4. Diculik bos

676 Words
Baron mengangguk, tubuhnya menegang. Ia tahu konsekuensi kegagalan. Jack tidak main-main dengan ucapannya. "Baik, bos. Saya akan segera menyelesaikannya." Jack melambaikan tangan, menyuruh Baron pergi. Setelah Baron keluar, Jack kembali duduk, menyesap kopinya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Helena... wanita itu menarik perhatiannya lebih dari sekadar asisten. Ada sesuatu yang misterius, sesuatu yang menantang, dalam dirinya. Ia ingin tahu lebih banyak. Dan ia akan mendapatkannya, dengan cara apapun. *** Keesokan harinya, Baron menyerahkan laporan singkat tentang Helena kepada Jack. Tidak banyak yang ditemukan, selain latar belakangnya yang sederhana dan pekerjaan sebelumnya sebagai barista di sebuah kafe kecil. Namun, ada satu detail yang menarik perhatian Jack: foto Helena bersama seorang pria yang tampak sangat akrab, atau mungkin romantis? Jack mengerutkan kening. "Siapa dia?" Ia memanggil Baron kembali. "Selidiki pria itu. Cari tahu hubungannya dengan Helena. Dan jangan sampai ada yang tahu kau sedang menyelidiki ini." Baron membungkuk hormat. "Baik, bos." Namun, tiba-tiba sebuah senyum licik mengembang di bibirnya. "Jadi, ini kau," bisiknya, suaranya dingin dan penuh ancaman. "Milikku sekarang." Obsesinya, yang tadinya hanya nafsu sesaat, kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya, tatkala ia mengetahui fakta bahwa Helena adalah wanita yang ia nikmati beberapa minggu yang lalu. Sore harinya, Jack memanggil Helena ke ruangannya. Ia tampak lebih santai daripada biasanya, duduk di kursinya sambil membaca sebuah dokumen. "Helena," katanya, tanpa menoleh. "Aku butuh bantuanmu untuk sesuatu." Helena menelan ludah, jantungnya berdebar. "Tentu, pak. Apa yang bisa saya bantu?" Jack tersenyum, senyum yang membuat Helena merinding. "Ada sebuah pertemuan penting malam ini. Aku butuh seseorang yang bisa mengantar sebuah paket. Kau bersedia?" Helena ragu. "Paket apa, pak?" "Itu bukan urusanmu," jawab Jack, suaranya sedikit dingin. "Yang perlu kau lakukan hanyalah mengantar paket itu ke alamat yang akan kuberikan. Itu saja." Helena merasa ada sesuatu yang tidak beres. Instingnya memperingatkannya untuk menolak, tetapi ia takut menolak perintah Jack. "Baiklah, pak," jawabnya, suaranya hampir tak terdengar. *** Seorang wanita tengah mengerjapkan matanya yang terasa berat. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas. Hanya untuk menggerakkan badannya saja sangat sulit. Namun, ia tak ingin menyerah dan mencoba membuka matanya secara perlahan. Gelap! Rasa takut bercampur cemas mulai menyerang dalam dirinya. Bahkan, hawa dingin mulai menyeruak hingga membuat bulu kuduknya meremang seketika. Ia mencoba untuk menajamkan indera penglihatannya dan mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi padanya saat ini. Ini terasa sangat dejavu. Yang ia ingat, ia datang ke tempat yang diminta oleh Jack. Apakah ia sudah diculik? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin diculik lagi kan? “Akhh! Di mana aku sekarang? Kenapa aku bisa ada di tempat yang gelap?” Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan tersebut dan mulai mendekat ke arah dirinya. Tek! Sinar dari lampu yang sudah menyala, membuat ia memicingkan matanya untuk melihat jelas orang yang ada di hadapannya itu. Terkejut! Itulah yang ia rasakan saat ini. Wanita itu membulatkan matanya dengan sempurna seraya menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat oleh mata kepalanya sendiri. Jack! “Kau!” ucap Helena terkejut sambil menatap sosok pria berjas hitam dengan tatapan tak percaya. "Aku menemukanmu, dear," bisik Jack, gigitan di leher Helena menjadi tanda kepemilikan. Tatapannya tajam, penuh d******i, sebuah bukti di hadapan mangsanya. “You are so beautiful, babe,” ucap sosok pria tepat di hadapan Helena sambil berjongkok. “Apa yang telah anda lakukan pada saya? Di mana saya sekarang pak? Tolong saya. Pak Marley akan menolong saya kan? Saya mohon tolong selamatkan saya, pak,” pinta Helena dengan memelas, dan memohon agar ia segera dibawa keluar dari tempat gelap tersebut. Namun, bukannya menjawab, sosok pria yang tak lain adalah Jack, malah tertawa jahat. Yang mana hal itu membuat Helena tercengang sambil membulatkan matanya dengan sempurna. Jack yang melihat lelehan bening mengalir di pipi indah Helena, langsung mengusapnya dengan ibu jari. "Melepaskanmu? Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu," desisnya, menegaskan obsesi dan teror yang ia kendalikan. Jack tidak hanya menginginkan tubuh Helena, tetapi juga jiwanya. “Tanda tangani ini,” pinta Jack sambil menyodorkan buku catatan sipil ke arah wanita tersebut. “Apa ini?” tanya Helena penuh selidik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD