Tidak perlu foto seperti itu," ucap Nandini.
Namun berbeda dengan Hero, dia menarik Nandi kedalam pelukannya lalu bibirnya mendarat di bibir wanita itu. Nandini terkejut, dan dia bisa merasakan dadanya berdebar. Fotografer tidak menyia-nyiakan momen, dengan keahliannya dia mengambil foto dari sudut yang bagus.
Hero menarik bibirnya sejenak dan berucap, "Jika ingin cepat selesai perbaiki ekspresi mu ini."
Kemudian Hero kembali menempelkan bibirnya. Mereka murni hanya menempelkan bibir bukan berciuman. Nandini hanya menyimpan protesnya dalam hati, "Kenapa harus, aku bukan seorang model yang membawa sebuah brand yang dituntut harus profesional."
Fotografer melihat hasil yang dia peroleh. Lalu dia berucap, "Oke, cukup. Kita pindah ke atap."
Setengah jam berlalu, mereka sudah cukup mengambil foto. Nandini merasa dia seperti menjadi seorang model saat pengambil foto dengan gaun ini. Dia melepaskan sepatu hellnya, dan berjalan menuruni tangga bertelan**ng kaki. Jero mengambil sepatu itu dari tangan Nandini.
"Biar aku yang pegang, perhatikan langkahmu," ucap Hero.
"Terimakasih."
Nandini pergi keruang ganti, kelompok stylish membantunya melepas make up dan menganti baju. Hero sudah menyiapkan gaun santai dan sendal flat untuknya.
Sementara itu, Hero sedang berbicara dengan fotografer mengenai foto yang akan di cetak besar. Foto dengan kebaya putih dan buku nikah, foto memegang bunga dengan gaun putih saat Hero mencium pucuk kepalanya, Gaun putih saat ujung hidung mereka saling bersentuhan, dengan gaun merah saat mereka setengah berpelukan dengan latar langit biru dan beberapa burung merpati berterbangan di atas mereka, dan foto mereka yang seolah berciuman dengan Nandini yang memejamkan mata dan Hero menatapnya, foto-foto itu yang diminta Hero untuk di cetak besar.
"Jam tujuh malam harus tiba di villa ku," ucap Hero.
Staff melihat jam kurang dari empat jam lagi dari waktu ke yang ditentukan. Lalu mereka menjawab, "Baiklah tuan."
Nandini keluar mengenakan gaun santai selutut berwarna blue sky. Wajahnya terlihat sangat lelah. Nandini berucap, "Ayo pulang, aku mengantuk."
"Ayo," ucap Hero. Dia mendekati Nandini dan menggenggam tangannya. Apa yang dilakukan Hero membuat Nandini merasa berbeda.
"Kenapa jantungku? Setelah sesi foto itu, bersentuhan dengannya membuatku merasa canggung," batin Nandini.
"Hei kenapa bengong, ayo kita pulang," ucap Hero.
"Eh, iya."
Di perjalanan pulang Nandini tertidur, dia tanpa sadar menyenderkan kepalanya di bahu Hero. Pria itu tersenyum, dia melingkarkan tangannya di pundak Nandini, sambil menepuk pelan membuat wanita itu semakin lelap dalam tidurnya
Setelah tiba di villa, Hero sengaja tidak membangunkan Nandini, dia mengendong Nandini tanpa segan dengan dua pengurus rumah.
Hero membaringkan Nandini di kasur king size di kamar utama vill. dia menyelimuti Nandini, lalu mengatur suhu pendingin ruangan. Dia segera berganti ke pakaian rumah. Lalu, mereka ikut berbaring disebelah Nandini. Sementara itulah, Lani terlihat tersenyum sendiri sambil memegang ponselnya, karena dia sedang berkirim pesan dengan kekasihnya.
...
...
Hari sudah semakin sore, Nandini terbangun dari tidurnya. Dia melihat hero masih terlelap sambil memeluk sebuah guling menghadap kearahnya. Dilihatnya hari hampir pukul lima, segera dia bergegas untuk pergi mandi. Tidak lama setelah itu, Hero terbangun wajah rumit, dan segara dia berlari memasuki kamar mandi menuju closed untuk membuang air kecil. Setelah selesai, dia menyadari ada yang tidak benar. Nandini berbalik menghadap dinding dibawah shower, posisi mereka dipisahkan oleh cermin bening.
Sehingga l, Hero bisa melihat punggung Nandini yang toples dengan jelas.
"Jika sudah selesai keluarlah dulu," ucap Nandini tanpa menoleh. Dia sangat malu sekarang.
"Ya, maaf," ucap Hero dia langsung keluar. Dia terlihat tersenyum, mengetahui jika Nandini merasa malu. Dia sudah biasa melihat wanita tanpa busana dengan body gitar spanyol, jadi melihat Nandini barusan tidak membuatnya terkejut.
Tidak berapa lama Nandini keluar dengan mengenakan bathrobe dan handuk membalut rambutnya. Dia terlihat kesal dan berucap, "Kenapa kamu masuk ke kamar mandi sudah tahu aku sedang di dalam."
"Pertama aku kebelet dan tidak menyadari jika kamu di dalam. Kedua, salahmu yang tidak mengunci pintu," jawab Hero dengan santai.
"Pintu kamar mandi rusak. Lagi pula kenapa kamu tidur disini, di villa ini masih ada kamar lain," ucap Nandini.
"Ya kamar lain banyak, tapi tempat tidurnya tidak ada. Di rumah ini hanya kamar ini dan kamar pembantu yang memiliki perabotan . Ini tempat persembunyian ku jadi aku pikir tidak akan ada tamu."
"Kamu harus menyiapkan satu kamar lagi, saat kamu menginap disini kita bisa tidur dikamar berbeda," ucap Nandini.
"Jadi kamu berharap aku sering menginap disini?"
"Bukan begitu, siapa tahu kamu ada pekerjaan yang mengharuskan datang kesini," ucap Nandini buru-buru.
"Benar juga, bergantilah pakaian. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu di kamar ganti," ucap Hero sambil berjalan memasuki kamar mandi.
Nandini masuk ke kamar ganti, membuat dia sangat terkejut. disana ada beberapa gaun yang di gantung dekat dengan kemeja milik Hero. Tidak hanya baju ada juga beberapa sepatu dan tas tangan dengan merek mendunia. Dan juga pakaiannya yang dirumah Yoko sudah kembali ke ruangan ini. Ruangan ini didominasi dengan pakaiannya dan sebagian lemari berisi pakaian Hero.
Di depan lemari sebuah gaun sabrina panjang yang terlihat sangat simpel dan elegan, Nandini yakin ini gaun yang di maksud Hero.
Saat Hero keluar dari kamar mandi, Nandini sudah duduk didepan cermin. Dia sedang mengerikan rambutnya dengan hair dryer.
Karena rambutnya yang panjang dia nampak kesulitan, Hero segera mengambil hair dryer itu.
Hero berucap, "Biar aku bantu."
"Terimakasih," ucap Nandini.
Nandini melihat hero dari pantulan cermin, dia terlihat sangat serius. Hal ini juga membuatnya mengingat kembali tentang Dony. Mantannya itu sangat sering membantunya mengerikan rambut.
"Harusnya kamu mengerikan rambut dulu sebelum mengenakan gaun ini," ucap Hero.
"Gaun ini sangat bagus, membuatku tidak tahan untuk mengenakannya," jawab Nandini.
Hero melihat wajah Nandini di cermin dan dia berucap, "Kamu juga belum mengenakan make up."
"Ya, setelah mengerikan rambut saja. Jika aku mengenakan make up lebih dulu bisa-bisa riasan ku lutur karena keringat yang di akibatkan oleh panas hair dryer," jawab Nandini
Hero tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya fokus dengan pekerjaannya saat ini. Setelah selesai mengerikan rambut Nandini, dia mengerikan rambutnya sendiri. Karena rambutnya yang pendek itu tidak memerlukan waktu lama. Dia mengenakan kaos putih yang memiliki kera tinggi dan celana cino senada, lalu di lapisi dengan blazer berwarna mocca. Tidak lupa di tangannya terpasang jam rolex seharga mobil.
Saat kedua orang itu turun, orang-orang dari studio foto tiba dengan beberapa foto yang sudah di cetak besar. Dua orang sedang memasang tiga foto yang besar di ruang tamu. Di ruang keluarga sebuah dinding diganti dengan wallpaper foto mereka. Ada juga yang sedang memasang foto di ruang makan, dan lantai atas. Nandini tidak berkomentar apapun, walau dia merasa jika rumah ini hampir menjadi pameran foto.
"Seharusnya tidak berlebihan seperti ini," batinnya.
"Dia pasti suka," batin Hero.