Keesokan paginya, Nandini sedang membantu Sarah menyiapkan sarapan. Sedangkan Sarah menggedor pintu kamar mandi dengan muka terdesak.
"Rangga, cepatlah keluar, nanti teruskan lagi ritual mandimu. Perutku sudah sangat sakit."
"Iya sebentar mbak."
"Ini ketiga kalinya kamu bilang sebentar tapi sudah lebih 5 menit belum juga keluar," timpa Sarah.
"Ceklek," Pintu dibuka. Rangga keluar dan Sarah segera masuk dan menutup pintu kembali.
"Cepatlah memakai bajumu, lain kali bawah baju ganti kekamar mandi, tidak sopan didepan kakak iparmu seperti ini," ucap Nandini.
"Jadi jika hanya ada kamu tidak apa-apa," canda Rangga.
"Dari dulu aku sudah terbiasa melihatnya, tapi jika aku sudah menikah kamu harus lebih sopan."
"Jadi kapan kamu akan menikah, kukira kamu akan menjadi lajang sampai tua."
Nandini mengangkat tanganya yang baru saja memotong bawang, "Pergi ganti baju atau tangan bauh ini akan menempel di tubuhmu."
Rangga langsung berjalan cepat menuju kamarnya, dia melewati Yoko yang sedang menggedong putra kecilnya melihat ikan di aquarium. Dia mendekat dan mencium pipi kiri dan kanan baby Yasa sekilas dan pria kexil itu tersenyum manis menapakn empat giginya yang baru tumbuh.
"Kok lucu banget, kamu ikut uncle balik ke Jakarta aja. biar Mama sama Papa bisa buat adek baru."
"Uncle saja yang buat, makanya segera cari aunty," ucap Yoko dengan suara dikecilkan.
"Pakai baju sana, dan gendong Yasa sebentar aku harus bersiap-siap kekantor."
"Ya."
...
...
...
Nandini berangkat ke kantor bersama Rangga, sedangkan Yoko mengatar istri dan anaknya kerumah mertuanya lebih dulu.
"Nad, kenapa kamu tidak membeli mobil ? Aku yakin uangmu cukup untuk membeli atau credit mobil."
"Aku belum terlalu mahir, lagian tempat kerja dan kosanku sangat dekat jadi untuk apa aku membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan."
"Orang berlomba-lomba bekerja dan menabung untuk mencicil mobil dan rumah, sedangkan kamu tidak. sebenarnya untuk apa kamu bekerja ?"
"Ya tentu untuk uang."
"Lalu, uangnya untuk apa ?"
"Ditabung untuk hari esok, aku akan membutuhkan lebih banyak uang saat pindah ke Jepang."
"Jepang, kamu ingin pindah, kenapa ?"
"Ya, tapi usulan berkasku sedang diproses, aku berharap itu segera diterimah. Aku sudah jenuh berada disini, membutuhkan suasana baru."
"Apakah kamu berhenti konsultasi dengan dokter Hendra ?"
"Masih, aku melakukan konsultasi satu bulan sekali. Malam ini adalah waktuku untuk konsultasi."
Pesan masuk di ponsel Nandini.
+628** : "Hai, aku Edwin teman Sarah."
Nandini : "Hai, salam kenal. Aku Dini."
+628** : "Apa kau sibuk sore ini, aku ingin mengajakmu makan dan ingin mengenalmu lebih dekat."
Nandini : "Kirim saja lokasinya, aku akan datang".
+628** : "Bolehkah aku menjemputmu saja ditempat kerja ?"
Nandini : "Aku tidak ingin merepotkanmu."
+628** : "Aku tidak kerepotan, kebetulan aku bekerja di Bank tepat disebalah Pt. TAM."
Nandini : "Baiklah."
"Siapa ?"
"Temannya Sarah, dia mau ngajak makan malam".
"Pria yang ingin Sarah kenalkan padamu ?"
"Ya, dia bekerja di Bank sebelah tempat kerjaku."
"Bagaimana dengan konsultasi mu ?"
"Sepertinya, harus ku undur."
"Semoga sukses, jangan saja seperti satu bulan yang lalu. Kamu melarikan diri ditengah makan malam kalian."
"Temanmu itu gila, selama 30 menit kami berkenalan dia melontarkan semua pertanyaan yang berbau pernikahan. Kamu mau pernikahn dimana ? Indor atau outdoor ? Mau konsep yang gimana ? Mau undang tamu berapa ?"
"Hahaha..." Rangga terkekah memperhatikan mimik wajah Dini kesal.
"Dia jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama, dan dia ingin seger menghalalkan kamu. Bukankan pria seperti itu bagus ?"
"Kalau dia sebagus itu, kamu saja yang nikah sama orang itu. Aku yakin bahwa aku adalah orang kesekian yang dia ajak nikah dalam bulan itu."
"Aku masih normal, Din."
"Lagian aku masih belum siap untuk menikah."
Mobil Rangga berhenti didepan tempat kerja Dini.
"Makasih," lalu dini turun dari mobil.
....
....
....
Sore hari, Dini menunggu di depan pintu masuk perusahaannya. Lalu mobil Fortuner hitam berhenti tidak jauh dari tempat dia berdiri. Seorang pria turun dari mobil itu, dan tersenyum kearah Dini.
Pria itu tiba dihadapan Dini dan mengulurkan tangannya, "Edwin."
Edwin, pria ini memiliki tinggi sekitar 176/178, berkulit putih, hidung tinggi, tampan, serta style rapi dan bersih seperti karyawan bank lada umumnya.
"Dini", di membalas uluran tangan pria itu untuk berjabat tangan sekilas.
"Ayo, aku ingin mengajak mu ke cafe temanku".
"Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama karena ada janji dengan teman wanitaku", ucapnya berbohong.
Dini tidak suka berlama-lama jika pergi bersama pria, cukup makan bersama lalu pulang.
Mereka segera pergi dari sana, setelah sampai ditempat tujuan Edwin menarik kursi untuk diduduki Nandini. Makan malam mereka sepertinya terlihat baik-baik saja, untuk pertama kalinya Nandini bisa makan dan mengobrol selama 2 jam dengan pria baru dia kenal.
Sedangkan pria yang sedang berada di Brazil menatap dengan muram foto diponselnya yang menunjukan Dini sedang makan dan tertawa bersama pria asing.
Nandini barus saja berbaring ditempat tidur dan bersiap untuk beristirahat mengkhiri aktifitas hari ini. Poselnya berdering sangat keras diatas meja sebelah ranjangnya. Nandini tidak berniat untuk mengangkat, namun panggilan itu terus berulang. Dilihatnya nama pemanggil adalah Hero, dia mengubah ponselnya ke mode getar dan kembali tidur. Namun, getaran ponsel itu terus berlanjut dan dia tidak bisa kembali meneruskan tidurnya.
"Hallo," suara Nandini terdengar kesal.
"Kenapa kamu terdengar kesal dan lambat mengangkat telponku ?"
"Aku kesal karena kamu mengganggu tidurku. Aku bukan lambat mengangkat telpon pada awalnya memang berniat tidak mengangkat telponmu."
"Kalau begitu lanjutkan saja tidurmu, padahal aku ingin menanyakan oleh-oleh apa yang kamu inginkan."
"Hahahaha.... Sejak kapan kamu jadi baik begini ?"
"Aku dari dulu baik."
"Jika kamu baik harusnya kamu menjaga ku malam itu, bukan mengambil keuntungan seperti maniak."
"Itu benar-benar pengaruh alkohol, aku tidak mengendalikn diri malam itu. Sedangkan dipagi hari kamu menikmatinya juga."
"Jika bukan karena terlanjur basa pagi itu tidak akan terjadi. Sejujurnya, aku tidak bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu diantara kita, lebih baik kita menjaga jarak sementara waktu atau selamanya."
"Bukankah kamu bilang anggap saja seperti tidak terjadi apa-apa, kenapa kamu berubah ?"
"Hero segalah sesuatu terkadang tidak berjalan seperti keinginan kita. Aku butuh waktu untuk melupakannya."
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan aku akan menurutinya. Oya, jika kamu sempat datang kepernikahanku bulan depan."
"Jika aku mendapatkan cuti tentu aku akan hadir."
"Ya, aku menunggu kedatanganmu. Dalam beberapa hari aku akan mengirim undangannya. Bye...."
"Bye bye...."
Nandini menghela napas panjang, akhirnya dia mengatakan kalimat itu. Mereka adalah teman selama bertahun-tahun ini, tapi Nandini merasa hubungan mereka tidak akan bisa seperti sebelumnya lagi.