Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamar Aira. Wafda dan Aira melihat ke arah pintu dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Cheval membuka pintunya dan menyumbulkan kepalanya ke dalam ruangan untuk memohon izin masuk ke dalam. Setelah melihat senyuman Aira, Cheval langsung melenggang masuk dengan membawa satu buah bouquet bunga mawar merah dan sebuah parcel buah apel kesukaan Aira. Wafda terlihat kesal karna lelaki itu kini muncul lagi di hadapan mereka berdua setelah tadi malam mereka sempat bertengkar hingga menyebabkan Aira tidak sadarkan diri hampir semalaman dan membuat Wafda frustasi setengah mati.
“Hai Ra, gimana keadaan kamu?” kata Cheval kemudian duduk di sebelah Wafda.
“Hai Cheval. Aku baik,” jawabnya ramah.
Kemudian mereka berbincang sejenak. Walau masih ada kecanggungan diantara Cheval dan Wafda. Tapi Wafda tidak mau memulai pertengkaran, apalagi di rumah sakit dan di depan Aira. Jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Mereka berdua pasti menjadi tersangka utamanya. Dan bisa saja akan menjadi bahan amukan Albert jika Aira terluka lagi.
Ibu dan mba Lia masuk ke ruang rawat Aira dan menyapa Cheval yang baru saja mereka temui. Mereka berdua cukup lega dengan penjelasan keadaan Aira dari dokter Bagas barusan.
“Apa kabar Ibu?” sapa Cheval kemudian bersalaman dan mencium punggung tangannya.
“Alhamdulillah, ibu baik Cheval. Kamu bagaimana?” tersenyum ramah.
“Baik Bu,” membalas senyum.
“Hai Cheval,” sapa Mba Lia ramah.
“Hai Mba.” Balasnya tak kalah ramah.
Wafda meminta izin pada Aira untuk bicara dengan mba Lia. Setelah mendapatkan izin ia kemudian melangkah menghampiri mba Lia yang sedang menyiapkan makan siang untuk ibu di ruang tunggu kamar itu.
“Gimana mba?” tanya Wafda dengan wajah kecemasan.
“Aira sudah baikan dan fungsi memorynya sudah bisa berjalan seperti biasanya lagi. Aira juga sudah tidak perlu menjalankan terapi lagi kata dokter Bagas. Tapi kamu jangan menganggap sepele ya. Tetap saja kita harus menjaganya dengan baik.” Jawab Mba Lia dengan pelan setengah berbisik dan memperingatkan Wafda.
“Berarti Aira sudah sembuh?” tanya Wafda bersemangat dengan memancarkan senyuman di wajahnya.
“Bisa dibilang seperti itu. Tapi kita tetap harus menjaganya, ingat! Menjaganya! Karna sakit di kepalanya mungkin saja akan sering datang. Untuk sementara dokter masih minta kita untuk tetap waspada dan harus ada yang mendampinginya di manapun ia berada. Olly atau Maia ga boleh lengah dengan hal ini. Terutama Olly, karna Aira akan selalu didampingi olehnya.” Menekankan kata menjaganya pada kalimat yang baru saja dilontarkannya.
“Iya, Mba. Apa dia akan lupa sama ingatan yang kemarin-kemarin?” tanya Wafda lagi.
“Bisa ya bisa tidak. Tergantung dari dirinya sendiri. Karna setiap orang pasti akan berbeda,” kata Lia yang kini sedang membersihkan tangannya.
“Kapan Aira pulang?”
“2 hari lagi. Dokter masih ingin liat kemajuannya. Kamu bantu jaga Aira ya. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Dokter juga pesan, Aira jangan terlalu cape dan stress dulu.”
“Iya Mba. Maafin aku ya.” Kata Wafda masih merasa bersalah.
Lia kemudian memangguk dan mengelus bahu Wafda tanda jika ia memaafkan Wafda.
* * * * * *
Dua hari kemudian
Aira sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sayangnya Wafda tidak bisa ikut menjemput kekasihnya itu. Hari ini Wafda diundang kesalah satu acara talkshow di Bandung dan ia tidak bisa mengelak dari pekerjaannya. Tapi Riman sudah berjanji setelahnya mereka langsung pulang ke Jakarta dan langsung menemui Aira. Aira dan keluarganya juga sudah tau tentang jadwal Wafda ini. Cheval muncul di hadapan Aira dan keluarga yang tengah bersiap-siap untuk check out dari rumah sakit tersebut. Albert dan Cheval kini telah berkenalan, selama beberapa minggu ini hanya Albertlah yang belum bertemu dengan Cheval.
