Di kantor KUA, Hero, Lani, dan Jhony telah tiba di ruangan yang akan menjadi saksi bisu pernikahan kedua Hero. Lani duduk tepat disebelah Hero, sedangkan Jhony sedang berbicara dengan penghulu. Hero dan Jhony mengenakan jas hitam, Lani mengenakan gaun semi brokat berwarna peach.
Lalu, tibalah Nandini yang berbegang pada lengan Rangga. Dia mengenakan kebaya putih dengan rambut di sanggul sederhana. Dia mengenakan make up natural namun smoke eyes. Sedangkan Rangga, mengenakan pakaian kasual, tidak lupa dia mengenakan masker. Dibelakangnya ada Yoko dan Sarah, mereka mengenakan baju pasangan batik.
"Mempelai wanitanya sudah datang pak," ucap Jhony pada penghulu.
Lani menunjukan wajah cukup rumit melihat jika wanita yang akan menjadi istri kedua Hero adalah Nandini. Dia tahu dengan jelas siapa Nandini. Nandini seperti seorang putri bagi kelompok Hero.
"Kenapa aku tidak terpikir jika wanita yang mengandung anak Hero adalah Nandini," batin Lani.
"Apa kita langsung mulai saja," tanya penghulu.
"Ya pak," ucap Hero. Dia duduk di depan meja penghulu, dan Nandini segera duduk disebelahnya.
"Saksi silahkan duduk di samping," ucap penghulu. Segera Jhony dan Yoko duduk di kursi saksi.
Dengan waktu kurang dari lima belas menit semua proses telah dilewati. Saat ini Hero dan Nandini sedang menandatangani buku nikah. Tidak ada perasaan apapun yang di alami Nandini, dia hanya merasa ini lebih biasa dari pada menandatangani surat transaksi jual beli mobil. Tidak bahagia ataupun sedih, berbeda dengan Hero walau dia tidak menunjukan ada perasaan kemenangan di hatinya. Sedangkan Lani tersenyum namun ada perasaan tidak ikhlas berbagi suami dengan Nandini.
"Mereka hanya menikah diatas kertas, Hero sepenuhnya dalam genggamanku. Nandini aku harap kamu menjauh atau aku tidak berjanji akan membiarkanmu lepas begitu saja," batin Lani.
Lani menerima telpon dari Mamanya, dia keluar lebih dulu untuk mengangkatnya.
"Ada apa?" Ucap Lani.
"Apa pernikahannya selesai?"
"Ya."
"Kirimkan foto wanita itu," ucap Margareta.
"Nanti aku akan mengirim nya, sudah dulu." Lani mematikan ponselnya.
Hero dan Jhony keluar lebih dulu, mereka menghampiri Lani.
"Sayang, kamu pergi dulu ke hotel bersama Jhony. Ada hal yang harus aku dan Nandini lakukan. Nanti malam aku akan kembali."
"Baiklah, apa kita akan makan malam bersama?"
"Sepertinya tidak, maaf."
"Baiklah, aku menunggumu," ucap Lani. Kemudian, dia mencium kedua pipi Hero bergantian. Lima pasang menyaksikan interaksi mereka.
"Titip suamiku ya Dini," ucap Lani.
"Memang dia anak kecil, pakai dititip segala," batin Nandini. Dia tidak menjawab hanya tersenyum membalas Lani.
"Ayo," ucap Lani pada Jhony. Kedua orang itu segera pergi.
"Kak, apa kamu sudah memberikan undangan pada rekan di kantor kita?"
"Ya, saya hanya mengundang staff lama," ucap Yoko.
"Ya, mereka sudah lebih dari cukup," ucap Nandini.
"Dini, aku harus kembali ke lokasi shooting. Malam ini aku tidak bisa hadir," ucap Rangga.
"Ya, aku mengerti. Terimakasih sudah menyempatkan hadir disini," ucap Nandini.
"Dini, ayo kita mengambil foto di studio," ucap Hero.
"Untuk apa?" Tanya Nandini.
"Setidaknya kita harus mengambil beberapa foto, untuk di pajang di villa agar teman-teman kantormu melihat jika kita benar-benar sudah menikah," jawab Hero.
Apa yang di ucapkan Hero memang benar, jadi Nandini hanya mengangguk.
"Kalian pergi saja, kami juga harus pulang dulu. Baby Yasa harus di mandikan," ucap Sarah.
"Ya, sampai jumpa malam ini," ucap Nandini.
...
...
Nandini dan Hero tiba di studio foto paling bagus disana. Semuanya sudah di siapkan, mulai dari latar pengambilan foto dan stylish, make up.
"Tuan Hero kami sudah menyiapkan dua gaun yang harus dikenakan. Jadi kita ambil foto dengan kebaya ini atau tidak?"
"Ambil beberapa dengan kebaya ini, nanti baru berganti," ucap Hero.
"Itu melelahkan, aku tidak mau," ucap Nandini.
"Menurutlah, kamu hanya duduk dan berpose. Kalau kamu melakukannya dengan baik kita akan cepat selesai, foto ini harus segera jadi sebelum acara makan malam di mulai agar rekan kerjamu bisa melihat," ucap Hero.
"Baiklah," ucap Nandini.
Nandini sebenarnya suka berfoto, saat SMA dia sering mengikuti ajang model mewakili sekolah. Dia dan Hero mengambil foto pertama, mereka duduk di sebuah kursi. Mereka duduk dengan posisi siap mereka menunjukan cicin pernikahan bersama dan satu tangan memegang buku nikah. Foto kedua mereka bergaya bebas, saling menatap tangan masih memegang buku nikah.
Hero melihat fotonya dan berucap,"Saya rasa ini cukup, ganti gaun."
Nandini mengenakan gaun putih, tanpa lengan. Gaya rambutnya tetap sama, hanya dia mengenakan hiasan mahkota di kepalanya, dan sarung tangan menutup hingga sikunya. Hero juga berganti pakaian mengenakan jas putih. Mereka berfoto dengan latar bunga berwarna warni. Mereka mengikuti instruksi dari fotografer.
salah satu foto yang di ambil, Nandini memegang setangkai mawar merah, Hero memeluknya dari belakang, mereka saling bertukar pandangan. Lalu, dengan posisi yang sama, perbedaannya Nandini melihat ke kamere, Hero mencium pucuk kepala Nandini dari belakang.
Foto ketiga, Hero dan Nandini saling berpegangan tangan. Wajah mereka saling berdekatan hingga ujung hidung masing-masing bersentuhan. Mereka saling bertukar senyum. Hero merasa berdebar, begitu juga Nandini. Nandini tidak pernah merasa seintim ini dengan seorang pria selain Dony.
"Sangat luar biasa, ini adalah pemecah rekor, dalam waktu kurang dari dua menit saya mendapatkan banyak foto yang bagus," ucap fotografer yang sangat puas.
"Ganti gaun," ucap Hero.
"Tunggu dulu, saya ingin mengambil foto kalian sendiri-sendiri," ucap fotografer.
"Lakukan dengan cepat," ucap Hero. Dalam lima menit mereka menyelesaikan foto sendiri-sendiri.
Nandini berganti gaun, dia mengenakan gaun mermaid sabrina berwarna red rose, memiliki lengan panjang brokat transparan. Bagian setengah paha hingga ujung gaun juga semi brokat yang transparan. Make-upnya di buat lebih tajam dan Rambutnya digerai lurus. Perpaduan make up, gaun dan bentuk tubuhnya yang cukup tinggi benar-benar mengekspos sisi seksi dan elegan seorang Nandini.
"Kurangi beberapa kilo saja, dia sudah bisa menjadi seorang super model," puji stylish. staf lain hanya mengangguk setuju.
Hero mengenakan jas hitam, dan dasi merah, kali ini baju yang dia kenakan terlihat jauh lebih berkelas dari jas hitam sebelumnya. Dia menunjukan sisi yangblebih elegan dan berkelas. Hero mengeluarkan sebuah kotak yang berisi seperangkat perhiasan berlian.
"Kenakan ini," ucap Hero.
Nandini melihat perhiasan itu, dia yakin harganya bisa membeli sebuah mobil sport. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya menerima saat stylish memasangkan di tubuhnya.
"Kita akan mengambil foto indoor dan outdoor," ucap fotografer.
Mereka berfoto dilatar gelap lebih dulu, foto mereka terkesan lebih formal dan lebih intim dari sebelumnya. Hero dan Nandini merasa pengambilan gambar lebih lama dari yang sebelumnya.
"Bisakah kalian saling menc**m?" Tanya fotografer.
"Tidak perlu foto seperti itu," ucap Nandini.
Namun berbeda dengan Hero, dia menarik Nandi kedalam pelukannya lalu bibirnya mendarat di bibir wanita itu. Nandini terkejut, dan dia bisa merasakan dadanya berdebar. Fotografer tidak menyia-nyiakan momen, dengan keahliannya dia mengambil foto dari sudut yang bagus.