THIRTEEN

1915 Words
                  Setelah kepergian Olly dan Cheval, Aira kini hanya berdua dengan Wafda di ruang kerja Aira. Mereka saling pandang satu sama lainnya dalam beberapa detik dan … “Kamu apa-apaan sih?” protesnya masih sambil berdiri dengan wajah kesal, menatap lelaki yang kini sudah bisa menduga jika wanitanya pasti akan membela client barunya.  Wafda yang mendengar pertanyaan tiba-tiba Aira barusan hanya bisa tersenyum. “It’s not a professional, Wafda!” kata Aira yang coba ditenangkan Wafda dengan pelukannya. Aira terus memberontak dan dibuat kesal oleh perlakuan Wafda terhadap Cheval barusan. “Maafin aku ya Sayang,” kata Wafda akhirnya mengalah dan melepaskan pelukannya. “Jangan maaf doang, kalo sampe aku kehilangan kontrak kerjaku dengan Cheval hanya karna perlakuanmu barusan aku akan sangat marah padamu.” Kata Aira sambil berusaha meredam amarahnya.                 Kepalanya terasa begitu sakit, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan tak mampu menopang tubuhnya sendiri untuk berdiri. Penglihatannya mulai kabur. Wafda yang melihat ada yang tidak beres dengan kekasihnya langsung menangkap tubuh Aira yang hampir jatuh ke lantai dan hampir tak sadarkan diri. Wafda menggendongnya ke kamar wanita itu dan membaringkannya di tempat tidurnya. Wajah Wafda sangat panik melihat wajah kekasihnya yang semakin memucat.                   Olly yang baru saja kembali setelah mengantarkan Cheval keluar, terkesiap melihat Wafda menggendong Aira ke kamarnya. Bahkan di situ terlihat Aira sudah tidak sadarkan diri. Begitu melihatnya, Wafda langsung menyuruhnya untuk menelpon dokter dan memberitahukan kepada keluarga Aira. Olly yang mendengar perintah Wafda, langsung segera turun ke lantai bawah dan melakukan apa yang dititahkan Wafda barusan.                 Ibu yang mendengar kabar bahwa Aira pingsan langsung naik ke kamar anak perempuan satu-satunya itu dengan panik melihat keadaan Aira. Mba Maia dan Albert juga menyusul kemudian. Setelah melihat keadaan adiknya, Albert langsung memutuskan untuk membawa adiknya itu ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya. Ibu dan Lia diminta Albert untuk tetap stay di rumah. Sedangkan Albert dan Wafda mengantarkan Aira ke rumah sakit. Wafda merasa sangat bersalah dengan keadaan Aira yang sekarang malah tak sadarkan diri karnanya. Ia hampir menangis melihat keadaan Aira saat ini. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Albert menanyakan tentang keadaan jelasnya kenapa Aira sampai jatuh pingsan seperti ini. “Ada apa sih ini sebenernya?” Tanya Albert memulai pembicaraan dengan nada masih cemas. “Maaf Bang, tadi gw sama Aira bertengkar. Gw yang mulai, trus dia terlihat kesakitan dan  akhirnya dia gw peluk trus ga lama, ga sadarkan diri. Jadi gw bawa ke kamarnya.” Jelas singkat Wafda. “Kalian kenapa bertengkar?” Albert sedikit kesal. “Gw jealous sama dy. Aira marah banget sama gw. Jadi terjadi hal ini. Sekali lagi gw minta maaf Bang,” katanya sambil menahan air matanya merasa sangat bersalah dan takut malah memperburuk kondisi Aira dengan amnesia yang sekarang di deritanya. “Kalau Aira kenapa-kenapa lo harus tanggung jawab ya, Wafd. Gw tuh berusaha jaga dia sebaik-baiknya. Kok lo malah sebegininya sama Aira? Jangan sakitin dia!” “Iya Bang, ini pertama dan terakhir kalinya gw begini. Maafin gw, Bang.” Kata Wafda lagi.   * * * * * *                   Aira tiba di Hospi Hospital dan langsung dibawa ke ruang IGD. Albert mengurus administrasinya sedangkan Wafda diminta berjaga di ruang tunggu depan IGD. Ia menghubungi Willa untuk memberitahukan kondisi yang terjadi saat ini. Willa kaget dan memarahi kakanya itu. Setelah puas mengomel pada kakanya di telpon, Willa bilang akan datang ke rumah sakit setelah mengganti pakaiannya. Malam ini, Willa baru saja sampai di rumah setelah melakukan meet and greet di Bali. Seorang suster datang menghampiri Wafda, memanggilnya untuk ikut ke ruangan dokter. “Permisi, dengan keluarganya Aira?” Tanya suster begitu sampai di hadapan Wafda. “Iya Sus. Saya!” Katanya. “Bapa diminta untuk menemui dokter di ruangannya.” Katanya memberitahukan. Tak lama Albert datang dan menghampiri Wafda dan suster tadi. “Gimana, Sus?” Tanya Albert yang baru saja selesai dengan administrasi Aira. “Bapa dengan siapanya?” tanya suster tadi. “Saya abangnya,” ujar Albert. “Baiklah, Bapa diminta untuk bertemu dengan dokter. Dokter akan menjelaskan kondisi Aira saat ini.” Ulang Suster itu kepada Wafda dan Albert. “Baik, terima kasih.” Ujar Albert.   * * * * * *                   Willa baru saja sampai dan segera menemui Albert dan Wafda. Mereka baru saja keluar dari ruangan dokter Bagas setelah mendapatkan penjelasan darinya tentang keadaan Aira saat ini. Mereka patut merasa sedikit lega karna tidak ada luka serius pada Aira saat ini. Aira akan dibawa ke ruang lab untuk menjalankan MRI Scan di sana. “Bang,” kata Willa kemudian bersalaman kepada Albert yang masih tak mengubah raut wajahnya yang masih kesal dengan Wafda. “Eh, La. Baru datang ya?” kata Albert masih dengan tampang sedihnya. “Iya, gimana Aira Bang, Wafd?” tanya Willa menuntut penjelasan dari kedua lelaki yang kini berdiri di depannya dengan tampang kusut. “Aira harus menjalani rawat dan malam ini juga harus MRI scan. Aku urus administrasi Aira dulu ya, La. Kalian tunggu di sini.” Ujar Albert sambil berjalan menuju ruang administrasi.                 Wajahnya tampak sedih dan matanya masih berkaca-kaca. Albert begitu menyayangi Aira dan hanya ada wanita itu yang menjadi saudara kandungnya. Terlihat juga kekecewaan yang terpancar di wajahnya ketika melihat Wafda tadi.   * * * * * *                   Setelah hanya tinggal berdua antara kedua kaka beradik itu, Willa menggeret kakanya itu ke sebuah koridor yang sedikit sepi dan memulai pembicaraan dengan kakanya. “Lo apa-apan sih?” Wafda terlihat kesal dengan perlakuan Willa barusan yang menggeretnya ke koridor sepi itu. “Lo yang apa-apaan?!” Willa tak kalah kesal, “kan udah gw bilang, jangan bikin Aira kenapa-napa! Kok lo malah bikin dia pingsan?” Willa semakin menatap kakanya dengan tatapan tajam. “Kan udah gw bilang gw engga sengaja, La.” Menatap adiknya dengan tatapan bersalah. “Udah deh, Cheval itu cuma clientnya Aira sekarang. Kalopun mereka bicara unformal ya itu hanya sebatas temen. Dan gw tau betul kalau Aira gak mungkin selingkuhin lo. Itu bukan typicalnya Aira sama sekali!” Ujar Willa dengan penuh penegasan. “Iya gw salah. Gw minta maaf ya, La. Gw ga jagain Aira dengan benar kali ini.” Wafda sudah berkaca-kaca. “Gw mohon ini terakhir kalinya lo bikin Aira nangis atau sampe membahayakan dirinya.” Katanya sambil mengambil beberapa langkah untuk menuju kembali ruang tunggu IGD, “dan satu lagi, jauhin yang namanya Amanda! Karna Aira sangat ga suka dengan wanita manja yang selalu ngejar-ngejar lo itu!” katanya memperingatkan kakanya dan melanjutkan langkahnya.   * * * * * *                   Aira baru saja dipindahkan ke ruang rawat, malam ini ia akan menempati salah satu kamar VVIP yang sudah dibooking untuk dirinya. Albert, Willa dan Wafda setia mendampinginya. Hingga pukul satu dini hari dan tiba di ruang rawatnya, Aira masih belum juga siuman. Tak ada perbincangan diantara mereka. Mereka bertiga hanya bisa memandang Aira yang kini masih tertidur dan sepertinya masih ingin istirahat. Wajah pucatnya kini sudah mulai memudar, selang infus kini sudah menempel sempurna di tangan sebelah kirinya.                 Beberapa kali ibu dan Lia menanyakan perkembangan keadaan Aira pada Albert dan Wafda yang mengantarnya ke rumah sakit. Mereka cukup lega dengan hasil pemeriksaan dokter yang bilang jika keadaan Aira tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi tetap saja mereka masih cemas karna belum melihat keadaan Aira secara langsung. Wafda masih memegangi tangan Aira sedari tadi. Ia bahkan menunduk sambil merenung dan terlihat meruntuki kebodohan yang telah ia lakukan.  “La, kamu jangan pulang ya. Soalnya udah malem, kamu nginep di sini aja.” Ujar Albert. “Iya Bang, aku juga mau nemenin Aira.” Willa tersenyum tipis sambil memandang Albert yang kini berdiri di depannya. “Ok, abang keluar dulu sebentar ya. Tolong jaga Aira.” Kata Albert yang kemudian melangkah keluar ruangan.                 Willa tersenyum. Begitu melihat Albert benar-benar keluar dari ruangan, Willa menghampiri Wafda yang masih memegangi tangan kekasihnya. “Aira bakal baik-baik aja kalo lo bisa baik-baik juga.” Kata Willa dengan nada sindiran.                 Wafda tak bicara apapun, ia seperti tertohok oleh kalimat adiknya barusan. “Aira itu sayang banget Wafd sama lo. Lo taukan terakhir kalinya dia putus dari Lando? dia juga sedih banget, bukan karna dia sedih putus dan ga ada hubungan apa-apa lagi sama Lando. Dia sayang sama Lando, tapi sebelum Lando memutuskan untuk putus dengan Aira, Lando itu adalah salah satu sosok lelaki yang sayang sama Aira selain Albert dan almarhum ayahnya. Bahkan gw tau banget pas Aira mutusin untuk pacaran sama Lando masih ada lo di hatinya dia yang sampai saat itu masih belum sadar juga dengan kehadiran dia yang serius sayang sama lo. Sampe akhirnya dia memilih untuk ga menjalin hubungan sama siapapun ya karna apa? karna di satu sisi dia sesayang itu sama lo, di satu sisi yang lain dia masih trauma sama apa yang udah dilakukan sama Lando. Kita emang deket Wafd sama Aira, tapi lo bener-bener ga bisa lepas dari cewe-cewe lo saat itu, padahal lo udah tau kalau lo juga punya perasaan yang sama ama Aira. Tapi setelah lo sama dia sama-sama, kenapa lo tega nyakitin dia yang udah nunggu lo lama banget, Wafd? tolong, jangan jadi laki-laki yang bodoh sama seperti Lando, rival lo itu. Kalau sampai benar terjadi, gw yakin lo ga akan punya kesempatan yang sama seperti sekarang. Gw yakin dia pasti ga akan pernah maafin lo, sama seperti apa yang dilakukannya pada Lando.” Ujar Willa sambil memandang kakanya dan Aira bergantian.     * * * * * *                                 Wafda duduk di sampingnya sambil memegang tangan Aira dan menatapnya tanpa henti. Aira masih belum sadar sejak semalam. Hari ini ada jadwal pemeriksaan dengan dokter. Albert sudah pergi sejak tadi pagi, ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Namun, ia berjanji untuk kembali ke Hospi Hospital lebih cepat setelah semua pekerjaannya selesai. Kebetulan memang kantor Albert tidak terlalu jauh dari Hospi Hospital tempat Aira dirawat sekarang ini.                 Begitu melihat Lia dan ibu Saira datang, Willa memohon diri untuk pulang. Karna memang tidak enak juga berlama-lama di sana, biar bagaimanapun Aira membutuhkan ketenangan dalam beristirahat. Kebetulan juga memang Willa memiliki jadwal untuk bertemu dengan editor dan managernya sore nanti. Jadi sebelum ia pergi meeting Willa ingin beristirahat sejenak.   Siang itu, Aira perlahan-lahan membuka matanya. Mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan beberapa kali mengerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Di sana ada ibu, mba Lia dan Wafda yang menjaganya. Wafda langsung memanggil dokter untuk melihat kondisi Aira.   “Baiklah, perwakilan anggota keluarga tolong ke ruangan saya ya.” Kata dokter Bagas setelah memeriksa keadaan Aira setelah siuman. “Baik Dok,” jawab mba Lia.                 Kemudian ibu dan mba Lia menemui dokter. Mereka langsung mengekori dokter ke ruanganya untuk berbicara tentang keadaan Aira sekarang. Wafda diminta ibu untuk menjaga Aira di kamarnya. “Kenapa aku di sini Sayang?” tanya Aira begitu hanya ada dirinya dan Wafda berdua di kamarnya. “Kemarin kamu pingsan Sayang.” Jawab Wafda dengan nada sedikit takut. “Ah iya, setelah Cheval pulang ya?” kata Aira sambil memegang kepalanya yang masih terasa berat.                 Wafda mengangguk dan tersenyum tipis. “Maafin aku ya, aku udah jadi laki-laki yang egois. Maafin aku ya, Ra. Aku janji ga akan begitu lagi.” Ujar Wafda pada Aira. “Aku ga apa-apa Sayang.” Aira tersenyum dan mengelus pipi Wafda.                 Senyuman Aira begitu menyejukkan hatinya, Aira memang wanita yang sangat baik. Hatinya bahkan terasa sakit setelah mendengar kalimat Aira. Wafda benar-benar menyesali perbuatannya, meruntuki kebodohannya adalah yang ia lakukan sedari tadi. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum lega karna Aira tidak marah seperti yang ia fikirkan. Bahkan emosi yang terlihat tadi malam, sama sekali tidak terlihat pada Aira sekarang.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD