Lani sudah berada di tempat tidur dengan pakaian yang sudah berantakan. Pria itu sudah bertelanjang d**a, dia sedang bermain dengan d**a Lani yang sudah terekspos.
"Ah,, ehm," Lani menggigit bibir bawahnya saat merasakan salah satu tangan pria itu sedang mengelus daerah sensitifnya.
Pria itua akan menarik kain segitiga yang menutup daerah terlarang Lani, namun tangannya dicekal Lani. Wanita itu berucap, "Jangan disana, aku tidak ingin Hero mendapatkan aku yang tidak suci lagi. Setidaknya tunggu setelah dia yang membukanya."
Ucapan Lani berhasil menghapus hasrat pria itu. Pria itu bangkit dari tubuh Lani, dengan wajah yang terlihat marah. Dia berucap, "Seharusnya aku memang tidak disini. Aku terlalu bodoh datang ke Jakarta untukmu dengan harapan kamu akan membatalkan pernikahan ini."
"Ryan, maafkan aku. Membatalkan pernikahan ini tidak mungkin, ini adalah kehormatan aku dan ibuku," ucap Lani sambil mengenakan kimono tidur.
"Lalu bagaimana dengan aku?" Ucap pria bernama Ryan itu dengan wajah sangat kecewa.
Lani berdiri memeluk Pria itu, dia berucap, "Aku mencintaimu Ryan, tapi aku butuh pernikahan ini. Jika posisi finansial dan posisi ibu aman, aku pasti akan mengakhiri pernikahan ini."
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama Lan, siapa yang tahu dalam kurun waktu itu kamu sudah jatuh cinta padanya, dan tidak ingin berpisah dengannya. Lani, keluarga ku memang tidak sekaya Hero tapi aku bisa memberimu kehidupan yang nyaman, berkecukupan dan aman."
"Tapi itu tidak memuaskan untuk ibuku, kami punya dendam yang harus kami balas. Aku hanya anak simpanan itu sudah melukaiku sejak lahir, aku hanya ingin membuktikan aku bisa jadi wanita yang paling dihormati di kota ini. Ryan, aku mohon mengertilah, selain status dan keperawanan aku bisa memberikan semuanya untukmu. Aku mencintai mu Ryan, hanya kamu," ucap Lani sambil menyenderkan kepalanya di d**a pria itu.
"Besok pagi aku akan pergi ke Afrika, aku program perdamaian dunia. Kami akan di tempatkan di daerah terpencil selama 6 bulan. Aku kesini hanya untuk merayakan hari jadi kita yang kedua" ucap Ryan. Dia merego sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul bintang ada berlian ungu bulat di tengah nya.
Lani memberikan jarak di antara mereka, dan Ryan memasangkan kalung itu. Kemudian, mereka saling berpelukan. Terlihat jika Lani berlinang air mata.
"Terimakasih, Ryan. Kamu harus menjaga kesehatan selama bertugas. Aku akan selalu menunggumu kekasih rahasiaku," ucap Lani.
...
...
Disebuah ballroom mewah yang di dekorasi dengan sangat indah, di pintu masuk terdapat foto-foto Hero dan Lani. Terdapat karangan bunga yang bertuliskan, "Welcome to Wedding Hero dan Lani."
Nandini mengenakan gaun semi brokat berwarna pink rose dengan gaya gaun tradisional china dengan lengan panjang, terdapat belahan tinggi di kaki kirinya hinga paha, membuat kaki putihnya terlihat panjang dan indah. Rambutnya disanggul sederhana, di telinganya terdapat sebuah anting berlian yang cukup besar. Disebelahnya ada Rangga dengan setelan jas putih, dan kemeja hitam. Dia tetap terlihat tampan seperti biasanya.
Disana ada Saga dan Jhony dengan mengenakan setelan jas warna yang sama. Mereka para pria memang sudah membuat janji mengenakan jas yang sama untuk foto bersama.
"Hei, bro," ucap Saga.
"Mana pasangan kalian?" Tanya Rangga.
"Kami baru akan menemukan pasangan di pernikahan ini, yang lama sudah sangat membosankan," ucap Saga.
"Berhentilah menjadi pria b******k, kalian sudah berumur," ucap Nandini.
"Kami akan berhenti, saat bertemu dengan yang tepat. Sampai sejauh ini belum di temukan wanita yang bisa merubah kebiasaan ini," jawab Saga.
"Orang berubah bukan karena orang lain, tapi keinginan dirinya sendiri. Orang lain hanya sebagai suporter," ucap Nandini.
"Dia semakin bijak setelah putus dari..." Jhony tidak melanjutkan.
"Bro temani saya menyapa salah satu teman artis mu," ucap Saga.
"Siapa?" Tanya Rangga. Hero melihat ke belakang Rangga, di sana ada sekumpulan wanita cantik dari kalangan selebriti sedang mengobrol.
"Hanya sebentar, jika obrolan dengan mereka sudah masuk kamu bisa meninggalkan kami," ucap Saga.
"Baiklah." Kedua pria itu pergi.
"Dasar Casanova," ucap Nandini.
