Helena merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya. Tatapan Jack yang intens membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berusaha untuk bersikap tenang, namun jantungnya berdebar kencang.
"Ada apa, pak?" tanya Helena, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa," jawab Jack, senyumnya semakin lebar. "Hanya saja, saya senang kamu bergabung dengan tim kami. Kamu memiliki potensi yang besar, Helena."
Helena merasa tidak nyaman dengan pujian Jack yang terkesan berlebihan. Ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, "Jadi, apa tugas pertama saya?"
"Tenang saja, tugasmu tidak akan berat," jawab Jack, matanya berbinar-binar. "Kamu hanya perlu menjadi asisten pribadiku. Menangani jadwal, mengurus surat-menyurat, dan hal-hal lain yang dibutuhkan."
"Hanya itu?" tanya Helena, sedikit heran. "Sepertinya mudah."
"Tentu saja, mudah," jawab Jack sambil tertawa kecil. "Tapi ingat, ini adalah pekerjaan yang penting. Kamu harus selalu siap dan sigap."
Helena mengangguk, meskipun dalam hatinya ia masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa bahwa Jack menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang tidak ingin ia ketahui.
"Baik, pak," jawab Helena. "Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus," jawab Jack, senyumnya kembali mengembang. "Sekarang, ayo kita makan siang bersama. Saya ingin mengenalmu lebih dekat."
Helena merasa sedikit tertekan dengan ajakan Jack, namun ia tidak ingin menolak. Ia mencoba untuk bersikap profesional, meskipun dalam hatinya ia merasa tidak nyaman.
"Baiklah," jawab Helena. "Terima kasih, pak."
Mereka berdua keluar dari ruangan, meninggalkan Baron yang masih berdiri di sana dengan tatapan datar.
Saat mereka berjalan menuju lift, Helena merasakan tatapan Baron yang dingin menusuk punggungnya. Ia merasa seolah-olah Baron sedang mengawasi dirinya.
"Baron, kau bisa makan siang sendiri," kata Jack, tanpa menoleh ke arah Baron. "Aku akan mengantar Helena makan siang."
Baron mengangguk dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Helena merasa semakin tidak nyaman. Ia merasa seolah-olah dirinya sedang diawasi, dan ia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
"Jangan khawatir, Helena," kata Jack sambil tersenyum. "Baron asisten pribadiku. Dia sudah terbiasa dengan hal ini."
Helena berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
"Emm... Baik," jawab Helena. "Saya mengerti."
Mereka berdua memasuki lift, dan Jack menekan tombol lantai bawah. Helena merasa terjebak dalam situasi yang tidak menentu. Helena takut dengan senyuman pria yang ada di sampingnya.
Suara itu... Suara yang sangat ia benci. Suara Jack terdengar seperti seorang b******n yang telah menodai dirinya.
"Pak, tangan an–." Helena kaget saat tangan Jack merangkul pinggangnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Kenapa?" Tanya Jack dengan wajah tanpa dosa. Bahkan terkesan biasa saja. Berbeda dengan apa yang Helena lihat. Pria itu seperti tengah mengintimidasi dirinya. Seolah tak perbuatannya adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Helena menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Situasi di dalam lift terasa semakin mencekam. Senyuman Jack yang tampak ramah justru membuatnya semakin gelisah. Ia berusaha menghindar, tetapi Jack tetap mendekatkan tubuhnya.
"Kita sudah sampai," kata Jack, suaranya seolah tak terpengaruh oleh ketidaknyamanan Helena.
"Ah, begitu," jawab Helena, suaranya sedikit bergetar. Ia tidak bisa tidak merasa bahwa ada sesuatu yang aneh di balik sikap Jack.
Lift berhenti dan pintu terbuka. Helena segera melangkah keluar, berusaha menjaga jarak dari Jack yang mengikuti di belakangnya. Mereka menuju restoran kecil di lantai bawah, dan Helena berusaha fokus pada menu yang tertera.
"Jadi, apa makanan favoritmu?" tanya Jack sambil duduk di hadapannya, kembali dengan senyum yang tidak bisa menghilangkan ketegangan di antara mereka.
"Saya suka makanan Italia," jawab Helena sambil memesan dengan cepat, berharap bisa mengalihkan perhatian Jack.
"Bagus, saya juga menyukainya. Kita harus mencoba pasta di sini," Jack menjawab sambil melirik menu, namun Helena merasakan tatapan tajamnya, seolah Jack sedang mengamati setiap gerak-geriknya.
Makanan tiba, dan mereka mulai makan dalam keheningan yang canggung. Helena berusaha untuk tidak memikirkan perasaan tidak nyaman yang terus mengganggu pikirannya.
"Helena, saya benar-benar berharap kita bisa bekerja sama dengan baik," ujar Jack, suaranya terdengar lebih serius. "Saya ingin kamu merasa nyaman di kantor ini."
"Terima kasih, pak," jawab Helena, berusaha terdengar positif. "Saya akan melakukan yang terbaik."
Jack tersenyum lagi, tetapi kali ini senyum itu tampak berbeda. Helena merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia ingin percaya bahwa Jack memiliki niat baik, tetapi instingnya terus memperingatkan agar tetap waspada.
Setelah makan, mereka kembali ke kantor. Saat tiba di kantor, Jack menuntunnya ke ruang kerjanya. "Ini adalah tempatmu. Semoga kamu merasa betah," katanya dengan nada lembut, tetapi Helena tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya.
"Terima kasih," jawab Helena. Hatinya masih berdebar.
Jack meninggalkan ruangan, dan Helena mengambil napas panjang. Ia tahu, untuk saat ini, ia harus tetap fokus dan berusaha memahami dan membiasakan diri di tempat barunya.
***
Sore menjelang malam, Jack masih berkutat di ruangannya yang temaram.
"Baron, ke ruangan ku sekarang!" Titah Jack yang langsung menutup sambungan telepon secara sepihak.
“Baron, selidiki seseorang untukku,” pinta Jack saat Baron sudah tiba di ruangannya..
“Menyelidiki seseorang? Apakah musuh bos sudah ada di sekitar sini?” Baron bertanya balik, karena takut jika orang yang ingin diselidiki Jack adalah sosok musuh yang sedang mereka incar.
“Tidak, bukan. Selidiki Helena. Aku rasa, aku telah menemukan mainan baru. Oh satu lagi, bagaimana dengan kabar keluarga besarku?” tanya Jack yang khawatir akan keadaan ibunya. Ia tahu jika wanita itu pasti sangat cemas saat mengetahui dirinya sempat bertengkar hebat dengan sepupunya hingga sekarat kemarin malam.
“Baik, saya akan selidiki secepatnya. Untuk nyonya besar, keadaannya baik-baik saja meskipun sempat pingsan,” jawab Baron seadanya.
Jack memijat pelipisnya, duduk di balik meja besar dari kayu jati. Cahaya temaram dari lampu meja menerangi wajahnya yang tegang. Baron, asistennya yang setia, berdiri tegak di hadapannya, menunggu instruksi. Bau kopi pahit dan aroma cerutu mahal memenuhi ruangan.
"Baron," suara Jack berat, sedikit serak. "Bagaimana dengan pengiriman terakhir?"
Baron menunduk sedikit, lalu menjawab dengan suara datar, "Ada sedikit masalah, bos Kapal mengalami kerusakan mesin di perairan internasional. Perbaikan membutuhkan waktu."
Jack tertawa kecil, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Kerusakan mesin? Atau ada masalah lain yang kau sembunyikan, Baron?" Matanya tajam, menatap Baron dengan intensitas yang membuat Baron berkeringat dingin.
Baron ragu sejenak. "Ada beberapa inspeksi yang lebih ketat dari biasanya, bos. Petugas bea cukai tampaknya lebih waspada."
Jack mengetuk-ngetuk jari di meja. "Waspada? Atau mereka sudah tahu sesuatu?" Ia berdiri, mendekati Baron. "Jangan pernah bermain-main denganku, Baron. Kegagalan bukan pilihan. Aku butuh kepastian. Berapa banyak yang berhasil lolos? Dan berapa banyak yang hilang?"
Baron menelan ludah. "Sebagian besar berhasil diselundupkan melalui jalur darat, bos. Namun, sekitar 20% dari total pengiriman... hilang."
Jack terdiam sejenak, merenungkan informasi tersebut. Kemudian, suaranya kembali terdengar, lebih dingin dari sebelumnya. "Hilang? Artinya apa? Dicuri? Disita? Atau... ada pengkhianat di antara kita?" Ia menatap Baron dengan tatapan yang penuh ancaman. "Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kerugian ini, Baron. Dan aku ingin tahu sekarang juga."
“Kita kembali ke apartemenku,” pinta Jack dengan nada perintah.
“Baik, Bos.”
"Oh ya, bawakan laporan penyelidikan Helena besok sebelum makan siang tiba. Aku tidak akan memberikan keringanan untuk pekerjaan mu kali ini. Kau tau akibatnya jika gagal kan?"