Kabar Kepergian Varong

1187 Words
Varong berlutut. Menerima tiga pusaka yang diserahkan sang ayah untuknya. Tiga pusaka yang akan membantunya menyelesaikan misi, pencarian mutiara keabadian. "Kau harus ingat pusaka mana yang lebih dahulu digunakan. Karena masing-masing pusaka hanya bisa digunakan sekali saja. Untuk menggunakan yang kedua kalinya, kau harus menyantap daging dan darah manusia yang masih perjaka atau perawan. Kalau tidak, jangan berharap kau akan bisa menggunakannya untuk yang kedua kalinya," ucap Birawa. Setelah meminta Varong untuk berdiri. Ia harus segera pergi sebelum matahari terbit. Agar serigala muda tersebut bisa berangkat tanpa terendus oleh bangsa siluman yang lainnya. Tanpa menanti banyak hal yang lainya, Varong segera menganggukkan kepalanya. Menyetujui keinginan sang ayah untuk segera berangkat. Ia pun tidak sabar untuk mencari mutiara keabadian, yang konon katanya berada di dalam pelukan seekor naga raksasa, yang ada di kawah gunung Merapi. Mustahil memang. Ada seekor naga yang hidup di kawah gunung berapi. Akan tetapi, memang begitu adanya. Karena konon katanya lahar panas yang berasal dari kawah gunung berapi adalah sumber makanan bagi naga tersebut. Varong berangkat. Berlari dengan kecepatan tinggi, sekuat yang ia mampu. Mengabaikan lambaian tangan para bawahannya yang memberikan semangat serta hormat kepadanya yang ingin pergi mencari mutiara keabadian. Sebelum memulai perjalanan, Varong sengaja melintasi desa tempat Uli tinggal. Sekedar hanya untuk melihat sang kekasih dari kejauhan agar ia bisa mendapatkan kekuatan lebih. Tanpa sepengetahuan Uli yang tengah menyusun kayu ke bawah kandang rumah, Varong melintas. Mengulas senyum, kepadanya meskipun ia tak melihat. Hanya saja, indra penciuman Uli langsung menangkap aroma yang tidak asing baginya. Aroma bunga mahkota dewa, yang kerap tercium jika Varong berada di dekatnya. "Apakah kau disini?" gumam Uli, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sosok yang selama ini mengisi hari-harinya. Puas mencari, Uli tak kunjung menemukan sosok itu. Tapi ia yakin aroma yang sempat menyapa indra penciumannya tadi berasal dari Varong, pria yang berjanji akan melamar jika tugasnya telah selesai. "Apa yang sedang kau pikirkan, Uli? Sampai-sampai tidak mendengar Ayah menyeru?" Sadikin, ayahnya Uli berucap seraya menepuk pundak putri semata wayangnya, yang sedari tadi tidak merespon meskipun sudah ia panggil-panggil. "Ya, Ayah?" sahut Uli, gelagapan karena terkejut dengan sentuhan sang ayah. "Kau melamun?" Uli menggeleng. "Kalau tidak, kenapa sedari tadi seru tidak menyahut?" "Uli hanya kepikiran sama Varong, Ayah. Kira-kira dia pergi menjalankan tugas apa, ya? Sampai-sampai tidak bisa melamar sebelum apa yang ditugaskan itu selesai dengan baik." Uli menatap ke arah hutan yang terlihat seperti bukit biasa. Tapi, ada banyak hal mistis yang bersembunyi di sana. "Ayah tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Dan seharusnya Ayah yang menanyakan ini padamu, mengingat betapa anehnya calon suamimu itu," tutur ayahnya Uli, yang kerap disapa Dikin itu. "Aneh kenapa, Yah? Varong itu memiliki dua meter Satu hidung dengan dia lobang. Satu mulut dengan dua bibir. Lalu anehnya di mana?" gerutu Uli, menyahut kata aneh dari sang ayah. "Kalau untuk itu ayah pun tahu, Uli. Tapi yang menjadi keanehan itu adalah, dia tidak pernah mau duduk lama. Tidak pernah mau minum teh atau air yang disajikan. Dia bahkan tidak mau makan padahal ayah sudah merelakan salah satu ayam kesayangan ayah dipotong." "Mungkin Varong tidak suka ayam. Sukanya daging kambing. Besok-besok coba Ayah potong kambing yang di kandang," kekeh Uli. Merasa geli melihat sang ayah yang meringis saat ia mengusulkan agar memotong kambing. "Enak saja kau meminta Ayah untuk potong kambing. Kita saja belum pernah mencicipi mereka." "Iya, maka dari itu kalau Varong datang Ayah potong itu kambing." "Tidak. Ayah tidak mau." "Kenapa?" Uli menyipitkan matanya. "Ayah tidak suka kambing," ujar sang ayah, sebelum meninggalkan Uli sendirian. Sadar sang ayah sudah tahu apa maksudnya membawa kambing dalam perdebatan mereka, Uli hanya terkekeh geli. Merasa lucu melihat air wajah sang ayah yang tampak panik. Sedari dulu Dikin memang tidak pernah menyukai daging kambing.. Katanya bau dan bisa menyebabkan hipertensi. Alhasil, Dikin tidak pernah memakan daging hewan yang ikut menjadi penghuni di sekitar rumahnya itu. "Tapi ayah benar dengan segala ucapannya. Varong tidak pernah mau berlama-lama berkunjung. Baik berkunjung kesini maupun saat bertemu denganku," gumam Uli dalam hati. Turut merasakan keanehan pada diri Varong, semenjak mereka berdua bertemu di dalam hutan angker tersebut. "Aku berjanji padamu akan mendapatkan mutiara itu secepatnya. Agar tidak membuatmu menunggu dalam rasa yang aneh seperti sekarang." Varong yang berada tidak jauh dari tempat Uli berjanji, akan segera menyelesaikan misi. Daripada harus takut-takut ketahuan siapa dirinya yang sesungguhnya jika berubah menjadi manusia sosok manusia. Varong lebih memilih untuk berjuang dan bersabar sampai waktu itu tiba. Tidak ada salahnya mengalah dulu, setelah itu bisa mendapatkan Uli hanya untuk dirinya sendiri. "Uli …!" seru sang ayah setelah cukup lama jauh dari Uli. "Ya, Ayah," Uli menyahut, seraya meletakkan kembali potongan kayu bakar di tempat semula, sebelum menyusul langkah sang ayah, yang kini ada di ambang pintu belakang. "Tinggalkan dulu pekerjaan kamu. Di luar ada tamu yang ingin bertemu denganmu." "Siapa, Ayah?" Sebelum menyetujui keinginan sang ayah, tentu saja Uli harus bertanya balik tentang identitas tamu yang datang. "Abidin, cepatlah! Sekalian kamu bikin air minum untuk Abidin dan keluarganya," sahut Sadikin sebelum hilang di balik pintu. "Abidin?" gumam Uli dalam hati. Mengingat dengan jelas siapa itu Abidin. "Uli, cepatlah! Jangan terlalu banyak bermenung kalau tidak ingin jauh dari jodohmu." Dikin kembali melongokkan kepalanya ke pintu. Untuk menegur Uli yang tak kunjung bergerak dari tempatnya berdiri. "Iya, Ayah. Uli akan segera kesana!" Uli segera beranjak dan menyusul langkah sang ayah. Sebelum membuat air minum untuk tamu yang katanya adalah Abidin dan keluarga, tentu saja Uli harus tahu ada berapa orang tamu yang datang. Ada berapa orang tamu wanita dan berapa pula yang pria. Agar ia bisa tahu berapa buah dan kopi yang akan dihidangkan untuk menjamu tamu-tamu tersebut. Sesampainya Uli diambang pintu pembatas antara ruang tamu dan dapur, ia tersentak. Melihat Abidin datang dengan beberapa orang keluarganya. Dengan membawa beberapa hasil alam dan peternakan. Macam orang yang hendak mengadakan lamaran saja, pikirnya dalam hati. Uli menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran aneh yang melintas. Sungguh tidak mungkin sang ayah menerima kedatangan Abidin jika datang untuk melamar. Karena sang ayah sudah berjanji akan menerima Varong menjadi menantunya, bukan yang lain. Sehingga Uli segera beranjak ke dapur untuk membuat air minum tanpa menanamkan pikiran buruk tentang kedatangan mereka. Dan ketika Uli beranjak pergi, Abidin yang merupakan keturunan bangsa siluman kera bisa merasakan aroma menenangkan yang berasal dari tubuh Uli. Ia juga merasakan aura setan putih yang akan membuatnya awet muda dan memiliki ilmu yang tidak akan bisa dipatahkan oleh bangsa mana pun, jika berhasil menikmati darah malam pertama Uli nantinya. Abidin mengulas senyum. Ia sungguh bersyukur bisa mendapatkan kabar jika Varong hari ini pergi mencari mutiara keabadian demi bisa menjadi manusia kapanpun ia mau. Tanpa memanfaatkan terlebih dahulu darah malam pertama Uli yang menjadi incaran siluman lain. Entah bodoh atau tidak mengerti bagaimana caranya memanfaatkan Uli, yang memiliki sumber kekuatan. Varong malah pergi begitu saja, meninggalkan Uli dalam keadaan suci. Itulah sebabnya Abidin datang untuk melamar Uli hari ini agar bisa mendapatkan apa yang ada di dalam tubuh Uli. Agar mempermudahnya untuk mencari mutiara keabadian. Dan satu hak yang tidak diketahui Uli dan ayahnya. Kini ada banyak siluman yang menyamar menjadi manusia demi bisa melamar Uli dan menikmati tubuhnya. Saat mereka mendapatkan kabar Varong sudah pergi dari hutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD