SEVENTEEN

1831 Words
                    Makan malam berjalan dengan khikmat. Aira, Wafda dan kedua pasangan calon pengantin yang akan menikah besok pagi sedang mengobrol di taman belakang sambil mengamati langit gelap yang bertabur bintang. Di tengah obrolan santai mereka, Aira dan Wafda saling menatap. Entah apa yang mereka amati satu sama lainnya. Tapi yang pasti, mereka enggan kehilangan satu sama lainnya. Sesekali juga Wafda menggenggam erat tangan Aira yang ia letakkan di atas pangkal pahanya.   “Coba ceritain gimana kalian bisa pacaran? Padahal yang gw tau lo kan emang suka bangetkan ama Wafda,” kata Pandu memulai keingin tahuannya. “Iya, gimana sih cerita yang sesungguhnya?” tanya Mira ikutan penasaran. “Ok-ok kita cerita ya.” Kata Wafda. “Ceritanya dari mana nih? Panjang soalnya,” kata Aira tersenyum malu-malu sambil menatap Wafda. “Dari kalian ketemu lagi dong. Kan kalian udah lama tuh katanya ga ketemu, trus lo berdua pada pacaran sama orang lain kan. Lo sama model dan lo sama kaka kelas pas SMP si pengusaha apparel kan dia sekarang? Yang jadi rivalnya Wafda juga. Right?” kata Pandu sambil menunjuk mereka berdua bergantian. “Iya,” jawab mereka berbarengan.   “Trus gimana?” “Sebenernya sih ga sengaja ya ketemuannya kita, mungkin emang udah jalannya Tuhan buat pertemuin kita. Sekitar beberapa minggu setelah gw putus dari Rachel, gw ke mall yang deket apart gw. Trus tiba-tiba pas lagi jalan abis dari coffee shop, gw ngeliat Willa sama Aira. Katanya sih abis nyari inspirasi buat novel sama komik mereka. Ya udah, pas di situ gw tanyain no handphonenya dong. Kapan lagi coba udah putus  trus dapet kenalan lama, yang jelas-jelas udah gw incer. Tapi itupun ga langsung jadian, butuh proses juga. Gw sempet galau berhari-hari buat intens ngobrol ama dia. Ya udah deket deket deket, akhirnya pacaran deh, ya walaupun awalnya nih anak ragu kan ya sama gw. Secara gw baru putus sama si Rachel.” Jelas Wafda, “Apa yang bikin lo tertarik buat jadian sama Wafda? Padahalkan nih anak doyan banget gonta-ganti pacar,” tanya Pandu makin penasaran. “Yang pasti bukan karna dia artis ya, gw kenal sama Wafda kan emang udah dari lama sebelum dia jadi artis, walapun udah jadi anak band. Dia juga memang first love gw, awalnya sih gw juga ga yakin kaya yang barusan Wafda cerita. Karna dia juga kan baru putus dari Rachel. Gw berasa jadi kaya pelarian. Ya lo tau lah Ka, kalo seandainya kita ketauan wartawan dan memang benar-benar publish ya gw rasa bakalan ada omongan atau gosip kaya gitu. Gw sebagai pelakor atas hubungan mereka berdua. Sedangkan yang orang pada tau kan gw emang udah putus dari si ex emang udah lama. Wah udah deh makin ga karuan kegalauan gw waktu itu. Trus gw sempet tanya Willa juga, apa beneran abangnya serius apa engga. Willa juga sangsi sih awalnya. Hahaha … tapi seiring berjalannya waktu gw makin yakin kalo dia beneran yang  gw mau dan begitu juga sebaliknya. Dia juga nemenin gw pas gw kehilangan bokap gw. Gw down banget saat itu. Tapi ya, bersyukurnya ada Wafda yang selalu ingetin gw dan dampingin gw. Dan akhirnya, kita jadian.” Jelas Aira panjang lebar. “Trus kapan rencananya mau nikah? apa kalian cuma mau pacaran aja lama-lama kaya kita? Trus udah lama akhirnya baru deh mau nikah?” tanya Mira tersenyum. “Sembarangan! Ga liat nih,” protes Wafda sambil menunjukkan cincin yang sudah melingkar di jari manis tangan kiri Aira. “Hahahah … gw mana merhatiin sih Waf.” Kata Mira tertawa melihat calon sepupunya itu bersungut-sungut. “Rencananya bulan depan mau tunangan Ka. Tapi ga tau deh ini si mas Wafda serius apa engga.” kata Aira ikutan meledek. “Idddiihhh ya serius Sayang. Oh, jadi kamu masih belom yakin nih?” “Ya kalau belom keluar tanggal, aku masih boleh ragu dong?” “Engga boleh! Kamu ga boleh ragu sama aku!” katanya sambil memegang kedua pipi Aira yang mulai merona karna ditatap begitu tajam oleh Wafda. “Et dah, lo kaya mau nelen temen gw Wafd,” kata Willa melerai Wafda dan Aira kemudian duduk di sebelah Aira. “Abis gw gemes ama dia,” kata Wafda kemudian melipat kedua tangannya di depan daadanya. “Ra, mendingan lo fikir-fikir dulu deh ama dia kalau mau tunangan. Gw ga mau lo sakit hati lagi,” kata Willa kemudian merangkul Aira sambil seolah-olah berbisik. “Heeehhh! Lo bukannya dukung kaka sendiri malah suruh Aira mikir-mikir lagi. Adik macam apa kau?” katanya makin sewot. “Adik macam Cinderella,” katanya sambil tertawa.                 Yang lain pun ikut tertawa mendengar kata-kata Willa. Sudah hampir jam dua belas malam, mereka semua akhirnya membubarkan diri dan masuk ke kamar masing-masing. Aira hari ini akan tidur bersama dengan Willa di kamarnya. Ya, walaupun Wafda agak cemburu dengan keputusan mamanya itu. Tapi ia harus menjaga sikap di depan seluruh anggota keluarganya.   * * * * * *                   Mereka sudah tiba di masjid untuk melaksanakan akad nikah antara Mira dan Pandu. Semua keluarga sudah berkumpul di masjid dan menanti kedatangan Mira yang masih berdandan di ruang makeup. Aira, Willa dan Wafda menjadi bridesmaid dan groomsmaid dalam pernikahan Pandu dan Mira ini. Aira dan Willa sudah mengenakan dress berwarna cream dengan hiasan bunga korsase berwarna peach, sedangkan Wafda sudah mengenakan setelan jas berwarna coklat dengan kemeja berwarna putih juga tak lupa ia juga mengenakan rangkaian korsase berwarna peach. Senada dengan milik groomsmaid lainnya.                   Beberapa menit setelah dipersilahkan masuk ke dalam masjid untuk memulai acara pernikahan itu, Mira sang pengantin perempuan bersembunyi di balik sebuah tirai untuk memberikan kata-kata permohonan maaf dan ucapan terima kasih kepada orang tua dan keluarga yang selama ini telah mendukung hubungan mereka berdua juga pemberian restu atas pernikahan mereka. Setelah selesai dengan ucapan terima kasih pada kedua orang tua dan keluarga, Mira dipersilahkan masuk ke masjid untuk kemudian bersanding di sebelah Pandu dan memulai acara ijab kabulnya itu. “Baiklah, sebelum saya melanjutkan acara ijab kabul ini. Saya akan bertanya terlebih dahulu. Apakah ada yang tidak setuju pernikahan ini?” tanya sang penghulu.                 Beberapa detik, ia menunggu jawaban dari pihak keluarga dan beberapa kolega yang ikut hadir. Namun tak ada satupun yang menjawab. Lalu para saksi mempersilahkan pak penghulu untuk melanjutkan acara pernikahan itu. “Saya lanjutkan, lalu kepada Pandu Adijaya Prasetya apakah sodara menikah dengan Mira Kinanti tanpa paksaan dari siapapun dan dalam keadaan sadar?” tanya pa penghulu kepada Pandu. “Tidak ada paksaan dan saya dalam keadaan sadar dan ikhlas,” katanya mantap. “Baiklah, sodari Mira Kinanti apakah sodari menikah dengan Pandu Adiajaya Prasetya tanpa paksaan dari siapapun dan dalam keadaan sadar?” “Saya tidak sedang dalam paksaan dan saya dalam keadaan sadar dan ikhlas.” Jawab Mira dengan lantang. “Para hadirin yang terhormat mari kita saksikan ijab kabul untuk pernikahan Pandu Adijaya Prasetya dan Mira Kinanti. dimohon untuk tenang selama acara ijab kabul ini berlangsung. Kepada yang terhormat pa Idrus selaku penghulu, dipersilahkan untuk memulai acara ijab kabul Pandu Adijaya Prasetya dengan Mira Kinanti, kepada pa Penghulu kami persilahkan.” Kata MC mempersilahkan kepada penghulu untuk segera memulai acara ijab kabul.   * * * * * *   “Ulurkan tangan kamu Pandu dan berjabat tangan dengan Bapa Mindi Omar ya.”                 Pandu mengangguk mengikuti petunjuk dari pa Idrus sang penghulu. “Ananda Pandu Adijaya Prasetya bin alm. Adijaya Prasetya. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Mira Kinanti binti Mindi Omar dengan mas kawin seperangkat alat solat dan perhiasan emas sebesar 30gr dibayar tunai!” kata pa Mindi dengan lantang. “Saya terima nikah dan kawinnya Mira Kinanti binti Mindi Omar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” kata Pandu dengan satu kali tarikan nafas. “Bagaimana para saksi? Sah?” tanya pa Idrus meyakinkan. “Sah!” kata para saksi yang duduk di sebelah kanan dan kiri. “Saya nyatakan Ananda Pandu Adijaya Prasetya bin alm. Adijaya Prasetya dengan Mira Kinanti binti Mindi Omar telah sah menjadi suami dan istri. Kalian tidak bisa dipisahkan lagi kecuali Allah yang akan memisahkan kalian berdua.” Kata pa Idrus memberikan ikrar pengesahan terhadap Pandu dan Mira                 Kemudian mereka semua bersatu dalam doa dan mendoakan pernikahan yang baru saja dilangsungkan itu. Kini, Mira dan Pandu telah resmi menjadi sepasang suami istri yang hanya boleh dipisahkan oleh Allah SWT. Kemudian mereka diperkenankan untuk memasangkan cincin pernikahan dijari manis di tangan kanan mereka, lalu Mira diperkenankan untuk mencium tangan suaminya itu untuk pertama kalinya dan Pandu mencium kening istrinya.                 Setelah sungkeman dengan kedua orang tua mereka masing-masing. Pandu yang sudah menjadi yatim piatu kini duduk di hadapan ibu Setya dan pa Herno untuk mewakilkan orang tuanya yang sudah lama meninggal. Suasana haru menyelimuti acara sungkeman itu. Pandu menangis sejadi-jadinya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada ibu Setya yang sudah mendampinginya setelah kedua orang tuanya meninggal hingga sekarang. Mendampinginya hingga sesukses sekarang dan kini memiliki seorang istri yang sangat didambakannya sejak tujuh tahun terakhir.   * * * * * *                   Malamnya acara resepsi pernikahan untuk Mira dan Pandu diadakan di sebuah Hotel yang terletak di Jakarta Selatan. Mira sudah dirias oleh MUA yang menanganinya sejak acara ijab kabulnya tadi pagi. Wajahnya terlihat berbeda dengan riasan sang MUA. Pandu makin terpesona melihat kecantikan sang istri yang makin terpancar setelah dirias. Pandu dan Mira kini telah berganti pakaian dengan warna merah maroon yang sangat terlihat manis. Paduan warna merah marron dan gold sangat terlihat serasi mereka kenakan. Pandu mengenakan setelan jas sedangkan Mira mengenakan ball gown dengan kerah sabrina yang memperlihatkan bahu mulusnya dan mengekspos leher jenjangnya.                    Ketika sedang memasuki venue, Pandu dan Mira berdiri paling depan. Setelah barisan orang tua dan saudara kandungnya. Akhirnya tiba pada barisan bridesmaid dan groomsmaid. Terlihat beberapa orang menyadari bahwa salah satu groomsmaid itu adalah Wafda, sang gitaris Agustus band yang satu-satunya masih belum menikah. Mata mereka tertuju kepada Wafda dan Aira yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Tak lupa mereka menyunggingkan senyum kepada tamu-tamu yang bertemu dan menyapa mereka. Setelah iring-iringan mempelai dan keluarga itu selesai, mereka diharuskan untuk foto keluarga.                 Baru saja Wafda turun dari pelaminan berada, ia langsung diserbu dengan para fansnya yang juga merupakan tetamu undangan dari Pandu dan Mira. Kedua mempelai yang melihat Wafda kewalahan dengan tingkah fans yang mengerbunginya minta foto bersama akhirnya, mereka meminta salah satu staff WO untuk memberikan pengamanan untuk Wafda dari para fansnya agar tak mengganggu kenyaman sepupunya itu di dalam acara pernikahannya. Beberapa petugas keamanan yang mengamankan lokasi pernikahan itu, langsung menghalau jumpa fans dadakan itu. Tiga orang staff keamaanan diminta untuk mengamankan Wafda agar bisa sedikit tenang dan menikmati acara pernikahan sepupunya itu. Aira dan Willa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah fans-fans kakanya itu. “Ka Wafda, boleh minta foto sama ka Aira juga ga?” tiba-tiba salah satu dari mereka meminta foto dengan pasangan ini. “Nanti ya, Airanya lagi ngurus acara dl. Nanti kamu ke sini lagi aja.” Kata Wafda tersenyum ramah. “Ok Ka. Tapi bolehkan ka?” kata gadis tadi. “Boleh,” masih tersenyum ramah.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD