SIXTEEN

1654 Words
           Ketika sedang menunggu pintu bioskop dibukakan untuk mereka, Dimas datang menghampiri mereka dan mencium tangan ibu Setya dengan sopan. Tak lupa ia juga menyapa Aira dan Wafda berpura-pura seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Aira dan Wafda saling tatap begitu melihat Willa tersenyum senang karna kekasihnya jadi datang dan akan menonton bersama dengan mereka. Ibu langsung menarik Wafda. Ibu sepertinya mencium keanehan dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba datang. Ibu, Wafda dan Aira meninggalkan Dimas dan Willa sejenak. “Ada apa sih Mah?” tanya Wafda begitu mereka bertiga menjauh dari Willa dan Dimas. “Jangan pura-pura tidak tau kamu. Sepertinya ini ada hubungannya dengan kalian berdua tentang kedatangan Dimas.” Kata Ibu                 Aira dan Wafda saling menatap. “Sudahlah Mah. Ini ga ada hubungannya dengan kami. Mama jangan curiga gitu dong.” Kata Wafda berusaha menyembunyikan apa yang baru saja ia lihat. “Ka, mamah itu tau. Pasti ini ada hubungannya dengan wanita yang di resto bawah tadikan?” sedikit emosi dengan mengingat kejadian sebelumnya. “Bu, sebaiknya Ibu tenang. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Kitakan mau senang-senang. Yakan?” kata Aira kemudian memeluk ibu Setya untuk menengkannya. “Baiklah kalau kalian tidak mau memberitahu mamah. Tapi mamah sudah mengetahui bahwa Dimas sedang bersama dengan  perempuan lain di resto bawah tadi.”                 Kemudian ibu Setya menceritakan tentang apa yang diceritakannya tadi ketika mereka berempat naik menuju bioskop melalui lift. Ia sempat samar-samar melihat seorang lelaki mirip Dimas yang sedang bersenda gurau dengan seorang wanita yang terlihat lebih tua sedikit dibanding lelaki itu. Dari gasture yang mereka perlihatkan tampaknya ada ketertarikan diantara mereka berdua. Ibu Setya berusaha mengalihkan pandangan Willa yang sedang sibuk bercerita tentang Dimas sambil sesekali ia menanggapi dan berdoa agar Willa tak melihat Dimas yang sedang bersama dengan wanita lain di resto di bawah sana. “Pokoknya kamu harus cari tau ya Ka. Jangan sampai dibiarkan begitu. Mamah ga mau kalau sampai adikmu itu kenapa-kenapa dan sakit hati.” Kata mamah meminta kepada anak sulungnya. “Ibu ga usah khawatir ya. Nanti kita cari tau. Tapi untuk sementara kita berpura-pura saja ga tau apa yang terjadi.” Kata Aira kemudian memeluk lengan calon ibu mertuanya. “Mohon perhatian anda, pintu teater sepuluh telah dibuka. Kepada seluruh penonton yang telah memiliki karcis, dipersilahkan untuk segera memasuki teater. Terima kasih,” pengumuman itu terdengar di seluruh antero ruangan bioskop.   “Pokoknya Mamah tenang aja. Jangan terlalu dipusingkan. Nanti kita bantu cari tau ya,” “Janji ya Ka.” “Iya Ma. Yuk, udah nanti mereka malah curiga ke kita.”                 Akhirnya mereka menemui Willa dan Dimas yang sudah menunggu di depan pintu teater sepuluh. Ibu berusaha mengatur ekspresi wajahnya supaya tidak membuat Willa curiga dan membuat suasana kacau.                 * * * * * *                   Aira dan Wafda kini berada di sebuah resto. Mereka berdua memiliki janji temu dengan boss Wafda. Pa Ardian beliau adalah salah satu boss yang sangat menyukai karya-karya Wafda dan Agustus band. Pa Ardian selalu membela dan mendahulukan Agustus band jika ada sesuatu yang terjadi, ya bisa dibilang ia menganak emaskan band itu. Pa Ardian juga salah satu fans dari Aira. Ia sudah menjadi fansnya sejak Aira dulu baru memulai mempublish karyanya di internet dan kemudian ia makin menyukai karya Aira dan membeli semua koleksi novel milik Aira. Bahkan ketika Aira kecelakaan dan ia terkena amnesia, Pa Ardian merasa sangat sedih. Dan memberikan Wafda beberapa hari untuk libur dan menemani kekasihnya itu. Bahkan ia pasang badan kepada client mereka, jika memang Wafda ingin rehat sejenak untuk menemaninya.                     Tapi memang tingkat ke profesionalan Wafda sangat tinggi, jadi ia hanya mengambil opsi yang pertama. Yaitu libur beberapa hari.  Begitu Aira dan Wafda jadian Pa Ardian bukannya melarang, tapi malah mendukung keputusan mereka dan sangat menginginkan mereka segera menikah. Padahal jika mendengar Wafda punya pacar baru atau sedang dekat dengan wanita ia pasti sudah beringsut melarang Wafda untuk tidak mempublish hubungan mereka. Namun berbeda sekali ketika Wafda dikabarkan memiliki hubungan dengan Aira, bukannya melarang ia malah justru mendukungnya.                      Beberapa kali ia menanyakan kepada Riman untuk mengajak Aira dan Wafda makan malam. Namun jadwal mereka masih sangat padat. Jadi ia harus sabar menunggu Aira dan Wafda untuk bisa makan malam dan berkenalan dengan calon istri Wafda sekaligus author kesukaannya. “Maaf ya terlambat, saya harus ketemu client dulu tadi.” Kata Pa Ardian yang baru saja sampai dan menyapa Wafda dan Aira. “Ga apa-apa Om,” kata Wafda akrab. “Hallo Aira, saya Ardian Kusuma. Tapi panggil saja saya om Ardian. Biar lebih akrab,” katanya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Hallo Om. Saya Aira,” membalas jabatan tangan Ardian. “Mari duduk. Ga usah sungkan ya. Kalian sudah pesan makanan?” “Belum Om. Kami hanya pesan minum barusan,” kata Wafda.                 Kemudian ia memanggil waitress untuk memesan makanan dan minuman.   * * * * * *                           Aira, Wafda dan Ardian menikmati makan malam di resto Jepang favorite Ardian. Ia tau jika Aira dan Wafda merupakan salah satu penyuka masakan Jepang juga. Itulah salah satu alasan lelaki itu mengajak Aira dan Wafda untuk makan malam bersama di sana. Walaupun dirinya sedikit agak terlambat datang, tapi lelaki itu sudah meminta maaf atas kejadian itu. Untuk menebus rasa bersalahanya ia memesankan banyak makanan untuk mereka bertiga santap di acara makan malam mereka kali ini. Dari mulai sushi, ebi furai, shabu-shabu dan beberapa macam daging untuk dipanggang. “Om, jangan banyak-banyak pesannya.” Kata Aira tidak enak. “Ga apa-apa Aira. Ini khusus untuk kalian. Hadiah untuk kalian karna kalian kini bersama dan sebagai permintaan maaf om karna datang terlambat.” Ujar lelaki itu.                 Aira dan Wafda hanya saling menatap sebentar karna terlalu merasa di spesialkan oleh lelaki yang sudah menjadi boss Wafda sejak ia menjadi seorang gitaris Agustus Band. “Jujur, om ga suka sama mantan-mantannya Wafda. Pas om tau kalian jadian, om seneng banget. Riman bilang kalau ada gosip suruh tutupin, tapi om bilang sama Riman. Suruh confirm ke wartawan kalau kalian jadian. Ga perlu pusing, karna om yakin. Wafda ga main-main sama kamu,” jelasnya kemudian memasang senyuman khas laki-laki yang sangat kebapaan. “Duh Om, nanti aku melayang nih dipuji-puji. Tapi emang iya sih, aku sama Aira ini rasanya beda Om. Pengennya dibawa kepelaminan aja langsung,” kata Wafda sambil cengar-cengir. “Loh … om ngomong sesuai fakta. Malah om dukung banget deh kalau kalian sampe menikah. Om doakan secepatnya. Kalau kamu keliatan banget Wafd, main-mainnya sama yang terakhir. Siapa tuh namanya?” “Rachel Om,” kata  Aira menyebutkan nama mantan Wafda. “Nah itu! sudah terkenal, cantik tapi sayangnya mannernya kurang. Om paling sebel kalo dia lagi dateng ke kantor pagi-pagi, terus nganter Wafda ke studio. Ihhh, sok manja. Harusnya salam sapa kek ke om yang ada di situ. Ya om juga ga minta di sapa sih sama dia. Cumakan ada di situ kenapa engga, ya ampun, Ra … om dicueki sama dia. Dulunya tuh dia polos, baik. Eh sekarang sudah terkenal lupa sama yang dulu membesarkan namanya,” kata om Ardian sedikit bercerita tentang Rachel.                 Beberapa waitress menghidangkan makanan yang sudah siap untuk mereka nikmati. Mereka bertiga langsung memulai acara makan malam itu sambil mengobrol santai. “Ra, coba ini deh. Ini menu andalan di sini. Ini sushinya enak banget,” katanya sambil menaruh nigiri ke atas piring Aira. “Kamu suka salmon mentah kan?” lanjutnya. “suka kok Om.” Kemudian menyuapkan nigiri tadi ke dalam mulutnya, “wow … bener Om. Ini enak banget. Aku ga pernah makan nigiri di tempat lain yang seenak ini.” Katanya senang. “Kan bener tebakan om. Cobain ini juga. Ini juga enak loh,” menaruh ebi furai di piringnya.                 Setelah makan malam mereka bertiga berakhirnya. Akhirnya om Ardian meminta tanda tangan Aira di novel terbarunya dan foto bersama. Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau ia sangat bahagia dan menyetujui hubungan Wafda dan Aira. Bahkan katanya jika mereka sampai putus di tengah jalan, ia akan marah besar pada Wafda.     * * * * * *                                 Hari ini Aira akan menginap di rumah Wafda, karna besok akan ada sepupu Wafda yang akan menikah. Mereka juga memiliki tradisi makan malam bersama dengan calon pengantin yang akan menikah. Mira dan Pandu yang akan menikah. Mereka berdua memang memiliki kisah percintaan yang tak semulus kelihatannya. Selama tujuh tahun berpacaran dan sempat putus nyambung, akhirnya mereka kembali lagi dan berkomitmen untuk segera menikah. Mira adalah seorang guru yang bertugas di Surabaya, sedangkan Pandu yang merupakan sepupu dari Wafda dan Willa adalah seorang pegawai bank swasta di Jakarta.                     Pandu sudah tidak memiliki orang tua, jadi ibu Setya mengadakan acara makan malam itu di rumahnya untuk menghormati alm. kakanya. Memang ibu Setya anak termuda dan sangat dekat dengan semua keponakannya. Bahkan ketika pertama kali Pandu memutuskan untuk menikahi Mira, ia bercerita kepada ibu Setya dan ibu sangat mendukung keputusan keponakannya itu. Akhirnya Pandu melamar Mira beberapa hari kemudian dan besok mereka akan menggelar acara akad nikahnya.  “Kenalin ini Mira,” kata Wafda kepada Aira yang baru saja datang ke rumah Wafda. “Aira.” Katanya memperkenalkan diri. “Panduuu,” panggil Wafda kepada sepupunya yang berjarak beberapa meter dari mereka bertiga.                 Lalu Pandu menghampiri mereka dengan tampang sumringah. “Kenalin ini Aira, calon istri gw.” Kata Wafda memperkenalkan Aira. “Wooow … si penulis novel romance terkenal dan sahabat dari sepupu gw, Willa. Bisa-bisanya kalian pacaran. Gimana ceritanya sih? Penasaran gw,” kata Pandu ramah.   “Mangkanya banyak-banyak nonton infotaiment, biar tau ceritanya kita hahahaha …” kata Wafda sambil tertawa. “Nantilah, kita ceritain ekslusif buat kalian.” Kata Aira kemudian tersenyum. “Baiklah, kita tunggu ceritanya ya.” Mira dengan senyum manis. “Bu, apa bisa kita mulai acara makan malamnya?” tanya Pandu kepada ibu Setya yang sedang asik berbincang dengan kerabatnya yang ikut juga dalam acara makan malam itu. “Baiklah,” kata bu Setya kemudian duduk di kursinya mempersilahkan yang lain untuk duduk juga di kursinya masing-masing.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD