“Wafda?” Aira yang menatap Wafda yang duduk di sampingnya sambil memegang tangan lelakinya itu untuk menjawab pertanyaan ibunya.
“Ya … ehmmm …” kata Wafda tersadar.
“Gimana Wafd?” tanya Albert kemudian menatap serius kepada calon adik iparnya itu.
Cheval mengamati Wafda yang duduk persis di depannya.
“Bulan depan Bu, Bang.” Jawab Wafda spontan kemudian menatap lembut ke Aira yang juga menatapnya dengan intens.
Berharap jika lelaki itu melontarkan berita baik untuknya.
“Are you serious?” bisik Aira pada kekasihnya itu dengan wajah takut.
Wafda mengangguk sambil tersenyum. Riman dan Rangga hanya cengar-cengir melihat sahabatnya itu ditembak pertanyaan yang sangat serius dari calon ibu mertua dan kaka iparnya.
“Ok, kami tunggu keseriusanmu dan pembicaraan selanjutnya Wafd.” Kata Albert yang mewakili ibunya.
“Laki-laki itu yang dipegang janjinya ya Wafd. Jangan sampai kamu mengingkari janjimu,” kata mba Lia sambil memegang tangan Albert dan tersenyum bergantian ke arah suami dan calon adik iparnya.
“Betul itu,” kata Riman menimpali.
Kemudian mereka semua tertawa dan melanjutkan makan malam mereka dengan senyuman.
* * * * * *
Setelah Cheval, Riman dan Rangga berpamitan. Aira dan Wafda kini duduk berdampingan di halaman belakang dan menikmati suasana malam ini. Terdapat hamparan bintang yang sangat banyak dan bulan yang menyinari dengan terangnya. Mereka berdua sama-sama melihat ke arah langit yang sangat cerah. Sedangkan ibu, mba Lia dan juga Albert memilih untuk masuk ke kamar untuk istirahat.
“Aku senang banget kamu udah sembuh,” kata Wafda masih memandang langit malam.
“Terima kasih karna kamu selalu berada di sampingku, mendukungku. Aku bersyukur banget aku punya kalian di dalam hidupku. Ternyata aku bisa melewati ini semua. Mudah-mudahan semuanya bisa baik-baik aja ya,” kata Aira tersenyum.
Wafda tersenyum seraya menggenggam tangan kekasihnya.
“Oiya, besok aku pulang ke rumah mamah ya. Mau ngomongin soal pertunangan kita.” Ujarnya.
“Apa ga terlalu terburu-buru?” tanya Aira cemas.
“Enggalah Sayang. Justrukan memang dari awal aku menginginkan kamu jadi istri aku. Kamu mulai ragu?” kemudian Wafda mensejajarkan wajahnya menatap Aira ke dalam matanya.
Aira masih terdiam beberapa saat.
“Jangan bilang kamu ragu karna sekarang ada Cheval dan kamu mulai tertarik padanya?” tanyanya masih berusaha menahan emosinya.
Jantung berdetak lebih cepat menanti jawaban dari Aira dan berdoa semoga hal itu tidak terjadi.
“Sama sekali engga,” menggenggam tangan lelakinya itu berusaha meredam emosinya.
“Lalu?”
“Aku cuma ga ingin aja kamu berfikir kalau ibu dan Albert memaksa kamu untuk segera menikahiku. Aku tau pasti kamu masih banyak sekali impian yang mau kamu kejarkan?”
“Heyyy … tunggu – tunggu – tunggu, impian yang ingin aku kejar katamu?”
“Iya”, merasa kalimat yang baru saja ia lontarkan adalah kalimat yang salah.
“Kamu dengar Aira, salah satu impianku adalah kamu. Jadi sekarang ini aku sedang berusaha mewujudkan impianku untuk menikahimu. Ditambah aku juga sangat mencintai kamu. Aku mohon menikahlah denganku Aira,” kata Wafda sedikit memohon dan menatapnya dalam.
Kemudian lelaki itu membuka kotak perhiasan yang berisi cincin yang sangat indah. Aira terkesiap melihat Wafda ternyata mempersiapkan sebuah cincin untuknya. Matanya kini berkaca-kaca. Ia tak bisa membendung harunya suasana itu.
“Aira?” masih menunggu jawaban Aira yang masih belum menjawabnya untuk beberapa saat.
“Tapi,”
“Aku mohon, aku janji tidak akan menyakitimu. Aku janji akan memberikan yang terbaik untukmu,” katanya memohon masih memegang kotak cincin dan menyodorkan pada Aira untuk mengatakan jawabannya.
“Kamu janji?” tanya Aira dengan wajah sedikit ragu.
“Janji Sayang!” mengusap pipi Aira dengan lembut dan penuh keyakinan.
“Aku mau!” katanya mantap.
Wafda yang mendengar jawaban kekasihnya itu langsung memeluk Aira dengan sayang.
