17. Malam Pertama

1103 Words
Hampir tengah malam, Hero baru saya keluar dari kamar mandi. Dia masih mengenakan bathrobe putih, rambutnya nampak lembab, dan kulitnya sedikit merah karena mandi air hangat. Begitu melihat di tempat tidur, Lani duduk disana mengenakan kimono sutra berwarna maron yang sangat tipis. Hero bisa melihat jika di balik kimono itu Lani tidak mengenakan apapun. Hero mendekati Lani, dia duduk tepat disebelah wanita itu. Dia membuat Lani menghadapnya. Kemudian, Hero langsung mencium Lani dengan ganas, satu tanganya manarik tali kimono Lani. Hal itu berhasil mengekspos tubuh polos wanita itu. Lani juga manarik tali bathrobe Hero yang mengekspos tubuh polos pria itu. Tidak hanya berciuman,mereka juga saling memeluk erat. Saat mereka hampir kehabisan napas, Hero menarik diri dari ciuman itu dan berucap, "Baby, sepertinya kamu sudah mempersiapkan semuanya." "Ini spesial untuk suamiku," ucap Lani menggoda, kemudian dia mencium leher Hero. Pria itu mendorong lani ketempat tidur, ciuman berlahan turun, dan satu tangan membuka kaki Lani dan mengelus di daerah itu. Mera**h, menggi**t, menji**t bagian d**a berhasil membuat Lani lepas kendali. "Kita tidak perlu pemanas terlalu lama, aku sangat tidak sabar," uca Hero yang tidak lama dengan satu kali hentakan mereka sudah menyatu. "Akh!..." Lani berteriak tanganya mencakar punggung Hero. Matanya berair, ada kesedihan dan kemudian tatapannya berganti amarah yang tersembunyi. "Wanita mana yang bahagia hal paling berharga diserahkan pada pria yang tidak di cintai. Ini untuk membalas keluarga itu," batin Lani. Dalam beberapa menit, kamar itu penuh dengan suara ambigu yang dihasilkan kedua orang itu. Lani sudah terkulai tak berdaya karena Hero, ini pengalaman pertamanya namun tidak bagi pria itu. Lani tidak bisa menyeimbangi, dan dia hampir pingsan. "Ah... Hero... ang...a...ku tidak kuat ah..." "Sebentar lagi sayang," ucap Hero yang mempercepat temponya. "Ah ah ah ah ah Hero... ah..." Lani hampir berteriak, dia terpejam tanganya manarik seprai. "Ah..." ini desahan Hero. Dia sudah tiba di penghujung permainan. Hero selesai, dia menarik diri dari atas Lani. Dia bisa melihat bercak darah di selimut, ada rasa puas dalam dirinya mendapati fakta jika dia adalah pria pertama untuk istrinya. Hero menyelimuti Lani, dan mencium keningnya. Lalu, dia mengenakan bathrobe pergi ke balkon untuk merokok. Ditelinga nya ada headset, dia menelpon seseorang. "Dimana dia?" "Dia menginap di rumah Rangga, besok pagi akan kembali ke Bandung.Kenaoa.kamu menanyakan wanita lain pada jam ini, tidakkah kamu menikmati malam bersama istrimu?" Ucap Jhony. "Aku tidak menanyakan wanita lain, dia adalah wanitaku juga. Malam ini sudah ku nikmati," ucap Hero. "Apa dia masih perawan? Aku sudah menyelidiki jika selama di Amerika dia dekat dengan seorang pria," ucap Jhony. "Dia masih, aku tidak peduli dengan hubungannya di luar sana yang terpenting dia dapat menjaga dirinya untukku. Tapi setelah dia menjadi istriku kirim orang untuk mengawasinya dua puluh empat jam. Aku tidak ingin istriku terkontaminasi dengan pria lain," ucap Hero. "Baiklah, Bos. Selamat malam." Telpon dimatikan. ... ... Ditempat lain, Nandini tidak bisa tidur karena perutnya terasa keram. Dia keluar mengetuk pintu kamar Rangga, "Tok tok tok." Rangga membuka pintu, sambil mengucek matanya, "Ada apa Dini?" "Antar aku ke rumah sakit, perutku sangat tidak nyaman," ucap nandini sambil memegang perutnya. Dia terlihat pucat dan berkeringat dingin. Detik berikutnya Na dini jatuh pingsan, Rangga langsung menopang tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. "Bi..." Panggil Rangga. Pembantunya tiba, Rangga berucap, "Minta sopir siapkan mobil. Nandini pingsan, aku akan membawanya ke rumah sakit dan ambilkan ponsel dan dompet ku dikamar." Rangga mengendong Nandini, pembantu mengikutinya sambil membawa barang yang diminta Rangga. Di perjalanan mobil, Rangga menelpon Hero. Saat itu jam tiga dini hari, Hero yang sedang tertidur pulas terbangun karena suara ponselnya. Dilihatnya Pemanggil Rangga, sangat jarang pria itu menelponnya. Hero mengangkatnya, "Ada apa?" "Dini pingsan, aku sedang dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit S." Hero langsung duduk dan beranjak dari tempat tidur. Dia berucap, "Aku akan menyusul. Nanti kirimkan ruangannya lewat pesan." "Ya." Telpon dimatikan. Hero segera berpakaian, dia menyetir sendiri pergi ke rumah sakit tempat Nandini dirawat. Dia butuh satu jam perjalan ke rumah sakit itu. Saat dia tiba Nandini sudah di tangani dokter. Rangga sedang berjaga disana. "Apa kata dokter?" "Dia hanya keram perut biasa karena kelelahan. Setelah pulang dari resepsi mu, dia memaksaku menonton bioskop. Sekarang dia sedang tidur," ucap Rangga. Hero mendekati Nandini, dia meletakan telapak tanganya di perut Nandini yang masih terlihat rata. Dia berucap dalam hati, "Baby, kamu harus kuat. Dad sulit menanam mu di dalam sini, peluang untuk menitipkan benih di rahim Mommy mu sangat minim jadi bertahanlah sampai akhir." "Kamu bisa kembali, aku akan menemani Nandini. Sebelum sarapan besok aku harus kembali ke hotel." "Baiklah, jaga dia. Besok pagi aku akan kesini," ucap Rangga. Seperginya Rangga, Hero berbaring disebelah Nandini karena dia cukup lelah. Seharian dia harus berdiri di aula resepsi, ditambah malam pertamanya, dia sangat lelah. Dia memeluk perut Nandini, dan terlelap disana. Pagi-Pagi sekali, Nandini merasa ada yang berbeda, tempat tidur yang biasanya sangat luas terasa begitu sempit. Dia menoleh ke kanan wajah Hero tepat menghadapnya. Nandini menepuk pelan pipi Hero, "Hei bangunlah, ini sangat sempit membuatku tidak nyaman. Cepat bangun dan pindah." Hero terbangun, dia tersenyum ke arah Nandini. Kemudian dia mengecup bibir wanita itu sekilas. "Pagi..." ucap Hero dengan suara yang terdengar serak. "Brak," Nandini mendorong Hero dengan kakinya sampai pria itu terjatuh. "Au... Nandini apa yang kamu lakukan?" "Atas dasar apa kamu mencium ku?" Kalimat itu membuat Hero sadar apa yang barus saja di lakukan. Hero bangkit dan berucap, "Aku belum terjaga penuh, aku kira kamu Lani." Dia melihat jam itu sudah jam enam lima menit. Hero berucap, "Aku harus kembali ke hotel. Nanti Rangga akan kesini." Hero meningkalkan credit card, di tangan Nandini, "Gunakan ini jika ada keperluan, kodenya 222222. Sampai jumpa di KUA." Nandini belum merespon, namun Hero sudah meninggalkannya sendiri. Nandini melepas jarum infus karena air infus hampir habis. Dia berjalan ke balkon, menyaksikan pemandangan pagi kota metropolitan itu. Dia melihat satu gedung yang menyimpan banyak momen dimasa kuliahnya. Gedung apartemen yang di tempati bersama Dony dan Hero. Flash Back Pagi-pagi sekali, Nandini pergi ke pasar membeli bahan masakan. Karena dia harus selesai masak baru membangunkan Dony untuk bersiap kuliah. Wangi sup sudah memenuhi seluruh ruang apartemen mereka. Nandini masuk ke kamar, dia mengecup seluruh bagian wajah Dony. "Sayangku bangunlah, ini sudah hampir jam delapan, jam sepuluh kamu ada kelas, jam sembilan kamu ada janji dengan Pembimbing akademik." Nandini mengecup bibir Dony berulang-ulang. Pria itu menangkap dan memeluk Nandini erat, "Lima menit lagi, sayang." Setelah lima menit, Dony mencuci mukanya dan pergi kemeja makan. Nandini sudah menyiapkan sarapan. Mereka berdua makan bersama, lalu pintu kamar lain terbuka yang menunjukan muka bangun tidur Hero. "Wah... Wangi sekali," ucap Hero yang ikut bergabung di sana. Dia mengambil piring dan mengisi dengan sup. Flash Back Off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD