15. Kekasih Rahasia

1028 Words
Rangga membawa Nandini tinggal di apartemennya dalam beberapa hari ini. Dia membawa Nandini ke kamar tamu yang sudah disiapkan. Lalu mereka kembali berkumpul di ruang tengah. "Setelah dua tahun kamu pindah kesini, ini kali pertama aku berkunjung. Dan apartemen mu sangat luas," ucap Nandini sambil memperhatikan interior apartemen dua lantai itu. Nandini melihat sebuah foto yang berukuran 25R dengan bingkai gold. Itu adalah foto Rangga bersama seorang wanita cantik dengan rambut hitam lurus. Foto itu di ambil di atas perahu di tengah danau, mereka terlihat sangat bahagia. "Kapan Marisa akan kembali ke Indonesia?" Tanya Nandini. "Dia selalu kembali setiap tahun, tapi untuk menetap mungkin belum. Sekarang dia memiliki karier yang stabil di Paris," ucap Rangga. "Kalian sudah berpacaran lima atau enam tahun, tidakkah kalian memikirkan pernikahan?" "Tentu aku memikirkannya, tapi mungkin dia tidak. Sepertinya aku harus segera membuang foto itu," ucap Rangga. "Kenapa?" "Tidak ada harapan bagi hubungan kami untuk melangkah ke depan. Dia sudah melihat banyak pria hebat di luar sana, dan aku tak ada lagi di matanya. Lagi pula aku sedang membuat masalah yang cukup serius sekarang," ucap Rangga yang terlihat bingung. "Masalah apa? Kamu selalu terlihat funny, aku kira di hidupmu tidak akan bertemu masalah," ucap Nandini. "Selingkuhan ku hamil, dan kami akan menikah," ucap Rangga singkat padat dan jelas. "Selingkuhan? Siapa? Sejak kapan? Oh my god, pria paling setia sepertimu bisa selingkuh." "Hubungan kami baru masuk dua bulan, dia lawan mainku, Marion Anggista. Kami terlibat cinta lokasi, tapi aku ke bablasan hingga membuat dia hamil," jawab Rangga. "Kebablasan atau disengaja, sudah berapa kali kamu tidur dengan dia. Jangan bilang kami sering di Bandung tinggal bersama dia," tebak Nandini. "Ya, kami sering menghabiskan waktu di tempat yang sama. Sebenarnya bisa di bilang menghamilinya sesuatu yang di sengaja karena aku bingung dengan Marisa. Mungkin dengan begini aku bisa mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kami," ucap Rangga. "Jika kamu sudah mengambil keputusan, segera beri tahu dia. Jangan di tunda atau ini akan menjadi masalah baru. Tapi apa Marion tahu tentang Marisa, secara kalian sudah lama tidak mengapload foto bersama." "Saya bilang kami sudah putus, dan dia percaya. Lagi pula kami sudah LDR hampir dua tahun dan hubungan kami juga tidak baik seperti sebelumnya." "Akhiri dengan benar, bagaimanapun itu belum dihitung berakhir." "Baiklah aku akan menelpon Marisa sekarang," ucap Rangga. Dia mencoba menghubungi Marisa, namun tidak di angkat. Rangga mengirim pesan, "Angkat sebentar, ada hal penting yang ingin ku sampaikan." "Satu menit," balas Marisa. Telpon tersambung, Rangga mengaktifkan loud speaker. "Katakan, aku sedang bekerja," ucap wanita itu. "Aku tidak akan mengganggumu setelah ini, ayo putus, menyebalkan memiliki hubungan ini." "Baiklah, kata ini sudah aku tunggu sejak lama," ucap wanita itu. "Selamat kalau begitu," ucap Rangga. Dia merasa kelegaan yang teramat luar biasa. "Sedikit sakit mendengar jawabannya, tapi hatiku menjadi lega," ucap Rangga. "Lalu kenapa kamu tidak membawa Marion denganmu?" "Dia sedang istirahat, kandungannya masih lemah. Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada anak kami," ucap Rangga. Alarm ponsel Nandini berbunyi, Nandini berucap, "Ini waktunya aku meminum vitamin. Tunggu sebentar." Nandini pergi mengambil obat, dia hanya membawa beberapa butir dan meminumnya tepat dihadapan Rangga. "obat dan vitamin mirip dengan milik Marion," ucap Rangga. "Mungkin memang sama," ucap Nandini. "Ya mung, sebentar ada yang salah," Rangga menatap horor pada Nandini, "jangan bilang kamu hamil. Hamil anaknya Hero." "Ya." "Gila..." wajah Rangga lebih syok dari wajah Nandini saat tahu dirinya hamil. "Kenapa wajahmu bahkan lebih stres dari wajahku saat tahu kehamilan ini?"Tanya Nandini. "Apa Hero tahu?" "Tahu." "Lalu, bagaimana? Dia akan menikah besok Nandini, atau kalian akan menikah sirih atau dia tidak ingin bertanggung jawab?" "Kami akan menikah empat hari lagi secara hukum dan agama. Lani tahu mengenai rencana ini, mungkin dia akan hadir di pernikahan kami," jawab Nandini. "ekspresi seolah kamu sedang bercerita tentang orang lain, apa kamu tidak merasa situasi ini menyulitkan mu?" "Aku harus bagaimana semuanya sudah begini, aku butuh surat-surat untuk mengurus akta kelahiran anakku. Tanpa surat nikah bagaimana aku mendaftarkannya? Lagi pula aku sudah mengurung diri dan bersedih berhari-hari karena hal ini, aku hanya perlu menikah dan mendapatkan surat nikah bukan membangun hubungan emosional," jawab Nandini. "Jika dimasa depan kamu ada masalah segera ceritakan kepadaku, jangan diam seperti ini. Aku benar-benar sangat terkejut, apa kak Yoko dan istrinya tahu?" "Ya, mereka menasehati ku untuk menerima ajakan nikah dari Hero. Kamu kapan akan menikah?" "Bulan depan, saya harus menyelesaikan shooting film terakhir. Mungkin kami akan merahasiakan untuk sementara, karena ada beberapa kontrak yang melarang kami untuk mempublikasi hubungan ke publik." "Aku juga, pernikahan ini rahasia. Ajaklah Marion hadir di pernikahanku. Walau aku tidak menikah dengan orang yang kucintai, aku ingin sahabatku hadir." "Baiklah." ... ... Sementara itu Lani dan Ibunya sedang berada di salah satu kamar hotel tempat acara pernikahan yang akan digelar. Ibunya sedang membantu memeriksa gaun pernikahan, sedangkan lani sedang duduk santai sambil menunggu hena di tangannya kering. "Apa kamu sudah tahu siapa wanita itu?"Tanya Ibu Lani. "Belum, Hero tidak ingin memberitahuku," jawab Lani. "Sial, kamu kurang bisa menggali informasi. Jika kita tahu dari awal Mama bisa membuat anak itu gagal." "Ma, sudahlah. Lagipula aku yang akan menjadi nyonya, istri sah, istri pertama Hero," ucap Lani. "Anak kamu juga harus menjadi cucu pertama dan anak pertama keluarga itu. Cucuku, anakmu harus menjadi pewaris utama." "Itu urusan nanti Ma, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Dan jangan katakan untuk melenyapkan anak itu, itu melukai hati nurani ku sebagai seorang dokter," ucap Lani tegas. "Sekarang kamu bisa berkata seperti ini, tapi di masa depan anak itu dan ibunya akan menyulitkan mu. Mereka hanya akan menjadi benalu." "Ma, berhentilah berbicara. Aku butuh istirahat," ucap Lani lembut. "Baiklah, kamu istirahat lah. Mama akan melihat persiapan ballroom." Wanita itu pergi meninggalkan Pani sendiri, sementara itu Lani mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke nomor tanpa nama. Lani: "Sayang, datanglah." +62**: "Aku sudah di lift," Tidak berapa lama, pintu di ketuk, "Tok tok tok." Lani beranjak membuka pintu, seorang pria bermata coklat dengan rambut hitam pekat masuk. Dia sedikit lebih pendek dari Hero, tapi dia tidak kalah tampan. Lani langsung memeluk nya, sambil berucap, "Aku merindukanmu." "Miss you to," ucap pria itu. Dia langsung mencium bibir Lani dengan rakus. Mereka berdua saling berpelukkan erat, dan memanggut bibir satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD