14. Persetujuan II

1065 Words
"Nandini, coba kamu pikirkan baik-baik tentang pernikahan ini. Kita hanya menikah demi l anak dalam perutmu. Kamu tetap akan menjalani kehidupanmu seperti biasanya dan kami berhak memiliki kehidupan pribadimu. Pikirkan tentang anak kita, pengakuan negara sangat dibutuhkan untuk mendaftarkan anak kita ke sekolah. Atau kau berniat mendaftar anak itu atas nama saya dengan Lani?" Nandini tersenyum mengejek, lalu berucap, "Bermimpi pun takan ku izinkan." "Karena itu ayo daftarkan pernikahan kita." "Maksudmu kita akan menikah secara hukum?" "Ya." Nandini terkejut, dia berpikir dia hanya akan dinikahi secara siri saja."Lalu, Lani?l bagaimana?" "Saya tetap akan menikahi Lani. Dia sudah mengetahui perihal kehamilan mu dan dia akan menyetujui pernikahan kita," ucap Hero. "Seriously?" Nandini tidak yakin. "Ya, saya sudah membicarakan pada Lani, saya sudah mengatur pernikahan kita sebelum keberangkatan honeymoon kami. Kita menikah di KUA tiga hari setelah pernikahan saya dan Lani. Saya tidak bisa membuat pernikahan kita tampak di publik," ucap Hero. Masih ada beban di wajah Nandini, dia memegang perut dan berucap, "Saya juga tidak ingin pernikahan itu diketahui publik. Tapi saat perutku besar orang akan berspekulasi buruk tentang saya dan anak ini. Saya tidak pedulikan dengan pandangan orang lain tapi pandangan rekan kerja saya, karena hal itu akan mempengaruhi karier saya juga." "Bagaimana, jika kamu mengundang beberapa rekan kerjamu setelah pernikahan ke Villa untuk makan malam. Kamu bisa memperkenalkan saya sebagai suamimu dan menunjukan buku nikah kita." "Itu ide yang bagus." "Tapi saya akan membuat pengaturan agar mereka tidak mengambil foto kita bersama, bagaimanapun pernikahan ini tetaplah sebuah rahasia." "Baiklah. Saya akan mengundang teman di kantor cabang tempatku bekerja saja. Saya masih memiliki beberapa syarat pernikahan," ucap Nandini. "Katakanlah." "Pernikahan ini hanya sebuah status, tidak ada hubungan intim. Jika kamu menginginkannya lakukan saja dengan istri pertamamu atau kekasihmu yang bertebaran diluar sana." "Baiklah, saya tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan. Namun, kamu harus tinggal di Villa dan menerima nafkah ekonomi dariku." "Tidak, saya memiliki pekerjaan dan uang. Saya bisa menghidupi diri saya dan anak ini. Kami juga bisa mencari rumah." "Saya melakukannya untu anak, bukan untuk kamu. Binatang saja akan memberikan kehidupan yang terbaik untuk anaknya apa lagi saya. Saya sangat mampu memberikan kehidupan mewah dan pendidikan terbaik, Saat ayahnya bisa memberinya kendaraan untuk mempermudah kehidupannya, jadi kenapa sebagai ibu harus melemparkan anak nya kejalan kerikil?" Nandi bungkam namun sangat terlukis ketidak setujuan di wajahnya. Hero kembali berucap, "Nandini, hidupmu sekarang bukan hanya milik diri sendiri tapi juga milik anak. Jadi, jangan egois dan keras kepala. Gengsi tidak lebih berharga dari masa depan anak saya." "Baiklah, tapi saya akan pindah setelah kita resmi menikah." "Saya setuju, saya tidak akan membuat perjanjian kontrak tertulis karena itu terlalu dramatis. Kita sudah berteman lama, jadi kamu bisa memegang ucapan saya," ucap Hero. Dia terlihat lega kerena diskusi ini terpecahkan, dia merasa terlalu tamak tapi ini bukan masalah. Ini adalah keberuntungan karena dia memiliki Lani wanita yang sangat ideal menjadi istrinya seorang pengusaha seperti dia. Dan Nandini, wanita yang telah dia sukai entah sejak kapan, dihadapan wanita ini Hero bisa menjadi dirinya sendiri. "Bagaimana dengan perceraian? Saya rasa pernikahan kita tidak perlu di pertahankan terlalu lama, karena yang saya butuhkan hanya surat nikah." Hero merasa kesal dan berucap dalam hati, "Menikah belum, dia sudah memikirkan perceraian." "Saya mendengar kamu memiliki gamophobia, bukankah dengan status ini kamu bisa menjadikan saya tameng untuk menghindari hubungan dengan pria lain?" "Dari mana kamu tahu?" "Baru saja." Nandini tidak merah, namun ada kesedihan di wajahnya akan penyakit psikologis yang dia derita. Nandini berucap dengan nada sedih, "Yang kamu ucapkan ada benarnya juga, saya sudah bertahun-tahun menjalani terapi di psikiater tapi masih saja seperti ini. Luka itu terlalu dalam menghancurkan semua kepercayaan saya terhadap cinta bahkan kepercayaan terhadap diri sendiri." "Sudahlah jangan di ingat lagi, saya tidak rela jika kamu meneteskan air mata lagi untuk Dony," ucap Hero. "Sudah terlalu banyak yang ku tumpahkan untuk dia," ucap Nandini. Lalu dia menghela napas panjang. "Apakah kamu akan hadir di pernikahan dan Lani?" Hero sengaja membelokan obrolan, agar Nandini melupakan Hero. "Rangga meminta saya datang bersamanya, setidaknya saya bisa menghemat uang jalan." "Tapi saya takut kamu lelah, itu tidak bagus bagi kandungan mu." "Saya sudah berjanji jadi saya akan tepati." Hero sebenarnya tidak bisa membayangkan hal ini, calon istri keduanya akan hadir di pernikahannya dengan istri pertamanya dengan pria lain. Nandini juga tidak akan bisa dilarang. "Ayo periksa kandungan mu dulu, pastikan dia baik-baik saja sebelum kamu melakukan perjalan jauh," ucap Hero. "Ini belum dua minggu sejak kamu membawa ku ke rumah sakit. Dokter akan mentertawakan saya jika selalu memeriksanya. Lagi pula vitamin dari dokter masih ada, hanya saja saya masih sering mual saat pagi hari," ucap Nandini. Hero melihat perut Nandini, kemudian dia.menatap wajah Nandini sambil berucap, "Apa boleh saya memegang perutmu mu untuk berinteraksi dengan anak saya?" Nandini ragu, tapi melihat wajah yang sangat berharap itu membuat dia menganggukkan kepalanya. Jero meletakan telapak tangan kananya di perut Nandini, dia mengelus pelan dan berucap, "Hai anakku,cepatlah tubuh dengan sehat, Papa menantikan kamu lahir ke dunia ini." Nandini merasakan emosi yang rumit dengan kelakukan Hero. Dia merasa canggung, malu, bahagian dan nyaman. Diruang sebelah sepasang suami istri tersenyum mendengar obrolan mereka berdua berdua. Hero menarik tangannya, kemudian dia berdiri dan berucap, "Saya harus segera kembali ke Jakarta, karena masih ada beberapa pekerjaan." "Ya." Nandini juga beranjak mengantar Hero ke depan pintu, tiba-tiba Hero berbalik dan mengecup kening Nandini. Dia tersenyum dan berucap, "Jaga kesehatanmu." Nandini yang masih dalam mode terkejut hanya mengatakan "Ya." Hero segera keluar dan masuk ke mobilnya. Setelah mobil itu melaju pergi, dia menutup pintu dan kembali ke ruang makan. Disana Yoko dan istri telah menyantap hidangan somay lebih dulu. "Kenapa tidak kamu undang untuk makan bersama?" Tanya Yoko. "Tidak kepikiran, lagi pula dia masih banyak urusan," ucap Nandini dengan santai sambil menempatkan somay di dalam piring. Setelah Nandini bergabung di meja, Yoko bertanya lagi, "Bagaimana dengan pernikahanmu?" "Kami akan melakukannya di KUA, Lani akan datang. Setelah itu, akan mengundang rekan kerja di kantor untuk makan malam di Villa Hero. Jadi kakak, bantu saja membagikan undangan makan malam, disana saya hanya akan memperkenalkan hero sebagai suami agar rekan kerja kita tidak berpikir buruk tentang saya." "Ya, itu ide yang bagus. Apa kamu sudah memberitahu Rangga?" "Belum, tunggu dia kesini baru akan diberi tahu," jawab Nandini. Nandini terlihat santai dimuka, tapi jauh di lubuk hatinya dia masih sangat bimbang. Dia tidak akan mempedulikan perasaanya karena prioritasnya adalah masa depan bayi dalam kandungannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD