Sosok Wanita Misterius

1065 Words
"Siapa kalian?" Uli mundur beberapa langkah saat ada dua orang pemuda dan satu orang pria paruh baya menghalangi jalannya menuju ke gubuk yang ada di perbatasan antara desa dan hutan. Tepatnya di gubuk tempat Uli bertemu dengan Varong. Belum sampai satu hari pemuda itu pergi, kini Uli sudah rindu dan hendak pergi kesana untuk mengobati rasa rindunya kepada Varong. "Tidak perlu takut. Saya Birawa, ayahanda dari Varong. Pemuda yang kau cintai dan kini tengah pergi mengemban tugas dariku sehingga pernikahan kalian tertunda," sahut Birawa. Sedikit menundukkan tubuhnya, untuk memberikan hormat kepada Uli. Birawa juga mengulas senyum agar Uli tidak ketakutan padanya. Birawa tidak ingin penyerahan batu delima hitam mengalami kendala. Karena batu delima tersebut tidak akan bisa bersatu dengan sang pemilik jika diserahkan dalam keadaan terpaksa. Oleh karena itu, Birawa harus menyerahkannya secara baik-baik dan atas kesadaran Uli sendiri. "Ayahanda Varong?" Uli membeo. Birawa pun mengangguk. "Ayo, ikut kami. Ada yang ingin saya bicarakan dan serahkan padamu. Tepatnya titipan dari Varong." Uli menggeleng. "Aku tidak percaya kepada kalian. Aku tidak percaya dengan ucapan kalian semua, karena Varong tidak pernah mengatakan apapun tentang titipan." "Jangan seperti itu, Uli. Percayalah, saya adalah ayah kandung Varong. Saya yang memintanya untuk pergi menyelesaikan tugas penting. Setelah dia kembali, saya berjanji akan menikahkan kalian berdua. Dan berhubung kepergian anak saya dimanfaatkan oleh beberapa pemuda untuk melamarmu, saya diperintahkan Varong menyerahkan ini padamu." Birawa mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Seketika batu delima hitam tersebut bersinar. Menampakkan kecantikannya yang bisa memikat banyak gadis agar tergerak untuk memiliki. "Ambil, dan telanlah. Agar permata ini bisa menjagamu dari ilmu hitam yang ingin menghancurkan rencana pernikahanmu dengan Varong." Lagi-lagi Uli menggeleng. "Maaf, saya tidak bisa percaya dengan ini semua. Meskipun Tuan adalah ayahanda dari kekasih saya sendiri. Tapi saya pribadi tidak bisa percaya tentang ilmu hitam dan sejenisnya. Itu semua tidak ada dan tidak mungkin." Baru saja Uli ingin percaya kepada Birawa, tapi karena batu delima hitam tersebut ia kembali ragu. Ia tidak mungkin bisa menelan batu sebesar kepalan tangan bayi tersebut. Dan rasa tidak percaya itu semakin besar, saat Birawa membahas masalah ilmu hitam. Karena sedari kecil sang ayah selalu menekankan jika ilmu hitam, alam lain, dan sejenisnya itu tidak pernah ada. Itu hanyalah tahayul yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Lagipula selama ini Uli tidak pernah merasakan apalagi melihat hal yang seperti itu. Hanya saja ia mendengar dari mulut ke mulut warga desa lain, yang dipatahkan oleh sang ayah. Dan ketidakpercayaan tersebut semakin ditegaskan dengan adanya Varong yang bisa pulang dengan selamat dari hutan larangan. "Kalau kau tidak percaya, itu tidak masuk akal sama sekali. Mengingat kau sendiri nyaris mati ditelan siluman serigala, di hutan." Birawa mengingatkan kembali apa yang dialami Uli beberapa minggu yang lalu. "I-tuu …." Uli terdiam. Mengingat bagaimana ia nyaris saja ditelan oleh dua ekor serigala. "Jangan mencoba untuk menyangkal." "Aku tidak menyangkal. Apa yang aku lihat waktu itu hanya dua skor serigala. Dan bukankah di dunia ini memang ada serigala?' Birawa terdiam. "Ayo jawab. Benarkan apa yang saya katakan?" Kini Uli yang mengejar. Birawa menghela nafas panjang. Sepertinya ia terpaksa melakukan sesuatu kepada Uli agar mempermudah jalannya untuk meminta menelan batu delima tersebut. "Saya tidak akan menjawab benar atau salah. Tapi saya akan membuktikan bahwa, apa yang saya katakan itu benar dan apa yang kamu katakan itu salah. "Maksudmu?" Birawa mengulas senyum. Menjentik dahi Uli pelan. "Apa yang kau lakukan?" sergah Uli.. Mengusap dahinya yang lumayan sakit karena ulah Birawa. "Nanti malam. Datanglah ke kamar ayahmu. Lihat dengan siapa dia berbicara. Dengarkan baik-baik apa rencana ayahmu agar kau mau menerima lamaran Abidin." "Si-siapa kau sebenarnya? Kenapa tahu tentang Abidin?" "Saya ayahnya Varong." Birawa meraih tangan Uli. "Saya titipkan ini padamu. Segera telat batu delima ini jika kau benar mencintai Varong setelah melihat dan mendengar apa yang dilakukan ayahmu nanti malam." "Ta-tapi?" "Batu delima ini tidak akan menyakitimu. Percayalah." Uli diam. Apakah akan menerima batu tersebut atau tidak. "Kau bebas ini tetap ingin bersama Varong atau tidak. Jika iya, batu delima itu akan masuk dengan mudah ke dalam tubuhmu. Jika tidak, cukup minta batu delima ini pergi jika tidak ingin menikah dengan Varong." Birawa menambahkan. Agar Uli tidak larut dalam keraguan. "Baik. Saya akan membawa ini pulang. Saya akan coba lakukan apa yang kau katakan." Uli menggenggam erat batu delima tersebut. "Saya pulang dulu. Keburu malam." "Baiklah," sahut Birawa. Membiarkan Uli pergi dari hadapannya. Tidak tahu kenapa, ia tiba-tiba saja senang dengan sosok Uli yang sangat berbeda dari manusia lainnya. "Astaga …." Birawa mengusap wajahnya. Mengusir jauh perasaan aneh yang datang mengganggu. Ia menyadarkan diri bahwa Uli adalah calon istri anaknya. Tidak baik jika ia menyimpan rasa lebih kepada gadis itu. *** Dan disaat malam itu tiba, Uli mulai gelisah. Entah apa yang dilakukan Birawa kepadanya, sampai-sampai ia mendengar banyak suara orang yang berbicara. Padahal di rumah hanya ada dirinya dan sang ayah. Sedari tadi Uli juga melihat yang tidak-tidak melintas di dekatnya. Tepatnya makhluk tak kasat mata yang datang sekedar menyapa. Inikah yang dinamakan dengan dunia lain? "Aku merindukanmu," ucap Sadikin di dalam kamarnya. Dengan suara yang begitu pelan, tapi tetap saja bisa didengar Uli dari balik dinding kayu yang menjadi pembatas dengan kamar sang ayah. Apalagi saat Uli menempelkan telinganya di dinding tersebut. Cukup jelas terdengar. Kedua alis Uli bertaut. Heran mendengar sang ayah yang berbicara. Tapi entah dengan siapa. Teringat dengan ucapan pria bernama Birawa, Uli segera mencari celah yang bisa melihat ke dalam kamar sang ayah Hingga ia menemukan celah dari papan yang telah dimakan rayap. Memberanikan diri menusuk papan tersebut dengan jarinya, akhirnya Uli bisa melihat dengan jelas ke dalam kamar sang ayah. Meskipun habis menggunakan satu mata. "Aku juga sangat merindukanmu, suamiku," balas seorang wanita berambut panjang yang duduk di pangkuan sang ayah. Membuat Uli mata Uli membola melihat sosok yang sangat cantik itu. Uli sangat yakin itu bukanlah sosok manusia. Tapi kuntilanak yang sedang memperdaya sang ayah. Segera Uli bangkit dari tempatnya duduk untuk melabrak sang ayah yang sedang bermain api dengan makhluk yang berasal dari dunia lain. Namun, langkah Uli terhenti. Saat ia mendengar kelanjutan pembicaraan sang ayah dengan sosok serba putih tersebut. "Lisni, bantu aku untuk membuat putri kita menuruti segala yang aku pinta. Karena hari ini ada seorang pemuda nan kaya raya datang melamarnya," tutur Sadikin. Meminta bantuan kepada sang istri untuk membuat Uli menjadi seorang yang penurut. Dan betapa terkejutnya Uli dengan keinginan sang ayah. Terlebih lagi saat mendengar kata 'putri kita', yang jelas tertuju padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD