
"Saya mengetahui apa yang tidak kau ketahui. Dan kau juga tidak perlu khawatir Varong akan lari darimu jika mengetahui kalau kau bukanlah seorang manusia yang utuh."
"Ma-maksudmu?" Uli tergagap. Tidak menyangka Birawa mengetahui semua tentangnya.
"Kita sama. Saya dan Varong adalah …."
"Ka-kau …." Uli mundur beberapa langkah.. Saat melihat Birawa berubah wujud menjadi seekor serigala yang berukuran sangat besar. Dengan taring yang amat besar dan kokoh.
"Inilah alasan Varong pergi. Dia ingin mendapatkan mutiara keabadian agar bisa menikah denganmu. Agar bisa berlama-lama dekat denganmu tanpa berubah secara mendadak menjadi serigala. Seperti yang saya lakukan tadi." Birawa menjelaskan seraya berubah menjadi sosok manusia.
"I-ini tidak mungkin."
Uli dan akal sehatnya tidak sanggup untuk menerima segala kenyataan yang terpampang di depan matanya. Sehingga ia tak sadarkan diri dan tergolek lemah di atas rumput.
Birawa menghela nafas berat. Ternyata keputusannya untuk memberitahu siapa dirinya dan Varong adalah keputusan yang salah. Sampai-sampai Uli kehilangan kesadaran seperti sekarang.
Sehingga dengan sangat terpaksa Birawa membawa Uli masuk ke hutan. Membaringkannya ke atas dipan kayu yang selama ini ditempati oleh Varong. Agar Uli tidak melakukan hal buruk tanpa pengawasannya, Birawa ingin mengurung Uli di istananya terlebih dahulu. Sampai Uli benar-benar berdamai dengan keadaan. Seraya meminta Varong pulang tentunya.
Sebelum Uli terbangun, Birawa segera melakukan semedi. Duduk bersila di singgasana dan melakukan telepati, menghubungkan pikirannya dengan Varong yang masih dalam perjalanan ke gunung Merapi. Menjemput mutiara keabadian yang kini menjadi incaran banyak makhluk.
"Tapi, Ayah …." Varong segera menghentikan langkahnya. *Aku tidak mungkin pulang. Bagaimana kalau mutiara itu didahului oleh bangsa lain? Aku harus menunggu ratusan tahun lagi agar naga itu mengeluarkan mutiara keabadian yang berikutnya."
"Pulanglah sejenak kalau kau tak ingin kehilangan Uli. Ayah minta padamu dengan segala kerendahan hati."
"Uli? Ada apa dengannya?"
"Pulanglah terlebih dahulu. Gunakan batu giok yang ada padamu agar bisa pulang dalam waktu singkat."
"Baiklah, Ayah," jawab Varong pasrah. Menyangkut Uli ia tidak akan sanggup membantah sang ayah meskipun tidak lama lagi ia akan sampai di sebuah desa yang akan menjadi tempatnya mencari tumbal. Untuk melengkapi senjata yang akan digunakan mematahkan segala hambatan di jalan ataupun di gunung itu sendiri nantinya.
***
"Apa yang terjadi dengan Uli? Kenapa dia bisa ada disini?"
Begitu sampai dan melihat Uli berbaring di tempatnya, Varong langsung menodong Birawa dengan pertanyaan. Ia tidak mengerti kenapa Uli bisa ada di sana.
*Dia sudah mengetahui kalau kita adalah sosok siluman, bukan manusia." Birawa mendekati Uli dan Varong.
"Jangan katakan kalau ayahlah yang mengatakannya kepada Uli."
Birawa mengangguk. "Ayah terpaksa mengatakannya agar dia tidak lari darimu."
"Maksud Ayah?"
"Semalam Ayah membuka pintu batinnya agar dia bisa melihat dan mendengar makhluk dari dunia lain. Agar dia tahu akan dibuat tunduk oleh ayahnya sendiri agar mau menerima lamaran siluman kera tempo hari, melalui Nyinyi Kunti, ibunya."
"Jadi sudah banyak yang mengetahui kalau Uli istimewa?"
"Kau benar. Ayah rasa ada salah satu dari kita yang menjadi mata-mata agar pernikahanmu dengan dia gagal dilangsungkan. Agar kau batal menjadi pewaris tahta kerajaan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Agar Uli aman ketika aku pergi?"
Birawa yang mengetahui jika Varong tak memiliki banyak waktu, segera menyerahkan batu delima hitam padanya.
"Mintalah Uli menelan batu delima ini agar bisa menjaganya dari segala guna-guna dan ancaman dari serigala lain. Atau tiduri dia saat ini juga untuk mengambil darah keperawanannya."
"Darah keperawanan?"
"Jangan banyak bertanya. Waktumu singkat. Ingat, Uli dan mutiara keabadian sama pentingnya bagi kelangsungan keturunanku di tahta kerajaan ini. Sebaiknya kau putuskan cepat agar tak ada penyesalan di kemudian hari," ujar Birawa sebelum meninggalkan Varong yang menatap nanar kepada Uli.
Pemuda itu berkelahi dengan batinnya. Ia bisa saja menyentuh Uli tanpa membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Tapi ia tidak ingin merusak gadis yang dicintainya, sebelum hari pernikahan mereka tiba. Karena Varong sadar, Uli adalah sosok manusia yang memiliki aturan dalam hidup yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Sehingga ia memutuskan untuk meminta Uli menelan batu delima hitam saja. Daripada merusaknya dalam ketidaktahuan.