Helena keluar dari hotel, tubuhnya lemas dan matanya sembab. Ia berjalan gontai, kakinya seperti tak menapak tanah. Udara malam yang dingin tak mampu meredakan panas yang membara di dadanya. Ia terhuyung, tubuhnya gemetar hebat.
Tangis Helena pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia meringkuk di sudut jalan, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang lewat. Rasa sakit yang menusuk hatinya tak tertahankan. Ia merasa kosong, hancur, dan tak berdaya.
Ia mengingat kejadian di dalam hotel, bagaimana ia terjebak dalam situasi yang tak terduga. Ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tak ternilai harganya. Ia merasa kotor, tak pantas, dan tak berharga lagi.
Helena meringkuk semakin dalam, tubuhnya gemetar hebat. Ia tak tahu harus berbuat apa, kemana harus pergi. Ia merasa sendirian, terpuruk dalam kesedihan yang mendalam.
"Kenapa aku?" bisiknya lirih, suaranya teredam oleh tangisnya. "Kenapa harus aku?"
Ia meraba kalung kecil yang tergantung di lehernya, sebuah kalung sederhana yang diberikan oleh ibunya. Ia memeluk erat kalung itu, seakan mencari kekuatan dari benda mati tersebut.
"Maaf, Ma," lirihnya. "Aku mengecewakanmu."
Helena terisak semakin keras, air matanya tak kunjung berhenti. Ia merasa dunia ini semakin gelap, tak ada lagi cahaya yang tersisa. Ia tak tahu bagaimana ia akan bangkit dari keterpurukan ini.
***
Helena terhuyung masuk ke dalam apartemen kecilnya, tempat yang selama ini menjadi pelariannya dari hiruk pikuk kota. Ia melempar tasnya ke sembarang tempat, lalu ambruk di atas ranjang, tubuhnya lemas tak berdaya.
"Ini semua salahku," batinnya, suara itu teredam oleh tangisnya. "Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku ceroboh?"
Ruangan itu terasa sempit dan pengap, seakan mencerminkan keadaan hatinya. Ia terdiam, menatap kosong ke langit-langit, pikirannya dipenuhi dengan penyesalan dan rasa bersalah.
"Aku merasa kotor," gumamnya lirih, suaranya teredam oleh tangisnya. "Aku tak pantas lagi untuk hidup."
Tiba-tiba, ingatan tentang adiknya, Rara, yang masih dirawat di rumah sakit menyeruak ke dalam pikirannya. Rara, gadis kecil yang masih duduk di bangku SMP, mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya.
"Rara," bisik Helena, air matanya kembali mengalir deras. "Bagaimana keadaanmu?"
Ia teringat bagaimana Rara selalu ceria, selalu menempel padanya, dan selalu memanggilnya dengan sebutan "Kakak Helen". Ia ingat bagaimana Rara selalu bercerita tentang cita-citanya untuk menjadi dokter, dan bagaimana Rara selalu bermanja kepadanya.
Namun na'as, kedua orang tua Helena meninggal di tempat kejadian. Helena merasa beban berat di pundaknya. Ia harus menjadi ibu bagi Rara, ia harus menjadi sandaran bagi adiknya yang masih kecil.
"Aku harus kuat," gumamnya, suaranya terdengar lebih mantap. "Aku harus bangkit untuk Rara. Aku harus menjadi kakak yang baik baginya."
Helena mencoba bangkit dari ranjang, tubuhnya terasa berat, namun ia memaksa dirinya untuk bergerak. Ia berjalan ke dapur, lalu menuangkan segelas air putih. Ia meneguknya perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya.
Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan tubuhnya kurus. Ia tak mengenali dirinya sendiri.
"Aku harus berubah," gumamnya. "Aku harus kembali menjadi diriku sendiri. Aku harus kuat, demi Rara yang berjuang di rumah sakit."
"Kakak akan melakukan apapun untukmu, Ra." Helena sadar jika ia sudah harus pergi bekerja, setelah mengambil cuti beberapa hari karena merasa tak enak badan.
"Ah, aku hampir lupa jika perusahaan ML group sudah menghubungiku."
***
Helena melangkah masuk ke gedung kantor yang menjulang tinggi. Gedung itu bermandikan cahaya matahari pagi, memantulkan kilauan kaca yang membuat matanya sedikit silau. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan debar jantungnya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ini, setelah ia naik pangkat secara mendadaky lantaran sekretaris dahulu sedang cuti hamil.
Helena berjalan dengan langkah pasti menuju meja resepsionis. Ia tersenyum ramah kepada resepsionis yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Selamat pagi," sapa Helena. "Saya Helena, sekretaris baru."
Resepsionis itu mengangkat wajahnya, matanya berbinar. "Oh, selamat datang, nona. Saya Emily. Silakan duduk sebentar, saya akan hubungi Tuan Marley."
Helena mengangguk dan duduk di kursi yang disediakan. Ia mengamati sekeliling. Ruangan itu luas dan modern, dihiasi dengan tanaman hijau yang menyegarkan. Ia bisa merasakan energi positif yang terpancar dari ruangan ini.
Beberapa saat kemudian, Emily kembali dengan senyum lebar. "Tuan Marley sudah menunggu di ruangannya. Silakan ikut saya."
Helena berdiri dan mengikuti Emily menuju ruangan yang terletak di ujung koridor. Pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan ruangan yang lebih luas lagi, dengan meja kerja besar di tengahnya. Seorang pria berjas rapi sedang berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Helena.
Entah kenapa, perasaan Helena jadi tidak enak. Matanya tiba-tiba berembun dan basah.
"Tuan Marley, ini nona Helena, sekretaris baru Anda," ujar Emily.
Pria itu berbalik, senyum tipis terukir di bibirnya. "Selamat datang, Helena. Saya Jack Marley, senang bertemu denganmu."
Tak lama kemudian, Emily pun keluar setelah mendapatkan kode dari Jack.
Jantung Helena berpacu dengan kuat. Ketakutan mulai merayap dalam dirinya. Ia merasa bahwa pria yang ada di hadapannya adalah pria berbahaya. Namun, tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya.
Helena tersenyum dengan paksa. "Senang bertemu dengan anda, pak Marley."
Jack mengulurkan tangannya, dan Helena menyambutnya dengan hangat. "Silakan duduk, Helena. Mari kita bicarakan tugas-tugasmu. Asisten ku akan membawa surat kontraknya."
Helena duduk di kursi di hadapan Jack. Ia merasa sedikit gugup, tapi ia berusaha tenang agar tidak melakukan kesalahan. Apalagi jika mengingat biaya pengobatan adiknya yang mahal.
Selama menjelaskan tugas Helena, pria itu tak henti-hentinya memandang arah bawah Helena.
"Pak, apa benar ini pekerjaan saya?" Tanya Helena memastikan. Pasalnya ia kaget dengan nominal gaji yang ditawarkan, sedangkan pekerjaannya lebih ringan dari yang ia bayangkan.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria berjas hitam masuk setelah mengetuk pintu. Pria itu terlihat datar tanpa ekspresi sambil memegang amplop coklat di tangannya.
"Baron, apa kau sudah selesai?" Tanya Jack meminta amplop coklat berisi surat kontrak milik Helena.
"Sudah bos."
Helena mengamati dengan seksama saat Jack mengambil amplop dari tangan Baron. Jantungnya berdebar, seolah merasa tak aman. Ia merasa berada di tengah situasi yang tidak seharusnya, dan rasa was-was itu kembali menyergap.
"Ini dia, kontrak kerjamu," kata Jack sambil mengulurkan amplop berisi dokumen resmi itu. "Baca dengan seksama, dan jika ada yang perlu ditanyakan, jangan ragu untuk bertanya."
Helena menerima amplop itu, tangannya sedikit bergetar. Ia membuka dengan hati-hati dan mulai membaca isi kontrak. Dengan setiap kalimat yang ia baca, rasa cemasnya sedikit mereda. Gaji yang ditawarkan memang lebih tinggi dari yang ia bayangkan, dan pekerjaan yang tercantum tampak cukup menjanjikan.
"Jika semuanya sudah jelas, kita bisa lanjutkan prosesnya," lanjut Jack, memperhatikan wajah Helena dengan seksama. "Saya ingin kamu merasa nyaman di sini."
Helena mengangguk, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. "Saya akan membaca ini dengan seksama, pak."
"Baiklah," jawab Jack, senyum di wajahnya seolah menyiratkan kepercayaan. "Setelah kamu menandatangani, kita bisa mulai hari ini juga."
Baron, yang sebelumnya berdiri di samping Jack, beralih ke Helena dengan tatapan datar. "Jika ada yang perlu dibahas lebih lanjut, anda bisa menanyakan hal itu pada saya."
Helena merasa sedikit lebih tenang dengan kehadiran Baron, meskipun dia tampak tidak ramah, tapi pria itu cukup baik.
Setelah beberapa menit membaca, ia menandatangani kontrak itu dan menyerahkannya kembali kepada Jack. "Saya siap untuk mulai, pak."
"Bagus," jawab Jack, matanya berbinar saat melihat tanda tangan Helena. "Selamat datang di tim kami, Helena."
Tanpa Helena sadari, tatapan Jack yang nakal sedang melucuti dirinya.