Semenjak mengetahui secara jelas dan rinci tentang cerita sang ibu, Uli hanya diam. Tak banyak bicara meskipun Sadikin banyak melontarkan pertanyaan untuknya.
Uli yang belum sanggup menerima hanya menjawab sekenanya saja agar sang ayah tak merasa diabaikan.
Dan semenjak mengetahui itu semua, Uli sekarang paham kenapa ada beberapa jenis siluman ingin mendapatkannya, tapi Varong tidak ingin melakukan tanpa ada mutiara keabadian diantara mereka berdua. Ternyata dirinya bisa dikatakan sebagai tumbal jika melakukan hubungan suami istri tanpa sekat yang kuat.
Uli menjadi merinding sendiri membayangkan ada siluman yang mengincarnya saat ini. Ia sungguh berharap batu delima yang sedang ditanam di tubuhnya mampu menjaga dan melindungi seperti yang dikatakan Varong dan ayahnya.
"Tapi kok malam ini sangat berbeda? Kenapa aku tidak lagi melihat atau mendengar suara aneh seperti tadi malam?" gumam Uli. Mengucek matanya beberapa kali. Memastikan apakah benar tidak ada lagi makhluk halus yang terlihat di matanya.
"Kenapa mengucek mata seperti itu? Apakah kau mengantuk?"
Sadikin yang melihat Uli beberapa kali mengucek mata, tentu saja penasaran dengan apa yang putrinya itu lakukan.
Uli menggeleng. "Kemarin aku bisa melihat dengan jelas ada beberapa makhluk halus di rumah ini. Tapi sekarang sudah tidak ada."
"Termasuk melihat ibumu?"
"Iya. Makanya aku tahu kalau Ayah berduaan dengan wanita di kamar."
"Semuanya tidak bisa kau lihat atau ibumu saja? Kalau ibumu saja dia memang tidak ada disini. Ibumu sedang pergi ke sebuah gunung berapi untuk mencari mutiara keabadian agar bisa berubah wujud menjadi sosok manusia secara utuh."
"Mutiara keabadian?" Uli membeo.
"Iya. Mutiara keabadian itu dihasilkan oleh seekor naga raksasa yang hanya ada seratus tahun sekali. Banyak diincar oleh para siluman pula agar tahtanya tetap abadi hingga anak cucu mereka. Itulah yang ingin diperjuangkan ibumu agar bisa berkumpul kembali dengan kita. Disini. Tanpa ada sekat yang menjadi pembatas antara kita."
"Aku tidur dulu. Tiba-tiba saja aku mengantuk." Uli segera bangkit dari tempat duduknya. Tidak ingin lagi membahas tentang sosok ibu yang selama ini telah dianggap meninggal.
Sadikin yang paham dengan posisi Uli hanya mengangguk saja. Ia mengerti pasti sangat berat menerima sosok yang telah meninggal, kini malah hidup kembali. Sehingga ia membiarkan Uli untuk melangkah masuk ke kamar.
Sadikin ingin Uli sendiri dan berdamai dengan keadaan. Agar ia bisa menerima kenyataan yang ada. Meskipun kelak Lisni beruntung dan mendapatkan mutiara tersebut, tetap saja Uli yang menjadi prioritas utama baginya.
Di dalam kamar Uli duduk di tepi kasur tipis. Menatap pintu jendela yang masih terbuka meskipun malam telah mulai larut. Ini sudah menjadi kebiasaan jika suhu udara agak panas di dalam kamarnya.
Di sana, Uli termenung. Memikirkan kembali apa yang sang ayah ceritakan tadi. Kini ia harus menerima sosok seorang ibu dari alam lain.
Dan ….
"Tunggu." Uli mengerjap. Menyamakan antara cerita sang ayah dengan Varong, yang sama-sama mencari mutiara keabadian di sebuah gunung berapi. Sama-sama dari naga yang hanya didapat seratus tahun sekali. Itu artinya ibunya dan Varong sama-sama mencari mutiara yang sama pula.
"Kira-kira siapa diantara mereka berdua yang mendapatkan mutiara itu?" gumam Uli dalam hati. Mendesah panjang sebelum bangkit dan menutup pintu jendela. Sebelum berbaring dan tidur. Ia tidak ingin banyak berpikir saat ini.
Begitu banyak kejutan yang dilihat dalam dua hari ini, membuat Uli cukup shock dengan keadaan yang ada.
Kini Uli hanya bisa berharap jika mutiara keabadian itu bisa jatuh ke tangan ibu atau Varong. Vehsrsot juga bisa digunakan secara bergantian atau bisa mengabulkan dua permintaan sekaligus.
***
"Tumben malam ini dingin," gumam Uli seraya meraba untuk mencari selimut tipis yang ada di ujung kasur. Ia menggigil kedinginan saat ini.
Namun, semakin Uli menutupi tubuhnya dengan selimut makin dingin pula yang dirasakannya. Sehingga ia beringsut untuk duduk untuk mengambil selimut yang ada di lemari.
Dan betapa Uli terkejut. Menyadari tubuhnya tak lagi mengenakan pakaian. Ia juga tak mampu bergerak seakan membeku karena suhu dingin tadi.
Uli menangis. Ingat apa yang dikatakan Birawa jika banyak siluman yang mengincarnya. Terlebih lagi malam ini malam purnama, di mana banyak siluman keluar untuk mencari tumbal.
Uli terus saja mencoba bergerak. Melawan rasa aneh yang menyelimuti tubuhnya. Ia yakin kini sedang berada di bawah kuasa siluman yang ingin merenggut paksa kesuciannya.
Dan tentu saja Uli tak sudi jika itu terjadi.
Detik berikutnya, Uli merasakan tubuhnya menghangat. Matanya terpejam dengan nafas teratur. Tidak tahu kenapa, ia tidak mampu menahan kantuk yang amat berat.. Sehingga tertidur dengan sendirinya.
Tanpa diketahui Uli, batu delima sudah mulai bekerja. Membawanya ke bawah alam sadar agar tak tahu apa yang sedang terjadi.
Abidin, siluman kera yang telah siap menikmati tubuhnya, tiba-tiba saja tak sanggup bergerak. Padahal ia telah siap masuk, dengan kedua tangan dan kaki Uli berada di bawah kuasa dua siluman kera lainnya.
"Tuan …" teriak dua orang pengawal Abidin yang sedang membantunya membelenggu Uli, saat melihatnya tiba-tiba saja rubuh dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Saat tidak sengaja menelan aroma wangi dari batu delima hitam yang menguar dari area terlarang Uli.
Tidak ingin sang pemimpin tewas, kedua pengawal tersebut segera membawanya pergi. Meninggalkan Uli yang masih tertidur lelap, seakan tak ada yang terjadi dengannya.
"Susul mereka bertiga. Lenyapkan saat ini juga!" titah Birawa saat ia sampai di dalam kamar Uli, setelah mendapatkan panggilan dari batu delima yang bersarang di tubuh gadis itu.
Tak sulit bagi Birawa untuk sampai. Dalam hitungan detik ia telah berada di sana untuk menyelesaikan tugas yang tak mampu dijangkau batu delima.
Birawa menahan nafas saat melihat Uli terbaring tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Segera ia meraih kain yang dibuang Abidin ke sudut kamar, saking tak sabar menikmati tubuh Uli untuk menyempurnakan kekuatannya..
Setelah menutupi Uli dengan selimut dan meletakkan kain di sisi tubuh Uli, Birawa kembali membuka pintu batinnya yang sempat ditutup Varong. Melihat kejadian ini, Uli yang tak mampu melihat dunia lain Birawa tahu batu delima yang ada di tubuh Uli baru bisa bekerja ketika Abidin hendak masuk karena gadis itu tak tahu apa yang terjadi padanya.
Uli hanya merasa kedinginan dan tak sanggup bergerak sama sekali. Dan ketika Abidin hendak masuk, barulah batu delima bekerja saat rasa sakit mulai terasa di bagian bawah tubuhnya. Seketika kabut muncul dan meracuni siluman serigala tersebut.
Birawa menghela nafas panjang. Cukup tenang karena Uli berhasil diselamatkan dalam waktu yang tepat. Kini Ia hanya tinggal menunggu Uli bangun untuk menyampaikan beberapa peringatan untuknya.