Hujan deras mengguyur kota, petir menyambar-nyambar menerangi langit gelap yang mencekam. Di dalam mobil yang melaju kencang, Helena semakin membulatkan matanya, ketakutan membuncah saat Jack membawanya entah ke mana.
Ia menangis dan memohon agar dilepaskan, namun Jack, dengan tangan kekar dan berurat yang mencengkeram pinggangnya, dan tak mengindahkan rintihannya. Hanya deru mesin mobil dan dentuman petir yang menemani jeritan putus asa Helena. Sesekali, Helena melirik ke samping, melihat bayangan Jack yang gelap dan tinggi di sampingnya. Wajahnya yang sebagian terhalang oleh bayangan tampak keras dan dingin.
“Kita akan ke mana? Apa kau akan membawa ku kembali pada Rara? Dia sedang sakit. Dia pasti sedang membutuhkanku. Jawab, kita akan ke mana?” tanya Helena, suaranya gemetar, berharap itu benar.
“Berhenti menyebut nama orang lain saat sedang bersamaku, atau aku akan melenyapkan orang yang mempunyai nama itu. Sekarang aku lah yang ada di sisi mu, suamimu,” desis Jack, suaranya dingin menusuk seperti angin malam. Tatapannya tajam, menusuk jiwa Helena. Cahaya lampu jalan sesekali menerangi wajahnya yang keras dan penuh amarah. Rahangnya yang tegas dan kuat tampak menegang. Helena bisa melihat otot-otot lehernya menegang saat dia berbicara.
***
Apartemen Jack yang mewah terasa dingin dan sunyi, bertolak belakang dengan badai di luar. Angin berdesir melalui celah jendela, menambah rasa takut Helena. Setelah Jack membawanya masuk dengan paksa, pintu apartemen terbanting keras, suara itu bergema di kesunyian malam yang mencekam.
Helena terhuyung, ditinggalkan Jack yang sudah duduk di sofa, senyum sinis terpatri di wajahnya yang pucat. Bayangannya yang tinggi dan besar tampak panjang dan menakutkan di dinding yang remang. Helena bisa melihat guratan-guratan kasar di tangannya yang kekar, jari-jarinya panjang dan ramping, namun tampak kuat dan berbahaya.
Helena mengetuk pintu kamar, sambil memohon, dengan suaranya yang lirih seperti bisikan angin.
“Tolong buka pintunya. Aku harus kembali pada Rara. Aku mohon.”
“Kau harus lebih berusaha lagi sayang,” ucap Jack, senyum liciknya semakin lebar memperlihatkan giginya yang sedikit tajam. Kegelapan kamar semakin memperkuat kesan menyeramkan. Helena bisa melihat otot-otot lengan Jack yang menegang saat dia tersenyum.
“Kau adalah pria paling brengsekk yang pernah aku temui di dunia ini! Kau bajjingan!” teriakan Helena pecah, suaranya penuh keputusasaan.
Ia bersimpuh di lantai. Air matanya bahkan membasahi lantai yang dingin. Jack berdiri, tinggi dan tegap, lalu mendekati Helena. Helena bisa melihat tulang pipinya yang menonjol dan rahangnya yang kuat. Ada bekas luka kecil di dekat sudut bibirnya, menambah kesan kejam pada wajahnya.
“Tapi b******n inilah yang sudah menjadi suamimu,” kata Jack santai, suaranya terdengar tenang di tengah badai emosi Helena. Matanya yang gelap dan dalam menatap Helena dengan intensitas yang menakutkan.
“Cepat kemari dan layani aku. Bukankah ini malam yang indah untuk sepasang suami istri yang baru saja menikah,” sambungnya lagi dengan sarkas.
“Menjijikkan!” cibir Helena sambil menatap tajam ke arah Jack. Pria yang mendengar cibiran dari wanita itu pun merasa tak terima dan langsung melangkahkan kakinya mendekati Helena.
“Ap-apa yang akan kau lakukan. Menjauh lah dariku!” bentak Helena yang ketakutan dan memundurkan tubuhnya hingga ke ujung dinding.
“Tentu saja untuk memberimu sebuah pelajaran,” jawab Jack sambil mendesis.
Aarrggh!
Jack menyeret Helena hingga wanita itu berdiri dari duduknya, dan berjalan tertatih mengikuti langkah kaki Jack menuju tempat tidur berukuran besar. Helena tak mau patuh dan berusaha menarik diri, namun tetap saja gagal.
“Kita sudah menikah, jadi kau harus melayani aku. Kau pikir, kau bisa lepas dariku? Jangan mimpi, Helen. Sejak awal, kau sudah ditakdirkan untuk bersamaku,” bisik Jack yang kini sudah menangkup tubuh sang istri seraya menciumi pundak Helena. Wanita itu mendesah saat lidah Jack mulai menyapu kulit tipisnya.
“Hentikan, aku tidak mau,” tolak Helena dengan memejamkan matanya, dan berusaha agar tidak mengeluarkan suara desahannya.
Jack tidak suka penolakan yang keluar dari mulut wanitanya. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu segera menyambar bibir ranum milik Helena dengan sangat rakus. Bahkan Jack tidak memberikan kesempatan untuk bernapas pada sang istri.
“Eumh!” berontak Helena dalam dekapan sang suami yang terus, melumat, menyesap dan menyapu bibirnya bagai serigala yang sedang kelaparan.
Dengan perlahan, Jack menurunkan kaos putih yang dikenakan oleh Helena hingga pinggang rampingnya terpampang dengan jelas. Jack pun tak ingin membuang kesempatan untuk hanya sekedar mengelus punggung mulus sang istri.
“Aku mohon lepaskan aku,” pinta Helena dengan memohon seraya mengeluarkan lelehan bening yang terus mengalir di pipinya, setelah Jack melepaskan pagutan bibirnya.
Tak lama setelah itu Jack menindih tubuh mungil nan padat itu di atas tempat tidurnya yang empuk. Jack pun bangkit untuk melepaskan pakaian atasannya. Tak lupa juga ia menarik paksa pakaian yang masih melekat di tubuh Helena.
Dalam beberapa tarikan saja, pakaian Helen sudah lepas dari tubuh pemiliknya, hingga menyisakan sebuah segitiga bermuda dan penutup dua bukit himalanya saja. Wanita itu menjerit saat Jack berhasil melucuti pakaiannya, dan berusaha untuk menutupi tubuhnya yang hanya tertutup dalaman saja.
“Jack ... aku mohon jangan,” pinta Helena untuk ke sekian kalinya, tapi tetap tak dihiraukan. Jack justru semakin bersemangat saat melihat penolakan dari wanita yang ada dalam kungkungannya.
“Seseorang ... Kumohon tolong aku,” gumam Helena dengan lirih, berharap ada yang menolongnya, tetapi hal itu masih bisa terdengar oleh suaminya. Tentu saja itu membuat Jack merasa geram dan menatap Helena dengan sangat tajam.
Pria itu segera menarik penutup bukit himalaya dan segitiga bermuda dalam satu tarikan hingga terpampang jelas di depan matanya, sebuah pemandangan yang begitu menawan dan ingin segera ia jelajahi.
“Kau sangat seksi sayang,” desis Jack dengan mata yang memerah dipenuhi kabut gairah. Apalagi Jack sudah tau jika Helena lah yang melewati malam panjang bersamanya beberapa waktu lalu. Ia sangat senang saat mengetahui bahwa ialah yang membuka segel mahkota milik wanita itu.
Helena menggeleng.
“Eumhh!” Jack kembali melummat bibir ranum milik sang istri dengan sangat rakus. Tak lupa juga tangannya ikut menjelajahi bukit himalaya milik Helena dengan penuh semangat. Kenyal dan padat. Ah rasanya kepala Jack mau pecah karena terlalu nikmat.
“Ahss!” desah Helena, tak bisa menahan suaranya. Ia benar-benar merasakan sensasi bagai sengatan listrik, saat tangan Jack meremas dan memilin benda coklat miliknya dengan sangat lincah bak seorang profesional.
“Ayo keluarkan suara indah mu lagi, sayang. Nikmati malam indah kita, dan aku akan membuat mu melayang ke angkasa,” ucap Jack tepat di hadapan wajah Helena dengan menampilkan senyum nakalnya. Helena jijik melihatnya.
Setelah puas menikmati bibir sang istri, akhirnya Jack beralih untuk menghisap benda coklat yang ada di bukit himalaya tersebut. Tak lupa juga tangannya yang lain ikut bermain di bukit tetangga sambil memilin benda kenyal tersebut.
“Ahhss! Jack ... ahhss!” racau Helena berusaha menolak dengan memberontak sebisa mungkin, tapi tetap saja tubuhnya bertolak belakang dengan keinginannya. Tubuhnya seakan merespon setiap sentuhan yang diberikan oleh pria itu.
“Nikmati ini sayang,” ucap Jack mulai bangkit dan mengeluarkan benda pusakanya yang sangat gagah perkasa.
Helena membulatkan matanya dengan sempurna, saat melihat benda tak bertulang tapi bisa tegak, mengalahkan tegaknya keadilan di negeri Konoha. Helena berusaha bangkit untuk lari, tapi gerakannya sudah terbaca oleh sang suami. Alhasil ia kembali roboh dan melihat sesuatu yang besar dan berurat milik Jack tengah mengincar liang hangat di bawah bagian intinya.
“Tidak! Jack tolong jangan lakukan itu!” tolak Helena sambil terus terisak.
“Bersiaplah, sayang.”