Jhony menatap Nandini dengan lekat, Nandini berucap, "Kenapa menatap saya seperti itu?"
"Apa kamu tidak canggung hadir di pernikahan Hero?"
"Kenapa harus canggung?”
"Bukankah kalian akan menikah, dan sekarang kamu sedang mengandung. Saya tidak menyangka kamu bisa berdiri disini melihat calon suami dan ayah anakmu bersanding dengan wanita lain."
"Saya tidak mencintai nya dan keadaan ini karena sebuah kesalahan, jadi saya tidak perlu canggung," jawab Nandini.
Nandini mengedarkan pandangan, dan naas tatapannya bertemu dengan Dony, pria itu mengandeng seorang wanita. Nandini langsung membuang muka, dia menatap ke pelaminan dan beradu pandangan dengan Hero.
Nandini kembali menatap Jhony dan berucap, "Ayo cari kursi, saya tidak bisa berdiri terlalu lama dengan hill ini."
"Ayo, kita duduk di barisan depan pelaminan saja," ucap Jhony.
"Baiklah."
"Siapa ini Jhony, pasanganmu?" Tanya wanita paru baya dengan kebaya ungu. Dia mengenakan perhiasan yang bisa di tebak memiliki harga fantastis, wanita itu adalah ibu Hero.
"Dia teman kami Tante," ucap Jhony.
"Dia terlihat familiar," ucap wanita itu nampak berpikir, "bukankah kamu pacar Dony?"
"Mantan, tante. Kami sudah putus bertahun-tahun lalu," ucap Nandini.
"Pantas saja Dony datang bersama wanita lain. Kalian nikmatilah pesta ini, saya akan menyapa tamu yang lain," ucap wanita itu.
"Iya, Tante," jawab Jhony dan Nandini serentak.
Begitu wanita menjauh, Jhony berucap, "Bagaimana perasaanmu bertemu ibu mertua?"
"Biasa saja, seperti bertemu angin lewat.Jangan sebut hal itu disini, aku tidak ingin orang mendengar dan menyebarkan gosib," ucap Nandini.
Dony mendekat, Nandi ingat wanita yang bersamanya adalah wanita yang bersamanya di hotel saat mereka bertemu beberapa waktu lalu. Langka mereka terhenti, karena wanita itu menyapa temannya dan Dony seperti berpamitan menunjuk ke arah kami. Dia datang sendiri.
"Hai apa kabar Jhon," ucapnya. Dia dan Jhony bersalaman dan saling memeluk.
"Baik, kamu apa kabar. Kemana kamu selama ini tidak pernah nampak?"
"Aku sekarang tinggal di Malaysia, kebetulan sedang kembali ke jakarta karena ada beberapa pekerjaan," jawabnya.
Dony melihat Nandini, "Apa kabar?"
"Baik," jawab Nandini singkat dengan senyuman.
Wanita yang bersama Dony datang langsung mengandeng Dony. Dia menatap Jhony dan Nandini, dan berucap, "Hallo..."
Mereka hanya tersenyum ramah, Jhony bertanya, "Siapa ini Don? Pacar?"
"Saya Siti, tunangan Dony," ucap wanita sambil mengulurkan tangan ke Nandini.
Nandini menjabat tangan Siti, "Saya Nandini," mereka langsung melepaskan tangannya.
Kemudian Siti mengulurkan tangan ke Jhony, disambut pria itu sambil berucap, "Saya Jhony," mereka langsung melepaskan jabatan tangan itu.
Rangga datang membawahkan segelas jus, dia mengelus pelan dan penuh perasaan di pucuk kepala Nandini. Dia sengaja melakukannya. Dulu dia yang mengenalkan Nandini, dia sempat menyukainya juga namun dia mengalah karena Dony menyukainya. Dan akhirnya pria itu menyakiti Nandini membuatnya sangat marah hingga saat ini.
"Minum dulu,.aku yakin kamu haus," ucap Rangga.
"Terimakasih," ucap Nandini menerima gelas itu dan langsung meminumnya.
"Hai Rangga, apa kabarmu, apa kamu masih bersama Marisa?" Ucap Dony.
"Kami sudah putus, dan kabarku sangat baik. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," ucap Rangga sambil mengelus perut Nandini yang berhasil membuat Dony bungkam.
"Apa kalian berpasangan?" Tanya Siti.
"Menurutmu?" tanya Rangga kembali, dia terlihat tidak bersahabat dengan kedua orang itu.
"Kami, akan berpamitan dengan Hero. Sampai jumpa," ucap Dony.
"Ya," jawab Jhony.
Dony dan tunangan segera pergi dari hadapan tiga orang itu. Mereka terlihat sedang bersalaman dengan kedua mempelai.
Dony dan Hero terlihat berpelukan sejenak dan bercanda. Jhony, Rangga, dan Nandini yang melihat itu merasa aneh.
"Bagaimana reaksi Dony saat tahu jika Nandini mengandung anak Hero?" itu yang di pikirkan Rangga dan Jhony. pasalnya mereka bertiga dulu tinggal satu apartemen.