“Terima kasih Sayang,” kemudian memakaikan cincin itu kejari manis di tangan kiri Aira.
“Aku harap kamu menepati janji kamu ya,”
“Iya Sayang,” lalu mencium kening kekasihnya.
* * * * * *
Aira melajukan mobilnya dan memarkirkannya di sebuah rumah yang sudah sangat ia hafal sejak ia masih remaja. Rumah itu terlihat sangat asri dan dikelilingi oleh pohon. Setelah dipersilahkan masuk, Aira masuk ke dalam rumah yang bercat putih itu dan menyapa sang empunya rumah yang sedang duduk bersantai di depan TV ruang keluarga.
“Halo ibu,” kata Aira kemudian memeluk wanita paruh baya yang sangat ia kenal.
“Hey Aira, dari mana kamu?” tanya ibu Setya membalas pelukan Aira.
“Aku dari rumah, Bu. Ibu baru pulang ngajar?”
“Iya Sayang. Sekarang tinggal santai, lagi mikirin materi buat besok,” katanya kemudian mempersilahkan duduk.
“Willa mana Bu? Kok ga keliatan,” tanya Aira.
“Baru selesai mandi dia. Gimana keadaan kamu? Ibu dengar kamu sudah sembuh ya?” senyum sumringah.
“Iya Bu. Aku bersyukur banget udah sembuh. Cuma kata dokter jangan kaget kalau nantinya rasa pusing akan sering datang karna itu efek dari benturan keras yang ada di kepala waktu itu.”
“Syukurlah Ra, ibu selalu berdoa untuk kesembuhan kamu. Lalu bagaimana dengan rumah yang di Bali? Apa kamu suka?” tanyanya sambil tersenyum.
Aira tak langsung menjawab, ia hanya tersenyum kecut.
“Loh kenapa? Kamu ga suka?” tanya ibu Setya bingung dengan wajah menyelidik.
“Ehmm … suka kok Bu. Terima kasih banyak. Tapi Aira rasa berlebihan sekali, belum menikah saja sudah diberikan hadiah begitu mewah,” katanya sungkan.
“Aira, dengar ibu baik-baik. Dari awal kamu menjalin hubungan dengan Wafda, ibu sangat senang. Bahkan dulu ya, waktu kamu masih remaja dari baru saling kenal dengan Willa ketika SMP dulu. Ibu membatin dan berdoa, semoga kamu berjodoh dengan Wafda. Jadi, waktu kalian mulai dekat. Ibu rasa doa ibu akan terkabul. Dan benar aja, setelah kalian jadian ibu dan resmi, ibu sangat bersyukur. Ibu rasa untuk pemberian rumah di Bali itu, Ga berlebihan. Malah ibu ingin sekali kalian langsung menikah saja. Mulai sekarang ga perlu canggung dan sungkan ya. Anggap ibu ini seperti ibu kamu sendiri. Kalau kamu merasa ingin curhat tentang Wafda atau apapun yang kamu ingin ceritakan, ibu akan mendengarkan kamu layaknya seorang ibu kepada anaknya. Ya sayang?” kata ibu Setya pada Aira dengan penuh kesabaran dan sayang.
“Iya Bu. Terima kasih banyak,” sambil membalas senyuman calon ibu mertuanya.
“Sepertinya cincin ini ibu kenal,” katanya sambil meraih tangan Aira yang dipakaikan cincin dari Wafda.
“I-iya Bu. Ini dari Wafda.” Kata Aira.
“Akhirnya! kamu sudah menerima lamaran Wafda?” katanya semakin sumringah.
“Iya Bu. Semalam Wafda kasih ini ke aku,”
“Terima kasih Sayang,” seraya memeluknya dan senyuman di wajahnya mengembang dengan sempurna.
Ketika ibunya sedang memeluk Aira, Wafda memandang kebersamaan mereka dari mezzanine di depan kamarnya. Tak lama Willa juga menyusul Wafda dan melihat kebersamaan Aira dan ibunya di ruang keluarga lantai satu.
“Pasti Mama seneng tuh, anaknya nemu cewe yang pas. Ga ganti-ganti pacar mulu,” sindir Willa setengah berbisik.
“Ya pastilah. Kerenkan abang lo ini. Bisa dapetin cewe spesial dan cewe spesial itu adalah sahabat dari Ade gw sendiri,” katanya bangga.
“Ok, lo keren. Untuk kali ini aja ya gw bilang begitu. Inget ya Wafd, kalo lo sampe nyakitin Aira atau bahkan lo ngekhianatin dia. Tarung kita!” dengan penuh penegasan dan sedikit ancaman.
“Ok-ok Adikku,” kemudian mengacak-acak rambut Willa yang setengah basah dan berlalu menghampiri calon istri dan ibunya di lantai satu.
* * * * * * *
Ketika sampai di ruang keluarga di lantai satu, Wafda dan Willa menghampiri ibu dan Aira yang sedang berbincang.
“Liat De, Kakamu udah kasih ini ke Aira.” Kata ibu Setya menunjukkan tangan kiri Aira yang sudah mengenakan cincin pemberian Wafda.
“Selamat ya Guys,” kata Willa kemudian memeluk Aira.
Aira kemudian membalas pelukan sahabat sekaligus calon adik iparnya.
“Udah jangan lama-lama peluknya. Gwkan juga mau peluk Aira,” kemudian melerai pelukan Willa dan Aira. “Hallo, Sayang.” Katanya menyapa Aira seraya memeluk kekasih dan mencium pipi Aira dengan lembut di depan mamah dan juga adiknya.
“Hai,” jawabnya malu-malu setelah mendapat perlakuan dari Wafda.
Gimana ga malu? Dicium pipinya di depan calon ibu mertuanya ehehehe …
“Enak aja main cium-cium woiii!” kata Willa protes.
Wafda hanya cengar-cengir. Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk pergi nonton bersama, karna ada film yang baru saja launching malam tadi. Ibu dan Willa langsung mengganti pakaian mereka dan bersiap untuk berangkat. Sedangkan Aira dan Wafda duduk santai sambil mengobrol di ruang keluarga. Sesekali Wafda memegang dan memandang jari manis Aira yang ia pakaikan cincin pilihan mamahnya.
Setelah siap untuk berangkat mereka berempat langsung masuk kesedan mewah milik Wafda. Di perjalanan menuju mall, Willa menelpon Dimas. Dimas adalah kekasih Willa. Ia meminta kekasihnya itu untuk ikut nonton bersama mereka. Namun sayangnya, Dimas tidak bisa hadir. Terlihat dari raut wajah Willa, kalau ia kesal dan agak murung dengan ketidakhadiran kekasihnya. Tapi mamahnya mencoba untuk menenangkan Willa. Hingga akhirnya ia pun mengatur moodnya.
* * * * * *
Aira melihat seorang lelaki yang ia kenal sedang berbicang mesra dengan seorang wanita. Aira langsung menarik Wafda yang berjalan di sampingnya. Ibu Setya dan Willa berjalan lebih dulu ke bioskop dan check in untuk merea berempat. Aira dan wafda mengamati lelaki itu beberapa saat dan memastikan kalau lelaki itu adalah benar yang orang yang mereka maksud. Mereka berdua kemudian menghampiri laki-laki itu.
“Dimaskan ya? apa kabar?” sapa Aira pada lelaki bertubuh berisi dan berkulit putih.
“Hai, Aira? Aku baik. Kamu gimana?” kata Dimas berusaha tetap tenang.
“Baik juga.” Aira tersenyum.
“Ayo Sayang,” ajak Wafda yang tiba-tiba menghampiri Aira dan Dimas yang dibuat senatural mungkin.
“Loh, sama Ka Wafda juga?” Dimas makin kikuk melihat kaka dari kekasihnya kini tengah berdiri di depannya.
“Iya. Tadi bukannya lo bilang ga bisa dateng? Kok tiba-tiba di sini?” tanya Wafda pura-pura tidak tau apa-apa.
“Oh ini Ka, tadi abis ketemu client. Abis ini juga mau balik kantor.” Katanya membela diri.
Kemudian Wafda merangkul Dimas dan sambil setengah berbisik. Wanita yang bersama Dimas langsung kebingungan dengan tingkah laku mereka bertiga.
“Lo denger ya, Willa itu adik gw. Kalau lo ada hubungannya dengan cewe itu, lo abis ya sama gw.” Kata Wafda tegas.
“I-iya Ka. Gw ga ada hubungan apapun kok sama dia. Abis ini gw ke atas untuk datang ketemu Willa. Tapi tolong jangan bilang kalau gw sama temen cewe gw ya.” Ujar Dimas gugup, “sumpah gw sama ini cewe ga ada hubungan apa-apa.”
Lanjutnya lagi.
“Ok gw tunggu di atas,” Wafda melepaskan rangkulannya dan mengulurkan tangannya untuk disambut Aira, kekasihnya. “Yuk, Sayang. Kita ke atas,” ajak Wafda kemudian menggandeng Aira.
Aira dan Wafda kemudian berjalan meninggalkan Dimas dan wanitanya.
“Janji ya, jangan ngomong sama Willa,”kata Aira mengingatkan Wafda setelah mereka sudah keluar dari resto temapt Dimas dan teman wanitanya terlihat bersama.
“Iya. Anggep aja kita ga liat mereka tadi. Nanti kalau sampe dia macem-macem lagi. Baru kita ngomong,” Wafda berjanji.
“Oke Sayang,” kata Aira sambil memeluk lengan kekasihnya itu.
* * * * * *