EIGHTEEN

1742 Words
                    Tiba saatnya untuk berdansa, kedua mempelai dipersilahkan untuk melakukan dansa untuk yang pertama kalinya. Tak lama semua bridesmaid dan groomsmaid ikut bergabung dengan mereka berdua. Sudah pasti Aira dan Wafda menjadi sorotan setelah pengantin. Mata tetamu tertuju kepada mereka berdua yang terlihat sangat serasi. “Kamu ga mulai ragu lagi kan sama aku? ga lagi berubah fikirankan Sayang?” tanya Wafda sambil terus berdansa mengikuti irama musik yang mengalun. “Kenapa nanyanya gitu?” tanya Aira sambil menatap iris coklat milik Wafda. “Ya, aku takut aja kamu berubah fikiran. Apalagikan ada Cheval sekarang yang jelas terang-terangan suka sama kamu,” membalas tatapan Aira. “Astaga Cheval lagi? Seriously?” Aira mulai cemberut. “Ya harusku akui memang aku ga setampan Cheval, Aira. Tapi aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Dan aku akui, aku memang cemburu kalau kamu dengan Cheval. Bisakah kamu memutuskan hubungan pekerjaan kalian?” katanya lagi dengan nada ragu. “Wafda, yang kamu harus tau. Aku tidak akan pernah lelah untuk mencintai kamu. Aku akan terima kamu apa adanya. Kalau merasa cemburu itu bukannya memang bawaan kita berdua dari lahir ya?” katanya sambil terkekeh, “untuk masalah pekerjaan, kamu tau kan jika kita memutuskan secara sepihak. Pastinya akan ada finalty untuk itu, bagaimana aku akan menggaji mba Maia dan Olly. Aku janji akan bersikap professional dan bersikap layaknya teman. Jadi Cheval juga ga akan berfikir aku memberikan harapan apapun kepadanya.” “Ya aku akan ingat janji kamu itu.” Katanya tersenyum lalu mencium pucuk kepala Aira dengan sayang.                 Sontak gerakan romantis itu membuat tetamu yang melihat mereka berdua menjadi menyoraki mereka. Mereka benar-benar bikin semua mata yang memandang mereka merasa iri dengan tingkah mereka. Tak terkecuali sepasang suami istri yang baru saja resmi hari ini.   * * * * * *                                 Selesai dengan pesta dansanya, Aira dan Wafda duduk di bangku VVIP dan melihat seorang lelaki yang tengah menyapa kedua mempelai. Lelaki itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan mengenakan dasi kupu-kupu yang senada dengan jasnya. Bahkan terlihat sangat dewasa dan tampan. Kini, ia sedang berdiri sambil tersenyum manis menghadap ke kamera untuk dokumentasi dengan kedua mempelai. Wafda dan Aira saling menatap bingung satu sama lainnya, karna melihat Cheval yang kini hadir di acara pernikahan sepupu Wafda yaitu Mira dan Pandu. “Hai,” sapa Cheval kemudian cupika-cupiki dengan Aira. “Hai Cheval,” menerima cupika-cupiki dari Cheval. “Hai Wafda,” kata Cheval beramah tamah sambil mengajaknya bersalaman.                 Wafda tak menjawab, ia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum ramah lalu membalas ajakan Cheval untuk bersalaman. Aira mempersilahkan Cheval untuk duduk di bangku VVIP yang telah disediakan juga. “Kok bisa kebetulan sekali kamu datang juga ke acara ini? Kamu kenal dengan siapa Cheval? Pandu atau Mira?” tanya Aira mencoba mencairkan suasana. “Ya beginilah, dunia terlalu sempit Aira. Aku kebetulan nasabah prioritas di bank tempat Pandu bekerja. Kebetulan memang kenal Pandu juga secara personal. Ketika dia memberikan undangan dua minggu lalu, ya aku fikir why not to come to his spesial day. So, I come! Aku ga menyangka kalau kalian juga di sini. Bahkan aku ga tau kalau nama Prasetya itu memang nama keluarga dari Wafda dan juga Pandu.” Katanya sambil tersenyum dan menatap tajam ke arah Wafda.                 Aira hanya tersenyum mendengar jawaban Cheval, tapi Wafda hanya diam bahkan sama sekali tidak menggubrisnya. Ia lebih memilih menyesap teh manis hangat yang baru saja disajikan oleh staff catering. Kemudian Aira mengobrol santai sedangkan Wafda merasa malas untuk mendengarkan ocehan lelaki Indo-Belgia ini, jadi ia memainkan smartphonenya dan tetap duduk di samping Aira sambil memegangi tangan Aira. Willa mengamati kebersamaan mereka bertiga, yang berada tak jauh dari mereka duduk. Lalu beberapa saat kemudian ia menghampiri mereka. “Ra, ambil makanan yuk. Lokan belom makan,” kata Willa begitu menghampiri mereka. “Oiya Sayang kamu belom makan ya? Gih sana makan, aku ga mau kamu kecapean loh.” Kata Wafda yang langsung menghentikan aktivitasnya barusan dan mengalihkan fokusnya pada Aira yang masih setia ia pegang tangannya. “Aku masih belum laper,” jawab Aira ketika Willa dan Wafda memperhatikannya. “Ayolahhhh … nanti lo sakit, mampus gw diomelin nyokap lo.” Kata Willa kemudian menarik tangan Aira untuk bangkit dari kursi yang di dudukinya. “Iya-iya tapi nanti dulu. Sebelumnya, kenalin dulu ini Cheval Godelief. Boss gw,” kata Aira memperkenalkan Willa kepada Cheval. “Willa,” “Cheval,” “Ayo-ayo kita makan.” Ajak Aira pada Willa, sahabatnya. “Kamu mau diambilin apa Sayang?” tanya Aira pada Wafda yang kini sudah berdiri dari kursinya. “Zuppa soup boleh,” Wafda tersenyum sayang pada Aira. “Ok, Cheval mau makan apa?” tanya Aira kemudian. “Tidak usah Aira, aku hanya ingin minum.” Lelaki itu mengangkat gelasnya yang masih berisi orange juice. “Baiklah. Aku ambilkan ya,” kemudian melenggang dengan Willa.                 Setelah Aira dan Willa pergi, ketegangan antara Wafda dan Cheval sempat terasa. Dimas diminta untuk mengawasi mereka berdua dari meja sebelahnya. Terlihat jelas Wafda tidak menyukai kehadiran Cheval di sekitar mereka. “Bisakah kau tinggalkan Aira untuk sejenak bersamaku?” tanya Wafda memulai pembicaraan. “Apa kamu merasa terganggu dengan kehadiranku?” tanya Cheval menatap sinis kepada Wafda.   “Tentu saja! Bukankah selama ini kamu yang selalu mengganggu kami?” Wafda mulai melipat tangannya di depan daada. “Kita bersaing secara sehat Wafda! Kenapa kau seperti orang yang ketakutan?” “Sejak kapan bersaing secara sehat tapi kamu terus saja mengikuti kami dan mengganggu kebersamaan kami? Akupun tidak takut kepadamu! Bisakah kalau kau pulang lagi ke negaramu? Di sini sudah terlalu sempit,” dengan nada sarkas. “Kalau kau takut aku akan merebut Aira, maka jaga Aira dengan baik. Karna jika sedikit saja ada celah antara kalian berdua. Aku tidak akan segan-segan merebut Aira dari tanganmu,” kemudian berdiri dan melangkah pergi. “Sial!” kata Wafda kesal dan sedikit memukul meja di depannya.   * * * * * *                   Willa dan Aira kembali setelah mengambil makanan untuk mereka santap. Willa kemudian duduk di kursi tempat di mana Cheval tadi duduk. “Kemana Cheval?” tanya Willa yang membawakan minuman untuk Cheval. “Pulang!” kata Wafda masih tampak kesal dan melanjutkan memainkan games di smartphonenya. “Kamu ga berantem sama Cheval kan?” tanya Aira menatap Wafda yang masih sibuk dengan smartphonenya. “Engga,” katanya dengan nada yang datar. “Yakin?” tanya Willa kali ini ikut campur dengan pembicaraan kakanya dan sahabatnya. “Apaan sih lo? gw bilang engga ya engga!” kata Wafda kemudian memberikan tatapan kesalnya. “Ok-ok,” kata Willa kemudian masa bodo dan menyantap buah yang ada di hadapannya dan mulai mengobrol dengan Dimas yang ia suruh pindah ke meja yang sama dengan Wafda dan Aira.                 Aira tak berkomentar ia hanya diam, karna ia tau semakin Wafda didesak. Ia tak akan mendapatkan jawaban apapun. Jadi lebih baik ia diam dan menunggu Wafda menceritakan apa yang terjadi dengan mereka. Tak lama gadis yang tadi meminta foto mendatangi Aira dan Wafda lagi yang sedang menyantap makanan mereka dalam diam. “Hai Ka Wafda, boleh aku minta foto sama Ka Aira juga?” kata gadis itu dengan ramah.   “Hai. Boleh ... tapi tunggu kami selesai makan ya. Kamu sudah makan?” tanya Wafda ramah dan berusaha tersenyum walaupun hatinya sedang kesal. “Ok Kaka. Aku sudah makan, kalau begitu aku tunggu di sebelah sana ya.” Kata gadis yang bertubuh tinggi dan terlihat cantik dengan balutan kebaya model off shoulder dengan warna biru langit.                 Setelah selesai memakan sajian yang disajikan oleh Aira, Wafda kemudian memberikan tanda kepada gadis tadi untuk mendekat dengan mereka. Kemudian Gadis itu mendekat dan melakukan pose bersama dengan Aira dan Wafda. Tak lupa ia juga meminta foto berdua saja dengan Aira. Ia juga salah seorang fans dari Aira. Ia sempat berbincang dengan Aira sebentar. Aira juga ingat bahwa gadis ini selalu mengikuti kegiatannya ketika sedang meet and greet dan menjadi salah satu admin fanbase Aira. “Terima kasih Ka Wafda dan Ka Aira. Aku senang banget kalian punya hubungan yang serius, semoga kalian langgeng dan cepat menikah ya.” Kata gadis itu dengan wajah sumringah. “Sama-sama. Amin, terima kasih doanya ya.” Kata mereka berdua berbarengan.                 Lalu gadis itu juga menyapa Willa yang sedang berbincang dengan sepupu-sepupunya dan juga Dimas. Dimas yang sedang duduk sambil berbincang dengan Willa juga sepupu-sepupunya juga melirik sedikit ke arah gadis yang baru saja lewat di hadapannya. Wafda yang menyadari hal itu langsung mendekati Dimas dan memperingatkannya agar tak bermain mata.   * * * * * *                   Aira langsung mengemudikan mobil sedan merah marron kesayangannya itu menuju rumahnya, di sana ibunya sedang menunggu kedatangan putri bungsunya itu sambil duduk dikursi taman di taman depan rumahnya. Keluarga Aira memang suka dengan tanaman, itulah sebabnya di rumahnya banyak sekali tanaman dan juga memiliki dua taman yaitu taman depan dan taman belakang. Walaupun taman depan tidak terlalu luas seperti yang berada di belakang. Tapi ibu selalu memberikan kesan yang sangat homey untuk rumahnya dan selalu merindukan untuk pulang. Setiap dua minggu sekali jika ibu sedang berada di Jakarta. Ia selalu meminta para ART untuk menata ulang tanaman-tanaman yang berada di taman depan dan belakang.                 Seperti yang saat ini sedang ia lakukan, dua ART kesayangannya yaitu mbok Darmi dan bi Siti sedang menata ulang tanaman yang berada di halaman belakang. Mereka baru saja memindahkan tanaman yang di taman depan untuk dipindahkan ke halaman belakang. Aira yang baru saja datang langsung mencari ibunya yang kini tengah sibuk mengganti-ganti pot yang sudah mulai usang. “Ngapain sih Bu, sibuk banget?” sapa Aira sambil memeluk ibunya dari belakang. “Kamu baru dateng ya? mandi dulu sana. Ibu sudah buatkan makan siang untuk kamu. Bang Albert lagi pergi ke rumah mertuanya. Jadi nanti kita makan sama-sama ya,” kata ibu sambil terus memandang tanaman monstera yang baru saja ia pindahkan dari pot yang sudah pecah bagian tengahnya. “Ok Bu … aku mandi dulu ya,” kata Aira kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ibu yang masih asik dengan tanamannya. “Mbok, tolong siapin makan siang ya. Kita makan siang dulu. Mbok sama bibi juga ikutan makan ya sama saya dan Aira.” Kata ibu ramah kepada mbok Darmi. “Makan di meja luar atau di dalam Bu?” tanya mbok Darmi.   “Di luar aja, biar saya bisa liatin tanaman-tanaman saya yang baru ditata ini.” “Baik Bu,” kemudian mbok Darmi langsung melangkah ke dapur yang tak jauh dari taman itu.   * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD