Baru saja dia mematikan telpon, Sarah memanggilnya.
"Hallo," ucap Nandini.
"Gimana ?"
"Apanya ?"
"Edward"
"Orangnya humoris, asik, supel dan barbar."
"Kalian cocok kalau gitu, dia baru aja ngechat aku, dia bilang makasih udah ngenalin kamu."
"Jalan masih panjang, tapi dia dessert yang lumayan lezat."
"Dasar, dia itu orang bukan makanan."
"Aku tahu, dia memiliki kesan pertama yang baik bagiku tapi nggak tahu selanjutnya."
"Bagus, ada harapan. Sudah dulu ya... aku mau ngurus anak."
"Jadi kamu nelpon cuma pengen tahu ini aja ?"
"Iya."
"Dasar kepo..."
"Bye bye". Sarah mematikan telpon.
Setelah mengakhiri panggiln dwngan Sarah, dia menerima pesan dari Edward.
Edward : "Din, weekend jalan yuk. Kebetulan temen-temen ngajak traveling.
Nandini : "Kemana ?"
Edward : "Gunung tangguban perahu."
Nandini : "Nggak apa-apa aku ikut ? entar ganggu waktu kamu dan teman-temanmu."
Edward : "Nggak, mereka juga bawah teman mereka juga. Makin rame makin asik."
Nandini : "Ya, aku mau."
Edward : "Besok pagi aku jemput ya..."
Nandini : "Nggak usah, kosanku dekat."
Edward : "Kalau makan siang bareng mau nggak ?"
Nandini : "Ya."
Edward : "Oke, sampai jumpa besok."
Nandini kali ini mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya. Namun, dia masih memikirkan ucapannya kepada Hero. Tidur tenang yang diharapkan menjadi kegelisahan.
"Apa aku tidak berlebihan ? Dia yang selalu support aku saat patah hati karena Dony."
Sedangkan di Brazil wajah Hero menjadi acuh tak acuh, namun jujur dia tidak bisa melupakan apa yang telah dia lakukan kepada Nandini. Dia memiliki perasaan bersalah, dan dia juga memiliki perasaan lain seperti yang dia rasakan kepada Lani.
"Aku tidak boleh seperti ini, dihatiku hanya ada boleh ada satu yaitu Lani."
...
...
...
Hari ini adala hari janjinya pergi bersama Edward traveling bersama teman-teman kantor Edward. Perjalanan ini setidaknya lebih baik dari pada hanya pergi berdua saja. Ini juga tidak dikatagorikan menyenangkan karena ini adalah perjalanan pasangan, teman Edward membawah kekasih mereka dan bertingkah mesrah dihadapan Nandini dan hal ini menimbulkan perasaan canggung baginya.
Nandini berdiri bersebelahan dengan Edward memandang ke arah lereng gunung yang memberikan pemandangan hijau dari hamparan kebun teh. Udara yang menyejukan cukup bagus untuk menenangkan diri. Sedangkan teman Edward yang lain sibuk mengambil foto bersama pasangan mereka.
"Dari kita tiba kamu lebih banyak diam, apa kamu tidak menyukai perjalanan ini ?" Tanya Edward.
"Tidak, aku hanya sedang menikmati suasana disini."
"Kamu tidak akan mengambil foto disini ? Biasanya para wanita akan menjadi narsis jika berada ditempat seperti ini."
"Sebenarnya aku ingin, hanya saja aku tidak tahu harus mengambil pose seperti apa," ucap Nandini.
"Sini aku akan membantu mengambil beberapa foto."
"Baiklah." Nandini tetap berdiri disana hanya tersenyum kearah kamera dan pose satunya dia melihat kearah lain dan masih nampak tersenyum.
"Sudahlah, aku benar-benar tidak bisa berpose."
Edward mengarahkan kamera kearah mereka berdua, dan Nandini hanya tersenyum seperti biasanya begitu juga dengan Edward.
"Ayo kita lanjut ke kawa ratu," ucap teman Edward.
Mereka melanjutkan perjalan dengan mobil, tiba disana mereka menjumpai lebih banyak wisatawan baik lokal maupun turis. Kawa ini memang sangat bagus dan transportasi kesini lebih mudah dibandingke dua kawa lainnya.
Diam-diam sedari tadi Edward telah banyak mengambil foto Nandini. Nandini terlihat seperti anak hilang di tengah keramaian, terlihat aura menyendiri dan tak tersentuh keluar dari dirinya.
"Edward, biarkan aku mengambil beberapa foto untuk mu," ucap Nandini.
"Baiklah," Edward menyerahkan kamera pada Nandini, dengan senang hati mengambil foto dengan angel sebagus mungkin. Dia memang tidak bisa berpose tetapi dia cukup pandai dalam fotografi.
Nandini memperlihatkan hasil foto yang dia ambil pada Edward. Nandini berucap, "Apa ini cukup bagus ?"
"Ya, ini lebih bagus dari aslinya."
"Kamu bisa aja." Nandini malu.
"Nan, mungkin ini bukan waktu yang tepat atau tempat yang tempat. Tapi, aku bener ingin serius sama kamu, aku ingin ada ikatan yang sah dintara kita."
"Tidakah ini terlalu awal, kita belum saling mengenal ?"
"Aku tahu, karena itu mari kita saling menganal dalam beberapa bulan ini. Saya rasa waktu 3 bulan sudah cukup untuk kita."
Nandini merasa pusing, memikirkan sebuah hubungan seperti itu. Nandini menghela napas panjang, "Jalani saja dulu, kedepannya aku tidak bisa menjanjikan apapun."
Hari sudah menunjukan pukul 4 sore, dan rombongan itu sudah tiba di keramaian kota Bandung lagi.
"Ed aku tidak ikut kalian lagi, sepertinya aku kurang enak badan dari tadi aku merasa sangat lelah," ucapnya dengan suara pelan pada Edward.
"Baiklah," Edward tidak memaksanya. Nandini diantar pulang lebih dahulu dan rombongan itu melanjutkan acara mereka.
Baru setengah hari perjalan, Nandini sudah merasa begitu lelah. Memasuki kamar kosannya dia langsung mencuci muka dan mengganti baju yang lebih longgar dan berbaring ditempat tidur. Akhir-akhir ini suasana hati Nandini sangat buruk, dia kehilangan gaira melakukan apapun, dan tidur adalah pilihan terbaik.
Sebelum dia tidur dia kembali mengingat perjalan sebelumnya, walaupun mereka bersama namun tiba-tiba saja dia tidak memiliki keinginan untuk berbaur dengan mereka. Setelah Edward menyatakan niatnya membuat Nandini merasa tidak nyaman dan mual saat bersama Edward. Nandini yakin orang-orang itu memiliki kesan buruk terhadap dirinya.
Dia bergumam, "Masa bodoh ini adalah perjalanan pertama dan terakhirku bersama mereka."
Beberapa hari berlalu, Dia tidak berkomunikasi dengan Edward. Terakhir berhubungan setelah Edward mengirimkan foto-foto dirinya. Nandini juga tidak perlu repot-repot untuk menghubunginya, karena begitulah sifat aslinya yang terlalu tidak peduli. Sifat ini muncul, karena si b******k yang sudah menyakiti hati Nandini.
Nandini kembali berkonsultasi dengan dokternya. Awalnya dia berpikir mentalnya sudah membaik namun tetap saja sama. Membuka hati ? bagaimana cara melakukannya.
Awalnya dia bahkan sangat menolak bersentuhan dengan pria manapun bahkan untuk bersalaman saja dia merasa enggan. Karena dia menjalani konsultasi rutin, berlahan dia kembali seperti orang normal yang dapat bergaul kembali. Namun perasaan mual dan stres mendadak setiap kali ada pria yang mengajak menjalani sebuah hubungan belum bisa dihilangkan. Selanjutnya, dia akan menghindari orang itu.
Nandini baru saja keluar dari kantor bersama rekan kerjanya tanpa sengaja berpapasan dengan Edward. Nandini hanya tersenyum samar dan meneruskan pembicarannya dengan rekan kerjanya. Tidak lama dari kejadian itu Sarah menghubunginya.
"Apa yang terjadi antara kamu dan Edward ?"
"Tidak ada apa-apa. Kenapa ?"
"Dia baru saja menghubungiku dan bertanya apakah ada sikapnya yang membuat mu tersinggung."
"Tidak ada, hanya saja gamophobia ku yang membuatku merasa tidak nyaman."
"Nandini, coba kamu lawan. Jika begini terus kamu akan menjadi perawan tua."
"Aku sudah mencoba, tapi sunggu itu tidak membuatku nyaman."
"Ya sudahla jika begitu."
"Maaf, aku mengecewakan lagi," ucap Nandini dengan suara senduh.
"Sudahlah, semua tidak bisa dipaksakan. Kamu mungkin belum bertemu dengan pria yang bisa membuatmu percaya."