Aira selalu membawa teman bisnisnya untuk meeting di rumah dan selalu diperkenalkan dengan keluarganya. Jadi mereka bisa mengontrol siapa saja teman yang baik dan yang buruk untuk Aira. Biar bagaimanapun Albert sangat protectif terhadap adik semata wayangnya. Albert lebih suka jika Aira bekerja di rumah tanpa perlu menyewa tempat. Selama hanya studionya cukup untuk dirinya dan staffnya untuk bekerja kena harus jauh-jauh menyewa ruang kantor. Itulah sebabnya Aira membangun ruang kantornya di rumahnya atas izin kedua orang tuanya dan juga Albert. Aira juga memang lebih suka di rumah dibanding di tempat keramaian.
Sesampainya di rumah, Aira langsung diantarkan oleh Olly ke kamarnya. Aira diminta ibu untuk berganti pakaian. Cheval menunggu di bawah bersama dengan ibu dan yang lainnya. Albert juga mengajak Cheval untuk berbicang sejenak agar ia mengetahui karakter teman adiknya itu. Dalam beberapa jam saja mengenal Cheval, Albert sudah mengetahui kalau Cheval menaruh hati kepada adiknya itu.
“Ya, saya sangat kagum sama Aira.”kata Cheval sambil menyesap es lemon tea.
“Kenapa?” tanya Albert.
“Dia cantik, pintar, mandiri ya walaupun kita tau Aira itu anak terakhir dan yang saya paling suka adalah dia selalu tersenyum manis.” Katanya sambil juga mengembangkan senyumannya.
“Aira memang seperti itu. Dia adalah adik saya satu-satunya yang selalu saya jaga. Jadi saya tidak mau siapapun menyakitinya,” kata Albert menambahkan. “Kamu menaruh hati padanya?” sergahnya pada lelaki tampan di sebelahnya.
“Ya, love her at the first sight. Tapi saya tau diri, Aira sudah ada Wafda. Dan saya ga mau disebut sebagai perusak hubungan mereka. Saya hanya bisa menunggu moment yang tepat. Jika Aira jodoh saya, saya pasti akan mendapatkan Aira. Tapi jika tidak ya saya akan gentle memberikan selamat kepada Wafda atau siapapun yang akan mendampinginya nanti. Bahkan Aira sudah tau hal ini. Sayapun sangat berterimakasih karna Aira tidak menjauhi saya, ketika tau perasaan saya yang sebenarnya. Setidaknya Aira bisa bersikap professional.”
Albert tersenyum, tak lama kemudian Aira menghampiri mereka berdua yang tengah duduk di meja makan outdoor yang ada di halaman belakang.
“Hayooo ngomongin aku ya?” kata Aira yang langsung duduk di kursi yang berada di tengah-tengah Albert dan Cheval.
Cheval dan Albert hanya tersenyum melihat Aira. Tak lama kemudian Lia dan Ibu ikut bergabung dengan mereka juga. Mereka akan melanjutkan makan malam, di halaman belakang. Mereka juga akan sekaligus barbeque untuk menyambut kesembuhan Aira dan kepulangannya ke rumah.
* * * * * *
Wafda turun dari mobilnya diantar oleh Riman dan Rangga. Mereka baru saja tiba dari Bandung, dan Wafda langsung minta diantarkan oleh Riman ke rumah Aira. Mereka bertiga langsung dipersilahkan masuk oleh Olly dan diantarkan ke halaman belakang untuk begabung bersama dengan Aira dan keluarganya.
Begitu mereka sampai di halaman belakang rumah kediaman keluarga Aira. Riman dan Rangga terkesiap melihat Cheval yang sedari tadi nempel dengan Aira. Aira yang duduk di sebelah Cheval sambil sesekali mengunyah camilan yang ada di hadapannya. Sedangkan ibu dan mba Lia yang duduk di hadapan Aira dan Cheval ikut berbincang akrab dengan mereka berdua. Sesekali Aira tersenyum dan membalas perkataan Cheval. Aira yang hanya menganggapnya sebagai teman dan merasa perilakunya biasa-biasa saja hanya bisa membalas perlakuannya itu.
“Halo Sayang,” sapa Wafda ketika sampai di belakang tubuh Aira yang sedang sibuk mengunyah camilannya.
Aira langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Wafda.
“Baru sampe?” tanya Aira yang masih betah di pelukan Wafda.
“Ehmmm …” deheman Riman menginterupsi perbincangan mereka.
“Hai Man, Hai Nga.” Sapa Aira sambil berjabatan tangan dengan Riman dan Rangga bergantian.
“Hai Ra. Apa kabar?” kata Riman.
“Baik. Yuk duduk,” ajak Aira mempersilahkan. “Oh iya, kenalin ini Ibu aku, ini Mba Lia Kaka Ipar aku, yang di sana itu Albert Abangku dan ini Cheval teman bisnis,” lanjutnya sambil memperkenalkan mereka satu persatu.
Riman dan Rangga langsung berkenalan dengan mereka dan mencium punggung tangan ibu dengan sangat sopan. Setelah menyapa ibu dan mba Lia, juga Cheval, Rangga dan Riman dipersilahkan duduk. Wafda menghampiri Albert yang sedang memanggang daging dan sate seafood yang berada beberapa meter dari mereka.
“Bang,” sapa Wafda.
“Hei,” kata Albert sambil menaruh beberapa lempengan daging di atas panggangan.
“Sini Bang gw bantuin,” kata Wafda menawarkan bantuan.
“Nih,” Albert memberikan sebuah capitan dengan bahan dasar kayu berwarna coklat muda kepada Wafda.
“Gw mau ambil minum dulu ya, yang ini tinggal di bolak-balik aja kok.” Katanya memberitahukan pada Wafda.
“Ok Bang,”
Albert langsung pergi melangkah menghampiri istrinya yang sedang berbincang dengan ibu, Aira dan juga sahabat-sahabat Wafda. Tak lama kemudian, Cheval menghampiri Wafda yang baru saja ditinggalkan oleh Albert.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya Cheval ramah.
“Silahkan duduk saja. Andakan tamu di sini.” Kata Wafda berusaha ramah.
Maia yang melihat Wafda dan Cheval bersama mulai mengawasi mereka, takut-takut ada pembicaraan yang sensitif dan mengarah kepertengkaran. Olly membawakan beberapa daging yang baru saja dibumbui untuk diberikan kepada Wafda untuk dipanggang. Setelahnya ia duduk di sebelah Maia dan ikut mengawasi mereka berdua yang berada tak jauh dari mereka.
“Gw mencintai Aira,” kata Cheval memulai lagi setelah beberapa menit sama-sama terdiam.
“Lalu?” tanya Wafda datar sambil fokus dengan daging-daging yang sedang ia panggang di hadapannya.
Tangannya mengepal ingin sekali menghantam wajah Cheval dengan sebuah tinjuan. Tapi lelaki itu berusaha untuk meredamnya agar tak terlibat perkelahian dengan lelaki itu.
“Kalau lo sampai menyakitinya gw ga akan segan-segan untuk merebut Aira dari lo!” kata Cheval dengan penuh penegasan.
“Oh, tenang saja Bung. Gw ga akan menyakiti Aira. She’s my special girl. Dan gw pastikan itu tidak akan pernah terjadi, bahkan kami akan segera menikah. So, jauhi dia!” kata Wafda memberikan peringatan pada Cheval dan tak kalah tegas, menatap tajam ke arah lelaki yang kini berdiri di sampingnya.
“Ok, tapi jika lo menyakiti dia bahkan sampai mengkhianatinya, jangan harap Aira akan kembali lagi ke lo.” Ucapnya mengancam.
“Itu ga akan pernah terjadi Mr. Godelief!”
Kemudian Albert datang dan melihat mereka sedang sedikit bersitegang.
“Relax Bro, what’s happening?” tanya Albert memegang pundak Wafda agar lebih santai.
“Ga ada apa-apa kok Bang,” ucap Cheval berbohong sambil tersenyum.
Wafda hanya terdiam dan kembali fokus dengan panggangannya. Setelah semuanya dipanggang dengan baik, akhirnya makan malam itu dimulai. Albert mengambil beberapa botol wine yang baru saja ia beli. Ia membeli beberapa wine espora. Wine espora ini adalah wine yang halal dan diekspor langsung dari Spanyol. Bagusnya adalah wine ini tidak mengandung alkohol dan cocok untuk diminum ketika ada jamuan makan malam juga perayaan dan dapat dipadukan berbagai makanan seperti daging, ayam dan seafood seperti sekarang ini.
Setelah mereka semua duduk di kursi makan masing-masing, Albert kemudian membuka satu buah botol Wine. Ia bilang ini perayaan untuk kepulangan Aira dari rumah sakit dan kesembuhan Aira. Semua bersorak sorai dan menyelamati Aira. Ia yang menjadi pusat perhatian, pipinya langsung bersemu merah.
“Kapan kalian akan bertunangan?” tanya ibu tiba-tiba ketika mereka menikmati makan malam sambil mengobrol santai.
Aira dan Wafda terkesiap dengan pertanyaan ibu. Kemudian Wafda berfikir dengan sangat keras untuk menjawab pertanyaan ibu. Hanya dentingan suara piring yang menemani mereka setelah pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan ibu dilontarkan. Wafda masih belum menjawab pertanyaan ibu hingga beberapa menit kemudian.
* * * * * *