"Saya mendapatkan kabar yang tidak baik dari luar daerah kekuasaan, Tuan," ucap salah seorang siluman serigala utusan Birawa, menjaga dan mengawasi Uli dari incaran serigala lainnya. Birawa yakin, kepergian sang anak pasti dimanfaatkan dengan baik oleh siluman lain untuk mendapatkan Uli.
"Siluman kera datang melamar Uli?"
Alih-alih menunggu penjelasan dari bawahannya, Birawa justru sudah menebak laporan apa yang ingin disampaikan.
"Benar, Tuan."
"Lakukan segala cara agar lamaran itu gagal. Kalau perlu, habisi mereka semua. Jika Uli gagal kalian jaga, jangan harap masih bisa bernafas setelah itu terjadi," tutur Birawa, dengar air wajah yang tampan tenang.
Sama sekali ia tidak memperlihatkan bagaimana ketegangan yang akan dihadapi saat ini. Mengingat kabar kepergian Varong sudah tersebar luas kemana-mana. Birawa juga tidak akan mampu berbuat banyak karena ketiga pusakanya sudah dibawa pergi oleh Varong untuk menjaganya selama diperjalanan.
"Saya rasa, batu delima hitam bisa digunakan sebagai benteng terakhir untuk menjaga Uli, Tuanku." Salah seorang siluman mengusulkan. Karena ia sadar keterbatasannya dalam menjaga dan melindungi Uli, yang memiliki alam berbeda dengan mereka.
Dan masing-masing dari siluman memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Untuk bangsa mereka, tidak akan bisa terlalu lama merubah wujud menjadi manusia. Tapi mereka bisa lebih lama terkena cahaya matahari dibandingkan dengan siluman kera yang memiliki kelebihan bisa berwujud manusia dalam rentang waktu lebih lama. Tapi mereka tidak akan sanggup terkena sinar matahari dalam kurun waktu lama.
"Delima hitam?" Birawa menoleh.
"Benar, Tuanku. Delima hitam akan mengeluarkan reaksi yang bisa membahayakan bagi siluman lain ketika sang korban bisa menggunakannya dengan baik."
"Uli tidak akan pernah tahu bagaimana caranya menggunakan batu delima tersebut."
"Tapi aura setan putih yang ada di tubuhnya bisa mengaktifkan tenaga batu delima tersebut."
"Kau yakin?" Birawa memastikan.
"Saya sangat yakin dan siap mencari tumbal untuk menguji kekuatan delima tersebut."
"Lalu bagaimana caranya untuk menyerahkan batu delima itu kepada Uli? Bukan hanya itu, kita juga harus memikirkan bagaimana caranya memberitahu jika batu delima itu bisa menjaganya dari segala mara bahaya. Sedangkan dia tidak pernah tahu dan percaya adanya bangsa lain selain manusia di muka bumi ini."
"Sangat mudah, Tuanku. Tuanku tinggal temui beliau dan mintalah untuk menelan batu delima itu. Dengan begitu beliau dan batu delima akan tergabung dengan baik. Akan tetapi, batu delima tidak bisa bereaksi jika beliau menyerahkan diri secara sadar."
Birawa menautkan kedua alisnya.
"Kami bisa menjaga beliau dari kejauhan dan mencegahnya untuk menikah. Tapi kami tidak bisa mengawasi setiap waktu jika ada siluman yang menyelinap dan merenggut keperawanannya."
"Kau benar," ujar Birawa. Mengusap dagunya. Memikirkan apa yang dikatakan oleh prajuritnya.
Mereka tidak bisa menjaga Uli secara terus menerus. Tapi batu delima itu pasti bisa melakukannya jika ada pemaksaan dalam merenggut kesuciannya. Dan tidak akan bekerja jika dilakukan atas dasar suka sama suka. Sepertinya cinta yang dimiliki Uli kepada Varong sanggup mencegah itu terjadi.
"Siapkan semuanya. Sebentar lagi kita akan menemui gadis itu." Birawa mengeluarkan perintah. Yang dibalas dengan anggukan dari siluman lain. Mereka juga merasa lega ada cara lain untuk memperingan tugas mereka dalam berjaga.
Beruntung masih ada batu delima hitam yang menjadi warisan terakhir dari Kemuning, ibu dari Varong yang telah tewas beberapa puluh tahun yang lalu saat berperang melawan siluman babi yang ingin merampas tempat tinggal mereka.
Setelah sekian lama, akhirnya Birawa mengeluarkan batu delima itu kembali. Untuk diserahkan kepada Uli, kekasih hati putra tunggal mereka. Sebuah kebetulan, yang membuat Birawa menggantung hadapannya kepada hubungan mereka berdua. Birawa sungguh berharap, Varong benar berjodoh dengan Uli.
***
Sedari tadi Sadikin melirik Uli yang duduk di sudut ruangan. Setelah ia menata minuman di tengah-tengah mereka. Ia duduk menyendiri, karena tidak suka dengan kedatangan Abidin ke rumahnya. Segala memaksa lamaran, padahal sang ayah sudah menolak dengan halus dan mengatakan ia sudah dilamar oleh seorang pemuda.
Seakan tidak suka dengan jawaban tersebut, Abidin mengeluarkan senjata andalannya. Satu peti keping emas kini telah dibuka di depan Sadikin sebagai mahar pernikahan mereka. Sedangkan Varong belum memberikan apapun kepada Uli. Baru janji dan cinta yang begitu besar.
Sehingga membuat Sadikin mulai diterpa keraguan. Ia juga merasa Varong hanya bermain saja dengan putri tunggalnya. Karena berjanji untuk menikah, setelah pulang dari mengemban tugas dari sang ayah.
Tugas apa? Yang katanya sampai berminggu-minggu, bahkan bulan. Ia juga tidak habis pikir Varong dengan tidak sopannya datang dan pergi sesuka hati. Seakan tidak nyaman dengan rumahnya yang gubuk itu.
Namun, berbeda dengan Abidin. Langsung datang melamar dengan membawa seserahan dan keluarga besarnya. Ia juga serius untuk menikah dengan Uli, di malam Jum'at Kliwon ini.
"Jadi bagaimana? Kami rasa ini sudah cukup membuktikan betapa kami sudah amat serius melamar anak anda," ujar seorang perwakilan dari keluarga Abidin. Hampir satu jam mereka duduk, akhirnya rasa tidak nyaman datang juga. Jika mereka masih bertahan, maka bisa dipastikan wujud mereka yang asli akan terlihat dengan jelas.
"Mohon maaf, saya tidak bisa menerima lamaran ini meskipun ayah menerima. Saya tidak bisa menikah dengan orang yang tidak saya cintai. Saya harap kalian semua paham dan tolong pergi," potong Uli sebelum sang ayah membuka mulut untuk menerima lamaran siluman kera tersebut.
Dari gelagat sang ayah, yang semakin gelisah saat melihat sekotak keping emas, tentu saja sudah cukup bagi Uli sebagai bukti jika sang ayah ingin menerima lamarannya.
Cepat ia membantah dan bangkit dari tempatnya duduk. "Ayah kalau mau terima lamaran pemuda ini terserah saja. Aku tidak mau menikah dengannya karena mencintai Varong. Lagipula, Ayah juga harus balas budi padanya. Kalau bukan karena Varong yang rela bertaruh nyawa di dalam hutan sana, bisa dipastikan saat ini aku sudah mati dimakan serigala dan penyakit Ayah pun melakukan yang sama pada Ayah."
"Uli!" tegur Sadikin. Tidak ingin Uli bersikap buruk terhadap Abidin yang masih ingin menerima lamaran Abidin. Selagi ada alasan untuk menerima tentunya.
"Apa, Ayah? Itu benar, bukan? Ayah ingin menerima lamaran mereka karena peti emas itu. Kalau tidak ada, bisa dipastikan Ayah masih waras saat ini. Tidak akan menerima, karena tahu diri telah hutang nyawa kepada Varong."
"Uli, dengar. Apa yang kamu katakan itu tidak benar sama sekali. Ayah tahu apa itu arti balas budi, tapi tidak harus menggadaikan kebahagiaan anak Ayah. Varong memang membantu Ayah untuk hidup, tapi bukan berarti dia bisa memberimu harapan kosong seperti ini. Jadi tolong pertimbangkan ini semua sebelum kau menolak."
"Aku tidak mau. Aku sudah bulat dengan keputusanku untuk menerima Varong dan menunggunya hingga pulang ke sini. Aku tidak butuh semua ini, apalagi dari orang yang tidak aku kenal."
"Uli, jangan lagi keras dengan keputusanmu." Sadikin melirik tajam kepada Uli.
"Aku tidak peduli. Aku mencintai Varong, begitu pula sebaliknya!"
"Varong tidak serius dengan ucapannya."
"Tidak. Ayah salah. Aku tidak mau ya, tidak. Jangan lagi memintaku untuk menerima," tutur Uli tegas, sebelum beranjak pergi. Dengan kesal ia turun dari rumah. Berjalan misuh-misuh, sesuai dengan arah dan tujuan kedua kakinya.
Melihat Uli yang pergi, Sadikin merasa tidak enak dengan keluarga Abidin yang kini masih berada di rumahnya. Mereka semua tampak semakin gelisah saja saat ini.
"Melihat Uli yang sedang marah, mungkin sebaiknya kami pulang terlebih dahulu. Beberapa hari lagi kami akan muncul untuk melakukan lamaran lagi. Abidin yang harus pergi berdagang ke pulau sebelah, membuatnya tidak bisa berlama-lama disini."
Salah seorang dari keluarga Abidin membuka suara. Ia ingin segera mengakhiri lamaran yang sudah pasti di tolak itu. Takutnya sosok asli mereka segera terungkap karena terlalu lama berubah wujud menjadi manusia.
"Tapi …."
"Tidak apa-apa. Kami tahu apa maksudmu. Semua ini termasuk koin emas akan tetap kami tinggal disini. Karena kami yakin sebentar lagi Uli pasti luluh dan menerima Abidin. Terlebih lagi jika kekasihnya tidak pernah lagi pulang untuk memenuhi janjinya."
Sadikin menghela nafas panjang. Merasa lega jika benar semua yang dibawakan oleh rombongan ini akan ditinggal. Karena Abidin butuh malam hari untuk membuat sang Uli mengubah keputusannya.